
Benjamin menutup pintu sangat perlahan. Berusaha agar tidak didengar oleh Daniella. Wanita itu sedang duduk di sebuah kursi di dekat pintu kaca yang terbuka ke arah taman.
Memandang sekeliling ruangan Ben mendapati tempat tersebut seperti ruang kerja yang berbatasan langsung dengan taman bagian luar. Di atas sebuah meja besar yang ada di bagian kanan ruangan Ben melihat kotak P3K yang masih terbuka, sebuah bejana dari bahan steinless steel yang berisi kapas lembab yang berbau antiseptik juga tisu yang bernoda merah, juga sebuah senter periksa.
Daniella menarik sebuah tisu dari atas meja kecil di dekat kursinya. Isak kecil terdengar kala Benjamin melangkah mendekat tanpa suara.
Setelah menghapus pipinya dan meremas tisu jadi bola kecil. Daniella menarik lagi tisu berikutnya dan mengulang lagi perilaku seperti tadi.
Tangan kanan Ella memegang sebuah handphone. gurat kemerahan tampak mewarnai di bagian kulit tangannya. Mata Benjamin beralih ke bagian kaki dan mendapati luka lecet di beberapa bagian. Ia mengeraskan rahang karena tidak menyadari hal itu sejak tadi.
"Tunggu. Berhenti menangis kalau ingin menelepon ayahmu, Ella. Putri Daniel adalah gadis pemberani ...." Daniella bicara sendiri, kembali menarik tisu dan menunduk menahan tangisnya. Setelah beberapa detik, ia menarik napas, dengan tangan gemetar ia mulai mengetikkan nomor ponsel sang ayah.
Benjamin menunggu dalam diam. Menyadari sejak tadi Ella merasakan kengerian dari kejadian yang mungkin saja tidak pernah ia bayangkan akan terjadi padanya, namun wanita itu menahan diri dan bersikap seolah-olah kuat dan baik-baik saja.
Ella menegakkan punggung, ketika ponselnya tersambung.
"Hai, Daddy!"
"Oh? Halo, Ella. Ini dirimu? Nomor ini ...." Terdengar nada heran dari jawaban ayahnya.
"Aku pakai nomor teman, malas mengambil ponselku."
Meski masih heran, namun Daniel tidak lagi bertanya kenapa Ella menghubunginya memakai nomor berbeda. "Apa kabarmu, Nak?"
"Aku baik-baik saja ... apakah kau bersama Mom?"
"Ibumu ... tunggu, tadi dia ada di sini. Kau mau bicara padanya?"
"Tentu. Aku rindu kalian berdua. Kau sedang di restoran?"
"Iya. Di sini ramai seperti biasa, tapi salah satu karyawan kita tidak masuk. Jadi ... aku dan ibumu agak sibuk."
"Tapi kalian sehat-sehat saja bukan?"
"Ya, Nak. Kau bagaimana. Adakah hal aneh? Terakhir Erick menghubungiku dia bilang semuanya baik saja dan terkendali."
Ella memang meminta pada Stan dan Snow agar tidak memberitahu ayahnya tentang surat terakhir yang datang ke hotel Copedam Hill. Dua pengawal tersebut sepertinya sepakat hingga Erick sang atasan juga tidak mengabarkan pada Daniel kalau Ella sudah menerima satu surat lagi.
Ayah dan ibunya pasti akan khawatir. Ella percaya Snow dan Stan, apalagi kini ditambah Benjamin. Mereka mampu menjaganya. Tapi sekarang ia memerlukan kedua orang tuanya. Ia butuh ciuman sayang dan pelukan meski itu hanya lewat telepon. Ia butuh itu untuk menenangkan diri.
"Hai, Sayang! Kau baik bukan? Bagaimana syutingnya?"
"Hai, Mom. Aku baik. Aku merindukan kau dan Daddy. Jadi aku menelepon."
"Oh, Ella, kami juga merindukanmu. Kau sudah makan malam?"
