
Benjamin berdiri diam di pinggir ruangan yang sudah disiapkan untuk pesta setelah pembukaan pameran lukisan Belinda. Para undangan tengah menikmati minuman, musik, dan beberapa sudah berdansa. Ben memandang berkeliling, mencari sosok Verga di antara orang-orang. Namun, matanya tidak menemukan pria itu. Ia ingin Verga pergi ke kamar istirahat dimana tadi Belinda bersembunyi dan menangis sendirian, karena ia sendiri tidak tahu mesti melakukan apa. Ia memilih pergi, sehingga tidak harus melihat kesedihan dan rintihan adiknya itu.
Bertahun-tahun hidup berjauhan dengan Bel membuat ia tidak memahami sama sekali sikap adiknya itu. Ben berpikir bahwa mereka sudah memberikan yang terbaik bagi Belinda. Termasuk hadiah pernikahan ini, sudah ia siapkan sedemikian rupa. Kumpulan karya Belinda yang ia ambil dan rawat dengan baik. Ia pikir Bel akan senang, setidaknya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Benjamin tidak berharap Bel akan menunjukkan sikap penuh kasih sayang layaknya keluarga. Ia tahu, ia maupun ayahnya tidak bisa menunjukkan hal yang sama, tidak bisa menunjukkan bagaimana caranya pada Bel layaknya keluarga lain yang penuh keakraban dan kehangatan. Lagipula, melakukan hal itu sekarang sudah terlambat dan akan terasa basi. Namun ia berharap Bel menemukan kehangatan dan keakraban itu di keluarga Marchetti. Penyelidikannya tentang keluarga itu memperkuat niat Ben untuk mengikatkan gadis itu pada Verga. Keluarga Marchetti dekat satu sama lain dan juga penuh kasih sayang.
Suara langkah sepatu wanita yang berhenti di belakangnya membuat Benjamin berbalik. Ia menyipit melihat Alana telah berdiri di belakangnya.
"Ayah mencarimu," ucap Alana. "Dia menunggumu di sana," tunjuk Alana di kejauhan di sebelah kanan.
"Gadis Ayah yang penurut. Bilang padanya pesan sudah sampai. Tapi sayang sekali aku ada urusan. Aku mau pergi."
Alana memandang datar kakak tirinya itu. "Katakan sendiri padanya. Sudah cukup 2x aku menyampaikan pesan Ayah. Untuk Bel dan untukmu. Kalau kalian tidak bisa menemuinya karena alasan tertentu, katakan sendiri."
"Untuk Bel? Ayah mengatakan apa padanya?"
"Ayah mencarinya. Aku sudah mengatakan pada Bel. Tapi sama sepertimu. Dia mengabaikan pesan itu."
"Semua anak kandung mengabaikannya ...." Ben mangakhiri ucapannya dengan dengusan kecil. Ia tersenyum pada Alana. "bersikaplah penurut dan selalu baik padanya. Kau akan segera jadi gadis kesayangannya, Alana."
Alana tidak tersentuh dengan senyum manis Ben. Ia merasa itu hanya senyum palsu. "Aku sudah baik dan penurut dari dulu. Itulah sikap dan caraku berterima kasih. Aku tidak munafik! Aku membutuhkannya sampai keinginanku tercapai. Apapun perkataannya akan kuturuti."
"Gadis baik. Lakukan terus seperti itu sampai keinginanmu tercapai. Mungkin kau akan mendapatkan bagianmu."
Sekarang Alana yang mendengus keras. "Kau tidak tahu apapun tentang bagian yang kuinginkan Ben."
Benjamin terkekeh pelan melihat tatapan tajam Alana.
"Kenapa berubah sekali? Tidak mau berbaik hati lagi padaku? Atau merengek mengajakku berdansa? Aku pewaris utama di keluarga Antolini, tidak mau mendekatiku lagi?" Ben bertanya dengan nada pelan dan sedikit nada mengejek.
Alana memandangi Ben dari atas ke bawah, lalu balik lagi ke wajah pria itu. "Kau mencari kesempatan untuk menginjak kakiku lagi bukan? Aku sudah begitu hapal. Jangan mempermainkan aku, aku bukan anak kecil lagi. Kau mungkin saja termasuk pria tampan di pesta malam ini, akan banyak yang mengajakmu berdansa. Tapi aku sangat yakin, Banjamin Antolini akan bersikap jual mahal. Padahal ...."
Benjamin memasang wajah sangar dan kejam pada Alana.
"Ekspresimu itu tidak lagi mempan. Aku tidak bodoh seperti Belinda yang bisa kau takut-takuti dengan wajah itu. Aku hanya takut jika Ayah yang memasang wajah begitu," desis Alana sambil berbalik dan meninggalkan Benjamin dengan suara sepatunya yang sengaja dihentakkan keras-keras.
Benjamin memasukkan tangan ke dalam kantong celananya dan terkekeh pelan. Alana memang orang yang terus terang. Sejak dibawa oleh Maurice dan tahu bahwa Benjamin adalah putra tertua dan pewaris utama dari keluarga Antolini, gadis itu didikte oleh ibunya untuk bersikap manis agar bisa mengambil hati Belardo dan Benjamin.
