Belinda

Belinda
42. As your wish



Verga membukakan pintu, menunggu Belinda masuk, baru kemudian ia mengunci kembali pintu. Setelah menghidupkan semua lampu ia menarik lembut tangan Belinda yang sejak tadi hanya mengikuti kemanapun langkah kakinya.


"Ini rumahmu. Kita aman di sini," ucap Verga.


Belinda mengangguk, ia mengikuti ketika Verga membawanya masuk ke kamar dan segera menuju kamar mandi. Pakaian basah mereka dilepas. Tetesan air sudah hampir mengering selama perjalanan pulang, membuat kursi mobil yang mereka duduki basah.


Ketika siraman air meluruhkan sisa-sisa kotoran di wajah dan rambut Bel, Verga mendongakkan dagu istrinya, mengelus dan menatap ke arah kulit putih yang tampak merah di rahang Belinda.


"Ini ... apa yang mereka lakukan?" tatapan tajam Verga melirik mata Bel. Menuntut kejujuran. Ia menduga salah satu pria itu sudah mencium paksa istrinya.


"Ada apa di sini?" tanya Bel sambil mencoba bergeser untuk melihat cermin.


Verga menekan agak keras, membuat Belinda meringis.


"Kulitmu merah seperti habis dipukul."


Belinda menggelengkan kepala. "Bukan. Aku tidak dipukul. Ini ... pria itu membekap mulutku, lalu ketika aku ingin menggigit tangannya dia menekan kuat sekali, tapi ini tidak sakit. Sungguh. Kurasa bibirmu lebih sakit ... itu robek." Bel menngulurkan tangan akan memegang bibir Verga. Namun, suaminya itu menghentikan dengan menangkap pergelangan tangannya.


Belinda meringis lagi ketika Verga kembali menekan bagian rahangnya yang merah.


"Apanya yang tidak sakit," geram Verga.


Belinda tersenyum, menatap sendu ke arah sudut bibir suaminya yang robek. "Bibirmu pecah, pasti sakit sekali."


"Hanya lecet dan sedikit perih."


" Tapi itu berdarah," ucap Belinda dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak apa-apa. Kita berdua selamat dan baik-baik saja. Hanya itu yang penting."


Belinda tiba-tiba memeluk tubuh Verga dan mulai menangis.


"Tadi .... mengerikan sekali ... mereka ... memukulmu berulang kali. Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit?"


Verga tersenyum. "Sudah kubilang aku tidak apa-apa," ucap Verga lembut. Ia merasakan lengan Bel mengencang di sekeliling pinggangnya.


"Aku takut sekali ketika dibawa ke tempat gelap itu ... aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau kau tidak datang."


"Shhh ... jangan dibicarakan lagi. Jangan mengingatnya lagi." Verga mengelus punggung polos istrinya yang basah. Ketika tangis Bel tidak juga mereda, ia mengangkat istrinya itu ke atas meja marmer yang ada di sisi lain kamar mandi. Verga memegang dagu istrinya, mengecup pelan bibir Bel dan menghapus sisa air matanya. Kecupan pria itu tidak berhenti hanya di bibir, ia bergerak ke leher, berpindah ke bahu dan mulai turun ke arah dada.


Napas keduanya mulai berkejaran. Belinda bergerak membalas dan menarik bahu suaminya agar tubuh mereka saling mendekat.


Kucuran air di sisi lain kamar mandi terus berjatuhan, memunculkan irama tetap dan juga mengaburkan suara-suara yang berasal dari pasangan yang sedang melepas semua rasa frustrasi dan juga emosi mereka dalam setiap sentuhan.


Bel mencium dan memeluk suaminya sepenuh hati. Bersyukur dirinya terlepas dari sebuah bahaya mengerikan berkat suaminya itu. Merasa pilu dan sedih atas luka dan setiap pukulan yang harus diterima Verga. Berusaha melepas dan melupakan ketakutan dan rasa ngeri yang masih bersisa di hati, menggantikannya dengan kenikmatan yang ia rasakan dalam sentuhan Verga.


Verga mendekap dan mencumbu istrinya dengan segenap rasa posesif yang terasa tumbuh dihatinya untuk wanita itu. Belinda Marchetti, gadis yang ia nikahi karena rekomendasi sang ayah. Istrinya, miliknya dan ia sadari mulai mengisi ruang istimewa dalam hati Verga.


