Belinda

Belinda
61. Bud of hope



Benjamin membantu ayahnya berdiri dari kursi roda dibantu oleh seorang perawat pria, lalu menganggukkan kepala ketika Belinda membukakan pintu mobil bagian belakang.


Setelah ayahnya masuk, Bel bermaksud membuka pintu bagian depan. Namun Benjamin menghentikannya.


"Aku yang akan duduk di depan. Kau duduk di belakang, dengan Ayah."


Bel baru saja akan membantah ketika ia melihat mata anak buah Ben yang akan menjadi sopir melirik ke arahnya. Di belakang mobil mereka, satu mobil lain sudah menunggu. Berisi anak buah Ben yang akan membawa kursi roda dan semua barang ayahnya.


Lucu sekali kalau aku tiba-tiba meminta naik mobil yang itu.


Bel memilih menurut, ia mengangguk, membuka pintu belakang dan duduk di samping ayahnya. Ia sedikit terkejut melihat buket bunga mawarnya sudah tergeletak di tengah-tengah kursi.


"Ayo berangkat. Aku sudah tidak sabar mau pulang," ucap Belardo pada sopir yang sudah berada di belakang kemudi.


"Baik, Tuan."


Keheningan mewarnai perjalanan pulang. Sampai setengah perjalanan baru suara Belardo terdengar.


"Ben, kau sudah menghubungi Sienna?"


"Ya."


Belinda menoleh ke arah ayahnya ketika mendengar nama mantan pelayan pribadinya itu.


"Sienna ...," bisik Belinda pelan.


"Ya. Sienna. Sudah lama ia mengeluh tidak ada yang bisa ia kerjakan di pulau ladang jagung."


"Apakah ia baik-baik saja."


"Dia sehat. Aku menyuruhnya datang."


"Ke sini?"


"Kemana lagi? Tugasnya dari dulu tidak berubah. Aku tidak bisa membiarkannya ikut ke rumah Marchetti bila suamimu atau dirimu tidak memintanya." Belardo mengangguk-anggukkan kepala. Wajah tegas dan nada penuh wibawa pria itu sudah kembali, meski tubuhnya bersandar dan masih tampak sisa rasa lelah.


"Aku tidak membutuhkan pelayan, Ayah. Jadi tidak perlu memanggil Sienna ke sini."


"Kau sedang di rumah keluarga Antolini. Sienna adalah pelayan pribadimu. Jadi dia harus datang."


"Aku akan menghubungi Mansion di pulau ladang jagung. Aku tidak membutuhkan pelayan pribadi." Belinda mencoba mempertahankan keinginannya. Hal yang seharusnya ia lakukan sejak dulu. Menyuarakan apa yang ia inginkan. Ia baru saja akan membuka tas untuk mengambil ponsel ketika suara Benjamin terdengar.


"Sienna sudah dalam perjalanan. Tadi pagi saat menelponku, dia bilang sudah naik kapal. Mungkin ...." Benjamin mengangkat pergelangan tangan melihat ke arah jam tangannya." dia akan tiba sesudah makan siang."


Mendengar kalimat tersebut Belinda berhenti mencari ponsel. Ia menatap kepala Benjamin yang berbicara tanpa menoleh ke belakang.


"Wanita itu sudah tua ... kau memaksanya melakukan perjalanan pagi-pagi sekali untuk hal yang tidak diperlukan." Belinda mengucapkan protesnya pada Benjamin dengan nada bersungut-sungut.


"Sienna belum setua itu," bantah Benjamin dengan nada santai.


Seperti dugaan Bel, Benjamin maupun ayahnya tidak mau mendengarkan. Sudah biasa mengucapkan perintah. Ia mau saja berdebat, tetapi terasa membuang tenaga. Lagipula Sienna sudah berangkat. Wanita itu hanya akan menuruti perintah Belardo atau Benjamin.


Belinda hanya bisa menggembungkan pipi dan membuang muka ke arah kaca mobil. Kehadiran Sienna sejak dulu membuat rasa jengkel pada ayah dan kakaknya bertambah. Wanita itu seperti mata-mata yang selalu melaporkan semua kegiatan Bel. Juga selalu mengatur kehidupannya dengan dalih perintah dari Belardo atau Benjamin. Jika memikirkannya sekarang, Bel memahami begitulah cara Benjamin atau ayahnya mengetahui semua hal tentang keseharian Belinda.


Ketika datang menemui para penggarap ladang jagung, ayah membawa kotak hadiah yang ia tinggalkan begitu saja di atas meja ... aku tidak pernah menggubris pakaian, sepatu atau apapun selain makanan ... kalau dipikir-pikir ... dia tahu apa yang aku suka ... pasti Sienna yang memberitahu ... apakah Ayah bertanya pada Sienna sebelum ia datang? Sehingga ia memang selalu membawa kotak berisi makanan kesukaanku .....


**********


Sendiri di dalam kamar yang dulu merupakan kamarnya sejak masih kecil membuat Belinda kembali mengenang masa lalu. Kamarnya tidak terlihat seperti kamar yang sudah lama tidak ditinggali. Ruangan itu bersih, rapi, dan wangi, sebagai tanda tetap dirawat dan dipelihara meski tiada orang yang menempati.


Kaki Belinda berjalan mengitari ruangan, hingga tiba di di depan sebuah foto besar pernikahannya dengan Verga. Itu adalah benda baru yang ia lihat terpajang di kamarnya.


Belinda jadi penasaran siapa yang memerintahkan foto tersebut diletakkan di sana.


Ketika tiba di dekat jendela, Belinda menyibakkan gorden tipis berwarna pink muda yang menutupi kaca. Ia tersenyum ketika bahan lembut kain tipis tersebut menyentuh tangan. Meski telah berganti model dan corak, warna gorden di kamar itu tetaplah pink. Warna yang ia inginkan ketika masih kecil. Melirik ke arah kaca, Bel melihat suguhan pemandangan indah taman bunga yang ada di halaman.


