
Belinda menguap lebar ketika mobil baru melaju beberapa saat.
"Kau mengantuk. Tidurlah Bel."
"Iya. Ditambah aku makan banyak, jadi tambah mengantuk. Masakan Bibi Elena sungguh enak."
"Tidurlah kalau begitu. Kau pasti lelah. Aku lupa waktu bila sudah berada di sana."
"Aku senang di sana. Daniella, Paman dan Bibi membuat kita banyak tertawa."
"Kau benar. Rencana awal aku hanya mau mampir dan memperlihatkan dimana rumah orang tua Ella. Bibi Elena berkeras kita makan siang di sana. Tidak nyaman menolak."
"Sudah kukatakan kalo aku senang, aku menikmati saat bersama dengan mereka."
"Aku takut kau kelelahan. Tidurmu tidak cukup."
Belinda jadi teringat alasan kenapa suaminya itu mengucapkan kalimat tersebut. Mereka memang tidak cukup tidur tadi malam ketika masih berada di Vila Bucket of lavender.
"Aku baik-baik saja," ucap Belinda sambil merendahkan sandaran kursi. "Benar-benar tak apa kalau aku tidur? Kau tidak punya teman bicara."
"Tidurlah," ucap Verga, mengulurkan tangan mengelus sekilas pipi istrinya.
Belinda jadi tersipu. "Bangunkan aku ketika sudah memasuki Kota Broken Bridges. Jangan setelah sampai Mansion baru dibangunkan."
"Memangnya kenapa?"
"Aku mau tampil rapi, tidak kusut dan berantakan. mungkin aku perlu waktu dengan bedak, pemerah pipi atau sedikit lipstik. Kau mengertikan? Aku akan bertemu Ayah, dan juga orang-orang yang ada di rumahmu ... aku tidak mau membuatmu malu karena penampilanku." Belinda mencubit pelan kedua pipinya.
Verga tertawa. Ia hanya mengangguk menyetujui. "Pejamkan matamu. Aku akan membangunkanmu nanti."
Belinda mengatur posisi tubuh dan mulai memejamkan mata. Ia memang lelah dan kekenyangan, membuatnya dengan cepat tertidur beberapa saat kemudian.
Verga mengendarai mobil hati-hati. Perkataan Belinda membuatnya berpikir bahwa wanita itu bukan hanya hidup terkekang selama ini, namun juga tidak biasa bersosialisasi, membuatnya tidak percaya diri.
Bila Bel merasa perlu menambahkan make up hanya agar terlihat menarik dan tidak memalukan, keinginan itu sesungguhnya merupakan ungkapan bahwa ia masih belum merasa dirinya sebagai anggota keluarga. tidak perlu membuat siapapun terkesan di Keluarga Marchetti, cukup dengan menjadi diri sendiri. Mereka akan pulang ke rumah mereka sendiri, bukan bertamu ke rumah orang lain. Tidak akan ada yang keberatan meski mereka pulang dengan baju kotor dan wajah penuh debu.
"Jadi lah dirimu sendiri, Bel ...," bisik Verga.
Hampir dua jam, perjalanan akhirnya memasuki kota Broken bridges. Verga menoleh dan sengaja tidak membangunkan Belinda. Wanita itu tidur nyenyak dengan kepala miring ke samping. Melaju pelan membelah jalanan kota hingga tiba ke jembatan yang menghubungkan dua bagian kota di sisi kiri dan kanan, jembatan yang menjadi icon di kota Broken Bridges. Jembatan itu tidaklah rusak seperti namanya. Sejarahnya dulu memang begitu. Namun, tentu saja sekarang jembatan itu sangat layak dan kokoh.
Hati Verga merasa lega ketika bagian jalan menuju Mansion Marchetti sudah di depan mata.
Berhenti di depan Mansion, Verga tersenyum melihat pintu depan mansion sudah terbuka lebar. Ketika mobil akhirnya tiba, ia melihat ayahnya berjalan cepat dengan tersenyum lebar menyambut.
Verga turun dan meletakkan jari telunjuk di bibir. Ia berjalan mendekat ke arah ayahnya yang sudah menunggu dengan tangan terbentang.