"Sudah, Mom." Ella berbohong.
"Pengawal pribadimu ada di sana juga? Apakah kau makan malam bersamanya?"
"Snow tidak pernah meninggalkanku, Mom."
"Erick meyakinkan ayahmu kalau mereka akan melakukan yang terbaik. Aku dan ayahmu jadi sedikit tenang, Ella."
"Jangan khawatir ...." Ella memejamkan mata menahan agar ia tidak terisak. Namun suaranya membuat insting ibunya tergerak.
"Sayang ... kau menangis?"
"Tidak, Mom," Ella tertawa sambil menarik tisu lagi dan menahan agar tidak membersit hidung.
Suara ibunya tiba-tiba sudah berganti jadi suara ayahnya.
"Dani, jangan berbohong pada kami! Katakan yang sesungguhnya! Kau menangis?"
Benjamin melihat kepala Daniella mengangguk berulang kali.
Kau gadis kesayangan Daddy ... mungkin kau terlihat kuat, tegar, dan mampu melakukan apapun, tapi itu karena kedua orang tuamu selalu ada untukmu, selalu siap menyokongmu. Kini kau sangat jauh dari mereka. Apa yang akan kau lakukan? Memanggil mereka datang?
"Dad, Mom ... maaf, aku memang menangis, aku kesal sekali. Aku mengabaikan mereka, tapi hatiku sakit. Mereka bilang aku wanita sombong." Ella terpaksa berbohong pada kedua orang tuanya.
"Siapa yang melakukannya? Mirandakah?" tanya sang ibu.
"Bukan masalah besar, Mom. Berikan aku ciuman dan pelukan. Aku akan merasa lebih baik."
Ella mendengar ******* lega dari ayahnya. "Kau sudah sering diperlakukan begitu oleh orang-orang picik yang iri, Ella. Jangan sedih. Akan merugikan dirimu sendiri. Seingatku itu tidak lagi mengganggumu."
"Ya, Dad. Sekarang tidak lagi."
"Sayang, kami mencintaimu," ucap Daniel dan Elena Dolores berbarengan, lalu terdengar suara ciuman.
"Kami sedang memelukmu ditengah-tengah dan sedang mencium pipimu di masing-masing sisi," ucap Elena sambil tertawa.
Daniella tertawa lepas. Ia terdengar lega ketika berkata. "Aku tahu kau sedang dipeluk dan dicium oleh Dad, Mom. Di depan semua orang di restoran."
Elena tertawa. "Kau benar. Dia sedang memutarku sekarang."
"Aku mencintai kalian, Mom, Dad."
"Kami juga, Sayang. Jaga dirimu."
"Ya ... dahhh...."
Setelah panggilan tersebut mati. Ella membersikan wajah dan hidungnya dengan tisu tanpa menyadari Benjamin yang berjalan ke arah meja kerja dan mulai mencari-cari sesuatu di antara obat-obatan dalam kotak, ia mencari dan dengan sengaja membuat suara dan merasa senang ketika menemukan tube gel yang ia cari.
Suara yang di buat Benjamin membuat Ella menoleh cepat. "Sejak kapan kau di sini?"
"Baru saja ...."
Ben berjalan mendekat, hingga berada di sebelah kursi Ella.
"Sebastian mengatakan sesuatu tentang bahumu. Ia bilang bahumu cidera."
Daniella mengembuskan napas panjang, ia melihat tube gel untuk penghilang memar di tangan Benjamin, ia baru saja akan berdiri untuk menjauh ketika Benjamin menahan kedua bahu atasnya. Seketika Ella berteriak kesakitan.
"Duduk disini! Kau buka sendiri atau aku yang akan merobek kain itu!" Dengan suara tegas Benjamin menunggu. Ella melotot, namun Ben terlihat bergeming. Ella merasa pria itu tidak akan mengalah sebelum memeriksa bahunya.
"Cepatlah!"
Ella menyipit. "Kalau aku tidak mau?"
