
"Kau terdengar sangat sibuk, Bel."
Belinda mendengar suara ayahnya lewat ponsel yang ia letakkan di telinga kiri.
"Sedikit, Ayah. Hari ini kami makan malam bersama di Marigold. Aku membantu Mrs. Adele dan Gunter menyiapkan makan malam."
"Kudengar dari Verone, kau tidak mudah mendapatkan kepercayaan dua koki tersebut."
Belinda tertawa, merasa senang mendengar nada bangga di suara ayahnya.
"Aku memasuki wilayah dapur mereka dengan penuh perjuangan," sahut Belinda dengan penuh semangat. Tawa ayahnya kemudian membuat ia membayangkan wajah pria itu. Hal yang terasa mudah baginya saat ini, mengingat dulu ia tidak memiliki banyak kenangan tentang wajah ayahnya yang sedang tersenyum atau tertawa.
"Apakah kau sudah minum obatmu, Ayah?"
"Sudah."
"Sungguh!?" tanya Belinda, seperti kurang percaya.
Terdengar suara mendesah dari seberang. Belardo seperti sedang mengeluh.
"Kau tahu ... kau orang kesekian hari ini yang menanyakan apakah aku sudah minum obatku dan kau juga tidak percaya ketika aku sudah bilang kalau aku sudah minum obat. Aku bukan anak kecil."
Belinda tersenyum. "Oh, jangan mengeluh. Kami semua ingin ayah tetap sehat."
"Ya ... aku tahu ... karena itu aku bisa menahan semua kekesalanku ini. Apalagi sikap Maurice, dia memastikan memasukkan obatnya ke dalam mulutku dan memastikan aku menelannya! Jika tidak dia tidak akan pergi dan terus menceramahiku."
Belinda tertawa, dapat membayangkan bagaimana sikap Maurice yang cerewet. Jika ayahnya memilih membiarkan saja, maka sudah dipastikan ayahnya suka atas perhatian dan kecerewetan Maurice. Karena jika tidak, ayahnya cukup mendelikkan mata pada wanita itu, yang otomatis akan membuat Maurice diam dan segera menjauh.
'Verga benar-benar sudah pulih?"
Belinda mengangguk, menyadari ayahnya tidak dapat melihat gerakan itu. "Ya, Ayah. Verga sudah mulai kembali ke kantor."
"Bagaimana dengan asistennya?"
"Juan juga mulai pulih. Kakinya yang patah memerlukan beberapa waktu lagi untuk sembuh. Tapi perkembangannya berjalan baik."
"Syukurlah ...."
Di kejauhan, Verga dan ayahnya menatap ke arah Belinda yang sedang berbicara lewat ponsel. Mereka tahu yang menelepon adalah Belardo. Dari senyum dan tawa yang terlihat di wajah Belinda, kedua nya tahu kalau hubungan ayah dan anak itu benar-benar sudah membaik.
Verga menatap tak berkedip ke arah wajah istrinya yang sedang tersenyum sambil mengangguk. Ia seolah sedang mematri setiap detail wajah istrinya yang sedang tersenyum bahagia tersebut dalam hatinya.
Jackson dan Adam yang berada satu meja dengan mereka saling berpandangan dan tersenyum geli. jackson kemudian mencuil lengan Verone yang duduk di sebelahnya.
"Hei, Verone. Lihatlah putramu, seperti tidak pernah melihat wajah istrinya. Padahal mereka bertemu setiap hari bukan?"
Verone menganggukkan kepala. "Bukan hanya bertemu. Mereka tidur satu ranjang."
Tiga orang tua tersebut tertawa bersama. Tapi Verga seolah tidak mendengar. Tangannya memutar gelas minuman dengan jari-jari, matanya masih terus menatap Belinda.
Satu tepukan di paha dari Verone membuat Verga terkejut dan langsung menoleh.
"Ya?" tanyanya spontan.
Verone menyipitkan mata. "Ada apa? Kau tidak mendengarkan sejak tadi."
Verga menggelengkan kepala. "Tidak. Tidak ada apa-apa, Ayah."
Jackson dan Adam saling berpandangan. Adam mengambil botol anggur dan menuangkannya ke gelas Verga. "Hei, Anak Muda, sejak tadi kau melihat ke sana seolah takut dia hilang. Jika ada yang mengganggumu, bukankah sebaiknya kau datang ke sana dan menyelesaikannya segera? Sesuatu tidak akan selesai hanya dengan menunggu dan mengamati bukan?"
Verga mengucapkan terima kasih pada Adam, lalu mengangkat gelasnya dan mulai menyesap. Lewat pinggiran gelas yang ada di wajahnya, ia kembali melirik ke arah Belinda.
