Belinda

Belinda
25. Find Belinda



Verga menangkap pergelangan tangan Benjamin yang sudah terkepal. Tangannya yang lain menjepit erat tangan Benjamin yang menggenggam dan menarik bahan kemeja di dadanya. Kedua pria tersebut saling menatap dengan tatapan dingin.


"Keluargaku menjaga Belinda dengan sangat hati-hati! Kami menyerahkannya padamu karena kami yakin kau akan menjaga dan melindunginya!" Ben berseru sambil berusaha melepaskan tangannya yang terkepal dari jepitan tangan Verga.


"Melihat reaksimu, kau sepertinya tidak ikut andil atas rencana istriku melarikan diri," ucap Verga dengan nada yang terdengar datar.


Mendengar kalimat Verga, Benjamin mengerutkan kening.


"Melarikan diri? Belinda? Apa maksudmu?"


Kepalan tangan Benjamin perlahan turun. Begitu juga dengan regutan tangannya di kemeja Verga. Jemarinya meregang dan melonggar.


"Siapa yang melarikan diri?" tanyanya lagi dengan nada tidak percaya, seolah menduga ia telah salah mendengar.


"Aku memanggilmu karena memerlukan keahlianmu mencari orang hilang, Black. Bukankah itu julukanmu ketika sedang melepaskan nama Benjamin Antolini?"


Verga mendorong tangan Benjamin, merapikan kemejanya dan kembali duduk santai di sofa.


Benjamin terdiam kaku, berdiri tegak dengan wajah terkejut. "Darimana kau tahu? Ah ... apakah Enrico!?" Benjamin mendecakkan lidah, lalu segera mundur dan kembali ke posisinya semula di sofa.


"Anggap saja aku punya informasi yang luas. Darimana aku tahu kau tak perlu bertanya. Kau sejak awal sengaja mendekati ayahku. Mengincarku sebagai calon suami Belinda, lalu setelah menikah Belinda pergi meninggalkan pernikahan kami. Aku ingin tahu ... apakah kau mengetahui rencana pelarian ini, karena itu aku mengujimu ... jika kau tahu, maka sejak awal kau telah berniat buruk, mempermalukan keluarga Marchetti. Aku tidak akan membiarkannya begitu saja ...."


Benjamin terlihat mengetatkan rahangnya. Ia menatap Verga dengan sorot tajam.


"Soal mendekati ayahmu dengan sengaja aku mengakuinya. Aku memeriksa latar belakang juga bagaimana kehidupan pribadimu. Aku tahu saat di pernikahan Enrico bahwa ayahmu ingin kau segera menikah dan aku tidak sengaja mendengar kau menyetujui ide ayahmu. Jadi aku mendekati kalian. Usia Belinda sudah wajar untuk dicarikan suami. Sudah kewajibanku mencarikan pria yang baik, bertanggung jawab dan akan menjaganya. Aku berhutang janji pada ibunya untuk itu."


"Apa kau tidak berpikir bahwa Belinda mungkin sudah punya kekasih? Dia mungkin tidak menginginkan suami yang ditentukan olehmu!"


Benjamin berdecak tidak sabar. "Kekasih apa? Gadis itu hidup di Mansion Antolini sampai usia remaja, lalu dia tinggal di Mansion ibunya di tengah pulau yang hanya terdiri dari ladang jagung dan beberapa penduduk desa. Dia bahkan tidak pernah bertemu dengan para pria!"


"Itu menurutmu, apa kau pernah benar-benar melihat bagaimana kehidupan adikmu yang sesungguhnya?"


Benjamin terdiam. Di dalam hati mengakui bahwa ia hanya mengawasi dari jarak jauh. Hanya menerima laporan dari Siena pelayan Belinda atau orang-orang yang bekerja padanya.


"Kutebak ... kau sibuk dengan pekerjaanmu. Ayahmu Belardo, sibuk dengan pekerjaannya dan keluarga barunya. Aku teringat ketika kami pertama kali dipertemukan, Belinda pernah mengatakan bahwa ia benci ayahnya ... Ah ... aku tidak akan membahas tentang keluarga kalian, aku hanya ingin kau mencari Belinda. 'Black' tidak akan kesulitan melakukannya bukan?" Verga menekan nada suaranya ketika mengucapkan nama Black.


Benjamin menyandarkan punggungnya ke arah sofa. Terlihat berpikir dengan kening berkerut.


"Kapan dia pergi?"


"Satu hari setelah kami pergi untuk berbulan madu."


"Apa yang kau lakukan sebelum itu? Kau membuat dia ketakutan sehingga meninggalkanmu!?" Nada suara Ben terdengar curiga dan menyalahkan.


Verga tertawa kecil. Tawa yang anehnya terdengar tidak senang.


