
Benjamin berjalan mendekati ayahnya yang masih mengobrol dengan Tuan Verone. Ia bermaksud pamit. Pergi dari tempat perayaan pembukaan gedung galery sekaligus pameran karya Belinda. Acara dansanya dengan Daniella hanya bertahan dua menit. Mereka saling menginjak kaki di menit pertama, lalu sama-sama menyerah di menit kedua. Benjamin dan Ella sama-sama tahu mereka melakukannya dengan sengaja, sehingga saat bersamaan pula setelah mundur, mereka saling menganggukkan kepala sebagai isyarat berpamitan tanpa harus berkata-kata. Benjamin kemudian masuk kembali ke ruang pesta dan tertahan oleh seorang aktris yang mengajaknya berkenalan dan mengobrol.
Sepanjang mengobrol dengan sang aktris, Benjamin malah terpikir pada Daniella. Menurutnya Nona Daniella Dolores sangat menarik. Ia sungguh terhibur melihat bagaimana ekspresi gadis itu saat berada di samping gedung tadi. Bisa dikatakan, Daniella menahan rasa sebal luar biasa yang berusaha ia tahan. Mungkin jika mereka tidak berada di tempat umum, Daniella mungkin sudah berteriak mengomel panjang lebar dan mengatainya.
"Selamat malam, Ayah, Tuan Verone," sapa Benjamin.
"Kau dari mana saja, Ben? Aku mencarimu sejak tadi," sahut Belardo.
"Maaf Ayah, Aku lama mengobrol dengan seorang teman." Ben langsung beralih pada Tuan Verone agar ayahnya tidak memperpanjang percakapan. "Tuan Verone, aku pamit pergi dulu. Ada satu urusan penting yang harus kukerjakan."
"Ah, kau sudah mau pergi ...." Tuan Verone mendesah. Tatapan mata pria itu itu bergantian melihat ke arah Benjamin dan Belardo.
"Kau mau kemana? Apa kau sudah tahu kalau Belinda dibawa ke rumah sakit?" ucap Tuan Belardo. Ia menyipit menatap mata Benjamin.
"Rumah sakit? Ada apa dengannya? Tadi dia tampak baik-baik saja." Benjamin mengernyitkan kening, menatap kilat perintah tak terucap di kedua bola mata ayahnya.
"Oh, jangan khawatir, Ben. Verga sudah menelepon. Saat ini kondisi Bel sudah membaik. Ia hanya butuh istirahat agar sakitnya hilang," ucap Verone dengan nada menenangkan.
"Tapi sebaiknya kau ke sana, Ben. Bantu Verga bila ada sesuatu yang ia butuhkan, jangan biarkan dia sendiri mengurus Bel yang sakit. Pasti merepotkan untuknya."
Verone tersenyum pada Belardo dan menggamit bagian siku pria tersebut. "Jangan berlebihan, Belardo. Itu sudah menjadi tugas Verga sebagai suami Belinda. Dia tidak akan merasa direpotkan."
Benjamin mengambil kesempatan itu untuk pergi. "Baiklah. Aku akan ke sana dan melihat sendiri keadaannya. Siapa tahu Verga membutuhkan bantuan."
Verone tersenyum dengan mata yang terlihat ingin tahu. "Apa tak masalah dengan urusan yang mau kau kerjakan tadi, Ben? Bukankah kau mengatakan memiliki urusan penting yang harus kau kerjakan?"
Benjamin berkedip dan menyadari kalau alasan yang ia buat tadi ketika berpamitan terlihat dibuat-buat. Senyum maklum dari Tuan Verone seolah memberitahunya kalau pria itu tahu ia telah berbohong hanya agar bisa pergi dari acara pesta tersebut.
"Aku bisa menundanya. Aku pergi sekarang, Ayah, Tuan Verone. Selamat malam."
Setelah berpamitan, Benjamin berbalik dan pergi meninggalkan gedung dengan perasaan lega. Acara yang diatur oleh Verga untuk Belinda itu membuat dirinya agak kurang nyaman, karena hubungannya dengan Belinda tidaklah sedekat itu.
Verga menyusun acara untuk memberikan kejutan sebuah pameran karya-karya Bel yang telah ia kumpulkan sejak dulu. Benjamin memang menyimpan dan merawat semua karya itu, terpikir olehnya untuk membuat sebuah bangunan untuk menyimpan semuanya di satu tempat sehingga tetap terpelihara, terawat serta tidak hilang.
