Belinda

Belinda
24. Night plan 2



Benjamin menunduk dan menatap ke kedalaman mata Daniella yang berwarna biru. Netra yang terkadang tiba-tiba hadir dalam tidurnya sejak pertemuan pertama mereka dulu. Jika harus jujur dengan diri sendiri, Ben mengakui ia ingin mengenal lebih dekat Ella sejak saat itu. Namun, hatinya yang sudah nyaman dengan kesendirian dan juga kesibukan akan bisnis keluarga dan bisnisnya sendiri membuat Ben mampu teralihkan.


Benjamin sangat menikmati acara keluarga yang digelar oleh keluarga Marchetti, karena hal itu berarti keluarga Dolores juga akan hadir. Namun sikap antipati Daniel Dolores terhadapnya membuat Benjamin menjaga jarak. Ia tahu Daniel tidak menyukainya, Ella pun kerap bersikap sebal jika mereka bertemu. Ben membuat pagar dalam hatinya agar tidak melangkahi batas itu. Mengatakan pada diri sendiri bahwa ia bukanlah tipe bagi artis terkenal tersebut.


Ketika mendengar sendiri DD mengatakan lewat bibirnya saat pesta ulang tahun Velice bahwa Ben bukan tipenya, bukan seleranya, Ben memang tertawa geli. Ia menyadari bahwa meski pagar ia bangun di sekeliling hatinya, namun perasaannya tetap saja ingin melompat dan berlari untuk mengejar wanita itu. Hingga saat ini, baru Daniella saja yang membuat hatinya merasa hangat dan bergetar. Pengalaman masa lalunya dengan Athena sangat jauh dibanding ini. Ia masih terlalu muda saat dengan Athena dulu, dan wanita itu selalu bersikap manja dan memancingnya dengan sentuhan. Darah mudanya memang selalu mendidih jika sedang berciuman dengan Athena, pengaruh hormon yang membuat gairahnya membara ia salah artikan dengan cinta. Ben bersyukur ayahnya menyadarkan otak dan pikirannya sebelum terlambat. Meskipun dengan cara sangat ekstrim khas Antolini.


Sekarang, menatap mata biru yang sedang mendongak melihat ke arahnya. Ben merasakan perasaan yang sangat kuat untuk melindungi wanita itu, membuatnya merasa aman, sekaligus menjadikannya hanya milik dirinya sendiri.


Hatinya tergetar hanya karena wanita itu menyentuhnya. Degup jantungnya terasa meningkat, Ben sangat ingin merasakan lagi manisnya bibir Ella, namun pikirannya selalu mengingatkan agar ia melakukan semuanya secara perlahan. Sampai Ella menyadari bagaimana perasaan Ben dan semoga Tuhan menolong, Ella memiliki perasaan yang sama.


Benjamin berkedip ketika melihat wajah di hadapannya bergerak naik. Ia begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak memperhatikan sorot mata Daniella. Sekarang wajah wanita itu begitu dekat. Kedua lengannya sudah bertumpu di kedua bahu Benjamin.


"Apa kau tidak bisa memelukku, Ben?"


Ella menggerakkan tangannya dari bahu hingga melingkari leher Benjamin, lalu ia mendekatkan bibirnya sampai ke bawah bibir Benjamin.


"Entah kenapa, aku ingin melakukan ini lagi padamu ... kau boleh tidak percaya ... tapi aku tidak pernah mau mencium pria lebih dulu."


Daniella mengawali ciumannya dengan kecupan pelan di bibir, lalu ia bergerak menelusuri bibir Benjamin dan langsung teringat akan aroma mint yang kemarin ia rasakan saat mencium Ben di Mansion Evander. Ella merasakan hatinya membuncah ketika Benjamin membuka bibirnya, ia segera mengambil kesempatan menelusuri lebih dalam dengan bibir dan lidah.


Merasa kehabisan napas, Ella mengakhiri ciuman dengan kecupan yang lama sebelum akhirnya menjauhkan wajahnya.


Merasa tidak dibalas dan tidak ada respon, Sorot mata Ella menatap sedih ke wajah Ben. Kening pria itu berkerut, ia seperti sedang berusaha mengatur napas.


"Aku klien yang merepotkan bukan? Maaf ...." Ella baru saja akan menurunkan lengannya dari bahu dan leher Benjamin ketika satu gerakan membuat tubuhnya terkurung dalam pelukan pria itu.


"Aku seorang pria Daniella ... pria yang menganggap kau sangat cantik dan menarik."


Sorot mata Daniella mulai berbinar mendengar ucapan yang dikatakan dengan nada serak oleh Ben.


"Jangan menggodaku, Sayang. Aku sedang berusaha bersikap terhormat ... jika menuruti perasaanku, maka aku akan balas menciummu sampai kehabisan napas."


Ella merasakan hatinya berdendang mendengar panggilan sayang dari bibir Benjamin.


Dengan berani Ella kembali mengalungkan lengannya ke leher Ben.


"Aku hanya ingin kau balas menciumku ..."


Ucapan mendayu dengan suara amat kecil di telinganya tersebut meruntuhkan pertahanan Benjamin. Ia mengulurkan tangan dan memegang dagu Ella, lalu menelusuri bibir bawah Ella dengan jempol tangan.


