
Benjamin terpana, sangat terkejut dengan ungkapan perasaan yang baru saja dikatakan oleh Ella.
"Itu yang kau katakan pada ayahmu?"
Ella menatap Mata Benjamin seolah ingin membaca hati pria itu dari sorot matanya. Ia menanti. Menunggu Benjamin mengatakan isi hatinya. Membalas isi hatinya sendiri yang baru saja ia ucapkan. Hal yang ia akui di hadapan ayahnya, bahwa ia mencintai Benjamin dan ingin menikah dengannya, tapi Benjamin bahkan tidak mampu mengulang apa yang baru saja ia katakan. Hanya mengganti ungkapannya dengan kata 'itu'.
Benjamin merasa gembira sekaligus gugup mendengar pengakuan Ella, ia berdeham sebelum bicara.
"Kau pasti merengek padanya. Karena sangat mencintaimu, Ayahmu ingin kau bahagia ... jadi dia mengizinkan kau kembali ke tenda."
Ben merasa lidahnya pahit dan ucapannya barusan terasa basi. Ia melihat kekecewaan melintas di sorot mata Ella. Namun hanya sejenak. Karena sedetik kemudian wanita itu tersenyum.
"Ya ... Dia membolehkan aku menemuimu setelah aku mengatakan itu. Berguna sekali kan?" tanya Ella dengan nada manis.
Benjamin mengangguk, lalu memeluk Ella sekali lagi. Kali ini lebih erat.
Ella merasa pelukan itu agak aneh. Ia balas memeluk dan merasakan detakan jantung Benjamin di dadanya.
"Ada apa? Kau gelisah?"
Tawa kecil terdengar dari tenggorokan Ben. " Kenapa bertanya? Bukankah kau bilang aku memang selalu gelisah bila ada di dekatmu?"
Ella balas tertawa. "Entahlah ... tapi kau menarik napas panjang sejak tadi."
"Aku bukan hanya gelisah. Aku cemas setengah mati ... membayangkan aku terlambat dan dia mencelakai dirimu, DD."
"Kau begitu mengkhawatirkan aku?"
"Sangat ...."
Ella sedang tersenyum di atas puncak bahu Benjamin ketika merasa kepalanya ditarik dan tangan Benjamin memegang kedua pipinya.
"Ayo, kita pulang dan menemui orang tuamu. Mereka pasti tidak sabar mau bertemu denganmu dan memastikan kau baik-baik saja."
Ella menganggukkan kepala. Mereka bertatapan dan entah siapa yang memulai mereka sudah saling mendekat. Benjamin mencium Ella seolah itu adalah terakhir kali ia mengecup dan membelai bibir wanita itu.
Kelembutan dan gairah yang dirasakan Ella di ciuman itu membuat hati wanita itu bergetar dan makin menginginkan Ben. Ia merapat, mengalungkan lengannya pada leher Ben dan membalas ciuman itu sepenuh hati.
Ketika napas mereka memburu dan darah dalam pembuluh terasa sudah mendidih, Benjamin mengakhiri ciumannya. Ia membelai pipi Ella, menghapus cairan bening yang mengalir di pipi wanita itu.
Ella mengerjap dan ikut memegangi pipinya. Tidak menyadari air mata yang tumpah saat ia sedang berciuman.
"Kenapa menangis?"
Ella menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu ... aku ...." Ella menelan ludah. Ia sendiri tidak bisa menjelaskan perasaannya saat ini. Setelah tersekap dalam ketakutan dan kengerian selama beberapa jam, kini ia merasa sangat aman dalam pelukan pria ini.
"Aku harap luka ini tidak membuat pekerjaanmu tertunda agar kau bisa meninggalkan tempat ini segera." Ben menyentuh perban yang ada di pipi Ella.
"Bagianku hampir semua sudah diambil. Hanya tinggal beberapa. Setelahnya, aku bisa pulang."
Benjamin mengangguk. "Ya ... ayo temui ayahmu."
"Kau akan bicara pada ayahku kan?"
"Tentu saja ...."
"Bisakah kau bersamaku dulu lebih lama?"
Benjamin tersenyum, membelai lagi pipi Ella dan mengajaknya bangkit berdiri. "Kita harus kembali sekarang sebelum semua orang gelisah dan makin khawatir, DD."
***************
Ella memegangi tangan Benjamin erat-erat ketika tiba di depan ayah dan ibunya. Ia seolah tidak ingin melepaskan Benjamin setelah melihat bagaimana sorot mata ayahnya.
