Belinda

Belinda
55. Suddenly come



Verga melirik Belinda yang duduk di sampingnya ketika mobil yang mereka naiki tiba di depan gerbang Mansion Antolini. Istrinya itu menatap ke depan, melihat ke arah gerbang yang mulai membuka, namun seolah pikirannya berada di tempat lain.


"Kita akan menyapa mereka sebentar sebelum kita pergi ke hotel. Kamar kita sudah dipesan oleh Juan. Kita tidak akan menginap di sini," ucap Verga sambil menggenggam tangan Belinda.


Belinda menoleh, menyunggingkan sebuah senyum pada suaminya, juga sebuah anggukan kepala. Ia diam bukan karena ia tidak setuju, ketika mobil mulai mendekati jalanan menuju mansion Antolini kenangan Belinda kembali ketika ia masih kecil dan tinggal di tempat yang luas tersebut.


Halaman luas berupa taman di depan Mansion Antolini sangatlah besar. Ia kerap pergi dan bersembunyi dibalik rumpun bunga atau di kursi taman agar terbebas dari orang-orang di Mansion besar yang sering membuatnya sedih tersebut.


Mobil melaju pelan di jalan masuk menuju Mansion, sampai akhirnya berhenti di bagian depan. Verga mengamati dua orang pria yang ada di depan pintu, mereka seperti sedang membicarakan sesuatu. Keduanya memakai pakaian resmi lengkap berwarna hitam dengan dasi dan kemeja putih.


Ketika mobil berhenti dan Juan turun dari mobil kedua pria tersebut menatap dengan mata penuh selidik. Verga jadi ingat dengan pengawal pribadi yang sering berpakaian seperti itu, lalu ia ingat dengan Benjamin.


Apakah Benjamin sedang pulang kesini? tanya Verga dalam hati.


Juan membukakan pintu belakang. Dua pria tersebut sempat saling berpandangan ketika melihat Verga yang turun dari mobil.


Seketika kening Verga berkerut dalam. Berpikir seperti pernah melihat kedua pria tersebut. Namun, ia diam saja dan segera menunggu Belinda turun dari mobil.


Setelah mereka turun dan Juan kembali masuk ke belakang kemudi untuk memindahkan mobil, barulah dua pria tersebut mendekat dan memberikan salam dengan sedikit membungkuk.


"Selamat datang, Tuan Marchetti, Nyonya," ucap mereka bersamaan.


"Terima kasih," jawab Verga.


Salah satu pria tersebut kemudian bergerak ke arah pintu, ia membukakan pintu dan masuk ke dalam. Sepertinya untuk memanggil seseorang dan memberi informasi tentang kedatangan mereka.


Ketika melewati pria yang satu lagi, Verga menatap tak berkedip ke arah pria yang hanya tertunduk seolah memberi hormat padanya. Namun Verga merasa pria itu hanya menghindar agar mereka tidak bertatapan dan menyembunyikan wajah dengan menunduk.


Verga menggandeng Belinda dan membawanya masuk. Ruangan depan yang luas tersebut sangat hening. Verga mengangkat tangan kirinya dan melihat jam tangan.


Sudah sore, apakah semua orang pergi? Belum pulang?


Suara langkah kaki bergegas membuat Verga dan Belinda mendongak. Seorang kepala pelayan menghampiri mereka dengan langkah cepat.


"Selamat datang Tuan, Nyonya Bel," sapa pria tersebut.


"Terima kasih, Eugene," jawab Belinda.


Eugene tersenyum mendengar Belinda menyebut namanya.


"Apakah Anda berdua pulang untuk menjenguk Tuan Belardo? Kondisinya benar-benar sudah membaik. Saya dengar, besok beliau sudah diperbolehkan pulang."


Verga dan Belinda saling berpandangan.


"Pulang, Eugene? Maksudmu?" Verga menatap pelayan yang balik menatapnya agak bingung, lalu menyadari sesuatu.


"Anda berdua tidak tahu?"


Belinda dan Verga menggelengkan kepala.


"Tuan Belardo mengalami serangan jantung. Syukurlah Nona Alana tahu apa yang harus dilakukan, sehingga keadaannya cepat ditangani. "


Belinda terdiam kaku. Verga mengerutkan keningnya.


"Kapan, Eugene?"


"Tiga hari yang lalu, Tuan. Syukurlah Nona Alana sangat cekatan," puji Eugene lagi.


Verga merasa tangan Belinda bergetar dalam genggamannya. Ia segera memeluk pinggang isterinya itu.


