
Benjamin menatap tak berkedip ke arah ponsel yang terus berdering. Daniel Dolores sepertinya bertekad tidak akan berhenti sampai putrinya mengangkat panggilan tersebut.
Tidak akan menguntungkan bagiku bicara dengan Tuan Daniel pada jam ini. Sudah sangat larut. Ia akan sangat marah mengetahui aku ada di kamar putrinya di tengah malam. Kesannya tentangku akan semakin buruk.
Ben mengalihkan pandangan dari ponsel ke arah wajah Daniella. Kebiasaannya menganalisa ekspresi orang lain, juga sorot mata dan gerak tubuh membuat Benjamin akhirnya tersenyum kecil.
"Kau tahu ayahmu tidak menyukaiku. Jika aku mengangkat telepon itu di jam ini, pikiran buruknya tentangku akan semakin bertambah. Tapi tak apa, aku akan menjawabnya. Namun jangan mengingkari janji, DD. Apapun reaksi ayahmu, kau harus memakai cincin ini. Tanda kau menerima lamaranku."
Daniella melirik ke arah sebuah jam dinding, sudah lewat tengah malam. Ayahnya akan sangat terkejut, penasaran, heran, lalu pasti akan marah besar. Benjamin akan dibombardir oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak memberikan ruang pada pria itu untuk menjawabnya, lalu pria itu akan menerima makian, sumpah serapah dan mungkin saja tantangan duel dari ayahnya.
Daniella malah sudah membayangkan ekspresi dan kepanikan sang ayah ketika mendengar suara Benjamin di telinganya nanti. Berbagai dugaan akan muncul dalam pikiran ayahnya. Salah satunya pasti tentang dimana Benjamin berada saat ini, ditengah malam, sehingga bisa menjawab ponsel putrinya. Sekarang jam tidur Ella, yang berarti ia ada di kamar, yang berarti Benjamin juga ada di kamar Ella. Pikiran itu bisa saja membuat ayahnya syok, marah, atau bahkan pingsan? Ella meragukan kalau ayahnya bakal pingsan, mengingat kesehatan Daniel Dolores selalu prima.
Ella mengembuskan napas, mencoba kembali fokus pada Benjamin. Ia mau melihat sampai mana keseriusan pria itu.
"Aku tidak pernah mengingkari janji. Ayo, ayahku menunggu. Dia tidak akan berhenti sampai aku menjawabnya." Daniella memegangi ponselnya terlalu kuat, padahal ia bermaksud memberikan benda itu pada Benjamin.
"Ayahmu akan murka. Aku bermaksud mengambil hatinya dan membujuknya. Agar nanti ia bisa menyukai pria yang akan jadi menantunya. Tapi jika syarat kau mau memakai cincinku adalah menjawab ayahmu, maka-" Benjamin maju satu langkah dan meraup seolah akan mengambil ponsel dari tangan Ella.
Gerakan Ella selanjutnya membuat Benjamin tersenyum di dalam hati. Wanita itu secepat kilat mundur dua langkah menghindarinya.
Pria arogan! Kau angkat ponsel ini, dan selesailah semuanya! Jangankan menikahiku, mendekatiku saja kau akan kesulitan! Ayahku akan memukul kepalamu sebelum kau bisa mendekat satu langkah pun ke arahku!
"Bagaimana, DD? Ayahmu pasti gusar. Berikan padaku," ucap Benjamin dengan satu tangan tengadah meminta ponsel.
Sialann! Katakan kau mencintaiku, setidaknya katakan kau sangat menyukaiku sebagai alasan kau melamar, Antolini! Kau memberikan cincinnya hanya karena kita sudah menghabiskan satu malam bersama! Terhormat sekali dirimu! terhormat dan sangat kuno!
"Apa yang akan kau katakan pada ayahku nanti?"
"Tentu saja aku akan menyapanya lebih dulu dan mengucapkan selamat malam."