Dulu Alana kerap mendekatinya, bersikap manis dan mengajaknya bicara layaknya keluarga. Namun, gadis itu berhenti sendiri setelah tidak mendapatkan tanggapan. Sesuai perkataannya, ia hanya bersikap baik sebagai tanda terima kasih telah diurus dengan baik oleh keluarga Antolini. Soal keinginannya yang belum tercapai, Benjamin tidak dapat menebak. Ia hanya mengira bahwa Alana hanya ingin bagian dari warisan Belardo, sama sepeti ibunya yang menginginkan namanya ada di daftar pemegang saham perusahaan Belardo. Namun, tentu saja hal itu tidak akan terjadi. Belardo Antolini punya pemikiran sendiri.
Melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dari bagian samping, Benjamin melonggarkan dasi dan bergerak cepat meninggalkan tempat itu. Gerakannya yang cepat membuat beberapa orang yang berniat menyapa dan berbicara dengannya segera mengurungkan niat. Sesuai apa yang diinginkan oleh Benjamin.
Tiba di luar bagian samping gedung, Ben melihat taman kecil yang dibatasi oleh dinding tinggi. Ia baru saja akan melangkah pergi menuju tempat parkir ketika suara Verga memasuki pendengarannya.
"Aku bisa membantumu. Kau tinggal mengatakan kapan saja. Aku punya kenalan bagus yang biasa melakukan pekerjaan seperti ini."
"Tidak. Saat ini aku merasa belum perlu."
Benjamin mendengar suara wanita yang sudah ia kenali. Ia meneruskan langkah dan mendapati Verga dan Daniella berdiri berhadapan.
"Verga, bisakah kau melihat Bel di kamar istirahat lantai dua ... dia ...." Ben berhenti dan hanya menatap ke arah iparnya itu.
"Kurasa ia sedang me- ... dia terlihat sakit ...." Ben mengelak mengucapkan kata menangis. Memilih sakit agar Verga segera bergerak pergi.
"Sakit? Oh, aku akan melihatnya sekarang. Ella ... aku pergi dulu. Soal yang tadi, segera hubungi aku ketika kau membutuhkannya. Aku jamin, orang ini sangat bagus," ucapnya sambil mengedipkan mata pada Daniella.
Daniella menganggukkan kepala sambil melambaikan tangan. Ketika Verga berlalu, ia segera bersedekap dan memasang wajah datar di depan Benjamin.
"Kenapa berhenti di sini? Lanjutkan saja kemana tujuanmu tadi."
"Apa urusanmu dengan tujuanku, Nona Dolores."
"Tidak ada. Karena itu pergilah dari sini."
"Ini bukan tempat pribadi Jika aku berniat mencari udara segar di sini , kau tidak bisa mengusirku. Lebih baik kau yang pergi dan masuk ke dalam sana. Para pria di sana sedang mencari-cari Nona Daniella untuk diajak berdansa," ucap Benjamin dengan nada manis.
"Verga bilang kau tidak banyak bicara. Kurasa dia salah ... Kau cerewet."
Benjamin hanya mendengus.
Daniella memiringkan kepalanya, menatap dengan mata penuh tantangan. "Karena kau sudah menyinggung tentang berdansa, bagaimana kalau kau saja yang berdansa denganku di sini? Kebetulan aku butuh udara segar juga, jadi maaf, aku akan tetap di sini. Sama sepertimu."
Daniella tersenyum miring ketika tatapan Benjamin berubah tajam.
"Musiknya terdengar sampai ke sini. Meskipun sangat pelan, kurasa cukup. Bagaimana?" Dengan sengaja Daniella mengulurkan tangan kanannya. Dengan pasti mengira kalau Benjamin akan memilih pergi dan mengabaikan tangannya. Ia senang dapat mengusir pria itu.
Kau tidak mau bukan ... pergilah, lagipula aku duluan yang datang kemari.
Daniella mengetatkan geraham ketika uluran tangannya di sambut oleh Benjamin, setelah beberapa detik yang terasa panjang.
"Baiklah. Sesuai keinginanmu, Nona Dolores."
"Oh, kau baik sekali Tuan Antolini."
Daniella mendekat, meletakkan satu tangan ke bahu Benjamin. Ia mendongak sedikit agar dapat menatap wajah pria itu.
Tunggu saja, aku akan menginjak kakimu keras-keras. Kau akan menyesal. Daniella berkata dalam hati, senyuman segera mengembang di bibirnya.
Benjamin balas tersenyum. Menyentuh dengan sopan pinggang Daniella dan bersiap memenuhi permintaan Daniella untuk berdansa.
Kau akan menyesal telah menantangku, DD. Kau akan pulang dengan kaki sakit. Aku jamin itu.
NEXT >>>>>
*********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love, bintang lima, komentar dan vote untuk Belinda ya. Sebelumnya author mengucapkan terima kasih banyak.
Salam. DIANAZ.