Sebenarnya tidak ada masalah diantara mereka. Belinda setiap hari malah makin manis dan bersikap sangat penyayang. Namun sesuatu tentang sikap wanita itu terasa salah bagi Verga.
Setiap pagi, ketika ia membuka mata, istrinya itu sudah bangun lebih dulu, memberikan ciuman selamat pagi dan tak lupa mengucapkan betapa ia menjcintainya.
Ketika ia berangkat bekerja, Bel akan mengucapkan hal yang sama sebelum ia naik ke dalam mobil dan mengucapkan hati-hati, aku menunggumu pulang, tak lupa pelukan hangat disertai senyuman menawan.
Begitu juga ketika pulang. Bel menyambutnya, membantunya melepaskan jas, menyuruhnya mandi, tak lupa memberikan kecupan di bibir, dan bisikan aku mencintaimu, sebelum meninggalkannya di depan pintu kamar mandi. Malam hari adalah waktu terdamai bagi Verga. Memeluk istrinya, bercinta dan mendapatkan bentuk lain dari refleksi ucapan cinta wanita itu. Namun setelahnya, ketika mereka berpelukan di atas ranjang, tanpa sehelai benangpun di bawah selimut. Verga melihat kesedihan di sorot mata istrinya itu sebelum ia memejamkan mata dan tertidur.
"Aku tidak keberatan kalau kalian pulang duluan. Aku akan menginap di sini. Kurasa Belinda sangat lelah. Dia seharian di sini membantu Adele dan Gunter."
Verga meletakkan gelasnya, menganggukkan kepala dan langsung bangkit berdiri. "Kurasa Ayah benar. Aku akan mengajaknya pulang."
Tiga pria tua yang ada di meja Verga sama-sama mengangguk. Mereka menatap ketika Verga mendatangi Belinda dari belakang, langsung membuka tali ikatan celemek wanita itu dan melepaskannya dari tubuh istrinya.
Belinda langsung menoleh, kebingungan ketika Verga melempar celemeknya dan mengucapkan sesuatu pada Adele dan Gunter serta beberapa nenek tua yang berada di meja dekat mereka. Kemudian tangannya ditarik dan ia terpaksa mengikuti langkah suaminya itu meninggalkan Marugold.
"Kita mau kemana?"
"Pulang."
"Kenapa? Ini belum terlalu larut. Lagipula kenapa kau tidak mengajak Ayah?"
"Ayah mau menginap di sana. Aku lelah."
"Aku sehat, Bel. Hanya sedikit lelah."
"Baiklah. Kita harus pulang kalau begitu!"
Belinda diam sepanjang perjalanan sampai Mansion Marchetti. Ketika sudah masuk rumah dan akan menaiki tangga menuju kamar mereka, ia terkejut dan menjerit kecil ketika tiba-tiba saja suaminya itu mengangkat dan menggendongnya dalam dekapan
"Apa yang-"
"Kau juga pasti sangat lelah. Lagipula sudah lama kita tidak begini."
"Turunkan aku. Kau baru saja pulih."
"Jangan menganggapku orang sakit terus. Aku sudah sembuh sepenuhnya. Kau tahu itu."
"Oh, baiklah. Jadi ... apa yang akan kita lakukan?" Belinda tersenyum, bergayut manja di bahu suaminya itu dengan mata dikedipkan. Membuat Verga terkekeh geli.
"Apa yang kau pikirkan Nyonya Marchetti?"
"Hmmm ... seperti ... ini?" Belinda menyelipkan jemarinya ke sela kancing kemeja Verga dan menggelitiki dada pria itu dengan ujung jemarinya.
"Baiklah. Aku akan memenuhinya," ucap Verga disela tawa geli. Mereka tiba di kamar dan Verga segera membawa istrinya ke kamar mandi.
"Kau melewati kasurnya," ucap Belinda.
Verga mendorong pintu kamar mandi dengan kaki. Menurunkan Belinda ke lantai dan mulai membuka kancing belakang gaun wanita itu.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau lelah dan berkeringat karena membantu menyiapkan makan malam. Mandi air hangat pasti membuatmu merasa lebih baik."
"Bagaimana dengan yang ini tadi? " Belinda menarik kemeja suaminya dan kembali menbelai dada pria itu. Tangan Verga tidak berhenti hanya di gaun Belinda. Pria itu melanjutkan dengan melepas semua pakaian dalam istrinya itu, kemudian kembali membawanya ke bawah shower.
Belinda dengan tiba-tiba menghidupkan air, sehingga membasahi mereka berdua. Ia tertawa melihat suaminya yang masih berpakaian lengkap ikut basah. Bahan kemeja Verga yang lembut dengan cepat menyerap air. Mencetak jelas jejak tubuh suaminya itu. Belinda memiringkan kepala, menatap dengan bibir mengerut.
