Belinda

Belinda
40. Foe 2



"Sebenarnya ada apa denganmu? Apalagi yang kau tunggu, Felix?" Miranda menarik kuat lengan Felix.


"Belum ada yang kudapat, Miranda. Tidak ada yang bisa kujadikan berita."


"Apa maksudmu? Bukankah kau sudah dapat berita bagus kemarin?"


Felix menggelengkan kepala. Ia tidak berani mengatakan apapun pada Miranda. Ia yakin ia diawasi. Orang-orang yang bekerja untuk Antolini pasti ada di setiap lokasi syuting dan juga Hotel Copedam Hill, hanya saja ia tidak mengenali mereka semua.


Satu kata atau tindakan saja yang membuat mereka tidak senang, Felix sangat yakin karirnya akan berakhir. Tidak hanya itu, ia yakin hidupnya juga tidak akan aman. Ia akan terpuruk dan jadi orang tidak berguna ketika mereka sudah mulai menepati setiap ancaman yang kemarin mereka ucapkan ketika ia ditangkap. Lagipula, semua bahan yang bisa ia jadikan berita sudah diambil oleh pria kecil berkacamata yang penampilannya sangat menipu. Timmy bisa mematahkan lehernya hanya dalam sekali gerakan.


"Aku tidak akan menampungmu lagi jika kau tidak bisa melakukan pekerjaanmu, Felix!"


Ucapan Miranda membuat Felix melotot.


"Menampung kau bilang? Aku bukan pengungsi, Miranda! Kau yang mengundangku kemari!"


"Untuk membuat berita yang bisa menjatuhkan wanita itu! Tapi apa!? Kau tidak melakukan apapun selama di sini! Dasar parasit."


Felix mengembuskan napas tidak sabar. Ia menahan lidahnya agar tidak membalas makian Miranda, meskipun ia merasa tersinggung dengan ucapan temannya itu.


"Aku tidak akan mengambil hati ucapanmu ini. Aku tahu kau sedang kesal dan marah. Tapi aku peringatkan padamu, Miranda ... jangan mencari gara-gara dengan Daniella, dia punya orang-orang yang melindunginya."


"Si bodyguard yang ia pamerkan di setiap kesempatan itu!? Hah! Dia hanya sewaan!"


Felix menggelengkan kepala, berusaha berbicara dengan nada sabar.


"Bukan hanya dia. Back up Daniella Dolores terlalu kuat, Sayangku. Jika kau ingin terus berbisnis di industri ini, maka kedepankan bakat dan keahlianmu. Jangan ganggu wanita itu ..."


"Back up apanya? Keluarganya? Dia hanya anak seorang pemilik restoran! Ayolah Felix! Dia pasti punya kelemahan, pasti pernah melakukan hal buruk!"


Miranda mendengus, menatap marah Felix dan menunjuk pria itu. "Jika kau tidak bisa, maka pergilah dari sini! Aku akan melakukannya sendiri dengan caraku!"


Felix menahan lengan Miranda ketika wanita itu berbalik dan akan pergi.


"Tunggu. Apa yang akan kau lakukan? Jangan gegabah, Miranda. Akibatnya bisa berbalik padamu," ucap Felix.


Miranda menarik lepas lengannya. Ia menatap Felix dengan mata berapi-api. "Tidak ada urusannya denganmu! Kau boleh pergi! Aku tidak butuh teman yang tidak berguna!"


Felix menatap kepergian temannya sambil menarik napas panjang. "Sayangnya aku masih tertahan di sini. Aku belum boleh pergi jika mereka belum mengizinkan."


**********


Athena menggeretakkan gigi ketika melihat Benjamin yang berjalan keluar dari pintu lift bersama dua orang pria anak buahnya. Sejak pagi ia berusaha menemui pria itu di ruangan kantornya. Namun jangankan sampai di lantai atas tempat dimana kantor Ben berada, ia tertahan di lobi dengan satu penjaga yang sampai sekarang masih menunggui dan mengawasinya.


Athena bangkit dari sofa yang ada di sudut lobi, bermaksud menemui Benjamin.


"Anda tidak boleh menemuinya, Nyonya. Tuan punya acara penting dan tidak bisa menemui siapapun."


Ucapan penjaga yang kini menahan lengannya itu membuat Athena menggeram marah. Ia bosan mendengar kalimat yang sudah sejak tadi diucapkan berulang oleh pria itu.


"Lepaskan! Atau aku akan membuat keributan di sini!"


Athena melirik ke arah Benjamin yang hampir mencapai pintu keluar gedung.


"Benjamin!" teriaknya kencang, lalu sekali lagi menyentakkan lengan.


Benjamin berhenti melangkah, lalu menoleh ke arah Athena. Ia melihat salah satu penjaga memegang erat lengan wanita itu. Segera Benjamin mengangkat tangan, memberi kode agar melepaskan pegangan.


"Akan kuingat wajahmu baik-baik. Kau akan menerima balasanku!" bisik Athena sengit.


