
Belinda duduk di sisi tempat tidur rumah sakit dengan wajah terus menatap wajah Verga. Suaminya itu masih terpejam, kelopak matanya rapat, bibirnya tampak sangat pucat, sisi kiri wajah pria itu nampak lebam keunguan. Seluruh rambut di kepalanya sudah hilang, tercukur habis ketika dioperasi. Verban memanjang tampak menutupi bagian luka operasi.
Belinda melirik ke arah sebuah sofa panjang yang ada di sudut ruangan. Benjamin sedang berbaring di sana dengan mata terpejam. Posisinya tampak tidak nyaman karena panjang tubuh Ben yang melebihi sofa membuat kakinya tergantung di bagian ujung. Belinda melirik lagi ke sebuah tempat tidur yang ada di sebelah ranjang Verga. Tempat itu kosong, namun entah kenapa Ben memilih beristirahat di atas sofa.
Merasakan jari-jari Verga yang tergenggam di tangannya sedikit bergerak, Belinda menoleh cepat dan memandang penuh harap ke wajah suaminya. Namun, mata itu masih terpejam rapat. Membuat Bel menarik napas panjang, lalu menunduk, menyandarkan pipinya ke telapak tangan Verga yang ada dalam genggamannya.
"Kapan kau bangun? Ayolah ... jangan membuatku terus ketakutan," bisik Belinda sambil mencium telapak tangan Verga. Merasakan tangan tersebut tidak merespon, Belinda bangkit, duduk di sisi tempat tidur. Ia mengelus pipi Verga dengan sangat lembut. Air mata kembali menggenang di kelopak matanya. Sejak malam kecelakaan suaminya itu, Belinda merasa ia sangat cengeng.
"Ada yang ingin kukatakan padamu ... sesuatu yang sejak dulu seharusnya kusampaikan."
Belinda melirik lagi ke arah sofa. Benjamin tampak tidak bergerak. Kakaknya itu sepertinya sudah tidur nyenyak. Ben sudah mengatakan ia yang akan menjaga di rumah sakit, ia memerintahkan semua orang pulang dan beristirahat di rumah. Namun Belinda menolak. Ia ingin tetap berada di samping suaminya.
"Ayah Verone sangat sedih, ia tampak sangat lemah ketika tiba ke sini dan melihatmu ... jangan membuatnya menangis terlalu lama, aku takut ia sakit jika kau tidak juga bangun ... untunglah Ayah Belardo mampu membujuknya pulang dan beristirahat di rumah ... bangunlah Verga ... "
Belinda berbisik sambil terisak, ia mendekat, mencium lembut bagian pipi suaminya yang tidak terlihat lebam. Berhati-hati, Belinda memeluk tubuh suaminya itu di atas ranjang.
"Aku mencintaimu ... aku belum mengatakannya padamu ... aku menyesal tidak mengatakannya lebih cepat ... aku ingin sekali kau tahu ... aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku ... bangunlah ...." air mata Belinda berderai diantara bisikannya. Hatinya sangat pedih. Ketika Ben mengatakan suaminya ditemukan dan tengah dibawa ke rumah sakit, Belinda merasakan dunianya menjadi gelap. Penyesalan demi penyesalan silih berganti menghantam, membuat tubuhnya kehilangan kekuatan. Sebelum ia kehilangan kesadaran dan pingsan. Belinda menyadari, yang paling disesalinya adalah ia belum mengatakan pada Verga bahwa ia mencintai pria itu. Amat sangat.
Di sudut ruangan, Benjamin memicingkan mata, melihat apa yang terjadi di atas ranjang rumah sakit dalam diam. Belinda terisak sambil memeluk tubuh Verga.
"Aku ingin kau mendengarnya. Aku ingin kau tahu ... bahwa aku tidak menyesal telah menikah denganmu. Aku bersyukur dipertemukan denganmu. Aku hanya menyesal belum jadi wanita yang terbaik untukmu ... begitu banyak kesalahan yang telah aku lakukan ... maafkan aku ...."
Belinda mengakhiri bisikannya, napasnya terasa sesak diantara derai tangis.
"Bangunlah, kita bersama lagi ... berikan aku kesempatan, jadi istri yang baik untukmu, berikan aku kesempatan menunjukkan cintaku kepadamu."
Namun, ratapannya hanya dijawab keheningan, tubuh Verga tetap diam, mata Verga tetap terpejam. Membuat tangis Belinda makin kencang dan tenggorokannya seperti tercekik.
Benjamin bangkit dengan sangat perlahan, sambil mengembuskan napas berat, ia meraih sebuah botol air minum dari atas meja dan berjalan mendekati Belinda.
"Bangunlah, Bel ... minumlah ini," ucap Ben sambil menyodorkan botol air.
Belinda mengerjap, membuat bulir air matanya jatuh membasahi baju rumah sakit yang dikenakan Verga.
"Kau membuat bajunya basah ... dia akan bangun, Bel... aku yakin, bersabarlah ...."