"Ella, kemarilah. Kita istirahat ke kamarmu." Elena Dolores mendekat dan mengulurkan tangan pada putrinya. Bibirnya tersenyum menenangkan meski tatapan khawatir tidak bisa sepenuhnya hilang dari kedua matanya. Perban di pipi Ella membuat wanita itu sangat ingin memeriksa sendiri bagaimana keadaan Ella secara pribadi. Lagipula ia tahu suaminya pasti butuh bicara dengan Benjamin. Semua apa yang dikatakan oleh Stanley membuat Daniel bertambah gusar dan gelisah. Kabar baik yang disampaikan Stanley bahwa Ella sudah diselamatkan dan baik-baik saja tidak membuat Daniel merasa tenang.
Benjamin memegangi tangan Ella yang mencengkeram tangannya, perlahan melepaskan tautan tangan mereka. "Pergilah dengan ibumu, DD."
"Tapi ...."
Daniel berdecak, lalu menatap putrinya. "Beristirahatlah, Ella. Aku perlu bicara pada Benjamin."
Daniella menganggukkan kepala mendengar ucapan tegas ayahnya. Namun ia menuntut janji sebelum pergi.
"Dad berjanji tidak akan memukulnya lagi kan? "
"Aku tidak akan memukul pria yang sudah menepati janji untuk membawa pulang putriku."
Ella mengangguk. "Sebelumnya Daddy memukul Ben begitu keras. Bibirnya sampai seperti itu," ucap Ella sambil menunjuk sudut bibir Benjamin.
"Tidak perlu membahas itu, Sayang. Dia tidak perlu perlindungan dan pembelaan darimu, dia menerima pukulan itu karena memang pantas mendapatkannya ...."
Benjamin bertatapan dan membalas sorot mata Daniel, lalu ia menoleh dan berpaling pada Ella. "Ayahmu benar. Sekarang aku mohon beristirahatlah di kamarmu, DD. Sudah hampir pagi ... tidurlah."
"Baik, tapi besok kau akan menemuiku kan?"
Benjamin hanya menjawab dengan senyuman, lalu ia menganggukkan kepalanya pada Elena yang memeluk bahu putrinya dan menariknya pergi.
Benjamin menoleh, menganggukkan kepala pada komandan, Timmy, Hide dan beberapa anak buahnya. Mereka bergerak pergi tanpa suara.
Snow dan Stanley sudah pergi sejak awal ketika Elena dan Daniella meninggalkan tempat itu.
"Kita perlu tempat yang nyaman Tuan Daniel. Kuharap Anda tidak keberatan jika aku mengajak Anda ke restoran milik hotel. Stanley sudah menyiapkan tempat."
"Kenapa tidak di barnya saja?"
Benjamin merasakan ujian baginya sudah dimulai. Pertanyaan itu seolah diucapkan oleh seorang penyidik pada seorang penjahat. Padahal ia baru saja jadi pahlawan yang menyelamatkan Daniella.
"Itu bukan tempat yang nyaman untuk bicara, Tuan."
"Tapi aku butuh minuman sembari bicara."
"Seseorang akan menyiapkannya untuk kita."
Ben melihat Daniel mengangguk, lalu pria itu menyilakan Benjamin berjalan lebih dulu dan memimpin arah.
Pembicaraan ini akan membuatku membutuhkan minuman juga, Tuan Daniel. Batin Benjamin.
Sebuah meja yang sudah disiapkan oleh Stanley telah menunggu mereka. Seorang pelayan pria berdiri di sudut terjauh dari jarak dengar, melihat kedatangan mereka pelayan itu bergerak mendekat. Ia juga akan siap bila dua pria tersebut memanggilnya.
Tidak ada satupun tamu lain. Semua meja dalam keadaan kosong. Benjamin menarik kursi dan menyilakan Daniel duduk.
Setelah keduanya duduk, pelayan tadi membuka botol dan menuangkan minuman dalam gelas kristal untuk mereka.
Benjamin memberi tanda pada pelayan itu agar meninggalkan meja segera.
"Aku melihat cincin di jari Ella. Darimu?"
"Benar, Tuan."
"Kau benar-benar melamarnya?"
"Ya."
"Kenapa dia tidak membicarakan hal ini pada kami? Ella selalu menceritakan apapun pada kami ... apalagi hal sepenting ini ... yang akan mempengaruhi kehidupannya ke depan."
