Belinda

Belinda
52. Next step



Benjamin menatap Alana yang bersedekap dan berdiri di depannya, gadis itu seolah siap menginterogasi sampai ia mendapatkan jawaban. Benjamin jadi berharap andai ia tidak duduk di ruangan itu, andai ia langsung saja ke ruang makan sehingga tidak bertemu Alana sebelum makan malam dimulai.


"Aku tanya kenapa belum juga Daniella datang untuk makan malam ? Jangan bilang kau tidak mampu membawanya kemari."


Benjamin menatap datar tanpa menjawab.


"Ayah akan memburumu dengan pertanyaan yang sama saat di meja makan nanti."


Benjamin melonggarkan dasi dan membuka jas yang ia pakai.


"Ada berita hangat kalau Ella ada di Copedam." Lanjut Alana.


Gerakan Benjamin berhenti sejenak, kemudian ia lanjut lagi menyampirkan jasnya di atas sandaran sofa yang ia duduki. Masih mencoba mengabaikan Alana dan berharap gadis itu segera pergi.


"Ia juga mengunjungi kantormu kan? Beritanya ada di mana-mana."


Benjamin masih tidak menjawab, membuat Alana mendecakkan lidah.


"Ck! Dia datang kemari, datang ke kantormu, namun malam ini kau tidak bisa mengundangnya datang di acara makan malam keluarga. Apa benar dia sudah menerima lamaranmu?"


"Pergilah bantu ibumu menyiapkan makan malam, Alana," perintah Ben.


"Tidak mau menjawab? Apa gosip di media sosial hari ini benar adanya? Kau sudah baca?"


Benjamin menoleh, menatap Alana yang menatap dengan tatapan menang. Akhirnya perhatian Benjamin terpusat pada ucapannya.


"Gosip apa?"


"Bahwa sebenarnya tidak ada hubungan apapun yang terjadi antara kau dan Daniella Dolores, begitulah kata wartawan itu!"


"Dimana kau membacanya?"


Alana mengeluarkan ponsel dari dalam kantong gaun, lalu mulai mencari berita terbaru, kabar tentang artis Daniella Dolores.


"Dikatakan di sini, Ella datang ke Copedam menghadiri acara pesta yang diselenggarakan oleh salah satu brand kosmetik terkenal. Acaranya malam ini ... dia datang bersama seorang pria yang dikatakan merupakan calon sutradara masa depan, masih muda, tampan dan dikabarkan juga memiliki hubungan khusus dengan Ella." Alana menyipitkan mata, menilai ekspresi Benjamin.


"Berikan ponselmu," ucap Benjamin.


Alana mengulurkan ponselnya dan memberikan potongan berita yang sudah ia temukan.


"Dikabarkan juga bahwa ketika datang ke Copedam, ia mengunjungi Kantor perusahaan Antolini untuk meluruskan gosip tentang hubungannya denganmu. Ella ingin memastikan bahwa hubungannya denganmu murni hanya hubungan kerabat karena pernikahan ...."


Alana berhenti sebentar, melihat Benjamin yang menggeser layar ponselnya dengan jari. Ia yakin kakaknya itu sudah tiba pada berita utama.


"Wartawan itu mengatakan Ella melakukan itu agar tidak ada lagi yang mengaitkan dia dengan dirimu .... agar ia bisa memulai hubungan dengan pria tampan yang datang bersamanya ke pesta malam ini."


Alana melihat bibir Benjamin menipis, tertarik dalam satu garis yang membuatnya terlihat dingin dan sinis.


"Hector ...." bisik Benjamin dengan tatapan tajam, tangannya menggenggam erat ponsel Alana, seolah ingin menghancurkannya.


"Berikan padaku," ucap Alana sambil cepat-cepat mengambil ponselnya kembali, "kau mau menghancurkannya ya," sungut Alana.


"Dia cantik sekali ya ... terlihat **** dalam gaun hitam ini, rambutnya berkilat, matanya berbinar ... ahhhh" Alana mendesah," ini foto yang diambil setengah jam lalu oleh wartawan ... pestanya pasti meriah. Eh ... apa kau tidak diundang? Disebutkan bahwa beberapa pengusaha ada yang diundang."


Benjamin mengusap wajahnya, lalu teringat benda yang siang tadi ia masukkan ke dalam kantong celana.


"Kau dan Ella putus?"


Benjamin menatap Alana. "Maksudmu?"


"Sejak peristiwa di Copedam Hill, sejak kau kembali ke pekerjaanmu dan Ella selesai syuting. Sudah beberapa bulan ... tapi hubungan kalian malah tidak maju-maju. Ayah menunggu kau membawa calon menantu. Dia mengatakan kau pasti bisa karena itu dia tidak mengatakan apa-apa. Meski ia bertanya-tanya... Apa yang membuatmu tidak kunjung membawa Ella ke mansion."


Benjamin mendesah, lalu memasukkan tangan ke dalam kantong. Jemarinya menyentuh cincin yang tadi siang dikembalikan Ella padanya.


"Tidak. Kami tidak putus."


