
Belinda menatap terkejut ke arah deretan pakaian, sepatu, aksesoris dan juga semua benda yang diperuntukkan baginya di dalam kaca-kaca yang ada di walk in closet.
"Ini ... astaga, kapan kau menyediakan ini semua?"
Bel menoleh ke belakang, ke arah Verga yang berjalan mengikuti langkahnya.
"Sejak aku mengetahui kalau aku akan menikah."
Belinda berjalan ke arah rak kaca berisi sepatu. Di deretan atas berjejer sepatu dengan berbagai model dan warna untuk wanita, sedang bagian bawah tersusun rapi sepatu-sepatu milik Verga.
"Apakah benar itu ukuranku?" tanya Belinda penasaran.
"Bagaimana kalau kau coba?"
Bel menggeser pintu kaca. Ketika berjinjit dan menggapai ke arah atas rak, jari-jarinya bertabrakan dengan tangan suaminya yang bermaksud mengambilkan sepatu berwarna silver yang ingin ia jangkau.
"Ah, seharusnya milikmu disusun di bagian bawah."
"Apakah semua ini baru-baru ini di susun? Semua ini tentu mengambil ruang tempat yang seharusnya milik barang-barangmu."
Belinda berbicara sambil memasukkan kakinya ke sepatu. "Pas ...," ucap Belinda lirih, lalu ia berpindah dengan cepat bergerak ke lemari kaca berisi gaun, mengintip di bagian dalam gaun dan menaikkan kedua alisnya.
"Bukankah itu ukuranmu?" tanya Verga sambil tersenyum.
"Katakan, bagaimana kau tahu?"
"Aku tahu tentangmu bukan ketika kita dipertemukan pertama kali. Tapi jauh berbulan-bulan sebelum itu. Saat Ben bertemu Ayah soal pekerjaan dan Ayah lalu menyerahkannya padaku, sejak itu aku mengenal Ben dan mengetahui tentang dirimu. Ketika pembicaraan tentang pernikahan sudah dibicarakan, beberapa hal pribadi tentangmu sudah kuketahui. Aku kemudian mengubah tata letak dan ruang dalam tempat ini."
"Aku lihat ... dikamar kita ada pintu hubung, kenapa kita tidak menempati kamar masing-masing?" Belinda menunjuk ke arah luar pintu Walk in closet. Ia tahu tentang kamar di sebelah karena ia sudah melihat dan menyadari dua ruangan bersebelahan tersebut adalah kamar pasangan.
"Kamarku sangat besar, lebih dari cukup untuk menampung kita berdua. Begitu juga ruangan ini. Jadi, kenapa harus dipisahkan? Semua hal pribadi yang ingin kau lakukan, lakukan di kamar ini."
"Hal pribadi ... di kamar ... apa saja?" Belinda mengerling, melirik sejenak ke arah wajah Verga.
"Jangan berpikiran kemana-mana, Bel. Kita akan makan malam sebentar lagi, semua orang menunggu kita," ucap Verga dengan tawa geli. Melihat lirikan mata istrinya yang seperti sengaja menggoda. Dibalik kepolosan dan sikap pendiam, Belinda menyimpan gairah, liar dan sedikit nakal. Semua yang dengan terpaksa wanita itu tekan karena sikap dominan Belardo dan Benjamin.
"Memangnya apa yang aku pikirkan?" tanya Bel sambil berjalan menjauh, menyembunyikan senyumnya ketika tangannya ditarik oleh Verga.
"Jangan membuatku memikirkan tempat tidur ketika semua orang di bawah sana menanti kehadiran kita. Kau tahu kita tidak akan turun hingga besok jika sudah memulainya. Kita bahkan tidak akan makan malam," bisik Verga, menunduk menatap Bel dengan tatapan penuh makna.
Merasa berdebar dan mulai panas dingin karena tatapan suaminya, Bel memilih mengalihkan pembicaraan. "Hal pribadi yang kau ketahui tentangku... termasuk ukuran kaki dan juga gaun?"
Verga terkekeh. "Ya."
"Jangan bilang Benjamin juga memberitahu ukuran ... " Belinda berhenti sejenak, mengerling dan mengerutkan bibir, terlihat ragu mengucapkan kalimat berikutnya.
Ekspresi istrinya itu membuat Verga kembali tersenyum geli, ia bisa menebak kata selanjutnya yang tidak Bel ucapkan. "Benjamin tahu banyak tentangmu, Bel. Kurasa meski dia tidak terlalu pintar mengumbar perasaan dan menunjukkan perhatian, tapi dia saudara laki-laki yang baik."