"Bisakah kau memberitahu dimana rumah sakitnya? Kurasa kami akan langsung ke sana."


"Tentu, Tuan. Saya akan meminta staf kami yang mengantarkan Anda."


"Kami membawa mobil sendiri, Eugene. Katakan saja dimana rumah sakitnya. Juan bisa mengantar kami."


Verga memilih membiarkan pria tua tersebut melakukan seperti apa yang ia inginkan. Pikirannya fokus ke tuan Belardo yang sakit, namun tidak ada pemberitahuan apapun untuk mereka dari keluarga Antolini.


Walau bagaimanapun, sebagai anak dan menantu dari Belardo, Verga merasa ia dan Belinda berhak tahu tentang apa yang menimpa pria tua itu.


Apakah di rumah ini tidak ada satupun orang yang merasa perlu untuk memberitahu kami?


**********


Rasa jengkel membalut hati Verga ketika tiba di rumah sakit. Disebabkan karena pria yang mengantarkan mereka hanya menjawab pertanyaannya dengan gelengan atau anggukan, lalu kalimat terpanjang yang keluar dari bibirnya hanya kata 'tidak tahu'.


Pria yang mengantarkan mereka adalah salah satu pria yang tadi ada di depan ketika mereka tiba di Mansion Antolini.


Pria tersebut selalu menghindari kontak mata dengannya. Membuat Verga makin yakin kalau ia pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.


Ketika tiba di depan rumah sakit pria tersebut berhenti dan turun untuk membukakan pintu.


"Seseorang akan menjemput dan mengantarkan Anda ke ruangan Tuan Antolini, Tuan," ucap pria itu.


"Ya, terima kasih."


Seorang pria lain datang dan memberi salam pada Verga dan Bel. Saat itulah sopir yang mengantarkan mereka tersebut bergegas pamit dan pergi.


Verga menatap hingga mobil yang dibawa pria tersebut menjauh.


"Ada apa? " tanya Belinda.


"Tidak ... mungkin hanya perasaanku saja. Ayo ..."


Belinda menggenggam tangan Verga dan mengikuti ketika suaminya itu melangkah masuk ke gedung rumah sakit mengikuti langkah pria yang tadi datang untuk mengantarkan mereka ke ruang perawatan Belardo.


Keluar dari lift, pria yang mengantarkan mereka berhenti.


"Di sana , Tuan. Silakan. Saya akan berjaga di sini," ucapnya sambil menunjuk ke sebuah pintu.


"Terima kasih."


Verga merasakan cengkeraman tangan Belinda makin erat dalam genggamannya. Ia belum bisa menanyakan bagaimana perasaan istrinya itu. Ia sendiri merasakan sebuah kemarahan karena baru tahu tentang kabar ini. Itupun tidak sengaja karena mereka datang berkunjung tiba-tiba.


Saat berjalan mendekat, pintu ruangan terbuka dan muncul sosok Benjamin di sana. Tampak agak kusut dengan celana jeans biru dan kaos lengan pendek. Di tangan kanannya tergenggam sebuah jaket.


Melihat kedatangan Verga dan Belinda, Benjamin sama sekali tidak terkejut. Memberitahu Verga bahwa seseorang sudah memberitahu pria itu lebih dulu.


Verga langsung teringat dengan dua pria yang tadi menyambut mereka di mansion, yg salah satunya mengantarkan ke rumah sakit. Seketika, dengan amat jelas ia teringat dimana pernah bertemu dengan keduanya.


"Kalian sudah tiba ...." ucap Benjamin.


Verga berdiri diam sambil menatap tajam iparnya tersebut. Ia menatap Benjamin dari ujung kepala hingga kaki, agak lama berhenti di bagian lengan Benjamin dimana sebuah tato tergambar jelas di bagian yang tidak tertutup oleh lengan kaos hitamnya yang pendek.


Benjamin segera mengenakan jaket yang ia bawa, menutupi apa yang baru saja dipandangi oleh Verga.


"Kau sepertinya perlu pelajaran tentang apa itu ikatan atau hubungan, Black! Tapi tidak sekarang! Aku akan membuat perhitungan denganmu! Saat ini, antarkan aku melihat Ayah mertuaku!" ucap Verga dengan nada amat tegas dan mata menatap tajam ke arah wajah Benjamin.


NEXT >>>>>>>>>


************


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love, bintang lima, vote dan komentar ya. Sebelumnya otor ucapin terima kasih banyak.


Salam. DIANAZ.