Belinda

Belinda
14. Melarikan diri



Seorang lelaki muda berumur kisaran 23 tahun berulangkali melirik ke arah jam tangan. Vito Linardy, sahabat karib teman Belinda sejak diasingkan di pulau oleh ayahnya dan Benjamin.


Vito menunggu sesuai instruksi Belinda sejak matahari baru muncul samar-samar. Ia sudah menyewa mobil sesuai instruksi Belinda, sudah parkir di dekat sebuah cafe pinggir pantai di dekat lokasi tempat Belinda dan suami barunya menginap.


"Matahari sudah mulai beranjak naik, kemana kau sebenarnya, Belinda!" Vito mendesis sambil memandang ke arah deretan paviliun mewah di pinggir pantai tersebut.


Dengan gelisah, Vito memanggil seorang pelayan. Ia kembali memesan sarapan dan juga minuman untuk kedua kalinya sebagai pengisi waktu menunggu Belinda.


" Perutku jadi lapar terus, Bel. Sebaiknya kau segera muncul. Atau aku akan makin gelisah dan akhirnya terus-menerus memesan makanan," desis Vito pelan.


**********


Belinda mengatur meja makan dengan cepat. Separuh gemetar, ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam kantong gaun paginya. Setelah mereka mandi dan mengeringkan tubuh, Verga masih berada di kamar mandi, mengatakan ia akan bercukur sebentar.


Belinda memanfaatkan kesempatan itu untuk berpakaian dengan cepat, lalu mengeluarkan benda yang diberikan oleh Vito. Sesuatu yang dikatakan Vito akan membuat suaminya nanti tidur seperti bayi.


Belinda memasukkan bungkusan kecil itu ke dalam kantong, lalu setelah berteriak pada Verga ke arah pintu kamar mandi bahwa ia akan turun menyiapkan sarapan. Belinda pun pergi turun ke ruang makan. Makan pagi sudah tersedia di atas meja, sesuai pesanan Belinda pada pengurus rumah. Ia mengatur kursi Verga dan menyiapkan makanan di atas meja.


Sekarang, dengan tangan gemetar, Bel menyobek bungkusan dari Vito, ia melirik dulu ke arah tangga dan juga sekitar tempat itu. Setelah yakin tidak ada siapapun yang melihat, Bel menuangkan seluruh isinya ke dalam gelas minum Verga.


Ia kemudian berjalan ke arah tempat sampah. Dengan cepat membuang bungkus kosong ke dalamnya. Segera Belinda menarik napas panjang. Ia mengelap jemarinya berulang kali ke bahan rok gaunnya yang lembut.


"Kau sedang apa?"


Bel berbalik dengan cepat. Pandangan matanya melihat Verga sudah berjalan mendekat ke meja makan.


Meski sangat gugup, Bel berusaha menyunggingkan senyum kecil. "Kau sudah turun," ucapnya pelan.


"Ya. Kau tampak sangat cantik dengan gaun itu." Tunjuk Verga pada gaun Belinda.


Belinda menunduk, melirik gaunnya yang tanpa lengan. Pakaian yang ia siapkan sendiri, yang ia pakai sendiri tanpa diatur oleh Siena, pelayan pribadinya. Pilihan Siena adalah instruksi dari Ben atau ayahnya, hadiah-hadiah yang tidak pernah ia sentuh. Bel lebih memilih memakai gaun sederhana yang sudah puluhan kali dicuci untuk menunjukkan ia tidak menginginkan benda apapun dari ayah maupun kakaknya, juga untuk mengatakan pada Siena secara tidak langsung bahwa Bel tidak mau diatur-atur oleh mata-mata keluarganya itu.


Namun, sekarang Bel merasa percaya diri dengan gaun pilihannya setelah mendengar pujian Verga.


"Terima kasih. Kau juga tampak sangat tampan," ucap Bel dengan wajah malu. Ia kemudian mulai menarik kursi. "Kita makan sekarang? Aku sudah lapar sekali."


Verga tersenyum melihat Belinda menarik kursi untuknya, hati pria itu merasa hangat dengan sikap istrinya itu. Pancaran matanya menjadi sangat lembut, berbinar dan penuh cinta.


Bel bersyukur sarapan itu akhirnya berakhir. Ia mengambil gelas, meneguk air minum dengan ekor mata melirik Verga.


Tangan Verga memegang gelas, mengangkat dan menempelkan ke bibir. Belinda menghentikan menelan air minumnya sendiri. Dengan jantung berdebar ia menyaksikan ketika sedikit demi sedikit suaminya itu menelan air minumnya tanpa ragu.


Verga selesai lebih dulu, ia meletakkan gelas ke atas meja, lalu tersenyum ke arah Bel.


Sambil menelan ludah, Bel meletakkan gelasnya sendiri yang hanya habis setengah. Ia mencoba membalas senyum suaminya.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan setelah ini? Atau kau mau kita langsung melanjutkan rencana bulan madu seperti rencana semula?"


"Oh, itu ...." Bel menelan ludah, kedua tangannya saling meremas. "Aku mau jalan-jalan dulu ...."


"Baiklah."


"Mmm ... kalau begitu, aku ke atas dulu, cuma sebentar, memakai tabir surya dan mencari topi."


Verga mengangguk, ia menatap sampai istrinya menghilang di tangga. Setelah itu ia bangkit, menggerakkan badan dan berjalan ke arah ruang tamu. Verga berdiri di sisi kaca yang menampilkan pemandangan ombak di pinggir laut. Bibirnya penuh senyum mengingat pengalaman di hari pertama pernikahannya. Belinda Antolini sungguh menakjupkan di matanya sekarang. Verga berjanji ia akan memastikan hati istrinya bahagia seperti yang tengah ia rasakan saat ini.


Setelah puas menatap, Verga beralih duduk di sofa panjang. Ia bersandar santai sambil memandang ke arah atas. Membayangkan istrinya sedang mengoleskan tabir surya ke wajah, tangan, lalu kaki. Kemudian membayangkan sosok Bel di bawah sebuah topi bertepi lebar.


Sebuah senyum tersungging di bibir Verga, ia memejamkan mata sejenak, menunggu dengan sabar istrinya itu turun dari kamar mereka.


NEXT >>>>>>>


*********


From Author,


Hmmm ... bahagianya dirimu, Kang. wkwkwk


Ikuti kisah selanjutnya. klik like dulu, tekan love, bintang lima, komentar dan vote hadiah untuk Belinda ya. Terima kasih banyak.


Salam. DIANAZ.