"Oh, dia baik-baik saja, Benjamin! Dia bahkan menikmati malam pertama pernikahannya dengan sepenuh hati. Mau kuceritakan bagaimana detailnya?"


Benjamin terlihat merapatkan bibir, menahan komentar yang sepertinya sudah ada di ujung lidah.


"Esok harinya, dengan penuh kerelaan dan tanpa curiga sama sekali, aku meminum air yang sudah ia sediakan setelah kami sarapan. Kau tebak apa yang terjadi padaku setelah itu ... aku tidur! Nyenyak hingga tengah hari! Begitu bangun ... tidak ada orang," ucap Verga dengan tawa kering.


"Kau punya bukti kalau dialah yang membiusmu?"


Verga tersenyum miring. "Bukti itu sudah didapat segera setelah dia pergi. Aku menyewa orang untuk menyelidiki. Dia menemukan bungkusan plastik yang isinya adalah sisa serbuk obat tidur."


"Sayangnya, orang itu tidak bisa menemukan dimana Belinda ... kupikir, Black bisa menemukannya dalam waktu cepat. Bukan begitu?"


"Gadis bodoh!" rutuk Benjamin pelan. Memaki Belinda tanpa sadar.


"Jawab aku Benjamin! Kau akan menemukannya bukan!?'


Benjamin menoleh, melihat wajah Verga yang menunggu jawabannya.


"Pasti," ucap Ben yakin.


"Secepatnya, Benjamin! Kau harus menjamin bahwa Belinda akan kembali. Jika ini diketahui publik, aku akan jadi bahan olok-olok. Belinda akan menerima ganjarannya jika nama keluargaku tercoreng!"


Telapak tangan Benjamin saling menggenggam. Matanya terlihat berkilat marah. "Jika publik tahu apa yang gadis bodoh itu lakukan, maka dia bukan hanya mencoreng nama keluargamu, tapi juga keluarganya sendiri! Kau tak perlu melakukan apa-apa! Aku akan menemukannya dan memberinya hukuman!"


Verga mendengus. "Aku hanya memintamu untuk mencarinya, Ben. Selebihnya serahkan dia padaku! Kau jangan lupa, dia sekarang seorang Marchetti!"


Benjamin hanya diam, tidak menanggapi ucapan Verga. Membuat Verga menyipit dan memberinya tatapan tajam.


"Apa yang akan kau lakukan ketika kau menemukannya?" pancing Verga.


"Apakah kau punya dugaan kenapa Belinda melarikan diri?"


Verga mengernyit, bukannya menjawab pertanyaan, Benjamin mengalihkan pembicaraan ke pertanyaan lain. Namun, Verga tidak berkomentar, jika Benjamin tidak mau memberitahu apa yang akan ia lakukan pada Bel, maka ia hanya perlu mengikuti pria itu dan melihat sendiri apa yang akan terjadi.


"Aku tidak menemukan alasannya. Semakin kupikirkan, Semua ini terasa seperti tidak ada hubungannya sama sekali denganku. Seolah aku bagian yang kebetulan lewat dalam cerita hidup Belinda. Entah kenapa, perasaanku mengatakan, ini ada hubungannya dengan keluargamu sendiri, Ben."


Benjamin menganggukkan kepala. "Aku akan menemukan gadis merepotkan itu! Dia pikir berapa lama dia bisa melarikan diri! Apa yang dia cari di luar sana!?"


"Jangan tanya aku ...."


Benjamin mengembuskan napas panjang. "Aku akan pergi ... tolong jangan sampai berita ini sampai ke telinga Tuan Verone. Akan memalukan sekali bagi keluarga Antolini. Aku akan mencari Belinda! Aku berjanji dia akan menyesali perbuatannya. Kuharap ... hingga Belinda ditemukan, hanya kita yang tahu tentang hal ini ...."


Benjamin baru saja berbalik akan pergi ketika suara Verga kembali terdengar.


"Jangan lupa, Ben. Serahkan Belinda padaku setelah kau menemukannya, atau hubungi aku ketika kau tahu dia ada dimana ...."


Benjamin hanya mendengarkan, sedetik setelah kalimat Verga selesai, ia meneruskan langkah menuju pintu keluar.


Verga menatap hingga tamunya keluar dan pintu kembali tertutup.


Di lubang manapun kau bersembunyi, kakakmu sudah bertekad untuk menemukanmu, Bel. Ku lihat dia mudah terpancing untuk memukul orang! Kuharap kau bersiap ... berdoalah aku juga ada di sana ketika ia menemukanmu.


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Jangan lupa klik like, love, bintang lima, vote hadiah dan jejak komentarnya ya. Sebelumnya author mengucapkan terima kasih banyak.


Salam. DIANAZ.