Benjamin mengembuskan napas sambil melirik ke arah jam tangannya. Ia punya urusan sangat penting hari ini. Namun, mengabaikan Athena sama dengan membuat keributan.


"Ben! Bisakah kita keluar makan siang? Aku sudah menunggu sejak pagi, namun tidak ada seorang pun yang mengijinkan aku menemuimu."


"Dengarkan aku baik-baik, Athena. Kau sendiri yang meminta keluar dari persembunyianmu di apartemen. Artinya kau sudah bisa mengurus sendiri urusanmu. Jadi jangan temui aku ataupun keluargaku. Seseorang akan mengantarkan kau kembali ke rumahmu yang sebenarnya. Jadi jangan berkeliaran di Copedam lagi."


Benjamin kembali melangkah, membuat Athena harus bergegas agar tidak ketinggalan. Sepatu tingginya membuat ia kesulitan mengejar.


"Ben! Aku akan menemui Belardo jika kau tidak mau menyediakan waktu untukku!"


Embusan napas Ben berikutnya terdengar kencang dan kesal. Ia berbalik dan menyipitkan mata. Ia sudah memastikan bahwa semua masalah yang dihadapi wanita itu adalah kebohongan. Ia sudah memastikan hal itu. Sekarang jika wanita itu menemui ayahnya dan memohon belas kasihan pria tua itu, maka Ben bisa memastikan dan meyakinkan ayahnya agar tidak tergugah, wanita itu berbohong dan hanya ingin memanfaatkan kesempatan untuk mengganggu keluarga Antolini lagi.


"Sebenarnya apa maumu?"


"Waktumu, Ben. Aku mau bicara!"


Benjamin sungguh tidak mengerti, apa lagi yang mau dibicarakan oleh wanita itu. Semua hubungan yang terjalin dengan keluarga Antolini semuanya sudah terputus. Wanita itu sudah mendapatkan apa yang ia mau dari ayahnya. Athena mengancam akan menemui ayahnya seolah sengaja membuat Ben terganggu. Ia mengakui memang terganggu, tapi alasannya sangat berbeda dengan apa yang ada dalam otak wanita itu. Ia tidak ingin ayahnya kembali mengurusi mantan istri yang merengek dan hanya bermaksud mengeruk uang.


"Kau akan sulit menemui Ayah jika pergi sendiri tanpa membuat janji. Kupastikan akan sama seperti di kantor ini, kau akan diusir. Tapi aku dengan senang hati akan mengundangmu, Athena ... makan malam ... bersama seluruh keluarga Antolini. Kau bisa bicara dengan Ayah di sana. " Kemarahan membuat Benjamin mengucapkan apa yang terlintas di dalam kepalanya. Rencana untuk membuat wanita pengganggu yang gigih itu membuka mata terhadap kenyataan.


Athena terbelalak terkejut. Tidak menyangka Ben malah mengizinkan ia bertemu Belardo.


"Aku akan minta bantuan Belardo jika bertemu nanti ...." Athena sangat yakin hal itu akan membuat gusar Benjamin.


Senyum sinis muncul di bibir Ben. "Silakan saja, hanya saja, jaga sikapmu."


"Apakah makan malamnya ada acara khusus?"


"Ya. Aku akan mengenalkan calon istriku. Aku akan mengatakan pada Maurice untuk menyiapkan satu kursi untukmu."


Athena menelan ludah ketika Benjamin berlalu bersama para anak buahnya. Ketika Benjamin mengatakan tentang calon istri, detak jantung Athena terasa berhenti. Ia ingat tentang cincin yang pernah ia dengar dari dua pengawal yang menjaganya di apartemen. Awalnya ia sangat percaya diri bahwa dengan melihat dirinya hati Benjamin kembali seperti dulu, penuh dengan cinta untuknya, hingga memikirkan tentang cincin pertunangan.


Namun, sorot mata pria itu sudah berubah total. Meski ia yakin, selama ini Benjamin tidak pernah dekat dengan wanita manapun, hati pria itu seperti sudah terpenjara oleh rasa kecewa terhadap hubungan mereka di masa lalu, menunggu Athena untuk membebaskannya kembali.


Athena tahu Ben tidak pernah berkencan serius setelah ia bercerai dengan Belardo. Tapi kini keraguan menerpanya, benarkah hati Ben masih sama seperti dulu?


Apakah diam-diam sudah ada yang membebaskan hatinya dari penjara itu? Siapa? Siapa yang sudah mencuri kuncinya? Dia tidak pernah digosipkan dengan wanita manapun ... atau aku yang kurang teliti? Sepintar itukah dia menjaga privacynya sampai tidak terendus sama sekali ... dia bilang calon istri? Sudah seserius itukah? Siapa wanita itu? Aku ... bolehlah aku berharap itu aku, Ben? ....


Athena melangkahkan kaki, semua hanya bisa ia pastikan jika ia datang saat undangan makan malam.


Baiklah ... aku akan siap bertemu lagi dengan semua Antolini itu ....


NEXT >>>>>>


********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.