"Aku tidak bilang dia jahat ... dia hanya ...." Belinda mengembuskan napas panjang.
Verga menarik bahu istrinya sampai mereka berhadapan. "Jangan dipikirkan. Sekarang kau tidak lagi hidup sendiri di pulau ladang jagung. Apapun yang Ben pikirkan ketika memindahkanmu ke tempat itu, kurasa ia punya alasan bagus ... aku tahu Ben menyayangimu."
Belinda tertawa kering, ia tidak percaya sama sekali ucapan Verga. "Entahlah ... aku tidak bisa percaya hal itu, setelah lama merasa diasingkan ...."
"Kau pernah bertanya padanya kenapa ia melakukan hal itu?"
Verga melingkarkan lengannya memeluk Belinda. "Aku belum bilang ... Benjamin memberikan sebuah hadiah pernikahan. Maukah kau melihatnya bersamaku besok?"
"Bila dari Benjamin ... aku tidak tertarik."
"Kau membencinya?" tanya Verga, teringat teriakan Belinda saat Benjamin menemukannya di Vila Bucket of Lavender. Verga menduga Benjamin tidak menyangka akan mendapatkan reaksi perlawanan dari Bel. Pria itu seperti baru pertama kali melihat Belinda meneriakinya dan berkata kalau ia membenci Benjamin dengan tatapan penuh amarah. Verga menduga, Bel selalu menyembunyikan semua emosinya dari Ben selama ini.
Belinda tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menghirup napas dalam-dalam, menenangkan perasaannya dengan aroma wangi kemeja yang dikenakan Verga.
"Mungkin kau ingin tahu ... ketika aku menemui Ben dan mengatakan kau hilang, pergi entah kemana. Dia sangat marah, dia bilang apa yang sudah kulakukan sehingga kau ketakutan dan sampai pergi meninggalkanku. Dia hampir saja memukulku. Dia mengatakan memilih keluarga Marchetti karena ia yakin kami akan menjaga dan melindungimu. Saat itu aku tahu, dia mendekati kami dengan sengaja, dia sudah mengaku, memang telah menyelidiki keluarga kami sebelumnya ... dia berharap yang terbaik untuk adiknya."
Belinda terdengar mendengus, lalu ia segera minta maaf. "Maafkan aku, aku sulit percaya ... dia melakukannya agar tidak perlu mengurusku lagi."
"Maksudmu, kalaupun bukan aku, Ben akan menyetujui pria manapun yang datang dan akan menikahimu hanya agar terbebas dari kewajiban mengurusmu?"
Belinda mengembuskan napas panjang. "Bisakah kita tidak membicarakan Ben?"
Verga diam, sedikit demi sedikit ia mengerti bagaimana hubungan saudara antara Ben dan Belinda. Sangat jauh dengan hubungannya dengan Daniella yang meskipun hanya sepupu tapi sama seperti saudara kandung.
"Ayo kita turun. Makan malam sebentar lagi. Kita belum menyapa semua orang ketika datang. Mereka menunggu kita."
Bersama mereka melangkah keluar dari Walk in closet. Ketika melewati kamar tidur, mata Bel melihat sekilas ke arah pintu hubung di sisi kanan.
"Kamar itu sayang sekali bila tidak digunakan. Bisakah aku menggunakannya untuk ruang melukis?"
"Kau akan punya satu. Tapi tidak yang itu."
"Kenapa?"
"Verga meraih gagang pintu, lalu membukanya. Ia tersenyum dan menunggu Belinda keluar duluan dari kamar mereka.
"Itu akan digunakan untuk orang lain."
Baru selangkah keluar dari pintu kamar, Belinda berhenti. "Orang lain?'
"Ya. " Verga melangkah meninggalkan Belinda yang masih berdiri diam. "Ayo, " ucap Verga ketika melihat Bel tidak mengikutinya.
"Siapa yang kau maksud?"
Verga menaikkan alis. Pria itu tersenyum, lalu mengayunkan tangannya seolah tengah mengayun seorang bayi. Melihat ekspresi Bel yang terkejut ia tertawa dan kembali melangkah. "Ayo Bel, atau Ayah akan naik ke sini dan mencari kita."
Belinda menatap punggung suaminya. Ia menoleh ke pintu kamar sebelah, lalu menarik napas penuh harap.
Kamar bayi ... anak ... semoga aku diberkati dan sudah mengandung. Tanggalnya sudah dekat, semoga haidku tidak datang ....
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Dukung novel ini dengan memberikan rate bintang lima, love, tekan like dan komentar serta Votenya ya. Sebelumnya author mengucapkan terima kasih.
Salam. DIANAZ.