
"Pastikan waktunya pas. Dia harus tahu bagaimana rasanya ketakutan dan terancam. Baru setelah itu suaminya boleh menyelamatkan."
"Tentu, Bos. Mereka sudah tahu."
"Dandanan mereka lumayan juga." Benjamin terkekeh pelan melihat tiga orang anak buahnya yang berdandan ala penjahat jalanan. Ketiganya tampak sangar, kasar juga urakan.
Dari kejauhan, Benjamin melihat ketika tiga pria anak buahnya itu mendekati kursi Belinda.
Belinda mulai waspada ketika tiga orang laki-laki setengah berlari masuk ke bawah perlindungan atap cafe. Awalnya ia mengira mereka hanya ingin berteduh dari derasnya hujan. Pakaian para pria itu sudah basah, namun tidak mengurangi kengerian Bel melihat penampilan mereka.
Belinda mengerutkan kening ketika salah satu dari mereka berjalan dan mendekatinya. Bel baru saja akan bangkit berdiri ketika pria itu mengeluarkan sebuah benda yang tampak berkilau di bawah cahaya lampu cafe yang baru saja dihidupkan. Cahaya tersebut membuat pandangan Bel menjadi lebih jelas. Ia melihat benda kecil berkilau yang adalah sebuah pisau itu telah menempel di pinggangnya.
"Lebih baik kau menahan lidah, Nona. Jangan bersuara. Ikut dengan kami, maka kau akan baik-baik saja ...."
Salah satu pria itu mengangkat kedua bahu Bel hingga berdiri dari kursi. Ketakutan mulai melanda Belinda, kakinya yang lemas tidak mau menopang tubuhnya sehingga salah satu pria tersebut memegang dan mulai menyeretnya pergi. Belinda menatap ke balik kaca cafe, Verga masih berdiri di balik etalase, namun ia tidak sempat melakukan apapun karena sebuah tangan besar sudah membekap mulutnya dan setengah mengangkat tubuh Belinda sambil berjalan pergi.
Seumur hidupnya Belinda tidak pernah membayangkan akan menghadapi situasi seperti ini. Makin lama cafe tempatnya berteduh tadi semakin jauh. Air mata Belinda mengalir deras, jantungnya berdetak kencang tidak menentu. Ia merasa ingin pingsan. Air hujan mulai menembus mantel dan menyentuh kulit Belinda.
Ketika tangan yang membekap mulutnya dilepas, Belinda merasakan pria yang membawanya juga menghentikan langkah. Tanpa bicara pria itu menarik lepas mantel Verga kemudian memeriksa kantong-kantong sebelum melemparnya begitu saja ke atas trotoar.
"Ka-k-kalau kalian ingin uang, in-ini ... ini ...." Belinda menarik sebuah kalung berbandul sebuah berlian dari lehernya, lalu mengulurkannya pada salah satu pria tersebut. Ia menoleh ke kiri dan kanan, tempat itu sudah sepi, semua orang memilih berlindung dari derasnya hujan.
"Menarik." Pria tersebut mengambil kalung Bel, lalu sambil menyeringai ia menatap wajah Bel yang ketakutan.
"Tapi ini tidak cukup. Bagaimana kalau ditambah dengan sedikit sentuhan sayang?"
Belum sempat Bel menjawab, pria tersebut kembali membekap mulutnya dan menarik tubuhnya ke dalam sebuah gang yang sangat gelap. Air mata Belinda sudah tidak terbendung, sekujur tubuhnya basah dan kedinginan. Ia berusaha menggigit tangan penyekap tersebut, namun pria itu langsung mengeratkan cengkraman di mulut Bel, sampai rahangnya terasa amat sakit.
Verga, Verga, tolong aku ...
Belinda merasa doanya terjawab. Dari dalam gang ia melihat Verga yang tiba dengan napas terengah. Suaminya itu langsung dihadang oleh dua pria teman si penyekap di mulut gang.
Tubuh Belinda terasa tidak lagi bertulang ketika melihat dari dalam gelap suaminya itu mulai berkelahi dengan dua pria penjahat tersebut. Cahaya redup lampu jalan menerangi ketika satu tendangan membuat Verga terempas ke atas trotoar.
"Tidak ... hentikan ... hentikan," rintih Belinda pedih. Ia kemudian menyadari bahwa tubuhnya sudah dilepaskan oleh pria yang menyekapnya. Bel melihat pria tersebut berlari menjauh, pergi membantu teman-temannya.
Menguatkan kakinya sendiri, Belinda berjalan sambil berpegangan ke sisi gedung, jelaga dan kotoran menempel di telapak tangannya. Ketika satu pukulan mendarat telak di rahang penyekap Bel, pria itu menggeram dan membalas memukul rahang Verga. Pukulan yang membuat sudut bibir pria itu pecah dan mengeluarkan darah.
"Hentikan!" jerit Belinda.
Ia menghapus airmatanya dengan telapak tangan, membuat kotoran dan jelaga menempel di pipinya yang putih.
