
Verga melangkah pelan menuju sebuah mobil yang sudah disiapkan oleh Juan. Asistennya itu berdiri di dekat pintu mobil, menunggu instruksi selanjutnya.
"Kau pulanglah, Juan. Ayah akan banyak pertanyaan bila nanti kita pulang secara bersamaan."
"Baik, Tuan Verga. Adakah hal lain yang perlu saya lakukan sebelum saya pulang?"
Verga diam sejenak, memikirkan pertanyaan Juan, lalu menggelengkan kepala.
"Kurasa tidak. Semua keperluanku sudah ada di dalam rumah. Kurasa aku masih perlu beberapa hari, menunggu sampai Bel menyelesaikan lukisannya di sini. Baru setelah itu kami pulang."
Juan menganggukkan kepala, lalu mengulurkan kunci mobil pada Verga.
"Apakah Ben mengatakan padamu kemana ia akan pergi?"
"Tidak, Tuan. Tuan Benjamin pergi ketika fajar bahkan belum tampak. Ia dan anak buahnya membawa Vito dan tidak mengatakan kemana ia akan pergi."
"Baiklah." Verga menggenggam kunci mobil dan menoleh ke arah rumah. "Aku akan mengantarkan Belinda ke Undertake street di BYork. Dia punya janji dengan seorang pelukis di sana."
Juan menganggukkan kepala. Melihat keadaan Tuan dan Nyonyanya yang baik-baik saja, Juan menduga keduanya telah menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
Kedua pria itu diam dan hanya menatap ketika
sosok Belinda keluar dari dalam rumah. Wanita itu tampak cantik dengan blus berwarna hijau dan celana panjang hitam. Rambutnya diikat ekor kuda dengan pita berwarna pink. Senyum Belinda tampak cerah dan matanya menatap Juan ketika sudah mendekati mobil.
"Selamat sore, Juan. Aku tidak tahu kau sudah ada di sini."
"Selamat sore, Nyonya. Saya akan pulang ke Broken Bridges segera setelah Anda dan Tuan Verga berangkat."
"Oh, benarkah? Kalau begitu kau akan bertemu Ayah Verone."
"Ya, Nyonya. Segera."
Belinda mengerutkan bibir, lalu menatap Verga dengan sorot sedikit panik.
"A-apakah ...." Bel merasa tidak sanggup mengemukakan pertanyaannya.
"Juan tidak akan mengatakan apapun, karena setahu Ayahku, dia pergi cuti. Berlibur mencari gadis cantik untuk dijadikan kekasih. Bukan sedang bersamaku. Benar Juan?"
Juan hanya menganggukkan kepala. Menahan tatapannya agar tidak melihat Nyonyanya yang terlihat malu dan salah tingkah.
Juan mengacungkan jempol terhadap reaksi cepat tuannya yang dengan segera tahu maksud pertanyaan tidak terucap dari Nyonya Bel. Wanita itu pasti malu dan tidak ingin ayah mertuanya tahu apa yang telah ia lakukan.
"Ayo, pergi. Kau punya janji kan, jangan sampai terlambat."
Belinda mengangguk, mengucapkan selamat tinggal pada Juan dan naik ke bagian penumpang yang sudah dibukakan pintunya oleh Verga.
Verga menepuk lengan atas Juan, berpamitan sebelum ia sendiri naik ke belakang kemudi dan mulai menjalankan mobil.
Semoga masalahnya benar-benar sudah berakhir, batin Juan penuh harap.
Juan menatap bagian belakang mobil yang membawa pasangan tersebut. Setelah jauh, baru ia berbalik, bermaksud kembali ke rumah yang ia sewa dan bersiap untuk pulang ke Broken Bridges.
**********
Verga mengetatkan geraham dari tempatnya berdiri. Sejak datang dan berkenalan dengan pelukis yang memiliki janji dengan Belinda, mood pria itu benar-benar rusak. Melihat pelukis yang ditemui Bel ternyata adalah seorang pria yang tampan dan juga berkharisma.
Mereka berkenalan dengan normal, namun setelah memulai pekerjaan dan obrolan tentang lukisan, keduanya seperti tidak menyadari bahwa Verga juga berada di dekat sana.
Verga akhirnya menyingkir, sedikit menjauh agar ia bisa menahan keinginan untuk menyeret Belinda yang sedang tertawa dengan penuh semangat dengan pria itu.
Kerumunan di sekitar tempat pria itu kemudian bertambah banyak, Verga menyadari kebanyakan mereka adalah para gadis. Beberapa dari mereka tampak berbisik sambil melihat ke arah tempat duduk Belinda dan juga pelukis pria itu yang agak berdekatan.
"Siapa gadis itu? Apakah kekasihnya? Mereka tampak akrab ...." bisik seseorang yang berdiri di dekat Verga. Verga merapatkan tutup kepala mantelnya, memejamkan mata sejenak, menolak mendengar bisikan yang membuat hatinya makin jengkel tersebut.
"Gadis itu juga melukis, tampak bagus menurutku. Apakah benar-benar kekasihnya? Ah ... sayang sekali," bisik seorang lagi.
"Sayang sekali aku tidak pandai melukis. Pria itu mungkin saja tertarik ... gadis itu beruntung. Dia cantik, pintar melukis pula."
"Kau benar, tapi ... kalau dilihat-lihat, mereka cocok."
"Ah ... kau benar ...."
