
"Bel?"
Panggilan Verga membuat Belinda bergerak. Ia kembali ke posisi duduk dan menghadap ke depan. Mereka masih melaju di Kota BYork. Belum sepenuhnya meninggalkan kota tersebut.
"Ya?"
"Apa kau keberatan kalau kita singgah?"
"Kemana?"
"Tempat Paman Daniel."
Mata Belinda berkilat tertarik.
"Ayah Daniellakah?"
"Ya. Benar. Mereka tinggal di sini. Klub kecil di pinggiran kota."
"Tentu."
Verga membelokkan mobilnya ke arah kanan, terus melaju hingga mereka akhirnya tiba di sebuah jalan yang tampak biasa. Mobil Verga berhenti di depan sebuah tempat yang mirip restorant. Hanya saja tempat itu tutup.
"Paman buka di malam hari. Kebanyakan pengunjungnya sudah kenal dekat."
"DD ... nama tempat ini ..."
Verga tertawa. " Daniel Dolores, DD, mengingatkan kita tentang restoran ternama bukan, Paman memang pemiliknya. Tersebar di beberapa tempat di BYork, dan juga beberapa kota lain"
Belinda menaikkan alis. "Dan ia memilih mengelola sendiri yang ini?'
"Ya. Disinilah semuanya dimulai. Oleh kakeknya Ella. Kau akan menemukan paman Daniel dan Bibi Elena memakai celemek dan menuangkan sendiri anggur untuk para pengunjungnya di sini. Tempat ini jadi ruang untuk melepas lelah yang selalu ramai kalau malam hari. Suasananya santai dan akrab."
Bel mengikuti langkah Verga, melewati ruang depan, menunggu suaminya menyapa para pegawai yang ada di sana lalu berjalan lagi dan menemukan sebuah tempat yang mirip lorong berupa taman kecil sebelum masuk kembali ke sebuah pintu dan tiba di sebuah bangunan yang dikelilingi tumbuhan hijau dan rerumputan.
"Tempat ini cantik, masih ada tempat terbuka seperti ini ditengah kota," bisik Belinda.
"Wilayah ini masih menpertahankan gaya dan bentuk bangunan lama, ini pinggiran kota, para pemiliknya tidak mau menjual tanah-tanah mereka. Hingga tempat ini masih seperti ini sampai sekarang. Sudah begini seingatku sejak aku masih kecil , Ayo." Verga mengajak Belinda menuju beranda depan rumah.
Seorang wanita berumur sekitar 50 tahunan keluar tergesa dari dalam rumah. Rambutnya yang hitam panjang bergoyang dan tampak indah berkilat. Belinda sampai terpana melihat keindahan rambut wanita tersebut. Wanita yang masih terlihat cantik meski sudah berumur itu mengenakan gaun rumahan dengan celemek berenda di atasnya.
"Verga! " seru wanita itu sambil menyambut keponakannya dengan amat riang. "Ya ampun. Aku melihat dari dalam dan tidak percaya pengantin baru benar-benar telah sampai di pintu rumahku!" Lalu wanita tersebut terdiam di tempat. Langkahnya berhenti dan matanya memandang tak berkedip ke arah Verga, lalu Belinda secara bergantian.
"Bibi?" Verga jadi bingung melihat ekspresi bibinya yang tiba-tiba berubah. Dari gembira berganti terkejut, lalu kini terlihat ngeri.
"Ada apa dengan kalian? Bibirmu luka, Verga ...." Elena Dolores menunjuk sudut bibirnya sendiri, memberi tanda apa yang ia lihat di wajah keponakannya, lalu ia meraba rahang. "Dan kau Bel, kenapa rahangmu?"
Verga menoleh, menyadari rahang Belinda yang kemarin merah menyisakan sedikit warna lebam keunguan. Kulit Bel yang putih membuat warna itu terlihat lebih jelas.
"Mmm ... ini ...." Belinda kebingungan menjelaskan. Ia menoleh ke arah Verga, meminta suaminya saja yang menjelaskan.
Langkah kaki dari bagian samping rumah membuat mereka menoleh. Seorang pria bertubuh tinggi besar dengan rambut berwarna pirang datang mendekat.
"Verga!"
"Paman,"
Mata biru Daniel Dolores menyipit melihat hal yang sama seperti yang barusan istrinya tanyakan.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Daniel dengan mata menatap ke arah bibir Verga.
"Ah. Abaikan ini. Apa kabarmu, Bibi?" Verga bergerak memeluk dan mencium pipi bibinya, lalu berganti mendekat ke arah pamannya, melakukan hal yang sama seperti pada bibinya tadi.
Belinda melakukan hal yang sama. Ia memeluk bibi Elena, wanita itu kemudian mengelus rahang Bel sambil meringis. Saat berganti memeluk Paman Daniel, Belinda jadi merasa seperti anak kecil. Ia merasa memeluk raksasa berambut pirang.
Bel terkejut ketika dengan pelan dan sangat lembut pria tua tersebut mendongakkan dagunya dan meneliti rahangnya.