"Kau tidak adil. Kau membuka pakaianku, tapi lihatlah dirimu ... "
Verga mundur, menghindari kucuran air, mengibaskan rambutnya yang basah dan mengusap wajah, namun Belinda tidak mengizinkan ia mundur lebih jauh. Wanita itu menarik kemejanya, membawanya kembali ke bawah air.
Dengan cepat Verga mematikan air, hingga Belinda kembali cemberut.
"Tidak mau basah?" Belinda memeluk Verga dengan tubuhnya yang basah, ia berjinjit, mengunci bibir pria itu dengan ciuman.
Merasakan suaminya mulai luluh, Bel memulai pekerjaan membuka kancing kemeja Verga satu per satu. Ketika jemarinya sudah merasakan kulit lembab di balik bahan kain tersebut, Bel merasa tubuhnya direngkuh ke atas dan ciuman suaminya berubah menjadi liar. Kedua lengan pria itu mengangkat pahanya dan menggendongnya dipinggang tanpa melepaskan ciuman.
Tangan Belinda melepaskan kemeja Verga dari bahu, tersangkut di lengan bawah pria itu. Sesaat kemudian ia merasakan sesuatu yang dingin sudah berada di bawah bokongnya. Verga mendudukkan Bel di marmer dekat wastafel.
Bel mendongakkan kepala, mendesah ketika merasakan jemari suaminya sudah memulai menggelitiki wilayah dadanya.
"Seperti ini kan yang kau maksud?" bisik Verga pelan.
Keduanya saling membelai tubuh mereka yang basah. Ketika mendapat kesempatan menunduk dan mencumbu dada suaminya, tangan Belinda turun ke bagian bawah, membuka sisa pakaian yang masih dipakai Verga. Mendapati gairah panas yang menguasai suaminya itu seperti biasa sudah mendesak membutuhkan pelampiasan.
Belinda menegakkan kepalanya kembali, berhenti mencumbu dada dan menjauhkan sedikit tubuh ke belakang, ingin melihat ketika tangannya memulai belaian.
Sorot mata Belinda berkilat, ketika mendapati suaminya itu mengeretakkan gigi dan memejamkan mata. Menahan semua kenikmatan yang Belinda berikan untuknya.
Belinda sengaja mundur ke belakang ketika merasa lengan Verga menarik pinggangnya agar mendekat.
"Tidak, belum," bisik Belinda dengan suara serak. Ia ingin menyaksikan Verga lebih lama lagi.
Verga menggeram, menarik Bel dan langsung mengangkat wanita itu. Membawanya keluar dari kamar mandi dan menurunkannya ke atas ranjang.
Belinda mengusap wajah, senyum lebar terkembang di bibirnya. "Kau membuat seprainya basah. Kita akan-"
Verga membungkam istrinya dengan ciuman. ia tidak berhenti meski mendengar Belinda sudah tersengal, kedua tangannya membelai dan menggoda setiap kulit yang ia sentuh. Hingga membuat istrinya itu gemetar, menggeliat dan menginginkan lebih.
"Please," ucap Belinda lirih. Namun keinginannya belum dipenuhi.
"Katakan sekali lagi kau mencintaiku."
Belinda menurut patuh, mengalungkan lengannya ke leher Verga dan mendesah, "aku mencintaimu Verga Marchetti."
"Dan aku juga mencintaimu Bel ... Istriku yang manis."
Verga menatap di kedalaman mata istrinya, rasa terkejut, juga sinar menyilaukan bagai melihat bintang jatuh melintas. Tidak mau moment itu memudar, dengan perlahan ia menyatukan dirinya. Memberikan semua yang ada di dirinya untuk Belinda, sekaligus mengambil semuanya dari Bel. Ketika penyatuan itu sempurna, Verga merasa bukan hanya tubuh mereka yang telah menyatu, namun juga hati mereka. Ia mulai bergerak berirama dan Belinda ikut menyambut, bersama mereka saling memberi, menyanyikan nada cinta dan menikmati puncak tertinggi bernama kepuasan.
"My Bel ... aku mencintaimu, jangan ragukan itu...."
Bisikan yang membuat Verga melihat bola mata istrinya jadi berair. Ia mengerti dan paham setelah melihat bagaimana ekspresi Belinda setelah itu. Dalam bening air yang menetes jatuh ke atas ranjang. Verga mengetahui dengan pasti apa penyebab kesedihan istrinya dan ia tahu pasti, malam ini, ia sudah menghilangkan rasa sedih itu.
NEXT >>>>>>
*********