"Maka aku yang akan melakukannya," ucap Benjamin dengan nada tanpa emosi.
Ella yakin itu bukan sekedar gertakan. "Kau bukan dokter! Panggilkan Sebastian!" Ucap Ella ketus sambil mulai menggapai bagian belakang retsletingnya gaunnya.
Benjamin menahan jarinya yang sudah terasa gatal mau membantu. Wanita itu mengernyit sakit ketika mengangkat lengan untuk menggapai retsleting gaun di belakang punggungnya.
"Uffhhhh...." Ella mengembuskan napas panjang dan menghentikan gerakan tangannya.
"Sakit?" tanya Ben dengan nada lembut, ia tidak berpengalaman dengan situasi seperti ini. Dulu, dengan Belinda atau Alana atau bahkan dengan para ibu tirinya , ia hanya perlu memanggil pengasuh atau pelayan jika salah satu dari mereka terluka . Ia belum bergerak dan menunggu dengan sabar sambil menatap wajah Daniella.
Akhirnya Daniella menunduk sambil berucap pelan. "Ya ... sakit sekali, bisakah kau membantu?"
Ucapan yang juga berarti izin itulah yang ditunggu oleh Ben. Ia segera bergerak ke belakang kursi Daniella, lalu mulai membuka retsleting gaun dengan hati-hati, hanya sebatas yang diperlukan untuk memeriksa bahu Ella.
Kemudian Ben mulai menurunkan bagian kiri gaun di bahu Ella.
Ia melihat jejas di bagian tersebut dan mulai mendesis. Ketika Ella akan menoleh untuk melihat, Benjamin menahan dengan lembut kepala wanita itu.
"Jangan lihat. Kau pasti kesakitan. Tahan sedikit dan biarkan aku mengoleskan obat ini. Di obat ini ada penahan rasa nyerinya juga."
"Ya ...." Ella mengangguk pasrah. Ia merasakan sentuhan dingin ketika jari Benjamin mulai mengoleskan gel tersebut ke bahunya.
"Orang itu ... bukan lagi mau menangkapku ... tapi sudah berniat untuk membunuhku, ya kan?"
Benjamin mendengar nada putus asa di dalam suara Ella. Ia tidak memiliki kata-kata untuk membantah dugaan tersebut. Jadi ia hanya melanjutkan sampai semua bagian bahu Ella sudah diolesi obat secara merata.
"Kurasa besok lebamnya akan terlihat keunguan ... kurasa kita perlu melakukan pemeriksaan x-ray."
"Ti-tidak perlu."
"DD ...."
"Aku bilang tidak perlu!" seru Ella sambil menarik kembali gaunnya ke atas bahu. Isak tangis kembali terdengar ketika ia merasakan sakit yang amat sangat karena gerakan tiba-tiba itu.
"Kau-kau tidak menjawab! Berarti itu benar! Kenapa? Apa yang telah kulakukan sampai dia ingin menghilangkan nyawaku, Ben!" Ella menangis tersedu.
Benjamin tidak tahu harus melakukan apa. Sejak dulu, jika Belinda atau Alana menangis, ia hanya perlu memanggil ibu mereka atau pelayan mereka. Di luar adik-adiknya, ia tidak punya pengalaman lain untuk menangani wanita yang menangis. Bahkan Gabrielle yang saat itu ia temukan berdarah-darah setelah dipukuli oleh suaminya yang mabuk tidak meneteskan air mata setetes pun.
Benjamin mengerjap ketika merasakan ujung jasnya ditarik dan kemudian pinggangnya sudah di lilit oleh lengan kanan Ella. Wanita itu tidak menggerakkan lengan kirinya.
"DD?"
"Pinjam sebentar! Aku butuh pelukan!" sahut Ella ketus diantara tangisnya.
NEXT >>>>>>
**********
From Author,
Haishhh ... bang, bang, dipeluk kek, orang butuh dihibur bang, Gak peka banget ah.....
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.