Belinda

Belinda
44. Horrible Night 2



Hector menatap Stanley yang berjalan kembali sendirian tanpa Daniella. Ia memilih tidak menegur pria tersebut dan membiarkan pria itu berlalu. Ia menebak Daniella ditinggalkan bersama orang tuanya yang sudah lebih dulu lewat menuju mobil mereka.


Baru saja ia mengangkat kantong tidur ke atas bahunya dan akan meninggalkan tempat itu, ia melihat Miranda yang datang menghampiri sebuah mobil lain tak jauh dari sana.


Miranda melihat Hector dan menyunggingkan senyum.


"Menyusul primadonamu?" tanya Miranda sambil membuka pintu mobil, lalu merunduk masuk dan mengambil sebuah botol minuman. Ia menampakkan botol anggur tersebut pada Hector. "Mau? Aku bawa dari hotel."


Hector hanya mendengus dan melangkah pergi dengan kantong tidur di bahunya.


"Tuan putri sedang ada tamu. Apa kau tidak tahu bahwa dia dikunjungi orang tuanya? Tadi para tamu itu bertemu salah satu kru kita dan bertanya yang mana tenda Ella."


"Ya, ya ... aku tahu. Daniella bahkan baru saja lewat sini dan menemui-"


Ucapan Hector berhenti. Suara aneh dan gumaman tertahan yang terdengar tak jauh dari sana membuat Hector dan Miranda saling berpandangan, lalu dengan sendirinya langkah kaki Hector berjalan mendekati sumber suara. Beberapa mobil dilewati dan gumaman tersebut terdengar makin mengecil dan menjauh. Ia menoleh ke belakang dan menyadari Miranda tetap berdiri di tempatnya tadi.


Hector mempercepat langkah kakinya agar segera tiba di bagian pinggir lapangan yang dijadikan tempat parkir dan bagian tenda beberapa kru peralatan, ia mengernyit karena situasi agak gelap di bagian tersebut dan bayangan tenda membuatnya tidak dapat melihat apapun.


Suara itu terdengar lagi, Hector berjalan cepat mendekati sumber suara , ketika matanya terbiasa pada kegelapan, ia berdiri kaku melihat pemandangan di pinggir hutan


"Mmm! Mmm!"


Gerakan menggeliat yang dilakukan oleh orang yang bergumam membuat Hector tahu ada yang tidak beres.


"Ella? Kaukah itu?"


"Sebaiknya kau jangan mendekat, Bung ... atau artis cantik ini akan terluka ...." Suara dingin seorang pria terdengar penuh ancaman. Daniella disekap dari belakang oleh pria itu dengan lengan mengunci pinggang dan mulutnya.


"Kau siapa!? "


"Aku hanya ingin meminjam wanita ini. Sendirian di dalam hutan tidaklah nyaman," ucap pria itu sambil terkekeh.


"Mmm!" Mata Daniella berkilat dan melebar dalam kegelapan. Di belakang Hector, berjalan pelan sosok dalam bayang gelap. Ella dan pria penyekapnya melihat sosok itu, namun Hector terlalu fokus pada bahaya yang menyelimuti Ella tanpa menyadari bahaya yang sedang menghampirinya.


"Mm!" Ella merasa cengkraman tangan di mulutnya makin mengencang.


"Stttt ... jangan ribut, Manis," bisik pria tersebut. Matanya berkilat menatap seseorang yang sekarang sedang mengayunkan sebuah kayu ke arah belakang kepala Hector.


"Ikuti aku sekarang sebelum lebih banyak keributan." Nada penuh ancaman dan juga gerakan kuat yang menyeretnya membuat Daniella terpaksa menurut. Tubuhnya sudah lemas dan ketakutan ketika tadi pria itu tiba-tiba datang mencegat dan menyeretnya pergi. Ia merasa memiliki harapan ketika melihat ada orang dan mendengar suara Hector. Namun sosok yang menyerang Hector mungkin saja rekan dari penjahat yang sekarang menangkapnya. Ella tidak bisa melihat jelas, namun ia yakin kalau pria yang akhirnya tumbang tadi adalah Hector.


Ella merasakan hentakan ranting di pipinya makin lama makin sering, tanda bahwa pria itu tidak memilih jalan biasa. Tawa pelan penuh kepuasan terdengar beberapa saat kemudian.


"Aku tidak tahu siapa orang itu. Tapi dia secara tidak langsung sudah membantuku."


Ella baru saja mau bersuara ketika merasakan telapak tangan pria itu lepas dari mulutnya, namun segera sebuah kain masuk kedalam mulut, ia disumpal, lalu dibebat dari bagian bawah hidung ke dagu hingga belakang kepala. Air mata Ella mengalir, seluruh tubuhnya kebas ketika ia di dorong dan dinaikkan paksa ke kursi. Tak cukup membuatnya tidak bisa bicara, pria itu membuatnya tidak bisa bergerak dengan mulai mengikat tangan dan kakinya. Seolah-olah ia bisa berlari jika tidak diikat. Ella memejamkan mata, menyuruh dirinya agar terus bernapas, rasa takut dan cemas yang menguasainya saat ini serasa membuatnya lumpuh.


"Jika dia tidak menyembunyikan para bidadariku, aku mungkin saja akan menerima ketika dipecat! Tapi dia keterlaluan! Dia bahkan memisahkanku dari mereka! Bajingann Siallann! Aku akan membalas!"


Ella tidak mengerti sama sekali untuk siapa sumpah serapah yang dilontarkan pria itu. Ketika lonjakan demi lonjakan mulai terasa di tubuhnya, ia tahu ia dibawa makin jauh dari lokasi syuting. Semakin jauh dari orang tuanya, juga dari Benjamin.