Verga mengepalkan tangan dalam kantong mantelnya. Angin dingin meniup dan menerbangkan helaian rambut beberapa gadis. Verga mendongak ke atas, melihat ke arah langit yang mulai mendung, gerakan itu membuat tutup kepalanya jatuh ke arah belakang.
Hentakan napas beberapa orang di sampingnya membuat Verga menoleh cepat.
Verga menaikkan alis mendengar ******* beberapa gadis yang berdiri di dekatnya.
"Boleh aku tahu nama Anda, Tuan Tampan?" tanya seorang wanita berambut pirang sambil tersenyum amat manis.
"Atau langsung nomor handphone juga boleh," ucap seorang gadis berambut hitam sebahu sambil mengedipkan mata.
Para wanita dan gadis-gadis itu mulai terkikik dan mendekati Verga sambil bertanya dengan nada menggoda.
Dengan santai dan tersenyum tenang, Verga hanya diam dan menunggu kerumunan tersebut mengalihkan perhatian ke arahnya. Mata Verga menatap dari atas kepala para gadis-gadis itu ke arah Belinda yang akhirnya menyadari lingkungan dan mengalihkan perhatian ke arah kumpulan para gadis yang tertawa dan saling menggoda tersebut.
"Jangan bilang kau kehilangan suaramu, Tuan Tampan. Tenang saja, kami tidak menggigit. Tentu saja kami tidak keberatan bila kau memilih mencoba hal tersebut," goda seorang wanita dengan nada bergurau. Ucapan yang disambut tawa oleh teman-temannya.
"Atau ... kau mau kami duluan yang menggigitmu?" tanya salah satu dari mereka. Membuat tawa makin meledak.
Angin meniup makin kencang, cuaca terasa makin dingin. Awan mendung yang memayungi tempat itu makin tebal, membuat hari yang memang sudah menjelang senja terasa seperti sudah malam.
Beberapa pelukis segera membereskan peralatan, orang-orang juga dengan cepat mulai berlalu lalang pergi dari jalanan tersebut.
"Sayang sekali cuacanya tidak mendukung, Ladies. Kusarankan kalian pulang sebelum kehujanan," ucap Verga.
"Astaga ... suaranyapun sexii. Tidak apa hujan, asal kau mau berbagi mantelmu," ucap si rambut pirang.
Di tempat tadi Belinda duduk, Verga melihat pelukis pria tersebut sudah mulai membereskan peralatannya. Belinda sudah berdiri dan berjalan perlahan ke arahnya. Wajah wanita itu tampak tenang dan sebuah senyum kecil tersungging di bibir.
"Maaf, Ladies. Istriku sepertinya sudah selesai. Kalian juga sebaiknya pulang. Sepertinya akan hujan."
Mendengar ucapan Verga tentang istri, kepala-kepala para gadis itu menoleh ke arah mata Verga memandang. Mereka melihat Belinda yang berjalan mendekat.
"Sepertinya akan hujan. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" tanya Belinda.
Kerumunan itu segera membubarkan diri, sesekali tawa geli mereka terdengar dengan celetukan yang lumayan keras.
"Ternyata sudah beristri, belum sempat ditangkap sudah lepas," ujar mereka dengan suara keras. Disambut tawa oleh teman-temannya.
Belinda mengembuskan napas. Perasaan kesal makin bertambah ketika ia melihat seringai suaminya setelah mendengar ucapan para gadis tadi. Pria itu tampak senang jadi pusat perhatian. Sejak melihat Verga dikerumuni para gadis, muncul rasa cemburu di dalam hati Belinda, namun ia berusaha menampilkan wajah tenang ketika menghampiri suaminya.
Belinda melangkah melewati Verga begitu saja dengan langkah berderap.
"Kau mau kemana? Mobil kita ke arah sana." Tunjuk Verga ke arah berlawanan dengan alis terangkat.
"Aku belum mau pulang!" jawab Bel sambil terus berjalan.
Verga segera berlari menyusul. "Tadi kau mengatakan mau pulang."
Rintik hujan sudah mulai berjatuhan dari langit, makin lama semakin deras. Verga menarik Belinda, bersama mereka berteduh di bawah atap bagian luar sebuah cafe.
"Mau masuk dulu? Kita pesan minuman hangat," ucap Verga dengan nada membujuk. Ia tersenyum melihat wajah kesal istrinya.
Belinda berbalik, mengintip di balik kaca cafe.
"Pesan saja minuman hangat, juga sedikit kue. Aku tidak mau masuk. Aku mau duduk di sana saja?" Belinda menunjuk sepasang kursi yang disediakan untuk pengunjung yang duduk diluar.
Verga melepas mantelnya ,lalu memasangkan kepada Belinda. "Duduklah di sana."
Setelah melihat Belinda duduk dengan nyaman sambil memandangi hujan, Verga berbalik dan melangkah masuk ke dalam cafe.
Di dalam sebuah mobil hitam, yang parkir di pinggir jalan tak jauh dari tempat Belinda duduk, dua orang pria menatap dan mengawasi pasangan tersebut.
"Kurasa ini waktu yang pas, Bos."
"Benar. Lakukan sekarang."
NEXT >>>>>>
**********
From Author,
Hmmmm, kira-kira mau diapain BelVer ya?
Dukung author dengan tekan like, love bintang lima dan juga Vote ya. Sebelumnya author ucapkan terima kasih banyak.
Salam. DIANAZ.