Daniella mendengus. Tatapannya berubah marah, ia menghentakkan kaki menuju tempat tidur, lalu duduk di kaki ranjang.
Suara ponsel Daniella akhirnya berhenti. Ella menarik napas lega. Ayahnya akhirnya menyerah.
"Ayahku berhenti menelepon. Jadi? Apa yang akan kau lakukan?"
Daniella melihat Benjamin menatap cincinnya, lalu perlahan menutup kembali benda itu.
"Aku akan menunggu di sini sampai benda ini melingkar di jarimu."
Ella tertawa mengejek. "Silakan menunggu, Tuan! Anggap kamarmu sendiri. Permisi, aku mau melanjutkan tidurku!"
Dengan santai Ella merangkak naik ke tempat tidur, melempar ponselnya ke ujung kasur, lalu menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya hingga kepala.
"Kau marah, gusar karena aku meninggalkanmu sendirian seharian ini tanpa kabar, bukan begitu, DD?" tanya Benjamin dengan nada sangat lembut.
Suara Daniella seolah menggema karena diucapkan dari bawah selimut. "Jangan besar kepala, Benjamin! Ya, aku marah! Tapi itu karena kau mengganggu tidurku! Aku sudah makan sesuai keinginanmu! Sekarang pergilah!"
Benjamin berjalan tanpa suara, mendekat ke arah kaki tempat tidur dimana ponsel Ella tergeletak. Ia meraih benda tersebut tepat ketika ponsel Ella kembali berdering.
Ella menurunkan selimut dari kepalanya secepat kilat, lalu ia terdiam kaku ketika melihat ponselnya sudah berada dalam genggaman Benjamin.
"Ayahmu," ucap Benjamin sambil menampakkan layar ponsel ke arah Ella. "Aku akan mengangkatnya, oke? Sebagai gantinya, pakai cincinku."
Benjamin mengulurkan kotak berisi cincinnya dengan tangan yang lain ke atas kasur. Ella menelan ludah, napasnya mulai berkejaran.
Ayah akan menganggap aku tidak lagi bisa menjaga diri. Ayah akan sangat kecewa padaku, aku akan membuat hatinya terluka ... lagipula ... apa benar aku mau jika tidak lagi bertemu dengan pria ini?
Selagi Ella berperang batin dalam hati, Benjamin menekan tanda terima dan baru saja akan meletakkan ponsel ke telinga.
"Ha-"
Ella bergerak secepat yang ia bisa, merebut ponsel yang sebenarnya memang tidak berniat dipertahankan oleh Benjamin.
"Halo!? Halo, Dad!?"
"Ella?"
"Ya, Dad. Ini aku."
"Tadi ... suara pria? Siapa?"
"Oh," Ella tertawa palsu, lalu memindahkan ponselnya dari telinga kiri ke telinga kanan dengan gugup. "Bernie, Dad. Aku tidak mendengar panggilanmu karena sedang di kamar mandi. Bernie baru saja kemari. Ada apa, Dad?"
Ella mengangguk. Informasi yang Benjamin dan Snow katakan padanya juga sama.
Benjamin tidak pergi dari tempatnya berdiri. Ia bahkan dengan sengaja menguping pembicaraan ayah dan anak tersebut. Ella mengibaskan tangan, mencoba mengusir pria itu, namun ia tahu Benjamin tidaklah semudah itu mengalah. Ia pasti akan langsung menagih janji.
"Aku gembira semuanya sudah selesai, Daddy. Karena itu aku bekerja dengan sangat tenang, lega dan juga tenang hari ini. Aku baru saja mau pergi tidur."
"Mana Bernie tadi?"
"Dia juga lelah. Baru saja keluar. Kurasa dia juga mau tidur."
"Ah ... ayah mengkhawatirkan yang tidak perlu rupanya. Entah kenapa, dari kemarin ayah selalu teringat padamu."
Ella tertawa gembira. "Itu karena kau merindukanku. Mom sudah tidur?"