"Baguslah ... kalau begitu, pastikan kau membuat Ella tidak pergi bersama pria lain. Apalagi di pesta besar seperti malam ini ... jika ayah melihat berita ini ... ia pasti ...."


"Ayo makan malam, Alana ... ayah pasti sudah menunggu."


Benjamin melangkah lebih dulu meninggalkan Alana. Tubuhnya mengarah ke ruang makan keluarga Antolini, namun pikirannya melayang ke acara pesta ynag dihadiri Ella bersama Hector malam ini. Pesta ini yang rupanya membawa Ella datang ke kota Copedam.


Sejak kapan kau dan Hector jadi dekat? Apa karena aku menjauh? Pria ini melihat kesempatan lalu kembali mendekatimu?


Alana yang menyusul kemudian menarik sebuah kursi di sebelah ibunya, lalu duduk dan memberikan sebuah senyum dan anggukan pada ibunya.


"Kalian terlambat," ucap Belardo.


"Aku sudah datang dari tadi, Ayah, hanya saja ada yang mencecarku dengan berbagai pertanyaan." Benjamin melirik malas pada Alana.


"Apa yang kau tanyakan pada Ben, Alana?" tanya Belardo.


Alana berdeham, lalu menatap ayahnya sambil tersenyum. "Hanya hal remeh, Ayah."


Belardo tertawa kecil, memutuskan tidak akan mengorek lebih lanjut karena mereka akan makan malam.


Benjamin bersyukur topik itu ditutup. Mereka makan malam seperti biasa, namun pikiran Ben tidak bisa lepas dari Ella dan Hector.


Apa pukulan Miranda di kepalamu waktu itu masih kurang, Hector?


**********


"Kau yakin hal ini tidak akan membuatku berada dalam bahaya, El?"


Pertanyaan itu membuat Ella menoleh. Hector sedang berdiri di sebelahnya, lalu mengambil minuman yang sama dengan Ella dari atas meja.


"Tidak akan."


"Entah kenapa aku tidak yakin."


"Kenapa?"


Hector tertawa kecil. "Kau membuatku menjadi umpan, Temanku. Pria ini bukanlah orang yang akan diam saja jika ia merasa miliknya diganggu."


"Aku bukan miliknya," ucap Ella gusar.


"Itu menurutmu. Kau kira kami semua tidak punya mata saat syuting di Copedam Hill? Pria itu memujamu, tergila-gila padamu."


Daniella mendengus. "Memujaku? Hanya dalam mimpi! Tergila-gila? Hanya kabar angin dari seberang teluk! Orang yang tergila-gila tidak akan menjaga jarak atau bersikap tidak peduli, Hector!"


Hector mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku tidak tahu bagaimana cara ia berpikir. Tapi ... kau sudah lihat gosip yang beredar Karena kedatangan kita berdua di sini sebagai pasangan kan? Jika dia tahu ... aku jadi berpikir yang tidak-tidak ... bagaimana jika nanti ada yang memukuli kepalaku lagi, lalu aku tidak pernah bisa bangun lagi."


Daniella terkekeh. " Kau berpikir terlalu jauh."


"Apa aku bisa menarik kembali perjanjian kita? Aku akan membalas budi dengan cara lain."


Ella menggelengkan kepala. "Tidak bisa. Kau sudah mendapatkan proyek baru berkat diriku, Hector. Kau berjanji akan membalas dengan melakukan apapun yang aku inginkan," ucap Ella sambil menyeringai.


"Tapi tidak dengan mempertaruhkan kepalaku, El."


"Tenanglah," ucap Ella sambil tertawa geli. Ia meletakkan gelasnya di atas meja, lalu menepuk pelan bahu Hector beberapa kali dengan sangat akrab. "Tidak perlu takut. Lakukan saja sandiwaranya, Hector. Felix akan melakukan bagiannya, berita tentang kita akan menjadi viral. Aku mendapatkan apa yang aku mau, kau juga mendapatkan pekerjaan untuk membuktikan kemampuanmu." Ella kemudian menggandeng lengan Hector, "ayo berjalan, pelan-pelan ... banyak yang mengambil gambar kita, video juga. Tunjukkan sedikit aktingmu."


"Astaga ...," bisik Hector ketika merasakan Ella menariknya melangkah, sedetik kemudian ia merasakan kepala wanita itu menempel di bahunya seolah tengah bersandar.


"Sebentar saja, ya. Hasil gambarnya pasti bagus."


"Astaga El ... malam ini tidak akan ada yang mendatangiku lalu membekap wajahku dengan bantal kan?"


Ella tertawa geli.


"Jangan tertawa. Aku serius. Ini di Copedam, Ella. Tempat tinggal Benjamin Antolini. Aku sungguh tidak ingin ada masalah dengannya."


"Tidak akan. Aku berjanji. Ini hanya bumbu sebelum aku melakukan langkah selanjutnya," ucap Ella dengan nada geli.


NEXT >>≥>>>>>>


**********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love, bintang lima, ketik komentar dan Vote untuk Black DD ya. Atas dukungannya author ucapkan terima kasih. Yuk, vote sebanyak-banyaknya biar menang hadiah Give Away dari Black. Semoga beruntung & sehat selalu readers Black.


Salam. DIANAZ.