
Bernie memasang sentuhan akhir sebuah syal berbahan satin di bahu Ella, lalu mundur beberapa langkah sambil memegangi dagu. Matanya menilai penampilan Ella dengan seksama.
"Sempurna," ucap Bernie.
Senyum Ella mengembang. "Aku selalu bisa mengandalkanmu, Bern."
"Kenapa aku yang membawamu ke sana? Bukankah lebih baik kau pergi bersama Hector?"
Ella tertawa geli, teringat reaksi Hector ketika memintanya hadir di pesta amal malam ini.
"Dia sedikit takut. Jadi ia akan menemuiku di pesta saja. Agar tidak terlalu kelihatan kalau kami datang bersama."
"Hal yang percuma ...."
"Itu benar. Berita tentang aku dan Hector sudah jadi headline. Tapi biarlah, kuikuti saja maunya Hector. Biar dia tenang."
"Tapi bukankah Felix sedikit keterlaluan? Dia menyebarkan berita bahwa dirimu merasa sudah saatnya mencari suami. Karena itu dalam beberapa bulan ini kau selalu dikaitkan dengan sosok pria. Dulu Benjamin Antolini, lalu setelah penjajakan dengannya tidak berhasil, kau berubah pikiran. Sekarang kau mendekati Hector ... yang memang sudah lama menaruh hati padamu."
"Felix sangat lucu, tapi aku suka caranya membumbui cerita."
Bernie terkekeh sambil memberikan sebuah fashion handbag pada Ella. "Entah apa reaksi Mr. Antolini ... dalam ulasan gosip hari ini, dikatakan bahwa setelah pesta kemarin, kau diperkirakan akan muncul kembali di pesta amal yang diselenggarakan oleh petinggi Kota Copedam dan juga pengusaha-pengusaha sukses bersama Hector, dimana Benjamin Antolini juga akan hadir. Semua orang akan bertanya-tanya dan penasaran bagaimana reaksi kalian bertiga. Felix sungguh hebat merangsang rasa penasaran para pembaca, para penggemarmu saling memberi pendapat di kolom komentar, ada yang mendukung Hector ,ada yang mendukung Benjamin."
"Ah ... aku juga penasaran, Bern ... aku mau lihat wajah kaku pria itu."
"Apa tidak berbahaya bagi Hector? Kau menyeretnya ke dalam masalahmu."
"Tenang saja, besok aku akan membawanya pergi dari sini sesegera mungkin. Dramanya akan dilanjutkan di BYork. Agak jauh dari kotanya Tuan Antolini. Aku mau minta restu dari Dad."
"Restu? Maksudmu?"
"Restu mendapatkan suami, karena umurku sudah dalam kategori pas dan sudah seharusnya jadi seorang ibu. Aku mau punya anak," Ella tertawa lucu, "teman-temanku anaknya sudah ada satu, bahkan dua. Aku akan segera menyusul. Jadi harus cepat-cepat cari calon suami."
Bernie menyipitkan matanya.
"Jika begitu caramu mengatakannya pada ayahmu, ia akan mengira kau sudah hamil dan tergesa-gesa mencari suami agar anakmu lahir dalam ikatan pernikahan. Agar anakmu punya ayah."
Tawa Ella meledak. "Itu yang kuharapkan, Bern. Aku akan makan agak banyak. Biar ini agak besar," ucap Ella sambil menunjuk perutnya.
"Aku tidak ikut-ikut, Ella ... Hufh ... Paman Daniel akan mendatangi seseorang kalau ia mengira kau hamil. Tebak saja siapa."
Ella mengangguk sambil menutup mulut, menahan tawanya. "Ayo pergi ... film pendekku belum selesai. Aku tidak mau Hector sendirian di pesta. Dia akan ketakutan kalau orang kutub yang dingin itu mendatanginya."
"Kau yakin dia datang?"
"Pasti datang."
Kali ini tawa Bernie yang meledak. Ia menggandeng tangan Ella dan melangkah pergi sambil geleng-geleng kepala.
**********
Di sudut sebuah bar Benjamin duduk bersandar di kursi sambil menatap ke arah panggung kecil di bagian depan. Suara seorang penyanyi pria sedang mengalunkan irama lagu yang membuat sebagian pengunjung ikut bersenandung bersamanya. Termasuk teman duduk di sebelah Benjamin.
"Kau terlihat gusar." Komandan mengangkat gelas dan menyesap minuman. Kedua matanya melirik dari tepian gelas."Kenapa datang jika kau sedang tidak ingin berada di sini," tambahnya lagi.
Suara kursi ditarik membuat kedua pria itu menoleh. Timmy dan Hide sudah ada di dekat mereka.
"Yang lainnya tidak bisa datang," ucap Timmy, lalu menatap Benjamin dengan raut muka penasaran. "Aku kira kau juga tidak akan ada disini, tadi aku sempat membaca berita acara pesta amal yang akan dihadiri pengusaha, petinggi dan orang-orang kaya malam ini. Kau tidak diundang?"
"Bukankah lebih baik dia tidak diundang?" ucap Komandan. Membuat Timmy dan Hide menoleh dan mengangkat alis ke arahnya.
"Semua orang tahu artis Daniella Dolores akan hadir. Bukankah lebih baik Black tidak datang, sehingga tidak perlu bertemu dengannya," komentar Komandan.
Benjamin memundurkan kursi, lalu mengambil minumannya dan menelan sisanya sampai habis.