Ketika puncak sudah digapai, terengah memeluk tubuh Bel masih dalam keadaan sama-sama telanjangg. Perasaan memiliki, ingin menjaga dan melindungi begitu kuat meliputi hati Verga.


Alarm peringatan berdering di otak Verga. Perasaannya ini sungguh berbahaya. Belinda Antolini sudah terkurung sekian lama, wanita itu akan kembali melarikan diri bila sedikit saja merasa terkekang, dibatasi atau merasa diatur oleh suaminya.


"Kita mandi, makan malam, kemudian tidur. Bagaimana?" bisik Verga di telinga Bel.


"Tentu, tapi besok ... kita jadi pulang kan?"


"Pasti ... sesuai keinginanmu," bisik Verga sambil mengangkat dan membawa Belinda kembali ke bawah guyuran air.


**********


Perjalanan kembali ke Broken Bridges membuat hati Verga benar-benar lega. Meski hanya menikmati masa bulan madu yang singkat, ia bersyukur bisa menemukan Bel tepat waktu, sehingga mereka bisa pulang dan tidak membuat ayahnya khawatir.


"Kita akan berkendara mungkin sekitar 3 jam an bila tidak banyak berhenti. Tapi ... kita tidak sedang diburu waktu. Bagaimana kalau menikmati perjalanan ini dengan santai. Adakah tempat yang mau kau lihat?"


Belinda terlihat berpikir sejenak. Ia membayangkan beberapa tempat di Kota BYork.


"Selama berada di Bucket of Lavender, aku telah mengunjungi tempat-tempat yang kuinginkan di BYork. Museum, teater, galeri, bioskop, mall ...."


Belinda menarik napas panjang. Ucapan Verga mengingatkannya tentang tindakan yang telah ia lakukan agar bisa menikmati kebebasan itu.


"Maafkan aku. Aku telah melakukan hal yang bodoh dan egois sekali. "


Verga menoleh, membagi perhatiannya dengan jalanan menuju Kota BYork. Matahari pagi yang bersinar cerah seolah menaungi dan mendukung perjalanan mereka. Tidak ada awan mendung dan hujan seperti kemarin sore.


"Bila kau sudah siap. Kuharap kau mau bercerita ... bagaimana harimu, perasaanmu, kesenangan bahkan kesakitanmu sebelum kita menikah. Mungkin saja bisa membuatku mengerti ...."


Belinda membuang muka ke arah kaca, hingga Verga tidak dapat melihat bagaimana wajah istrinya itu.


"Sudah kukatakan sebelumnya. Kau hanya perlu mengatakan apa yang kau inginkan. Pernikahan ini sudah terjadi ... aku jamin kebebasan yang kau inginkan akan kau dapat. Tapi dengan syarat mempertimbangkan semuanya dengan baik ...," ucap Verga dengan lembut.


Tidak ada tanggapan. Keheningan membuat Verga menarik napas panjang. "Apa aku salah bicara?"


Sekian detik kemudian Bel pelan-pelan menoleh. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Ia menggeleng. "Tidak. Kau tidak salah bicara. Terima kasih sudah mau memberikan kelonggaran untukku."


"Itu bukan kelonggaran, Bel. Itu adalah cara Marchetti. Setelah hidup bersama, kau akan tahu. Orang akan berkembang dan leluasa jika dia diberikan tempat dan ruang untuk menyalurkan kemampuan dan ekspresinya. Tidak akan ada dinding yang ditetapkan sebagai batasan. Keluargaku memastikan setiap keturunannya memiliki kebebasan itu. Tentu saja semuanya harus diiringi dengan tanggung jawab."


"Kebebasan ... kalau begitu ... pernikahan ini, apakah ada unsur itu? Pernikahan kita diatur ... kau tidak bebas memilih istri, tapi kau dipilihkan oleh keluargamu," ucap Belinda pelan.


