Belinda

Belinda
47. Dress fitting



"Datanglah nanti malam, Ben." Verga menghentikan langkahnya tepat di depan dinding kaca ruangan kantor. Di telinganya menempel sebuah ponsel yang tengah tersambung dengan Benjamin.


"Tidak bisa. Aku punya banyak pekerjaan."


"Stafmu banyak Ben. Suruh mereka menggantikanmu."


"Rumahmu terlalu jauh."


Verga mendecakkan lidah mendengar alasan iparnya tersebut. "Aku sudah berhari-hari mengatur pembukaan galeri ini. Kau menghadiahkan gedung ini berikut semua isinya untuk pernikahan kami. Kau tahu bagaimana sulitnya aku mengajak istriku untuk pergi ke sana."


"Kenapa dia akhirnya mau pergi ke sana?"


"Hati Belinda sedang bahagia karena suatu hal. Pergi malam ini denganku untuk melihat hadiah pernikahan dari kakaknya tidak lagi membuat moodnya memburuk. Dia akhirnya mau datang, tapi aku akan membatalkannya jika kau tidak datang!"


"Tunjukkan saja padanya hadiahku itu, untuk apa aku hadir!"


"Karena kau kakaknya, Black! Aku tunggu di sana nanti malam. BYork dan Broken Bridges hanya berjarak dua jam! Berangkat sekarang juga tidak apa. Beristirahatlah di Mansion Marchetti. Aku telah mengundang media, jangan membuat orang-orang bertanya kenapa sang putra sulung Antolini tidak hadir saat semua keluarga hadir. Marchetti maupun Antolini."


"Semua? Maksudmu?"


"Acara ini sekaligus peresmian galeri Belinda, Ben. Pameran lukisannya akan dibuka. Terima kasih padamu yang telah mengumpulkan dan mengirimkan semua karyanya setelah bertahun-tahun. Akan jadi kejutan dan hadiah terbaik untuknya. Kerena itu aku mengundang seluruh keluargamu, juga keluargaku."


"Ayahku?"


"Ya. Tuan Belardo, Maurice, bahkan Alana dan Athena."


"...."


Karena tidak ada jawaban, Verga mengambil keputusan bahwa itu adalah tanda persetujuan.


"Jangan bilang kau tidak peduli, Black. Kau begitu menjaga nama baik keluargamu bukan? Media tahu tentang cerita lama antara Kau, Athena dan ayahmu. Meski hanya satu kali jadi headline news di majalah gosip, beberapa wartawan masih mengingatnya, mereka gigih menggali kembali. Berita itu berhenti karena campur tangan ayahmu. Jangan membuat mereka mengira-ngira kenapa kau tidak hadir saat pameran perdana adikmu. Kau menghindari Athena saat pesta pernikahan kami. Kau mau jadi headline lagi di majalah gosip?"


"Kau cerewet, Marchetti."


"Aku anggap itu persetujuan! Jangan terlambat, Ben! Nanti malam pukul delapan!"


Sambungan tersebut terputus. Verga menyeringai ketika membayangkan wajah iparnya yang pasti sangat jengkel karena mendengar perintahnya.


"Satu hal lagi ... memilih gaun ...," bisik Verga. Ia kembali menghubungi seseorang. Meminta disiapkan beberapa gaun, membuat janji untuk waktu temu dan pengepasan.


Setelah selesai, Verga mengembuskan napas puas. Ia menoleh ke arah meja kerjanya dan memutuskan akan pulang dan makan siang di rumah. Setelahnya baru ia akan membawa Belinda untuk memilih gaun.


**********


Belinda tersenyum senang melihat pancaran mata suaminya ketika ia keluar dari balik tirai kamar pas. Ia merasa seperti sedang memilih gaun pengantin bersama tunangannya. Moment yang tidak pernah ia rasakan bersama Verga. Dulu saat menikah gaun pengantinnya sudah disediakan, semua keperluan sudah diurus oleh Maurice dan Siena atas perintah ayahnya.