**********


Benjamin baru saja tiba di lobi hotel ketika ia melihat Timmy berlari ke arahnya dengan raut wajah terburu-buru.


"Ikut aku! Sekarang!" perintah Timmy sambil menepuk dada Benjamin.


Snow dengan lincah menangkap bagian belakang jaket yang dikenakan Timmy ketika pria bertubuh kecil tersebut kembali akan berlari. "Mau kemana, Tim!? Bos sedang ada pekerjaan lain."


"Ini soal Ella!" Lalu Timmy menyadari bagian bibir Benjamin yang terluka. "Kau dipukul!?" serunya.


"Tidak usah diucapkan keras-keras, Timmy!" Benjamin menatap tajam Timmy yang kembali mendekat dan mendongak seolah sedang memeriksa luka di bibirnya.


Stanley dan Snow berdeham keras beberapa saat kemudian. Membuat Timmy dan Benjamin menolehkan kepala. Mereka segera melihat Daniel Dolores di lobi. Kernyitan di kening dan kilau mata pria tua itu membuat mereka semua waspada.


"Apa maksud Anda, Tuan Daniel? Bukankah ...." ucapan Benjamin terputus, sorot matanya berubah cemas dan ia langsung menatap Timmy.


"Ini yang mau aku perlihatkan. Beberapa mainanku ada yang merusak. Aku memanggilmu untuk memperlihatkannya."


Tanpa komando mereka semua pergi mengikuti langkah Timmy yang telah berlari lebih dulu meninggalkan mereka.


**********


"Baringkan dia di sini," ucap Felix pada dua orang kru yang datang membawa asisten sutradara yang ditemukan oleh Miranda pingsan di pinggir lahan parkir.


Miranda berlari memanggil Felix. Mengatakan ia melihat Hector sang asisten sutradara tergeletak pingsan. Felix memanggil dua orang kru dan langsung pergi ke tempat itu bersama Miranda. Benar saja, Hector tergeletak tidak sadarkan diri. Namun pria itu masih bernapas.


"Bisakah kalian panggilkan segera tim medis kita?" tanya Felix pada dua pria yang tadi membantunya.


Keduanya mengangguk dan segera pergi meninggalkan tenda.


"Kau sendirian saat menemukannya, Miranda?"


Miranda mengangguk, ia mengulurkan botol anggur yang sejak tadi tanpa sadar selalu ia pegang.


"Iya. Ini ...."


"Kau tadi ke mobil mengambil itu bukan?" tanya Felix, menunjuk botol anggur di tangan temannya itu.


"Iya, lalu aku bertemu Hector. Kami berbicara sebentar, kemudian dia pergi ke arah berlawanan. Bukan kembali ke arah tendanya. Padahal dia mengambil kantong tidur. Aku sudah setengah jalan kembali ke tenda makanan ketika terdengar suara aneh. Aku putuskan kembali dan memeriksa ...."


Felix menganggukkan kepala. "Syukurlah kau datang tepat waktu. Kita belum tahu kenapa dia pingsan. Mungkin dia terpeleset atau apa," gumam Felix.


Miranda menganggukkan kepala, lalu memerhatikan ketika Felix memeriksa dengan teliti keadaan Hector.


Mungkinkah ada berita besar besok pagi? Miranda segera mencari pembuka botol, lalu mulai menuangkan cairan tersebut ke dalam dua gelas kristal, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Felix.


Ketika mendekatkan bibir gelas ke bibirnya, ia baru menyadari tangannya gemetar. Miranda memegangi gelas dengan dua tangan, meminum sampai habis semua cairan di dalam gelas tersebut.


"Minumlah, Felix." Miranda hanya menunjuk gelas anggur satu lagi. Tidak jadi memberikan langsung pada Felix. Takut jika temannya itu melihat tangannya yang bergetar.


"Terima kasih. Kurasa kau perlu satu gelas lagi. Kau pasti agak takut ketika menemukan Hector bukan? Kau berlari mencariku seperti baru saja melihat hantu."


"Ya-ya ...." Miranda mencoba menyunggingkan senyuman yang terlihat seperti ringisan di mata Felix.


"Tenanglah. Dia tidak mati. Kurasa dia akan sadar kembali."


"Syukurlah. Di-dimana tim med-"


Ucapan Miranda terhenti ketika beberapa orang masuk ke dalam tenda Hector. Felix segera mengajaknya menyingkir. Mereka keluar dan memberikan ruang bagi tim medis untuk memeriksa Hector.


NEXT >>>>>>


*********


From Author,


Halo semuanya. Terima kasih atas semua dukungan dan vote yang sudah diberikan untuk Black dan DD, sehingga di bulan april 2022 Belinda, antolini series, bisa menempati posisi rank 1 ranking hadiah. Saya pribadi menyadari banyak sekali kekurangan dalam karya saya, baik penulisan, alur, maupun karakter. Semoga ke depannya bisa jadi lebih baik lagi. Aamiin ....


Update yang tidak tentu masih jadi kekurangan yang susah sekali untuk di perbaiki, wkwkkwkwwk. Semoga hal yang satu ini bisa dimaklumi ... real life yang sangat berwarna kadang membuat perasaan jadi naik turun kayak lagi naik rollercoaster. Berharap sudah melakukan yang terbaik, untuk keluarga, untuk orang lain, terutama untuk diri sendiri. Kerap mengalami stuck idea di setiap waktu, hahhaa


Selamat berjuang semuanya, semangat selalu, jaga kesehatan jiwa dan raga .... semoga selalu bahagia, terlindungi dan dipenuhi rahmat Allah. Aamiin ....


Salam. DIANAZ