Ia mendekati keluarga Marchetti pertama kali dengan alasan proyek pembangunan gedung untuk menampung semua lukisan Belinda yang menurutnya layak untuk di simpan dan dirawat, kemudian menjadikan bangunan tersebut sebagai hadiah pernikahan ketika akhirnya rencananya berhasil. Verga dan Belinda benar-benar menikah.
Ben tidak memikirkan hal sentimentil seperti pernyataan kasih sayang atau perhatian ketika memberikan hadiah tersebut. Baginya itu hanya hadiah, Benda yang sudah seharusnya ia berikan karena adiknya menikah. Keluarga Antolini tidak pandai dalam hal pengungkapan perasaan atau kasih sayang. Benjamin menyadari hal itu adalah sifat turun temurun dari ayahnya.
Kilat perintah di mata ayahnya tadi memberitahu Benjamin bahwa ayahnya itu ingin Benjamin memeriksa sendiri bagaimana keadaan Belinda. Mungkin saja sebenarnya Belardo Antolini khawatir, tapi jangan harap menemukan jejak hal tersebut di wajahnya.
Benjamin sendiri mulai bisa memahami ayahnya dengan lebih baik setelah kejadian Athena. Kekasihnya yang berakhir menjadi istri ke empat ayahnya itu membuatnya sadar, Belardo Antolini menyayangi keluarganya dengan caranya sendiri.
Setelah duduk di belakang kemudi mobilnya Benjamin segera mengeluarkan ponsel dan menelepon Verga.
"Halo, Ben,"
"Halo, Verga. Rumah sakit mana?" tanya Ben langsung.
Verga menyebutkan sebuah nama rumah sakit yang jaraknya lumayan dekat.
"Tunggulah. Aku kesana."
"Kau bisa?"
"Tentu."
"Syukurlah. Kurasa ...."
"Ada masalah?"
"Tidak. Bel baik-baik saja, tapii ... kurasa ia agak sedih. Sebaiknya kau kesini. Bicara denganmu mungkin bisa membuat perasaannya lebih baik ...
"Kurasa tidak. Kalau bicara yang dia butuhkan, dia pasti akan memilih mengatakan pada dirimu. Jika dia baik dan sehat. Kurasa aku tak perlu kesana ...."
"Tidak. Kemarilah, Ben. aku tunggu, anggap aku yang butuh bicara. Setidaknya kau bisa menemani aku."
"Baiklah ...."
Benjamin menutup ponselnya, lalu mulai menghidupkan mobil. Ketika melaju di jalan raya menuju rumah sakit ia terkenang kembali perkataan dan ekspresi Belinda ketika mereka bertemu di ruang istirahat.
**********
Benjamin menarik sebuah gorden pembatas bilik dan menemukan Verga yang tengah memainkan ponsel.
"Ah, kau sudah datang," bisiknya sambil menyimpan ponsel.
"Ada apa dengan Bel?"tanya Ben dengan suara pelan.
"Dia ...." Verga sedikit bingung menjelaskan, lalu ia berdiri dan memutar tangannya di area depan perut. "Sakit. Sakit perut. Melilit, nyeri hebat, tapi sekarang sudah reda. Ia sedang istirahat."
Benjamin mengerutkan kening, memilih tidak berkomentar agar tidak berisik. Ia hanya menganggukkan kepala dan menoleh menatap ke arah Belinda yang tidur miring membelakangi mereka.
"Aku perlu ke toilet. Jika ia sudah bangun, mungkin kami boleh pulang. Bisakah kau menjaganya sebentar?"
Benjamin menganggukkan kepala. Ia masih berdiri sampai Verga akhirnya keluar dari balik pembatas, baru kemudian ia mengambil alih kursi Verga.
"Kau tidur?" Benjamin bersedekap dan menatap ke arah punggung Belinda.
Tidak ada jawaban, namun tarikan napas yang agak panjang dari Belinda memberi tanda bahwa ada reaksi membuat Ben memutuskan tetap berbicara, meski hanya bicara dibalik punggung. Ia merasa lebih bebas berbicara dengan keadaan seperti itu. Bila Bel mendengar, maka maksud dari ucapannya akan tersampaikan. Namun bila Bel memang masih tidur, maka ia akan lega karena tidak harus menghadapi reaksi dari perkataannya nanti.