"Kau seperti habis dipukul," ucap Daniel.
Sosok seorang gadis kemudian keluar dari dalam rumah. Mengenakan celana santai selutut dengan kaos ketat tanpa lengan. Sebuah bandana terpasang di kepalanya. Rambut hitam indah gadis itu diikat jadi satu di belakang kepala. Keringat tampak mengalir dan masih mengembun di kulit gadis itu. Tanda ia baru saja berolahraga.
"Jangan bilang itu karena suamimu ini, Bel. Terlalu bersemangat sebagai pengantin baru sampai membuat istrinya memar! Kelamaan menjadi bujangan, hingga ketika menikah, jadi liar dan buas. Coba periksa seluruh tubuh Belinda, Mom," ucap Daniella pada ibunya.
"Ella! Kau ada di sini!" seru Belinda gembira. Ia suka sekali melihat artis cantik itu.
"Ya, Manis ... Owh ... sepupu cantikku yang menawan. Jangan memelukku, aku berkeringat," ucap Daniella sambil memberi kecupan jarak jauh, lalu ekspresinya jadi berubah galak ketika menatap Verga. "Kau apakan dia?"
Verga hanya menyeringai.
"Jika memar Belinda karena ulah Verga, Dani. Jadi ulah siapa luka di sudut bibir Verga itu? Apakah pria ini menggigit dirinya sendiri?" tanya Daniel pada putrinya.
Daniella langsung melirik sudut bibir Verga yang terluka.
"Mungkin Bel yang menggigitku. Kau tanya saja dia," ucap Verga sambil tertawa. Semua orang lalu terkekeh, membuat Belinda merona malu dan jadi tidak nyaman.
"Sudah, sudah. Ayo masuk. Kita bicara di dalam."
Elena membukakan pintu lebar-lebar. Semua orang masuk ke dalam. Daniella dengan sengaja memeluk sepupunya.
"Jangan dekat-dekat! Kau sengaja mengelap keringatmu di bajuku!" seru Verga. Membuat Paman dan bibinya tertawa keras.
Belinda tersenyum, menatap takjub interaksi antara Ella dan suaminya. Mereka sudah dewasa. Namun ikatan persaudaraan dan keakraban masih terjalin erat. Sikap mereka alami dan terlihat nyaman satu sama lain.
"Kalian mau kemana?" tanya bibi Elena.
"Kami dalam perjalanan pulang, Bibi," jawab Verga.
"Itu benar, Bibi. Tapi Belinda ingin melihat bukit lavender. Jadi kami ke sana, menginap dua hari sebelum pulang. Karena aku sudah di sini, aku ingin mampir."
"Sekarang jawab dulu pertanyaan tadi. Jangan coba mengalihkan pembicaraan. Ada ada dengan wajah kalian berdua?" tanya Daniella.
"Anggap dugaanmu benar. Aku membuat istriku memar, dan Bel menggigitku untuk melepaskan diri."
Jawaban Verga membuat Daniella mendengus keras, sehingga ia mendapati ayahnya berdeham sebagai teguran. "Dia berbohong, Dad."
"Kan tadi kau yang bilang begitu," ucap Verga.
Bibi Elena terkekeh sambil menggelengkan kepala. Ia kemudian pamit ke belakang, berkata akan menyiapkan minuman dan makanan kecil. Belinda dengan cepat bangkit dan minta izin ikut. Langsung menyusul ke belakang tanpa menunggu persetujuan Elena.
"Kenapa kau di sini, Ella? Kau libur?" tanya Verga.
Daniella mengembuskan napas panjang. "Aku memutuskan berhenti sejenak mengambil pekerjaan."
"Kudengar kau menerima sebuah kontrak film beberapa bulan yang lalu."
"Tidak jadi, dia merelakannya," ucap paman Daniel bantu menjelaskan.
Verga mengerutkan kening. "Kenapa? Kau memutuskan berhenti?"
Daniella megerucutkan bibir. "Anggap saja begitu ... sekarang ceritakan yang sebenarnya. Dari mana kalian mendapatkan luka dan memar itu," pinta Daniella tidak sabar, juga ingin pembicaraan tentang dirinya berakhir.
Verga bersandar, lalu mengangguk dan mulai menceritakan penyerangan yang terjadi di Undertake street.
Di bagian belakang rumah. Elena tengah mengobrol santai dengan Belinda. Menanyai tentang banyak hal yang belum ia ketahui tentang istri keponakannya tersebut.
Ketika memotong cake dan menyiapkannya di atas wadah, Elena mengambil garpu kecil, menusuk bagian kue dan menyuapkannya pada Belinda. Menyuruh Bel mencicipi dan mengomentari bagaimana rasa cake tersebut.
Bel tidak hanya berkomentar tentang rasa, pengalamannya belajar memasak pada ibu Vito memberinya sedikit pengetahuan tentang proses dan juga bahan baku. Mereka langsung larut dalam obrolan menyenangkan, tertawa bersama dan kemudian membawa minuman dan makanan kecil tersebut ke ruang tamu.
