Belinda

Belinda
4. Unnamed letter



Daniella melangkahkan kaki menuju meja bulat yang sudah dikelilingi para orang tua dan kerabat keluarga Marchetti. Ia tahu ia harus menyapa ayahnya dulu karena sejak tadi pria itu telah mencarinya. Setelah keluar dari kamar anak, Ella mencari tempat persembunyian lain dan ia memilih dapur. Dengan alasan ingin bertemu Mrs. Adele, koki utama Mansion Marchetti. Ia dihadiahkan seporsi kue dan juga minuman hangat yang ia habiskan dengan senang hati di meja dapur.


Setelah menenangkan diri di dapur dan juga menyeimbangkan lagi emosi tidak jelas akibat pertemuannya dengan Benjamin, Ella memantapkan kakinya melangkah kembali ke ruang pesta. Ia tahu pria yang meresahkan itu pasti juga sudah kembali ke sana.


"Kau darimana saja, Ella?"


Daniel menatap putrinya yang melenggang santai dengan senyum menawan, tampak sangat cantik, elegan dan percaya diri. Rambut hitam panjangnya bergoyang indah seiring langkah kaki wanita itu.



CAST : Daniella Dolores


"Aku? Aku masih di sini, Dad. Tidak kemana-mana." Ella memeluk bahu ayahnya dari belakang, lalu memberikan ciuman di pipi pria itu.


"Kau sengaja bersembunyi," ucap Verone sambil bersedekap, menyandarkan punggungnya ke kursi.


Ella memilih tidak menyahut, hanya membalas ucapan pamannya dengan senyuman. Ia memandang semua orang yang mengelilingi meja, berusaha tampak santai. Ketika matanya mendarat pada sosok Benjamin, pria itu sedang mengerutkan kening dengan mata menatap deretan kartu di tangannya.


"Kau tidak bisa mengalahkan Paman Daniel, Ben. Dia tidak pernah kalah," ucap Verga sambil terkekeh.


Ella menunduk, menatap ayahnya yang sedang menatap lurus ke arah Benjamin. Namun, pria yang dipandangi sedikit pun tidak ambil pusing dengan tatapan tajam tersebut.


"Kurasa kau benar, Verga. Dia kalah strategi," ucap Belardo yang menganggukkan kepalanya.


"Aku pergi dulu. Aku akan menemui Mom," bisik Ella ke telinga ayahnya. Daniel mengangguk. Ketika Ella berbalik dan mulai melangkah pergi, barulah Benjamin mengangkat wajahnya dan melirik ke arah wanita itu beberapa saat.


Benjamin baru menyadari lirikannya ke arah Daniella adalah kesalahan, karena ketika berkedip dan memandang berkeliling, ia mendapati semua mata sedang melihat ke arahnya. Verga yang berusaha tampak datar tapi tidak berhasil, Tuan Verone dengan kedua alis terangkat penasaran, Ayahnya yang tanpa ekspresi namun terus mengelus dagu tanpa mengalihkan mata darinya. Terakhir, Pria tua berambut pirang dengan tatapan berkilat tajam tepat di seberang Benjamin. Daniel Dolores memandangnya seperti baru saja menangkap basah seorang pencuri.


Ya ampun ... untung saja aku sudah banyak minum. Kalau tidak, aku bisa dehidrasi saking panasnya udara di sini. Benjamin tertawa dalam hati, melemparkan sebuah kartu ke atas meja dengan sikap tenang dan masa bodoh.


********


Bernie Barces mundur teratur ke balik sebuah meja. Melindungi dirinya dari kemarahan Tuan Daniel. Tatapan pria tua berbadan besar itu seolah ingin menghabisinya.


"Sungguh, Paman Daniel. Aku tidak punya maksud apapun," ucap pria tampan yang juga tampak manis tersebut dengan wajah menyesal.


"Kau ... sudah berapa lama kau tahu tapi tetap diam saja?" Daniel mendesiskan pertanyaannya dengan kedua tangan di pinggang.


"Emmm ... itu ...."


"Jangan mengelak dan berbohong, Bern ...."


"Maafkan aku, Paman. Aku ... aku pikir, hal ini tidak akan berbahaya bagi Ella. Hanya surat tidak jelas ynag hanya ingin mengganggu konsentrasi Ella. Aku tidak berpikir ...."


"Kau memang tidak pernah berpikir!" teriak Daniel emosi. Ia melempar dua surat yang tadi ia temukan ke atas meja.


"Kau tahu bagaimana takutnya Ella hampir dua tahun yang lalu! Dia sampai meninggalkan semua kesenangannya di dunia film! Bajingan itu hampir menangkapnya! Kita bahkan tidak tahu siapa dia hingga saat ini!"


Bernie tertunduk dengan wajah memelas. "Aku sungguh menyesal, Paman," ucapnya pelan.


"Jika aku tidak menemukan ini ... kau tidak akan memberitahuku bukan? Sampai kapan? Sampai sesuatu terjadi pada Ella?"