Namun, saat ini, berputar dan memperlihatkan gaun berwarna peach tersebut di depan suaminya membuat Bel begitu senang. Mungkin, bila dulu ia dan Verga bertemu secara normal, menjadi kekasih dan akhirnya memutuskan menikah, beginilah rasanya ketika mereka sedang memilih gaun pengantin.


"Sempurna," ucap Verga sambil melangkah mendekat. Ia memberi tanda pada dua orang gadis yang melayani mereka agar segera pergi meninggalkan tempat untuk sejenak.


"Apakah ini akan cocok untuk acaranya?"


"Tentu. Sudah kukatakan, ini sempurna." Verga menarik dagu istrinya agar mereka bisa bertatapan.


"Kau mengatakan acaranya akan ramai?"


"Ya."


"Kau mengundang Daniella dan juga teman-teman artisnya?"


"Acara tidak akan seru bila Ella tidak datang."


"Sebenarnya ini pesta siapa. Kenapa hadiah dari Ben ada di acara itu?"


Verga tersenyum. Hanya mengangkat kedua bahu dan tidak mau mengucapkan dengan jelas tentang detail acara yang akan mereka hadiri.


Belinda berniat mengangguk, namun jemari Verga di dagunya menahan gerakan kepalanya.


"Sebelum kau ganti, cium aku dulu."


Sentuhan bibir Verga segera disambut dengan kecupan lembut dari Bel. Sekarang ia sudah tahu dan ahli melakukan ciuman yang mampu menyulut api dalam darah suaminya itu. Bel tahu bagaimana cara mengecup dan memagutt, lalu memberi pancingan sedikit belaian dengan ujung lidahnya. Tak lupa jemari lembut Bel mengelus leher belakang dan perlahan naik ke rambut dan belakang telinga suaminya.


Hal selanjutnya adalah reaksi yang sudah Bel kenali dengan sangat baik. Lengan Verga akan memeluknya dengan sangat erat dengan ciuman yang akan terasa semakin intens seiring jemari Verga yang akan mulai bergerilya mencari kancing, resleting, tali atau apapun yang membuat gaun atau pakaian yang ia pakai menutup. Pria itu dengan suka hati akan membukanya.


Ketika udara dingin dari penyejuk ruangan terasa menyentuh punggung, Bel saat itu tahu kalau resleting gaunnya sudah terbuka. Sambil menarik gaun keluar dari kedua bahu Bel, Verga memperdalam ciuman, hingga napas terengah dan irama cepat dari dada mereka memberitahu bahwa ciuman harus segera diakhiri dan kebutuhan udara harus segera dipenuhi.


"Memalukan sekali jika para gadis itu masuk," bisik Bel dengan suara serak. Ia mundur perlahan dengan mata menatap wajah suaminya yang tengah memandangnya dengan mata berkilat. Bola mata biru bak lautan tersebut berkilau dan terpusat ke arah dada Belinda.


Belinda menunduk, merona menyadari gaun yang tadi telah ditarik dari bahunya memperlihatkan belahan dada yang seolah mendesak ingin keluar dari bahan korset bustier yang ia kenakan. Dipandangi demikian rupa membuat Bel merasa gairahnya makin naik dan keinginan menggoda suaminya kembali muncul.


Bel mengangkat kepala, menatap dalam sambil melangkah mundur, hingga jemarinya menyentuh kain tirai dari ruang ganti. Belinda dengan berani menarik perlahan gaun indah yang baru saja ia kenakan. Sengaja ingin melepasnya di depan Verga.


Gelengan kepala yang sangat perlahan dari Verga membuat senyum Belinda menyeruak. Matanya menatap dengan sorot menantang. Ketika seluruh gaun sudah jatuh di bawah mata kakinya. Bel berdiri memasang pose menggoda. Bodysuit lingerie berwarna pink muda dengan model korset di bagian dada dan renda di bagian bawah tersebut membuat ia tampak sexii dan sensual.


Verga tertawa kecil, ia melirik ke arah pintu dimana dua gadis yang membantu mereka tadi keluar.