Verga mengangguk. "Ya. Kau benar. Ini bukan pertama kali ayah melakukannya. Aku tidak sering berkencan, ayah sering mengenalkan para putri teman-temannya. Namun, tidak pernah memaksa jika aku tidak mau melanjutkan lebih jauh perkenalan tersebut. Lalu Ayah mengetahui tentang putri Bibi beatrice, seseorang yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta. Dia kemudian mencoba menjodohkan kami. Cerita masa lalu ayah dan Bibi membuatku ingin bertemu dengan putrinya itu. Kemudian aku tahu dia gadis yatim piatu yang sangat baik, aku menyukainya. Aku menyetujui rencana Ayah. Tapi jodoh gadis itu sudah digariskan. Bukannya menunggu agar kami bertemu, dia malah pergi mencari bantuan agar tidak jadi bertunangan. Membuatnya bertemu dengan suaminya yang sekarang."


Verga menoleh, melihat Belinda masih menatap ke depan. Ia tahu wanita itu mendengar.


"Jadi ... soal pernikahan ini, aku tidak sepenuhnya dipaksa. Sebelum denganmu, aku memang sudah setuju untuk menikah. Soal ayah yang mencari, karena aku tahu ayah akan memikirkan semuanya dengan baik. Dia ingin aku berkeluarga, dia sudah semakin tua. Dia ingin menimang cucu. Putranya hanya aku, aku ingin dia senang dan bahagia."


Belinda berusaha menarik setiap sudut bibirnya membentuk senyuman sambil menoleh.


"Itu melegakan, mendengar bahwa kau memang menginginkan pernikahan ini," ucapnya susah payah. Ia menelan ludah dan mengalihkan pandangan lagi ke depan, beberapa saat kemudian Bel merasakan tangannya digenggam. Ia menoleh dan mendapati Verga menggenggam tangannya.


"Kau lihat. Mudah menceritakan semuanya, aku akan menceritakan semua hariku padamu sebelum kita bertemu. Kuharap kau juga mau bercerita ... Jangan mengkhawatirkan apapun, Bel," ucap Verga, sekilas melirik ke arah Bel.


"Tidak. Aku tidak khawatir," ucap Bel.


Keduanya saling pandang dan memberi senyum kecil sebelum menoleh ke depan kembali.


Belinda entah kenapa merasa sedikit sedih. Kata-kata Verga membuatnya merasa malu sebagai seorang wanita dewasa. Ia mengakui ia egois. Namun, hati Bel menjadi pilu dan nelangsa. Verga Marchetti memang tidak marah dan telah bercinta kembali dengannya setelah mereka bertemu. Pria itu hangat, lembut dan tetap penuh perhatian, bahkan rela dipukuli untuk melindunginya.


Namun, karena kata-kata Verga, Bel merasa Verga memang orang yang penuh tanggung jawab karena itu ia melakukan setiap kewajibannya dengan sangat baik. Andai istri Verga adalah orang lain, pria itu tetap akan melakukan hal yang sama, jadi bukan karena Belinda secara pribadi. Semua yang terjadi karena sifat dan pembawaan pria itu memang sudah dibentuk seperti itu sejak ia lahir dan dibesarkan oleh keluarga Marchetti.


Dengan kata lain ... seandainya yang dijodohkan dengan Verga adalah artis teman Daniella, pria itu tetap akan bertanggung jawab, menepati janji pernikahan dan menjaga serta melindungi istrinya ...


Belinda bersandar, lalu berpura-pura memejamkan mata. Menyimpan gelisah yang membalut hatinya saat ini.


Kenapa kau gelisah. Sebenarnya apa yang kau inginkan? Dia baik ... dia sudah bilang tidak akan mengekangmu ... jadi apalagi?


Belinda bergerak menyamping, seolah mencari posisi yang nyaman. Padahal ia hanya ingin menyembunyikan wajah dari pandangan Verga.


Mata Bel melihat setiap gedung yang mereka lintasi.


Kasus yang sama dengan kemasan berbeda. Kau hanya sebuah tanggung jawab ... bila Ben dan ayahmu mengurus dengan membatasimu. Maka pria ini memberimu kebebasan, namun tidak melihatmu secara pribadi. Hanya kebetulan saja kaulah yang terpilih jadi istrinya ... tanggung jawabnya ....


NEXT >>>>>


********


From Author,


Jangan lupa dukungannya dengan tekan like, love, bintang lima, vote dan komentar ya.


Terima kasih sebelumnya.


Salam. DIANAZ