"Kenapa? Jangan ribut?" tanya Tuan Verone.
Verga mengangguk, lalu memeluk ayahnya sambil berbisik. "Bel masih tidur, Ayah."
"Oh! Bawa dia. Biarkan dia istirahat di kamar."
"Kenapa kau tahu kami akan pulang? Siapa yang meneleponmu?"
"Elena dan Daniel mmeberitahuku. Aku langsung pulang diantar Juan."
Verga memandang berkeliling, beberapa pelayan dan orang-orang yang bekerja di rumah mereka ada di sana. Berbaris dengan rapi sambil tersenyum.
"Juan sudah kembali ke kantor. Aku menyuruhnya melakukan beberapa hal. Mereka, ah ... mereka mau menyambut istrimu. Aku tidak menyuruh mereka berdiri di situ," ujar Verone sambil terkekeh, menunjuk ke arah para staf mansionnya.
"Selamat datang kembali, Tuan Verga. Kami senang Anda berdua kembali dengan selamat," ucap seorang pria. Kepala pelayan di Mansion Marchetti.
"Terima kasih, Henry. Maaf, istriku kelelahan. Dia masih tidur. Sepertinya belum bisa menerima sambutan kalian semua."
Semua para pekerja tersebut mengangguk maklum.
"Ayo. Pindahkan Belinda," perintah Tuan Verone.
Verga mengangguk, berjalan ke sisi pintu mobil bagian Belinda. Ia kemudian mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah.
Baru berjalan sampai pintu depan kepala Belinda mulai bergerak di dada Verga, membuat langkahnya berhenti. Ia menunduk dan melihat apakah mata wanita itu akan membuka. Tapi wajah Belinda masih damai dan matanya masih terpejam rapat.
Verone memberi tanda pada Verga, menunjuk ke arah tangga, perintah agar putranya itu segera membawa Bel ke kamar.
Ketika Verga kembali melangkah, tiap pasang mata menatap dengan mata berbinar ke arah pasangan yang mulai menapaki tiap anak tangga menuju lantai atas tersebut.
Kebahagiaan di hati mereka ikut terpancar di sinar mata.
"Pengantin Tuan Verga terlihat sangat cantik," celetuk salah seorang staf.
"Kau benar."
Perkataan yang disetujui oleh semua staf dengan anggukan secara bersamaan.
" Terima kasih semuanya." Verone memberikan senyuman lebar pada mereka semua.
"Selamat, Tuan Verone, Kami semua berharap Tuan Verga berbahagia bersama Nona Belinda, juga berdoa semoga mereka dianugerahkan kehadiran seorang bayi dengan segera."
"Semoga, Henry. Terima kasih," ucap Verone, lalu memberi tanda bahwa mereka semua boleh pergi. Pria tua itu lalu pergi menuju pintu samping Mansion, mencari udara segar di beranda samping yang menghadap ke arah sebuah kolam renang dengan air yang jernih dan berkilau. Bayangan anak kecil yang duduk di pinggir kolam dengan kaki yang bergoyang memainkan air segera terbayang di kepala Verone.
"Cucu ... alangkah menyenangkan. Baru membayangkannya saja aku sudah bahagia luar biasa ... bagaimana kalau dia benar-benar sudah hadir."
Verone menarik sebuah kursi. Duduk dan menunggu sambil menatap air kolam. Ia tahu Verga pasti turun dan akan menemuinya sebentar lagi setelah memindahkan Belinda ke tempat tidur di kamar.
Langkah kaki beberapa saat kemudian membenarkan perkiraan Verone. Verga datang dan menarik sebuah kursi.
"Apa kabarmu, Ayah? Kau baik-baik saja bukan?"
"Tentu. Seperti yang kau lihat! "
"Aku tidak pernah menghubungimu. Maaf, Ayah. Kau yang malah harus menelepon dan menanyakan kabar kami."
"Aku mengerti. Aku menelepon hanya mau mendengar suaramu dan Belinda. Sayangnya Belinda tidak pernah mengangkat panggilanku, kau terus yang menjawab."
