
Belinda Melangkahkan kakinya turun dari bis kecil yang membawanya dari kota kecil Bucket of Lavender. Sekarang ia telah tiba di kota BYork, tepatnya di Undertake Street.
Bel membenarkan letak topi berwarna merah yang ia kenakan sambil memandang berkeliling dengan bibir tersenyum lebar.
Langkah kakinya berbaur dengan langkah-langkah lain yang mulai mengisi ruas jalan di Undertake Street.
"Benar-benar menakjubkan," desis Belinda dengan mata berbinar.
Bel memelankan langkah ketika tiba di barisan para pelukis yang mulai mengatur tiang kanvas. Beberapa dari mereka sudah memulai torehan cat dengan model beberapa pengunjung yang ingin melihat wajah mereka digambar di atas kanvas.
"Nona Cantik, apakah kau ingin wajah cantikmu dilukis?" Seorang pria paruh baya menyapa Belinda. Menunjuk pada sebuah kursi bulat yang ada di dekat peralatannya.
Belinda menggeleng, membalas senyum pria tersebut. "Tidak, terima kasih, Sir. Mungkin lain kali," tolaknya secara halus.
Pria tersebut mengangguk, mencium jari-jarinya lalu mengulur dan melayangkannya untuk Belinda. Belinda tertawa, kembali mengucapkan terima kasih atas keramahan tersebut sebelum melanjutkan langkah.
Di suatu bagian jalan, para pengunjung tampak sangat ramai, Belinda mencoba menyeruak di antara kerumunan. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, menyadari semua pengunjung yang berdiri di sana kebanyakan adalah para perempuan.
Belinda berdiri, menunggu setiap ada celah baginya untuk maju, ia menyelipkan diri hingga akhirnya ia tiba juga di bagian depan.
Pemandangan di depannya terlihat biasa saja. Belinda mengernyit, bertanya-tanya kenapa para wanita yang ada di sana betah sekali berdiri menonton.
Seorang pelukis tengah duduk dan menorehkan warna-warna yang mulai tampak sebagai goresan seorang gadis kecil yang duduk dengan menggendong sebuah boneka kelinci. Bel tersenyum, gadis kecil yang dilukis tersebut ada di dekat sana, sedang duduk dengan sangat kooperatif di samping ibunya yang terus membujuk agar ia bekerja sama untuk tetap diam sampai lukisannya selesai.
Belinda kemudian menatap ke arah para pengunjung, mata mereka bukanlah menatap sang gadis kecil, melainkan ke arah pelukis yang hanya tampak punggungnya oleh Belinda.
"Dia tampan, juga gagah. Kau lihat, punggungnya saja lebar. Sayangnya dia tidak mau berbagi nomor pribadinya," bisik seorang gadis yang ada di sebelah Belinda pada temannya.
Bel memandangi punggung pria yang dimaksud oleh gadis tadi.
Punggung suamiku lebih lebar.
"Tunggu saja dia selesai dan menyapa kita semua satu per satu. Dia selalu begitu, ramah dan senyumnya manis," tambah gadis itu pada temannya.
Belinda menyipit menatap bagian belakang tubuh pelukis yang terus menggerakkan tangannya menggambar objek si gadis kecil.
Kalau kalian melihat Verga Marchetti, lalu disapa olehnya, aku yakin kalian akan lebih memilih Verga. Dia tampan, lembut ... senyumnya juga ....
Belinda mengedipkan matanya berkali-kali, seolah menyadarkan dirinya dari pikiran tentang suami yang telah ia tinggalkan.
Belinda menatap ujung sepatunya, sepatu flat dengan hiasan pita berwarna merah, ia kembali termenung, mengingat mimpinya yang hampir datang setiap malam. Mimpi tentang suaminya, pelukan, ciuman dan juga hari pernikahan mereka.
Bel memejamkan mata sejenak. Berusaha menekan rasa bersalah yang mulai bertahta di hatinya sejak tiba di kota Bucket of Lavender.
"Halo, Nona," sapa seseorang di depan Belinda, lalu seseorang mencuil bahunya, membuat Bel menoleh dan menyadari gadis yang tadi berbisiklah yang melakukannya. Bel.
melihat telunjuk sang gadis yang mengarah ke depan.
Bel kembali menghadap ke depan, mendapati seorang pria sudah berdiri di depannya.
"Ah ... halo," ucap Belinda. Menyunggingkan senyum kecil. Ia agak terpana menatap mata biru yang menatapnya dengan ramah.
"Anda termenung," ucap sang pelukis.
Belinda tertawa. "Sedikit," ucap Belinda.
