Belinda

Belinda
38. Allies



Benjamin menatap dua wanita yang duduk di depannya. Keduanya gelisah sejak mereka datang. Maurice tampak duduk dengan tidak nyaman, seolah sedang menduduki kursi berduri. Ia mengganti posisi setiap setengah menit, wajahnya terlihat sangat lesu. Alana juga tampak gelisah, berulang kali memainkan serbet di atas meja. Namun berbeda dengan wajah ibunya, wajah Alana tampak kesal dan marah. Bibirnya mengerut, seolah menahan kata-kata yang sudah ia persiapkan agar tidak keluar karena belum saatnya.


"Sepertinya yang mau kalian bicarakan sangat mendesak?"


"Ya!" Alana menjawab dengan pipi menggembung.


"Kau belum makan apapun, tapi mulutmu sudah penuh," sindir Benjamin.


"Ya! Sebenarnya mulutku sudah penuh dengan makian!"


"Alana," bisik Maurice dengan penuh peringatan. Ia berulang kali melihat ke wajah Benjamin, menilai perubahan wajah anak tirinya itu. Ia tidak ingin Alana memancing kemarahan Benjamin.


"Aku mendengarkan," ucap Benjamin santai, ia bermaksud mengangkat tangan untuk memanggil pelayan.


"Aku sudah memesan untuk kita," ucap Maurice.


"Oh, baiklah. Kita langsung saja kalau begitu. Kenapa memintaku datang?"


Alana baru saja akan membuka mulut ketika tangan Maurice menepuk lengannya. Melarang gadis itu bicara.


"Biar Ibu saja, Lana."


Benjamin menahan senyumnya ketika melihat bibir Alana makin mengerut kesal. Namun gadis itu menuruti ibunya.


Maurice berdeham, lalu setelah satu tarikan napas, ia menatap Benjamin dengan tatapan tegas.


"Ini tentang Athena, Benjamin. Kenapa wanita itu ada di apartemenmu."


Maurice menahan napas, melihat wajah putra tirinya itu terkejut, kemudian berubah heran. Ia berusaha tetap menghadap Benjamin dengan dagu terangkat menandakan keseriusan masalah yang ia sampaikan. Berharap Benjamin mengerti bahwa ia dan Alana berusaha bersikap baik dengan mengingatkan pria itu.


Maurice menelan ludah menunggu jawaban. Berusaha tampak berani dan menahan agar wajahnya tidak menunduk.


"Kalian sudah bertemu dengannya?" tanya Benjamin santai.


Maurice menyipitkan mata. Tidak ada nada marah yang dikira akan disemburkan putra tirinya itu karena telah mengucapkan sesuatu yang sangat pribadi, menanyakan sesuatu yang bukan urusannya.


Maurice tahu sejak dulu, Benjamin paling benci bila ada yang mencampuri urusannya tanpa diminta. Pria itu akan mengucapkan sesuatu yang tajam, sindiran ataupun peringatan pada orang itu.


"Kau lihat kan, Bu. Dia mengakuinya!" Alana memutar bola matanya ke atas, mendengus dan menepuk meja.


"Jaga sikapmu, Alana Antolini. Ini tempat umum," tegur Benjamin dengan tatapan sedikit mendelik ke arah gadis itu.


"Oh, kau juga harus menjaga sikapmu, Benjamin Antolini. Meski itu tempat tinggal pribadimu, tapi dia seharusnya tidak ada di sana. Ada apa dengan dirinya? Sampai kau tidak bisa membiarkannya pergi? Apa cuma dia wanita yang bisa mengisi hatimu? kecil sekali hatimu hingga hanya dia yang bisa kau lihat! Kau seharusnya memikirkan Ayah! Apa kau belum juga bisa melihat wanita seperti apa sebenarnya Athena itu! "


Benjamin menatap Alana yang mengambil napas terengah, wajah gadis itu tampak kemerahan karena marah.


"Ben ... aku dengar ... kau, mmmm ...." Maurice agak bingung memilih kata, ia ingin menanyakan tentang wanita yang akan dilamar oleh Ben. Pembicaraan Ben dengan Belardo saat meminta cincin ibunya. Tapi menanyakan tentang hal itu sama dengan mengakui kalau ia sudah menguping.