"Aku ... tidak berpikir sesuatu yang serius akan terjadi, Paman. Jadi aku menyimpannya. Ella tidak perlu terganggu oleh satu surat kaleng dan-dan beberapa penjaga sudah disiapkan untuk pengamanan selama syuting berlangsung. Mereka selalu ditempatkan kemanapun kami pergi."


Daniel menyipitkan matanya. " Satu kau bilang!? Ini sudah dua, Bern ... Kau meremehkan situasinya ... kau takut Ella berhenti dan semua hal yang telah susah payah kau usahakan agar dia mulai bermain lagi percuma. Bukan begitu? Dengan kata lain, kau takut kehilangan pekerjaanmu! Tapi kau mengenyampingkan keselamatan putriku!"


Bernie menelan ludah. Ia melirik sosok Tuan Daniel yang seolah siap menyerang. Meski ia lebih muda dan tubuhnya cukup besar untuk mengimbangi pria itu, namun Bernie tahu lebih baik ia tidak mencoba melawan pria tua itu. Daniel Dolores pandai berkelahi, kekuatannya tidaklah kalah dengan anak muda. Ella mengatakan kalau ayahnya masih sering bertanding tinju dengan teman-temannya.


"Ella tahu?" tanya Daniel kemudian.


Bernie menggelengkan kepalanya perlahan.


Dengan napas berat, Daniel meraup kembali dua surat yang ada di atas meja.


"Pastikan ia tetap tidak tahu. Jangan membuatnya gelisah. Berapa lama lagi pengambilan adegan di film ini sampai dinyatakan selesai?"


Daniel mengangguk. "Kau harus lebih waspada. Aku akan mencari pengawal pribadi. "


"Perusahaan menyediakannya, Paman."


Daniel mendengus keras. "Mereka bukan pribadi, Bern! Itu penjaga untuk semua kru, aktor maupun aktris di film ini! Putriku tidak dijaga khusus! Mereka hanya menjaga di lokasi syuting. Tidak 24 jam! Ella tidak boleh sendirian!"


Bernie tertunduk lagi, tidak menyangkal perkataan Daniel.


"Aku memercayaimu selama ini, Bern. Kau sudah seperti anakku sendiri. Ella juga. Kau bukan hanya manager baginya. Kau teman, sahabat juga orang kepercayaannya. Jangan kecewakan kami Bern ...."


Bernie menggosok belakang lehernya, lalu menyisir rambut dengan jemari. Tampak gelisah dan menyesal.


Daniel berbalik, berjalan pergi menuju pintu. "Hubungi aku untuk apapun yang terjadi, Bern. Kau dengar aku? Apapun!"


"Ba-baik, Paman."


Setelah menutup pintu dan berjalan di lorong menuju pintu keluar, Daniel mengeluarkan ponselnya. Ia memikirkan seseorang, relasi sekaligus teman. Yang sampai saat ini masih berhubungan dekat, baik dengan dirinya maupun Ella. Seseorang yang juga merupakan teman dari keluarga Marchetti. Daniel berharap orang ini akan membantunya. Pria yang tahu banyak hal dan memiliki hubungan yang luas dengan orang-orang terbaik. Daniel membutuhkan rekomendasi darinya untuk mencari pengawal pribadi untuk Ella. Ia butuh orang terbaik, yang sudah ahli dan tahu tentang apa yang harus dilakukan. Bukan hanya berpenampilan sangar dan memasang badan di sekitar Ella. Tapi juga tahu tentang mencari informasi dan menyelidiki orang.


Ketika membuka daftar kontak untuk menelepon orang tersebut. Ponsel Daniel tiba-tiba berdering. Verga yang menghubunginya.


"Halo, Nak?"


"Halo, Paman. Kau dimana?"


"Baru saja menemui Bernie."


Verga mendengar nada khawatir di suara pamannya itu. "Oh. Ada masalah?"


Daniel terdiam sejenak. Tidak tahu harus mulai dari mana menjelaskan.


"Kau diam. Berarti memang ada. Aku sedang menuju BYork, Paman. Ada pekerjaan di sana. Aku meneleponmu karena nanti aku mau sekalian singgah."


"Ya. Datanglah, Nak."


Terdengar tawa sayang dari seberang sana. "Pasti, Paman. Ceritakan sedikit tentang kekhawatiranmu."


"Kau tahu kemana aku bisa mencari orang untuk jadi pengawal pribadi? "


"Bodyguard?"


"Ya."


"Untuk Ella?"


"Ya."


"Tunggu aku. kita bicarakan ketika aku tiba."


"Ya."


Setelah pembicaraan terputus, Daniel kembali melihat kontak di ponselnya, mencari nama Costra dan menekan ikon panggil. Ia membatin sambil menunggu panggilannya dijawab.


Enrico Costra, pria ini pasti punya orang-orang terbaik yang melakukan pekerjaan semacam ini. Kuharap ia mau memberitahuku kemana mencari yang terbaik. Setidaknya aku punya dua rekomendasi ... Verga dan Enrico.


*********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