Kamarku sangat indah, juga besar. Terletak di bagian yang sama dengan Ben ... kamar Alana tidak di sayap yang sama ....


Memikirkan hal tersebut, kaki Belinda melangkah lagi ke arah pintu kamar. Setelah mengedarkan pandangan ke seluruh kamarnya, ia membuka pintu dan keluar.


Langkah kaki Bel membawanya tiba di depan sebuah pintu. Kamar Alana.


Aku lancang sekali bila melihat bagaimana kamar Alana. Tapi .... aku butuh melihat ... agar mataku semakin terbuka ....


Tanpa pikir panjang lagi Belinda memegang gagang pintu. Menyingkirkan suara hati kecilnya yang mengatakan kalau ia telah berbuat hal yang tidak pantas.


Belinda masuk, namun ia membiarkan pintu tetap terbuka.


Kamar Alana tergolong besar dan luas, namun bila dibandingkan dengan ruangan Belinda, maka tempat tersebut terlihat sedikit lebih kecil.


Belinda menuju jendela kaca dan menatap ke arah luar. Tidak ada pemandangan taman ... di kejauhan, ia bisa melihat jalanan dan atap dari rumah sekitar.


Kenapa gadis itu tidak meminta pindah ke bagian kamarku ...


"Kenapa kau ada di sini!?"


Suara tersebut membuat Belinda terlonjak. Ia berbalik dan melihat Maurice sudah berdiri di bingkai pintu.


"Apa yang kau cari?" tanya Maurice sambil menyipitkan mata.


"Maaf ... aku hanya ingin melihat pemandangan di luar dari kamar Alana."


"Tidak ada yang menarik bukan!? Jauh sekali dengan kamarmu, Ben, atau bahkan Athena."


Maurice melangkah masuk, berdecak ketika melihat buku-buku yang dilemparkan Alana di atas ranjang.


"Ck! Dia melarang siapapun menyentuh buku-bukunya! Tapi dia tidak mau membereskannya sendiri! Lihatlah tempat tidur ini! Pelayan bahkan tidak berani mengganti seprai tanpa seizin gadis itu! "


"Apakah tidak boleh seseorang menyusunnya kembali ke atas rak? " tanya Belinda sembari menunjuk ke arah rak buku yang memenuhi sepanjang bagian dinding kamar Alana.


"Aku pernah melakukannya, dan dia mengamuk! Kata-kata gadis itu sangat pedas kalau sedang marah! Lalu berhari-hari dia tidak mau bicara padaku!"


Maurice menarik sebuah buku tebal, membuka beberapa lembar dan mengerutkan kening sebelum melemparkannya kembali ke atas kasur.


"Isinya pasti membuat sakit kepala. Syukurlah gadisku itu sangat pintar," ucap Maurice dengan nada bangga.


Belinda tersenyum. "Alana beruntung sekali ... " bisik Belinda tanpa sadar.


"Apa maksudmu?" Maurice bersedekap dan menatap Belinda dengan mata menyipit.


"Oh ... bukan apa-apa ... Alana memang gadis yang pintar."


"Bukan itu. Apa maksudmu Alana beruntung?"


Belinda menatap ke arah tempat tidur yang dipenuhi buku. Ia tidak mau menatap ke arah wajah Maurice yang menanti jawabannya dengan raut penasaran.


"Dia ... punya ibu yang mendukung dan mengkhawatirkannya setiap saat. Dia ... masuk kedokteran dan punya dukungan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya ... dia diberikan kebebasan-"


"Di banding dirimu, gadis itu bukan apa-apa," potong Maurice dengan nada tidak sabar.


"Kau hanya perlu membuka mata dan hatimu itu lebar-lebar! Meski aku istri sah Belardo, aku hanya istri ketiga! Anakku bukan darah daging ayahmu! Kau kira bagaimana perjuangan Alana agar memiliki tempatnya sendiri di rumah ini! Memiliki tempatnya di hati ayahmu atau Benjamin! Kau sudah duduk manis dan nyaman di hati mereka tanpa perlu berusaha keras! Belardo sudah tidak menyisakan ruang lagi untuk putri lain dalam hatinya, mungkin sejak dirimu lahir ke dunia, satu-satunya tuan putri! Hanya Belinda! Ck! Kau pikir kenapa nama kalian semua berawalan B! Belardo, Benjamin, Belinda, Hakh! Lucu sekali! "


Belinda menatap tak berkedip ke arah bibir Maurice, terkejut dengan omelan, dan sikap Maurice yang terlihat tidak puas pada dirinya.


"Sekarang keluarlah! Makan siang sebentar lagi! Turun dan jangan terlambat! Atau ayahmu akan memarahiku karena mengira aku tidak memberitahumu!"


Maurice melenggang meninggalkan Belinda, mulutnya masih mengeluarkan omelan meski dengan suara lirih.


Belinda menggigit bibir, menahan sesuatu dalam hatinya yang terasa mengembang, merekah seolah baru saja mendapatkan siraman air hujan yang amat sejuk.


Setelah menutup pintu kamar Alana, Belinda kembali ke kamarnya sendiri. Menyiapkan diri untuk makan siang. Kuncup harapan dan juga tekad muncul dalam hatinya.


Alana benar, seharusnya aku tidak berhenti berharap atas kasih sayang mereka saat aku remaja dulu. Karena sesungguhnya kasih sayang mereka mungkin saja sebenarnya tidak pernah putus ... hanya saja cara mereka berbeda dengan yang biasa orang lain lakukan ... aku hanya perlu mencoba memahami ...


NEXT >>>>>


*********