"Katakan saja. Jangan ragu-ragu. Dan kau Alana, sebelum kau muntah karena menahan rasa mualmu, keluarkan saja semua sumpah serapahmu." Benjamin menahan bibirnya yang ingin sekali menyeringai. Namun ia ingin tetap terlihat serius di depan ibu dan anak itu.


"Kau sudah melamarnya?" Alana seolah tercekik ketika mengatakan kata melamar.


"Siapa?"


"Ya Tuhannnn ... Medusa itu!"


"Medusa? Tidak. Aku tidak suka wanita berkepala penuh ular."


"Bukan hanya kepalanya! Hatinya juga penuh ular! Kau, Ayah, entah berapa banyak pria selama ini! Dan sekarang Ian! Hebat sekali dia!"


"Cassimira?"


"Siapa lagi! Aku baru tahu dia bisa tersenyum! Athena hebat sekali! Tapi kau bodoh kalau memang kau bermaksud menjadikannya istri!"


Maurice menyimak percakapan dengan mulut setengah terbuka, menoleh ke arah Alana dan Ben bolak-balik. Ia tidak berhasil menyela percakapan itu.


"Menjadikan istri? Siapa? Cassimira?" Ben tak kuasa menahan senyum kecil yang lolos dari bibirnya.


"Ini tidak lucu, Benjamin! Aku akan mengatakan ini pada Ayah! Kau pasti belum mengatakan padanya siapa wanita yang akan kau lamar!" ucap Alana penuh ancaman.


Kehadiran pelayan yang membawa troli penuh makanan pesanan Maurice membuat mereka berhenti. Setelah semua tersaji dan para pelayan itu berlalu, Benjamin kembali menatap dua wanita itu sambil menyandarkan punggungnya.


"Aku baru menyadari aku sangat lapar. Bolehkah membicarakannya sambil makan?"


"Tentu. Tentu, Ben. Ayo ...." Maurice mencolek lengan putrinya yang masih melotot.


"Sebenarnya Ayah sudah tahu."


"Sudah tahu?"


"Ya ...tentang siapa calon istriku."


"Siapa?" Maurice dan Alana bertanya berbarengan.


"Seharusnya aku mengatakan tentang ini sejak awal. Maaf kalian jadi harus menduga-duga. Calon istriku bukan Athena. Aku sudah melamar Daniella dan dia sudah menerimanya."


Benjamin menyuap dan mengunyah makanan sambil menikmati dua pasang mata yang membelalak dengan wajah terkejut. Hingga beberapa detik keduanya seperti kehilangan kata-kata.


"Daniel-" Maurice berdeham, melancarkan tenggorokannya yang seolah tersumbat, " Daniella Dolores?" tanya Maurice untuk memastikan.


"Ya. Bintang idolamu, Maurice."


"Kau lihat kan! Saudaramu belum segila itu! Wanita itu bukanlah seleranya! Tidak bisa dibandingkan dengan Ella!"


"Ibumu benar, Alana. Aku belum gila," ucap Benjamin. Nada geli dalam suaranya membuat ibu dan anak itu melongo dan menatap seolah tidak mengenali Benjamin.


"Ayo makan siang. Soal Athena nanti kuceritakan kenapa sampai ia ada di apartemenku. Yang pasti, aku lupa memindahkan-- lebih tepatnya mengusirnya karena terlalu sibuk dengan DD."


"Kau bersama Ella? Ah ... kau cuti, jadi selama ini kau bersama Ella?" Maurice mulai mengikuti Benjamin menyuap makan siangnya.


"Bisa dikatakan begitu. Aku akan mengundangnya saat makan malam keluarga ...." Benjamin berdeham sebelum melanjutkan, seolah tidak nyaman mengucapkan kalimat berikutnya, " aku butuh bantuan kalian untuk menyambutnya."


Ben melihat ibu dan anak itu kembali saling berpandangan. Seolah tidak menyangka kalimat itu diucapkan oleh Benjamin.