Belinda akhirnya bangkit, ia mengambil botol air minum dan segera meneguknya. Merasakan tenggorokannya sedikit lega.
"Terima kasih."
Benjamin mengangguk, lalu kembali meletakkan botol air ke atas meja. Ketika berbalik, ia melihat Belinda berusaha bangkit dari pinggir tempat tidur untuk kembali ke kursi. Benjamin mendekat dan memegang bahu adiknya itu.
"Kau terlihat sangat lelah. Berbaringlah di sana, tidurlah sebentar." benjamin menunjuk tempat tidur kosong tak jauh dari ranjang Verga.
Belinda menggelengkan kepala. "Bagaimana kalau nanti ia bangun? Aku ingin ada di depannya ketika ia membuka mata."
"Aku akan membangunkanmu jika itu terjadi."
Benjamin mengembuskan napas panjang, membiarkan Belinda duduk kembali di kursinya. Ia baru saja akan berbalik kembali ke sofa ketika merasakan pergelangan tangannya ditarik.
Belinda memegang tangan Benjamin, mendongak menatap wajah kakaknya itu.
"Terima kasih, Benjamin. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan tanpa kau dan Ayah."
Benjamin mengerutkan kening. "Untuk apa berterima kasih. Sudah seharusnya kami melakukannya."
"Tetap saja ... aku ingin mengatakannya. Selama ini, aku sudah bersalah karena selalu menyangkal ikatanku dengan kalian. Aku ... hanya berfokus pada kesedihan dan kebencianku. Selalu menghitung semua kesalahan yang kuanggap kalian lakukan padaku ... aku tidak pernah bersyukur atas apa yang telah kumiliki ... atas apa yang sudah kalian berikan dan lakukan untukku ... maaf ...."
Benjamin terlihat terkejut mendengar kata maaf. Ia mengulurkan sebelah tangannya dan mengelus puncak kepala Belinda dengan perlahan.
"Jangan meminta maaf. Kau tidak salah ... akulah yang seharusnya mengatakannya ... maafkan aku ... juga Ayah ...
Belinda melepaskan pergelangan tangan Benjamin, mencoba tersenyum di antara derai air matanya. "Aku juga, Ben. Maafkan aku juga ... aku sungguh menyayangi kalian."
Benjamin menaikkan kedua alisnya, kembali menampakkan raut wajah terkejut.
"Aku ingin orang-orang yang kusayangi tahu apa yang kurasakan. Aku tidak mau menyesal di kemudian hari ...."
Bibir Benjamin menampakkan senyum kecil. Kembali ia menepuk pelan puncak kepala Belinda, satu tangannya yang lain menghapus lelehan air mata di pipi adiknya itu. Merasa bersyukur mereka sudah saling memaafkan.
"Terima kasih juga sudah memilihkan Verga untukku ... aku sangat mencintainya ...."
Verga ... semua berkat Ver- Benjamin melirik ke arah ranjang. Matanya langsung terbelalak menatap wajah Verga. Kedua mata biru tersebut sudah terbuka, balik menatap ke arah Benjamin, terlihat tidak terlalu fokus.
"Verga!" seru Benjamin.
Belinda langsung menghadap ke arah ranjang, terkejut dan bangkit berdiri sambil meraih kedua bahu suaminya, menatap mata Verga seolah memastikan suaminya itu benar-benar sudah membuka mata.
"Ya Tuhannnn! Kau bangun! Kau bangun! Terima kasih Tuhannnn!"
Belinda memeluk suaminya sambil menangis, menciumi dada, bahu, lalu pipi pria itu dengan sangat lembut. Kemudian kembali ia menatap wajah Verga. Mata biru suaminya itu balik menatapnya. Bibirnya bergerak-gerak seolah ingin mengucapkan sesuatu, namun kesulitan untuk mengatakannya.
"Jangan bicara dulu, Sayang, kau terlihat kesakitan." Belinda mengelus pelan pipi Verga, air matanya menetes di pipi dan leher pria itu. Mata Verga menatapnya, lalu pria itu berusaha menggerakkan kepala seperti akan menggeleng. Tapi gerakan kecil itu membuatnya nyeri dan tidak nyaman.
Belinda terisak, gerakan kepala Verga seolah mengatakan padanya agar jangan menangis. Membuat isak tangis Bel semakin kencang.
"Oh, Kau! Aku mencintaimu!" seru Belinda dengan suara keras, lalu memeluk kembali tubuh Verga.
Benjamin menarik napas lega, memejamkan mata sejenak, menelan ludah dan mengucap syukur berulang kali di dalam hati. Ketika ia membuka mata, pemandangan di hadapannya masih sama. Ia menatap Verga dengan sorot terima kasih. Adik iparnya itu balik menatap ke arahnya. meski sebelah mata Verga masih bengkak dengan kelopak mata tampak sedikit menghitam, keduanya berbagi kata lewat tatapan. Lega, bersyukur juga rasa terima kasih.
NEXT >>>>>>
***********