Mendengar suara Belinda, Verga menggelengkan kepala. Berusaha menjernihkan kepalanya yang terasa pening. Baru saja ia akan menegakkan punggung, sosok istrinya itu sudah berlari dan menabrakkan tubuh ke arahnya, memeluknya sangat erat. Isak tangis Bel dan tubuhnya yang dingin dan gemetar membuat Verga mengeretakkan gigi. Ia menatap tajam ketiga pria yang telah membawa pergi Bel, menyiapkan diri menghadapi serangan selanjutnya sekaligus memikirkan cara menghentikan tiga berandal tersebut.
Namun, dengan seringai licik, para pria tersebut mundur teratur. Yang satu mundur sambil menggerak-gerakkan rahangnya, menghilangkan nyeri karena pukulan Verga. Yang satu lagi mundur sambil memegangi pinggang di bawah kausnya yang robek, bekas terjangan sepatu Verga. Sedangkan pria yang menyekap dan membawa Bel hanya mundur, lalu berbalik, berlari pergi meninggalkan pasangan tersebut.
"Pukulan terakhir tadi, kau benar-benar memukulnya. Bibirnya terluka," bisik salah satu pria pada sang penyekap sambil berlari.
"Aku terbawa emosi. Rahangku terasa bergeser karena pukulannya. Aku tanpa sadar membalas," balas pria itu.
"Kita menahan tenaga ketika menyerang, sedang Tuan Marchetti melakukannya sekuat tenaga. Lebih lama di sana, bisa-bisa kita yang babak belur. Aku sama sekali tidak mengerti. Cara Bos menangani Nona Bel dari dulu diluar kebiasaan."
"Kau benar. Kadang-kadang Dia keterlaluan."
Tiga pria tersebut melihat sebuah Van, segera mereka bergerak mendekat, lalu naik dan dibawa pergi dari tempat itu.
Verga merasakan tubuh Bel masih gemetar meski para penjahat itu sudah pergi. Ia mengendurkan pelukan, lalu memeriksa wajah istrinya yang belepotan jelaga.
Belinda menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya kehilangan sebuah kalung."
"Terimakasih, Tuhan ... " Verga kembali menarik Bel dalam pelukan. Ia mencium puncak kepala istrinya itu berulang kali.
Belinda mendongak, air hujan membasahi wajahnya. Verga tidak dapat membedakan mana airmata istrinya dan tetesan air hujan.
"Bibirmu ... berdarah," ucap Bel pilu, dengan jemari menyentuh sudut bibir suaminya.
"Ini tidak masalah. Ayo pulang. Kau kedinginan."
Belinda mengangguk, lalu masuk dalam rengkuhan lengan suaminya dan dibimbing berjalan kembali ke arah dimana mobil mereka diparkir. Keduanya berjalan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Ketika masih di dalam cafe, Verga berbalik dan melihat kursi Belinda sudah kosong. Hatinya mencelos. Rasa marah dan dugaan buruk melintas di otaknya bahwa ia kembali telah ditinggalkan. Verga berlari keluar dan langsung menebus hujan dengan perasaan geram. Ia menoleh ke kiri dan kanan penuh emosi. Menepis nuraninya yang mengatakan agar bersikap sabar pada istrinya itu.
Saat itulah ia melihat mantelnya yang dibuang begitu saja di atas trotoar. Di bawah cahaya lampu Verga mengenali benda tersebut dan berlari memeriksa. Rasa marahnya seketika berubah jadi rasa khawatir ketika melihat dua orang laki-laki yang dengan sengaja memberi kode dengan menunjuk mantel lalu menunjuk ke arah dalam gang dengan seringai mengerikan dan bahasa tubuh menantang.
Darah Verga serasa mengering. Tanpa pikir panjang ia berlari ke arah dua pria tersebut. Dugaannya benar, ia dihadang di mulut gang. Verga yakin, istrinya sudah dibawa ke dalam gang, tempat yang gelap dan juga basah. Tidak mendengar apapun dari dalam gang membuat Verga panik, berusaha sekuat tenaga melewati dua pria tersebut.
Verga bersyukur, tiga berandal itu kemudian memilih pergi.
Setelah sampai di dekat mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Verga mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Sepi dan senyap. Tempat ramai tersebut lengang dan sunyi. Hanya ada beberapa mobil yang terparkir di tempat itu.
Verga segera masuk ke belakang kemudi. Ia mengulurkan sekotak tisu ke arah Belinda.
"Hanya ada ini. Keringkan wajahmu. Perlu satu jam pulang ke vilamu, apakah tidak sebaiknya kita mencari hotel agar bisa berganti pakaian? Kau basah dan kedinginan.
Belinda menggeleng. "Aku baik-baik saja. Sungguh."
"Kau yakin?"
"Ya. Jalan saja."
Ketika mobil sudah melaju ke arah Bucket of Lavender dengan suara kecil dan lelah, Belinda menyuarakan keinginannya.
"Bisakah kita pulang saja?"
"Kita memang akan pulang ke vilamu."
"Bukan ke vila."
Verga menoleh, namun wajah istrinya itu menoleh ke arah kaca mobil.
"Pulang ke rumah. Rumah sebenarnya ... dimanapun itu ...." ucap Belinda dengan suara yang amat kecil.
NEXT >>>>>>>
From Author,
Hmmm, Benjamin, where are youuuu Ben?
Yuk, komen..Enaknya Ben kita apain, Hehehe
Jangan lupa like, love, bintang lima, dan votenya ya. Terima kasih banyak.
Salam. DIANAZ.