"Aku ingin ia merasa senang, seperti dulu saat ia menginap di mansion kita waktu itu, Maurice."


"Te-tentu! Aku akan melakukan yang terbaik untuk menyambutnya, Ben!"


Benjamin mengangguk, ia melirik Alana yang hanya diam dan tidak bergerak.


"Keluarganya belum tahu. Daniel tidak terlalu menyukaiku. Jadi aku butuh semua bantuan untuk membujuknya. Termasuk dari kalian."


"Oh, astaga. Ini berita gembira. Selamat, Ben! Aku lega sekali! Kami takut sekali ketika tahu Athena ada di apartemenmu," oceh Maurice. Lalu ia menyadari Alana tidak bersuara. "Lana? Ucapkan selamat untuk Ben," perintah Maurice. Maurice mengingatkan diri agar bersabar perihal sebab Athena ada di apartemen Benjamin. Yang terpenting calon istri Ben bukan wanita itu.


"Kau ... benar-benar bertunangan?" tanya Alana masih setengah tidak percaya.


"Ya."


"Akan segera menikah?"


"Ya."


"Kapan?"


"Secepatnya setelah orang tua DD memberi restu."


Alana menunduk, terlihat berpikir.


"Kenapa?"


"Meski sedikit patah hati, aku ikut bahagia untukmu. Selamat, Ben. Kalau wanita itu Ella, aku akan merestui. Syukurlah bukan Athena."


Benjamin mengangkat alisnya. "Kau patah hati? Aku baru tahu kau menyukaiku," sindir Benjamin.


Wajah Alana berubah ketika ia menyeringai. "Aku bukan hanya menyukaimu. Aku bahkan mencintaimu, Ben! Menikahlah secepatnya, aku merestui dan akan membantumu mendapatkan dukungan dari keluarga Ella," ucap Alana antusias.


"Kalau kau pikir ucapan itu bisa menipuku, kau salah besar, Gadis konyol. Jangan mengira karena ayah sudah tua dan aku sudah menikah, kau bebas melakukan apapun yang kau mau."


Alana terdiam, hanya menyipit menatap Benjamin.


"Jangan terlalu sering datang ke apartemenku, Alana." Benjamin berucap santai sambil menatap tajam ke arah Alana. " Ian Cassimira tidak tertarik pada gadis kecil. Dia pria dewasa, mapan dan suka wanita elegan yang tahu bagaimana caranya berbagi kesenangan. Bukan anak perawan yang menatap dengan mata membesar, terpesona, tapi terlalu gugup bahkan hanya untuk mengucapkan kalimat dengan benar di depannya. Kau hanya akan dibuat menangis!"


Alana melotot, menatap tak kalah tajam dari mata Benjamin.


"Aku bukan gadis kecil!"


"Itu menurutmu. Tapi itulah yang dilihat Ian. Selesaikan kuliahmu dengan benar, Lana. Jangan dulu mendekati pria, apalagi mendatangi tempat tinggalnya! ingat itu! "


Alana memutar bola matanya kembali, memilih tidak membantah.


"Dia mungkin membukakan pintunya untukmu jika kau terus memaksa mendekat. Tapi dia tidak akan hanya duduk dan mendengarkan ceritamu! Atau minum bersama sambil menonton film! "


"Oh ya!? Lalu apa yang sebenarnya dia pikirkan?"


"Bodoh!"


"Berciuman!? Lalu ke tempat tidur!?" tanya Alana dengan nada menantang.


Maurice terbatuk-batuk, terkejut mendengar ucapan putrinya.


"Mungkin saja!"


"Woahhhh! Katakan! Kau juga melakukannya pada Ella?"


Kali ini Benjamin yang terbatuk hebat, makanan seolah salah masuk saluran, seperti tersangkut dan masuk ke hidung. Membuat matanya bahkan sampai berair.


Maurice sampai berdiri dan menepuk punggung Benjamin dengan wajah khawatir sambil memberikan air minum.


"Minum ini, Ben. Cepat!" seru Maurice. Ia memelototi Alana yang tertawa geli, puas melihat Benjamin yang tersedak.


NEXT >>>>>>


*********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.