"Dia ... agak sibuk ...." Verga mengusap leher belakangnya. Menyesal harus berbohong pada ayahnya itu.
Verone tertawa. Ia menepuk lutut Verga sambil berkedip. "Aku mengerti. Kau pasti membuat menantuku lelah. Pulang pun ia sampai tertidur," jawab Verone dengan tawa menggoda.
Verga hanya menjawab dengan tersenyum lebar.
"Bagaimana menantuku?" tanya Verone.
"Apanya, Ayah?"
"Ck! semuanya! Aku tahu kau dulu sedikit menyukai Vivianne. Kau suka pada pilihanku, karena itu kau setuju ketika aku menyuruhmu bertunangan dengannya, meskipun pada akhirnya dia bukan jodohmu. Bagaimana dengan Belinda? Kau menyukainya?"
Verga bersandar di kursinya, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan sangat pelan. Seolah memiliki beban di hati dan bersiap mengucapkan hal tersebut pada sang ayah.
Kening Verone berkerut. Ia menatap khawatir. "Ada apa? Apa yang salah? Katakan padaku?"
Verga menatap ayahnya dengan mata seolah dibuat kalah.
"Harus bagaimana aku mengatakannya ...," ucap Verga lirih.
Verone bertambah gelisah. "Katakan, Nak. Tidak ada yang tidak bisa kau ceritakan padaku," ucap Verone sambil menelan ludah. Ia langsung berpikir ada masalah, namun tidak bisa menebak masalah apa. Verga dan Bel nampak baik-baik saja dan cocok sebelum pergi berbulan madu.
"Menantu pilihan Ayah ini ...." Verga sengaja menjeda kalimatnya. Sengaja membuat Ayahnya gusar.
"Katakan ada apa!" seru Verone.
"Aku bukan saja menyukainya, Ayah ... bisa kukatakan-" Verga berpura-pura memandang berkeliling, seolah memastikan tidak ada yang mendengar karena ia akan mengucapkan sebuah rahasia, lalu ia berbisik pada ayahnya itu. "Sepertinya dia juga sudah membuatku jatuh cinta ...."
Wajah Verone Marchetti langsung berubah. Tawanya terdengar keras dan ia tak henti menepuk bahu Verga berulang kali. Orang tua itu tampak sangat bahagia dan senang.
"Kau sengaja ... kau sengaja mengerjaiku," ujar Verone di sela tawanya.
Verga mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan punggung. Ia ikut tertawa. Hatinya penuh dengan kepuasan mendengar tawa ayahnya begitu lepas dan gembira.
Mencintai ... alangkah beruntungnya jika timbal balik ... Andai kau tahu putramu ini ditinggalkan sehari setelah pernikahan ... Setelah malam penuh ketulusan dan pernyataan cinta ... Malam itu aku mengatakan padanya aku mencintainya ... dengan tulus ... tapi rupanya, dia hanya mentolelir diriku. Menjadikan diriku jalan keluar dari penjara yang telah mengurungnya selama hampir dua puluh tahun ...
"Ceritakan perjalanan kalian," pinta Verone.
Verga menggangguk. Mengambil beberapa part penuh kebahagiaan dan menyimpan kenyataan sebenarnya.
Ketika seorang wanita paruh baya membawa nampan berisi minuman. Jeda tersebut membuat pikiran Verga melayang pada Belinda yang kini tengah berada di atas ranjang mereka untuk pertama kalinya.
Setidaknya kau menyukaiku ketika berada di atas tempat tidur. Aku akan merayumu ... memastikan kau sendiri yang tidak mau pergi dari sisiku, kau akan jatuh cinta ...
NEXT >>>>>>>
*********
From Author,
Sabar dan tunggu part-part penuh gula antara Verga dan Bel di chapter-chapter mendatang. Namun, hidup tidak mungkin tidak punya masalah kan ya. Begitu juga pasangan muda ini. Ikuti terus novel ini dan selalu dukung dengan tekan like, bintang lima, love, komentar dan vote.
Terima kasih semuanya.
Salam. DIANAZ.