"Verga bilang kau baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang terjadi ... tapi bila hal ini terjadi karena pameran lukisan dan keberadaan gedung itu. Maka aku harus minta maaf. Entah kenapa aku terpikir tentang sebuah gedung dan membuat galeri untuk karyamu, lalu menjadikannya sebagai hadiah pernikahan. Jika kau tidak suka, maka abaikan saja. Hal yang membuat perasaan menjadi sedih ... sebaiknya kau singkirkan ... jangan sampai mengganggu kebahagiaanmu bersama suamimu."
Benjamin mengembuskan napas panjang ketika tidak mendapatkan respon. Ia setengah bersyukur namun juga merasa tidak puas.
"Mau sedih atau bahagia, itu pilihanmu sendiri. Suamimu orang yang baik, kurasa hidup bersama dengannya lebih mudah dibanding hidup dengan kami ... karena itu, buang kesedihanmu dan raihlah hidup yang bahagia dengan keluarga Marchetti."
"Sampai akhir, apakah kau dan ayah masih akan mengatur pilihan untukku?"
Benjamin terkejut ketika mendengar suara pelan yang diucapkan oleh adiknya itu.
"Kubilang itu adalah pilihanmu. Kau mau bahagia dengan di keluarga Marchetti atau melawan sampai akhir dan jadi sengsara, kau yang memilih sendiri ... Kau bisa melakukan apapun, karena seperti katamu waktu itu, kau bukan lagi seorang Antolini, kau Belinda Marchetti, yang bebas melakukan apapun, seperti saat kau melarikan diri waktu itu ... tapi tentu akan ada resiko dari setiap tindakanmu. Keluarga Marchetti tidak akan mau dipermalukan. Kau akan sengsara bila melakukan hal seperti itu lagi. Namun kau akan bahagia bila kau melakukan yang sebaliknya. Jadi istri dan menantu yang baik.
"Kau terlalu banyak bicara ...."
" Karena aku tidak sempat bicara ketika menemukanmu waktu itu. Verga menghentikan semua pendapat dan kalimat yang akan aku ucapkan padamu."
"Katakan saja. Hukumanmu belum dijatuhkan bukan? Jatuhkan saja ...."
"Hari sudah lama berlalu sejak kejadian itu. Aku tidak lagi dikuasai amarah. Verga juga sudah menyelesaikan segalanya dan memaafkanmu. Jadi kurasa semua baik-baik saja ...."
"Semua memang baik-baik saja ... Jadi, pergilah. Katakan juga pada ayah dan lainnya. Tidak usah mencampuri kehidupanku lagi."
Benjamin menatap tajam punggung Belinda
"Kau sama sekali tidak mengerti ya ..."
"Apa yang harus kumengerti? Tidak ada yang menjelaskan padaku tentang apapun sejak dulu. Hanya perintah dan instruksi ..., jadi apa yang bisa kupahami?"
Benjamin menarik napas panjang, lalu melonggarkan dasi dan menyilangkan kakinya. "Baik. Aku tidak akan ikut campur lagi dengan kehidupanmu. Tentang ayah, kau katakan sendiri langsung padanya. Jadi mulai sekarang buang rasa gelisah dan sedihmu. Nikmati kehidupanmu sebagai seorang Marchetti dengan sepenuh hati."
Belinda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia menelan ludah dan merasakan sebuah beban yang menindih kedua pundaknya makin terasa ketika mendengar perkataan Benjamin.
"Ya. Itulah yang akan kulakukan ... itulah rencanaku."
"Bagus ... karena kau sudah bangun, aku akan memanggil Verga. Sepertinya kau sudah diperbolehkan pulang."
Belinda tidak menjawab. Ia diam tak bergerak meski airmatanya mengalir sendiri tanpa bisa ia kendalikan.
Ketika melangkah pergi, lalu menyingkap pembatas bilik, Benjamin berhenti dan menatap lagi punggung Belinda.
"Apakah kau merasakan bagaimana kerasnya hatimu dan dinginnya ucapanmu? Karena kita sama ... lahir, tumbuh dan dibesarkan dengan cara yang sama. Bedanya aku laki-laki, dan kau perempuan. Caraku menerimanya dan caramu berbeda. Belardo Antolini melakukan apa yang ia bisa, Belinda. Jika hanya ini yang bisa ia berikan, kau tidak dapat meminta lebih. Setelah umurku dewasa, aku mencoba memahami Ayah dan semua tindakannya. Jangan pahami jika kau tidak mau, kami tidak pernah memintanya. Lanjutkan saja hidupmu di keluarga Marchetti dan jangan pernah lupa untuk bahagia."
NEXT >>>>>>>>
**********