"Sudah. Ibumu bilang aku terlalu khawatir. Bila terjadi sesuatu, kau atau Bernie pasti sudah menelepon."
"Mommy benar. Maaf aku tidak meneleponmu lebih sering, Dad."
"Kau pasti sibuk, Nak. Sekarang istirahatlah."
"Baik. Selamat malam, Dad."
Ella mendengar ayahnya berdeham sebelum berucap, " kau yakin tidak ada yang mau kau ceritakan?" seolah tetap merasakan ada yang disembunyikan oleh putrinya.
"Sebenarnya banyak, Dad. Syuting di luar ternyata mengasikkan. Tapi aku sangat mengantuk. Bolehkah kita bercerita lain kali?"
"Ah ... tentu, Nak. Tidurlah kalau begitu."
Ketika Ella mematikan ponsel, ia baru menyadari bahwa ia berdiri tegak dengan postur kaku. Jantungnya berdebar kencang karena baru saja berbohong.
"Kau membohongi ayahmu," ucap Benjamin sambil meraih kembali kotak cincinnya yang ada di atas tempat tidur.
"Apa boleh buat! Aku akan sangat mengecewakannya bila kau menjawab ponselku di jam ini!"
"Kau yang meminta, DD,"
Benjamin membuka kotak, mengambil cincin, lalu berjalan ke hadapan Ella. Ia meraih tangan kiri Ella dan langsung memakaikan cincin ke jari manis wanita itu.
"Kita menikah setelah restu ayah dan ibumu sudah kudapatkan. Sebelum itu, cincin ini tanda bahwa kau adalah calon istriku."
Ella menunduk dan terlihat lemas. Ia terus menatap tangannya yang sudah terpasang cincin dan masih ada dalam genggaman Benjamin.
Sedetik kemudian Ella terkejut ketika ia sudah berada dalam pelukan Benjamin.
"Sepertinya aku benar-benar parah ... calon istriku sama sekali tidak senang aku ajak menikah. Kau terlihat seperti orang yang baru saja mendapatkan kabar hukuman mati, DD."
Daniella memejamkan mata ketika merasakan kecupan Benjamin di puncak kepalanya.
"Tapi maafkan aku. Aku tidak bisa menerima kata tidak, atau penolakan ... kita harus menikah ... kita pasti cocok. Aku berjanji akan membahagiakanmu."
Daniella menarik udara banyak-banyak hingga dadanya mengembang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menempelkan pipinya ke dada Benjamin dan mencium aroma parfum Benjamin yang ia sadari seharian ini ia rindukan.
Baiklah. Untuk sekarang kalimat itu cukup, Ben. Kau berjanji membahagiakanku. Itu cukup. Aku menerima lamaranmu. Lagipula ... bukannya aku hanya akan diam menunggu kau mengatakan mencintaiku! Aku ... Daniella Dolores tidak akan berdiam diri! Kau akan jatuh, Benjamin! Jatuh cinta sejatuh-jatuhnya! Aku akan membuat calon suamiku tergila-gila! Lihat saja nanti!"
Ella teringat Verga dan Belinda yang sebelumnya tidak saling mengenal. Menikah karena perjodohan dan berakhir sesuai yang diharapkan.
Bila Bel bisa membuat sepupuku jatuh cinta dan tergila-gila, maka aku juga akan berusaha. Lagipula, aku juga sangat menginginkanmu, menjadikanmu milikku adalah kehendakku. Ayahku pernah bilang ... kalau menginginkan sesuatu, maka aku harus berusaha untuk mendapatkannya. Kali ini aku bukan cuma mau jadi istri, Benjamin. Aku menginginkan hatimu ....
Dengan tekad yang sekarang muncul di hatinya, ella mengangkat lengan, membalas pelukan Benjamin erat-erat sambil berjinjit dan mengintip lewat bahu atas Benjamin. Melihat benda berkilau yang sekarang melingkar di jari manisnya dengan bibir menyunggingkan senyum.
NEXT >>>>
*********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.