Ketika duduk dan melihat empat orang tersebut terlibat dalam obrolan akrab, penuh tawa, perhatian juga sesekali ejekan, membuat Belinda membayangkan keadaan di dalam Mansion ayahnya sendiri yang berbanding terbalik.
Aku sudah jadi bagian dari keluarga ini. Seorang Marchetti ... keluarga yang saling menyayangi dan menunjukkan cinta satu sama lain. Jika aku benar-benar diterima, diakui, dan disayangi seperti Ella ... Aku harus membuat diriku layak untuk berada bersama mereka ...
Belinda melirik Verga yang masih mengobrol dengan Daniella. Sisi wajah suaminya itu terlihat kokoh, bibirnya tampak merah, kilau matanya yang biru tampak teduh dan tenang.
Bel ....jangan bilang kau ja-
Tepukan di pahanya membuat Belinda terkejut, tawa bibi Elena terdengar geli dan juga menggoda. "Jangan pandangi dia terus. Dia bisa besar kepala," bisik wanita itu.
Belinda merona malu, ia melihat bibi Elena mengulurkan piring kecil berisi cake dan menerimanya.
"Aku tidak akan bertanya tentang aktivitas ranjang kalian. tapi kau pasti tahu kalau kegiatan itu bisa menghadirkan calon penerus bagi Marchetti. Jika ada yang mau kau tanyakan, kau bisa menghubungiku. Aku tahu sedikit berdasar pengalaman dan juga hasil membaca ," bisik Bibi Elena lagi sambil memberi kode di telinga seperti sedang menelepon.
Wajah Belinda tidak bisa lebih merah lagi, membuat Elena tertawa lebih keras sehingga Verga, Ella dan Daniel menoleh ke arahnya.
"Apa yang membuatmu tertawa, Sayang?" tanya Daniel pada istrinya.
Elena melambaikan tangan, berkedip pada Belinda. "Oh, ini urusan para wanita, Daniel. Rahasia kami. Bukan begitu, Bel?"
Belinda mau tidak mau tersenyum malu, ia menunduk agar wajahnya tidak terlalu kelihatan.
"Mom, jangan bilang kau bertanya pada Bel apakah dia sudah berhasil membuat bayi dengan pria ini," ucap Daniella langsung.
Daniel Dolores yang baru saja meneguk minumannya jadi terbatuk keras. Verga menepuk punggung pamannya itu dengan senyum geli.
"Daniel! Kalimatmu tidak sopan!" ucap Daniel pada Ella. Panggilan Ayahnya yang memanggilnya Daniel membuat Ella tahu ayahnya tidak suka atas perkataannya.
"Maaf, Dad. Tapi Mom membuat wajah Bel bahkan lebih merah dari kepiting rebus. Aku hanya penasaran," ucapnya sambil mengangkat bahu.
"Kalimatku lebih halus Ella. Aku mengatakan tentang efek aktivitas ranjang. Bukan kegiatan membuat bayi seperti kalimatmu."
"Elena ...." desis Daniel sambil menyandarkan punggung ke kursi. Ia menggelengkan kepala sambil menatap istri dan putrinya bergantian. Yang ditatap malah terkekeh geli.
Verga menatap Belinda yang tertunduk, matanya tanpa sadar berpindah ke arah bawah, melirik bagian perut istrinya itu. Setelah sekian detik ia kembali menatap wajah Bel dan menemukan wanita itu sudah mengangkat kepala dan sedang melihat ke arahnya. Mereka bertatapan seolah tidak bisa mengalihkan pandangan.
"Ya, Tuhan ... aku jadi ingat saat kita dulu saling jatuh cinta Daniel," ucap Elena dengan penuh semangat.
"Astaga ... kalian membuatku jadi ingin mencari pria, " ucap Daniella.
"Jaga bicaramu, Dani," tegur Daniel.
Belinda yang pertama kali memutuskan tatapan tersebut. Jantungnya jadi berdebar dan ia seperti baru saja jadi remaja yang diperkenalkan dengan seorang lelaki tampan yang membuat darahnya berdesir. Wajah Verga tampak tenang, hanya matanya yang tadi sempat menyorot tajam sekian detik.
Bel mencoba meluruhkan rasa tegangnya dengan ikut tersenyum dan mengalihkan pandangan pada bibi Elena.
Dengan mudah dia seolah menyalurkan arus listrik ke tubuhku. padahal dia hanya menatapku ... tubuhku jadi memanas, jantungku berdebar tidak karuan. Padahal dia tampak biasa saja ... tidak ada perubahan di wajahnya ... tidak mengetahui apa yang dia pikirkan tentang aku terasa sangat menyiksa ....
NEXT >>>>>>>
**********
From Author,
Wkwkkwk, meleleh ya Bel, dipandangi si abang tampan.
Dukung dengan tekan like, love, bintang lima, vote dan komentar ya. Sebelumnya author ucapkan terima kasih.
Salam. DIANAZ.