Belinda

Belinda
38. Midnight silhouette



Belinda terbangun karena merasakan sentuhan di punggung. Elusan berirama, naik turun dengan teratur, sesuatu yang mengganggu juga menggelitiki hidungnya sejak tadi.


Pandangan Belinda tidak fokus. Menatap sebuah lengan yang sepertinya sangat dekat di depan matanya. Bel berkedip berulang kali, lalu tangannya menggosok hidung.


"Kau bangun?"


Suara serak yang maskulin itu membuat Bel mendongakkan kepala. Ia terkejut mendapati wajah suaminya begitu dekat, di temaram cahaya lampu, kedua mata pria itu tampak berkilat dan gelap.


Belinda menunduk kembali, menyadari posisinya yang sudah berada di atas tubuh Verga.


"Astaga ... se-sejak kapan ...."


Belinda bermaksud menggeser tubuh, namun kedua lengan Verga mengencang, memerangkap tubuhnya hingga ia tidak dapat bergerak.


"Kenapa tergesa-gesa? Tadi kau tidak membolehkan aku bergeser. Malah naik ke atas dadaku."


"It-itu ...." Belinda menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan ia kebingungan mau mengatakan alasan apa pada Verga karena posisi tubuhnya yang menindih pria tersebut.


"Itu apa?" Verga terkekeh pelan, tahu posisi mereka tersebut membuat Belinda tidak nyaman.


Belinda berdeham beberapa kali, lalu kembali mencoba bergerak. "Tolong lepaskan aku. Tenggorokanku kering, aku haus sekali. Aku mau minum."


"Baiklah. Kau tunggu di sini saja." Verga menurunkan Bel ke atas kasur, lalu bergerak bangkit dan turun dari tempat tidur. Ia pergi menghidupkan lampu kamar sebelum melangkah menuju pintu.


Cahaya yang menyirami kamar membuat Belinda melihat dengan jelas sosok suaminya yang berjalan ke arah pintu. Mata Bel menatap hingga punggung Verga yang tidak tertutup apapun itu menghilang keluar kamar.


Pemikiran tentang dirinya yang naik ke atas tubuh pria itu saat sedang tidur membuat wajah Bel mulai merona.


Memalukan sekali. Kau begitu ingin berdekatan dengannya ya, Belinda Marchetti ... sampai menindihnya saat tidur ....


Di ruang tamu, Verga melirik ke arah sofa panjang. Tempat Benjamin membaringkan tubuhnya dengan selimut menutupi hingga kepala.


"Hei, Ben ...."


Tidak ada sahutan dari Benjamin, membuat Verga menduga pria itu sudah tidur nyenyak di bawah selimut. Ia pergi menuju dapur, menuang segelas air dan membawanya kembali ke kamar.


Melihat Benjamin yang menutup selimut hingga kepala, membuat langkah Verga berhenti dan berbalik menuju saklar lampu ruang tamu. Ia mematikan sumber cahaya untuk ruangan tersebut, mengira Benjamin biasa tidur dengan lampu dimatikan, karena itu Ben menutupkan selimut hingga ke wajahnya.


"Kalau kau biasa tidur di ruangan gelap, kenapa tidak kau matikan saja lampunya, Ben."


Langkah kaki Verga baru saja tiba di depan pintu kamar ketika melihat Belinda yang baru saja mau keluar dari kamar mereka.


"Mau kemana?"


"Aku pikir, aku minum di dapur saja, baru saja bermaksud menyusulmu."


"Aku bilang tunggu di sini, Bel ...."


"Maaf ...."


Verga menutup pintu, lalu memberikan gelas air yang tadi dibawanya.


Bel mengulurkan tangan akan mengambil gelas, namun tangan Verga berkelit.


"No. Kemarilah ...."


Verga menarik pinggang Belinda dengan tangan kirinya, lalu mendekatkan gelas ke bibir istrinya itu.


"Minumlah."


Belinda menganggukkan kepala, sambil minum, matanya melirik ke wajah Verga yang menatapnya sambil menunduk. Ekspresi pria itu sulit ia artikan, namun sorot mata itu membuat jantungnya berdetak makin cepat.


"Sudah, terima kasih. Gelasnya bi-biar aku taruh sendiri," ucap Bel. Ia merasa sangat tidak nyaman ditatap demikian rupa oleh pria itu, juga oleh kedekatan tubuh mereka. Membuat Bel teringat malam yang mereka habiskan bersama. Darahnya jadi berdesir dan ia jadi sedikit kesulitan bernapas.


Bel menunduk, melihat tali pengikat gaun di dadanya terlepas, hingga belahan bukit kembarnya tampak menyembul dan mengundang. Seketika wajah Bel merona malu. Tangannya bergerak mau mengikat kembali tali tersebut. Namun Verga menghentikannya, suaminya itu malah meletakkan gelas minum tadi ke telapak tangan Bel.