Ditatap demikian membara dengan bibir dielus penuh kelembutan membuat perasaan Ella campur aduk. Ia merasa panas, sekaligus dingin melihat sorot mata Benjamin. Merasa bersemangat sekaligus lemas, terutama kedua kakinya.


Benjamin mengeratkan pelukan tangan kirinya di pinggang Ella, lalu tangan kanannya berpindah dari bibir ke belakang leher wanita itu.


Telinga Ella terasa berdengung ketika bibir Benjamin mendarat ke atas bibirnya, kecupan dan pagutann setelah itu membuat Ella semakin ingin mendekatkan diri pada sosok Benjamin, mereka berpelukan sambil berciuman. Belaian lidah dibalas lidah, kecupan dibalas kecupan, sampai napas keduanya bagai tersedot habis, namun keinginan untuk saling menyentuh tak kunjung reda. Ella merasakan rasa panas dan keinginan yang dulu agak memalukan yang muncul di sudut hatinya ketika melihat sosok bagian atas tubuh Ben yang tanpa pakaian. Ia ingin merasakan membelai dada pria itu dengan jemarinya. Ella ingat ia butuh sekuat tenaga menahan semua ekspresi terkejut ketika menyuruh Ben mengganti kemeja sesuai keinginan Ella. Saat itu Ella berjanji, ia tidak akan mau memancing Ben membuka pakaiannya lagi. Karena hal itu berbahaya untuk jantung Ella.


Benjamin merasakan jari-jari lembut menyelinap lewat bahan halus kain kemejanya. Ben tidak menyadari bahwa satu kancing dari kemeja itu sudah terbuka dan tangan Ella leluasa masuk ke baliknya.


"DD ...."Ben melepas pagutan bibir mereka, ia menelan ludah, ia sampai tidak mengenali suaranya sendiri.


Ciuman yang berakhir tiba-tiba itu membuat Ella limbung, Ben segera mengeratkan kembali pelukannya.


"Kau butuh pelukan bukan? Aku sudah memelukmu, aku juga sudah membalas ciumanmu. Kita harus berhenti, DD ... sekarang tenanglah ...."


Akhir kalimat Ben disambung dengan ketukan di pintu. Suara Bernie terdengar setelah ketukan.


"Tuan Antolini!? Daniella Sayang? Aku boleh masuk!?" seru Bernie.


"Halooo? Ada apa? Ella?"


"Berikan pakaian ganti DD, Bern," ucap Benjamin.


Bernie mengangkat tangannya yang membawa gaun dan sebuah tas make up.


"Aku tidak menyentuh barang dari sebelah. Ini kucari yang baru. Ella akan mandi dan bersiap tidur dari kamar ini."


Ella tiba-tiba mendirikan kepalanya dan menatap Ben. "Bagaimana kalau ia sudah mengintip saat ini? Ia akan heran kenapa aku masuk sudah dengan gaun tidur," bisik Ella.


Benjamin menggelengkan kepala. "Belum. Dia masih bersenang-senang di bar. Stan mengawasinya. Sekarang bersiaplah ...."


Sambil menelan ludah, Ella menganggukkan kepala.


"Ya ampun, kalian ini berbisik-bisik seolah aku tidak ada. Ada apa El?" tanya Bernie dengan bibir cemberut.


"Ia hanya ketakutan, Bern ...." Benjamin menjelaskan singkat. Mereka tidak mengatakan secara rinci rencana malam ini. Meski Bernie sepenuhnya dapat dipercaya, namun Bernie adalah pria yang suka bergosip.


"Oh, sayangku ... dipeluk oleh pria segagah Tuan Antolini memang bisa menghilangkan ketakutan sebesar apapun. Aku yakin kau merasa tenang sekarang bukan? Sayangnya pelukan itu tidak ia berikan pada semua orang," celoteh Bernie sambil meletakkan semua barang bawaannya ke atas tempat tidur.


Ella yang sudah bernapas biasa mengembuskan napas panjang dan berniat bersikap biasa dihadapan Bernie.


"Kalau dia memberikan pada semua orang, kau mau jadi salah satu yang dipeluk Bern?" tanya Ella, berusaha menghadirkan nada geli dalam suaranya.


"Apa yang-" Benjamin menaikkan kedua alis ketika melihat seringai kecil hadir di bibir Ella ia tidak bisa tidak tersenyum. Bibirnya begitu saja bergerak membentuk sebuah senyuman. Mereka berbagi senyum hingga Bernie berdecak dan mulai mengoceh kembali.


"Hih! Aku punya mata, Sayangku! Dia memberikan pelukan pada artis cantikku yang luar biasa! Tidak ada tempat untuk orang lain! Lagipula, kau kira aku pria murahan! Mau saja dipegang-pegang oleh pria lainnya!"


Daniella dan Benjamin tertawa bersama, lalu dengan saling menatap Ben menepuk pelan pipi Ella dan berpamitan.


"Bersiaplah. Aku pergi dulu."


Ella mengangguk.


"Bern!"


"Ya!?"


"Aku pergi dulu. Titip DD."


"Manis sekali ... ya, Tuan. Selama ini memang aku yang menjaganya," ejek Bernie.


Benjamin melirik sekali lagi ke wajah Ella sebelum pergi dari kamar tersebut.


NEXT >>>>>>


**********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.