"Kau menantangku?" tanya Verga, terlihat mulai melonggarkan ikatan dasi di lehernya.


"Tidak. Aku hanya mau mengganti pakaian. Tidak ada siapapun di sini kecuali kita berdua. Kenapa aku harus bersembunyi di sana hanya untuk melepas pakaian," ucap Belinda sambil menunjuk ke balik tirai.


Verga menjilat bibirnya sendiri yang terasa kering. "Kau pasti tahu mereka akan masuk kemari beberapa menit lagi."


Belinda mengangguk. "Kau benar. Karena itu aku perlu cepat-cepat berpakaian." Belinda mulai meraih resleting di bagian samping tubuhnya. Berpura-pura seolah akan membuka dalaman dari gaunnya tersebut.


"Jangan menggodaku, Sayang. Kau tahu aku suka tantangan. Aku juga suka mencoba hal baru." Verga melangkahkan kaki, mendekat perlahan.


Belinda memegang tirai di belakang punggungnya. Tersenyum dengan mata bulat yang membesar dan menyala. "Kau tidak akan berani ... siapapun bisa memergoki kita."


"Kau salah ... aku sangat berani ...." Verga menyergap cepat, melingkarkan lengannya ke pinggang Bel, lalu mengangkat dan mulai menciumi istrinya itu. Ketika tubuh Bel melemas dan desahann terdengar dari bibir pink istrinya itu, Verga mengangkat kepalanya dari wajah Bel.


"Kau merona, memerah hingga kulitmu hampir sama dengan warna lingerie yang kau pakai ...." Verga menunduk, membenamkan wajahnya ke belahan yang sejak tadi telah memanaskan darahnya meski ia hanya melihat. Setelah memberi ciuman dan merasakan kulit di lembah tersebut, Verga merubah arah ke salah satu bukit yang menghias dada istrinya. Satu tangannya berhasil menggeser letak kain yang menutup bagian tersebut.


Satu kecupan mendarat lama di dada Belinda. Wanita itu berpegang erat di kedua bahu suaminya. Rasa nikmat dan keinginan agar mereka jadi lebih dekat membuat Belinda merintih dan meremass bahan kain dari jas Verga.


Moment itu berhenti ketika Verga mulai menegakkan kembali tubuhnya. Dengan wajah puas ia melihat tanda merah yang sudah ia tinggalkan di kulit lembut Bel.


"Aku akan menunggu di luar. Kau harus mengatur wajahmu agar jangan terlihat seperti ini ketika keluar, Bel. Kau terlihat seolah baru saja bercintaa dengan suamimu. Para gadis itu akan menggodamu."


Verga melepas Bel dengan cepat, membuat istrinya itu limbung dan berpegangan pada tirai di belakangnya.


Dengan senyum puas Verga terus mundur hingga ia tiba di dekat pintu keluar. Belinda yang sudah bisa mengatur napas menutupkan tangan di dada dan menatap suaminya. Ia sadar Verga menggoda balik, memancing gairahnya dan lalu sengaja meninggalkannya di ruang ganti.


Belinda tersenyum, ia melirik dan dengan sengaja menatap bagian bawah tubuh suaminya itu. Bagian celana pria itu terlihat aneh, seolah sesuatu mendesak celana tersebut.


"Tidak masalah. Aku masih akan bersembunyi di sini. Saranku padamu Vergaku sayang ... sembunyikan itu," tunjuk Belinda sambil terkikik.


Verga menunduk. Melihat dirinya, lalu menggelengkan kepala dengan tawa tertahan sebelum berbalik memunggungi Belinda, melakukan sesuatu yang entah apa di depan celananya , baru kemudian membuka pintu.


"Tolong panggilkan seseorang untuk membantuku," ucap Bel diakhiri tawa yang terdengar geli.


**********


From Author,


Belinda ternyata ya ...wkwkkw...


Dukung Bel dengan ketik komentar, klik like, bintang lima, love, dan Vote ya. Terima kasih juga yang udah vote dan kasih koin untuk novel ini. Sehat selalu ya semuanya. Aamiin....


Salam. DIANAZ.