"Kau bilang mau menaruh ini," ucap Verga dengan seringai menggoda.


Belinda baru saja mendongak, ketika menemukan suaminya sudah menunduk dan menyatukan bibir mereka. Ciuman cepat yang terasa kuat, menguasai dan juga rakus. Bel sampai kesulitan menarik napas.


Kecupann yang lama dan berlanjut dengan belaian lidah tersebut membuat Bel melupakan gelasnya. Benda tersebut jatuh ke lantai yang untungnya hanya berdenting dan tidak pecah karena disambut oleh satu keset empuk di bawah kaki pasangan itu.


Lengan Bel sudah balik memeluk dan melilit di leher suaminya. Dengan sedikit berjinjit, wanita itu membalas sepenuh hati ciuman Verga dan melepaskan semua kerinduannya pada pria itu.


Malam-malam yang dihabiskannya dengan mimpi tentang Verga membuat kerinduan di hati Bel pada pria itu setiap hari semakin membesar. Sentuhan suaminya ini seolah sudah ia nantikan, hanya rasa malu yang membuatnya mampu menahan diri sejak tadi.


Belinda mendesah, memindahkan tangan dari leher ke punggung telanjangg suaminya. Memeluk erat pria itu seolah tubuh mereka belum cukup dekat. Ia dengan rela bekerja sama ketika Verga menaikkan ujung gaunnya ke arah atas, lalu meloloskan gaun tidur tidak berlengan itu dari tubuhnya.


Mereka masih berdiri di belakang pintu, gairah yang menguasai pasangan yang baru sehari menikmati kebersamaan di tempat tidur tersebut membuat keduanya saling melepas kebutuhan dan meluapkan rasa rindu dengan ciuman membara dan desah kenikmatan.


Ketika merasakan darah mereka sudah mendidih dan kebutuhan untuk saling menyatu sudah berada di puncak, barulah Verga menggendong istrinya dan membawanya ke atas ranjang.


Di luar kamar, Benjamin menarik selimut yang menutup wajahnya ketika Verga baru saja menutup pintu. Keadaan gelap di ruang tamu itu membuat cercah cahaya dari bawah pintu kamar terlihat jelas. Memberi sedikit penerangan bagi Benjamin.


Benjamin sama sekali belum tidur, ketika ia mendengar suara pintu kamar terbuka. Ia sengaja menutup selimut hingga kepala karena malas ketahuan belum tidur oleh siapapun yang keluar dari kamar. Apalagi bila itu Belinda. Ia belum punya apapun yang akan dikatakan pada adiknya itu.


Siluet bayangan yang bergerak-gerak di bawah pintu juga suara kecupan diselingi ******* pelan dari dalam kamar membuat Benjamin mengetatkan gerahamnya. Ia berbalik dan menutup selimut hingga kepala kembali, namun suara-suara dari dalam kamar masih terdengar.


"Astaga ... apa yang kulakukan sebenarnya. Aku tidak akan bisa tidur kalau begini."


Benjamin bergerak bangkit, duduk dan meraih ponsel di atas meja. Dalam kegelapan ia melirik lagi ke bawah pintu kamar. Bayangan di sana menjauh, sepertinya padangan itu sudah pergi menuju peraduan. Panggilan Ben diangkat setelah dering kedua.


"Ya, Bos."


"Jemput aku."


"...."


"Sekarang. Aku tidak bisa tidur. Disini banyak nyamuk!"


"Baik, Bos."


Anak buah Benjamin menatap rekannya yang menunggu. "Aku pergi menjemput Tuan Black. Kau jaga di sini," ucapnya sambil tertawa.


Rekannya terlihat mengerutkan kening heran.


"Dia bilang tidak bisa tidur karena banyak nyamuk. Kurasa dialah yang jadi nyamuk. Lagipula, kenapa dia bertahan menginap di sana. Mengganggu pasangan pengantin baru yang baru saja bertemu lagi."


Temannya ikut tertawa. "Kau benar. Kalau menyangkut Nona Belinda, Tuan Black kadang agak kelewatan menurutku. Gadis itu sudah berkumpul kembali dengan suaminya. Kenapa ia malah tidak pergi dari sana."


Anak buah Benjamin hanya menggeleng. Ia mengambil kunci dan berlalu dari rumah tersebut untuk menjemput tuannya.


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Jadwal up tidak menentu ya. Harap memaklumi karena menyesuaikan waktu kegiatan otor di RL.


Hahaha, Ben. Lagi ngayal bok*** malah liat adegan seru dari bawah pintu. Dah, pergi jauh-jauh dah Ben. Bel biar Verga yang urus.


Dukung dengan like, love, bintang lima, komentar dan vote koin maupun poin. Sebelumnya author ucapkan terima kasih.


Salam. DIANAZ.