"Kau dan dia benar-benar sudah berakhir ya? Dia digosipkan dengan si asisten sutradara. Hector," ucap Timmy.
"Aku pamit dulu," ucap Benjamin. Membuat tiga orang temannya itu menatapnya dengan sorot mata terkejut sekaligus meminta penjelasan.
"Mau kemana?" tanya Hide.
"Pesta," ucap Ben sambil mengangkat gelasnya yang sudah kosong.
"Kau sudah menjauh darinya beberapa lama, Black. Kenapa berubah pikiran?" tanya Komandan.
"Aku tidak menjauh untuk meninggalkannya seperti perkiraanmu, Komandan."
Benjamin menggelengkan kepala. "Tidak. Kau salah ... aku menjauh karena itulah perintah Daniel. Pendekatanku pada Daniel belum berhasil."
"Kau tidak takut kejadian seperti di Copedam terulang lagi? Bahwa mungkin saja musuhmu datang dan ...." Komandan mengangkat bahu, melihat Ben dan tahu bahwa pria itu mengerti maksud ucapannya.
Benjamin menatap dalam ke arah Komandan. "Tidak ... aku tidak mau menyerah karena hal itu ... aku membuang kesempatan untuk berbahagia bersamanya karena ketakutan yang belum tentu akan terjadi. Tidak akan ... aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi aku bisa berusaha untuk menjaganya. Itu saja ...."
Benjamin berdiri, lalu menganggukkan kepala berpamitan pada tiga orang yang balas mengangguk.
"Rapikan dasimu, Kawan," ucap Hide.
"Harusnya kau berdandan. Pakai setelan malam terbaikmu. Ella pasti tampil luar biasa," ucap Timmy.
"Timmy benar ... jangan kalah dengan si asisten sutradara," tambah komandan sambil mengeluarkan cerutunya.
"Hector lumayan tampan dalam balutan tuxedo," bisik Hide, namun masih bisa terdengar oleh telinga Benjamin yang melangkah menjauh sambil mengeraskan rahangnya.
**********
Benjamin merapatkan bibir menahan rasa geram dan gusar. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa karena keramaian pesta dan banyaknya mata yang mengawasi.
Daniella dan Hector, sudah dua kali berdansa bersama, mengobrol dengan para tamu lain tanpa berpisah sedetik pun. Ben ingin bicara dengan mereka, atau paling tidak salah satunya.
Namun, Hector terlihat selalu membawa Ella berkeliling dimana para tamu banyak berkumpul, selalu ada orang lain di sekitar mereka.
"Akhirnya ada perwakilan Antolini yang datang."
Kalimat itu membuat Ben menoleh. Ia melihat Evander Morrone yang sedang mengulurkan tangan.
"Kau rupanya, Evander."
"Ya." Evander tersenyum. Keduanya berjabat tangan.
"Aku tidak melihatmu saat datang tadi. Kukira mungkin kau berhalangan dan ayahmu yang datang. Tapi ternyata Tuan Belardo juga tidak ada."
"Ayahku lebih banyak ada di rumah karena alasan kesehatannya, Evander. Aku datang terlambat karena suatu urusan."
Evander menganggukkan kepala, lalu pria itu tiba-tiba melambai seolah seseorang sedang menyapanya dari kejauhan. Benjamin langsung menoleh dan mendapati Daniellalah yang sedang menyapa Evander dari seberang ruangan. Hector juga tampak tersenyum dan menganggukkan kepala ke arah mereka berdua. Benjamin menyipit melihat Ella kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Hector yang membuat senyum pria itu jadi makin lebar.
"Senyum pria itu sedikit berlebihan bukan?" Evander tertawa kecil.
Benjamin mencegat seorang pelayan yang membawa nampan minuman, lalu mengambil dua gelas. Salah satunya ia berikan pada Evander.
"Terima kasih," ucap Evander.
"Bolehkah aku minta bantuan kecil darimu, Evander?"
"Tentu. Katakan saja."
Benjamin mendekat dan mengatakan permintaannya dalam nada rendah agar tidak ada yang mendengar. Evander mengangguk-anggukkan kepala selama Benjamin mengungkapkan keinginannya.
"Kau sebaiknya pergi lebih dulu. Aku tahu tempatnya. Tunggulah di sana."
"Kau bisa? Dia sepertinya sengaja selalu membaur dan menjauhi tempat sepi. Dia menghindariku."
Evander tertawa. "Aku memang belum mengobrol dengan mereka sejak aku datang. Kebetulan sekali aku mau menyapa. Kurasa aku bisa membujuknya."
Benjamin mengangguk, memberikan senyum kecil pada Evander, lalu melangkah pergi dengan segelas sampanye di tangannya.
Hector melihat Benjamin pergi dan berbisik pada Ella. "Dia pergi, El."
Ella menggerakkan kepalanya perlahan, melirik dan merasa sangat kecewa ketika melihat punggung Ben yang menjauh. Ia segera mengalihkan pandangan pada Hector dan pura-pura tersenyum bahagia.
Evander yang berjalan mendekat ke arah pasangan itu tidak pernah lepas memandang wajah Ella. Sedetik sebelum wanita itu mengalihkan pandangan, Evander melihat sorot kekecewaan di mata wanita itu. Ia menduga penyebabnya adalah kepergian Benjamin.
NEXT >>>>>>>
*********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love, bintang lima, ketik komentar dan vote untuk Black DD ya. Sebelumnya author ucapkan terima kasih banyak.
Salam. DIANAZ