Setelah sedikit berbasa-basi, pria yang adalah sang pelukis itu berpindah dan memulai lagi menyapa para pengunjungnya.
Belinda memandangi pria tersebut, namun di kepalanya ia memikirkan orang lain, yang memiliki mata lebih biru dari milik pelukis tersebut, memiliki senyum yang lebih lembut, memiliki wajah yang menurut Belinda lebih tampan dari pria manapun.
Belinda berbalik, melangkah pergi sambil memegang erat tali tas selempang miliknya.
"Kenapa kau tidak bisa lepas dari pikiranku, Verga Marchetti? Apa yang sedang kau lakuan saat ini?" bisik Belinda pelan.
Suara ponsel di dalam tas Belinda terdengar nyaring. Bel berhenti, mengeluarkan ponselnya dan tersenyum melihat nama Vito.
"Halo, Vito!" sapanya gembira. Ia melihat sebuah kursi panjang di bawah sebuah lampu jalan.
"Halo, Nona Stella," jawab Vito dengan nada bergurau.
"Apakah semuanya berjalan lancar?"
"Sejauh ini semuanya sempurna. Rumah kecil di Bucket of Lavender sangat sempurna. Aku meletakkan kanvasku di beranda belakang. Menghadap langsung ke bukit bunga lavender."
"Kau melukis bukit itu bukan?"
"Tentu saja! Hampir selesai!"
"Sekarang kau dimana?"
"Aku sedang ke kota BYork. Sekarang akhir pekan. Undertake Street sangat ramai, Vito!"
"Apakah tempat itu sesuai bayanganmu?"
"Ya! Sangat bagus!"
"Syukurlah. Kapan kau pulang ke Bucket Of lavender? Jangan malam-malam!"
"Oh, aku akan mencari penginapan saja agar tidak perlu pulang malam ke rumah sewaku."
Vito berdecak,"ck! Kau harus memastikan penginapannya aman, Bel!" seru Vito, terdengar khawatir.
"Pasti, Vito."
"Aku khawatir meninggalkanmu sendiri di tempat itu. Tapi bagaimana lagi, aku harus membantu ibuku di ladang jagung."
"Aku mengerti. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
"Baiklah. Kabari aku terus, Bel."
"Ya. Mmm ... tidak ada yang mencariku ke mansion bukan? Apakah kau atau ibumu mendapat kabar dari Mansionku?" tanya Belinda.
"Tidak. Sejauh ini semuanya terlihat baik-baik saja. Siena juga sudah kembali. Pelayanmu itu mengatakan pada ibuku bahwa Benjamin menyuruhnya kembali ke sini, karena tidak ada permintaan dari keluarga Marchetti kalau pelayan lama Nyonya Belinda diminta ikut. Mereka sudah menyediakan segalanya untuk Belinda, termasuk pelayan. Begitulah tutur Siena."
"Begitu ... jadi, kurasa Ben tidak tahu tentang kepergianku kan?"
"Kurasa begitu. Kurasa suamimu terlalu malu mengatakan pada Ben kalau kau melarikan diri. Kita tidak tahu ... dia mencarimu atau membiarkan saja hal ini."
"Aku berharap ia tidak peduli ... dan tidak mencariku. Kurasa itulah yang terjadi. Dia juga hanya dipaksa menikah denganku, karena permintaan ayahnya. Kurasa di dalam hatinya, ia sebenarnya belum mau menikah." Belinda mengucapkannya dengan nada ringan, namun ia menyadari, ada bagian di hatinya yang merasa tidak rela ketika mengatakan hal itu.
Jika disuruh mengaku ... aku sedikit ingin suamiku yang tampan itu mencariku. Dia ...
Belinda menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Tidak! Tidak!" ucapnya keras-keras.
"Apanya yang tidak?" tanya Vito.
"Eh ... mmm, tidak apa-apa. Aku bukan bicara padamu," ucap Belinda, mengakhirinya dengan tawa kecil.
"Ya sudah. Jangan lupa terus kabari aku, Bel"
"Tentu. Dah ...."
Sambungan itu terputus, Belinda menarik napas panjang. Mendongak menatap langit. Kesendiriannya terasa menggelitik, hatinya sedikit merasa hampa.
"Tidak ... aku tidak boleh merasa kesepian! Ayo kunjungi pusat belanja, lalu ayo pergi menonton film!" serunya sambil bangkit dan berjalan cepat dengan senyum terkembang.
NEXT >>>>>>
**********
From Author,
Jadi ... malammu diisi mimpi tentang suamimu ya Bel. Yuk, dukung author dengan klik like, love, Vote hadiah ,bintang lima dan jejak komentar. Sebelumnya author ucapkan terima kasih banyak.
Salam. DIANAZ.