Karena ia tahu Anda tidak menyukai saya. Karena itu ia membutuhkan waktu yang tepat membicarakannya dengan Anda. Kami berniat membujuk Anda dulu .... Jawab Benjamin dalam hati.
"Pertanyaan itu sebaiknya Anda tanyakan pada Ella, Tuan."
Daniel meraih gelas, lalu menyesap. Setelah seteguk, ia meletakkannya kembali dan menatap Benjamin tajam.
"Pria ini ... yang menculiknya malam ini ... Stanley sudah mengatakan siapa dia sebenarnya."
Benjamin menganggukkan kepala. Ia sudah tahu ke arah mana pembicaraan ini akan berujung.
"Apa kau yakin ... tidak akan ada musuh-musuh lain? Profesi Ella membuatnya punya banyak penggemar ... tapi tidak hanya itu. Pembenci dan pendengki bahkan pengagum fanatik yang membahayakan dirinya juga ada ... dia tidak butuh musuh orang lain datang dan menambah daftar orang yang akan membahayakan masa depannya."
Benjamin duduk tegak dan tidak menjawab.
"Malam ini ... bukan tentang Ella ... malam ini adalah tentang dirimu. Semua penyebab kengerian yang dialami Ella pada malam ini sumber penyebabnya adalah kau. Menurutmu ... apakah tidak lebih baik bila kau menjauh?"
"Sejauh apa, Tuan?"
Keduanya saling bertatapan. Benjamin duduk tegak dan memasang wajah datar. Tekad dan keinginan berkilat di mata masing-masing.
"Aku tidak tahu apa yang telah terjadi hingga hubungan kalian berjalan ke arah ini. baru dua bulan yang lalu semuanya masih berjalan seperti semula. Kau dan dia hanyalah keluarga jauh yang terikat karena pernikahan adikmu dan sepupunya. Tidak lebih, bisa ceritakan apa yang terjadi? Apa kau tiba-tiba jatuh cinta? Setelah beberapa tahun mengenalnya baru menyadari sekarang?"
Benjamin masih diam membisu. Lidahnya sama sekali tidak bisa mengatakan perasaannya pada Daniel. Sama halnya pada Ella.
"Aku hanya ingin memastikan, Benjamin ... apa kau menjamin di masa datang tidak akan terjadi hal-hal seperti ini lagi?"
"Tidak. Aku tidak akan bisa menjamin hal itu, Tuan Daniel. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan."
Daniel menganggukkan kepala. "Karena itu ... menjauhlah, Ben. Sebelum kau dan Ella terikat makin dekat. Apapun perasaan Ella padamu, aku yakin akan memudar ketika kau dan dia saling tidak bertemu. Bukankah selama ini tidak ada perasaan khusus antara kalian?" Daniel menatap dan menilai. Tidak ada yang bisa ia baca pada ekspresi Benjamin.
"Apakah menurut Anda itu yang paling baik untuk Ella?"
"Ya ... sebentar lagi, ia sudah bisa pergi dari sini, lalu aku akan mengajaknya pulang. Dia pasti akan melupakan hal buruk yang terjadi di sini."
Benjamin mengembuskan napas panjang. Ia yakin, berita pertunangannya dengan Ella adalah salah satu hal buruk bagi Daniel.
"Dalam waktu itu, akan kita lihat, apakah perasaan Ella padamu masih bertahan ... bukan hanya cinta lokasi, bukan hanya perasaan ketergantungan karena merasa kau adalah pelindung dan pahlawannya karena situasi yang terjadi di sini. Ketika dirinya merasa aman dan kembali ke harinya yang biasa di Byork ... apakah perasaannya padamu masih akan sama?"
Benjamin mengambil gelas dan minum beberapa teguk, lalu menatap Daniel. "Aku tidak bisa memastikan tentang itu, Tuan Daniel. Hanya saja, Anda benar tentang malam ini. Matthew ... menangkap Ella untuk memberi peringatan padaku ... karena apa yang telah kulakukan padanya di masa lalu."
Daniel mengangguk. "Aku tidak mau hal seperti ini terulang, Benjamin. Itu saja. Jadi ... menjauhlah ...."
Benjamin hanya diam, mengambil gelas kembali dan meminumnya sampai habis. Baginya diam saat ini lebih baik dan aman.
NEXT >>>>>>>>>