Belinda

Belinda
66. Kissss me



Verga memegang jemari Belinda yang sedang mengancingkan piyama bagian atas di dadanya. Ia melihat kelelahan di mata istrinya itu. Verga tahu Belinda berusaha tampak kuat agar bisa selalu mengurusnya di rumah sakit. Tapi berhari-hari makan dan tidur di rumah sakit pastilah membuat tubuh wanita itu kelelahan.


"Bel, malam ini, pulanglah ke rumah ayahmu. Tidurlah dengan nyenyak, besok pagi kau bisa datang lagi. Kau nampak sangat lelah. Aku tidak mau kau sakit."


"Aku baik-baik saja."


Verga menggelengkan kepala. "Jangan keras kepala, Bel. Dengarkan dan tolong penuhi permintaanku."


"Tapi ...."


"Aku hanya menunggu untuk pulih. Siang malam ada di sini, kau bisa sakit, Bel."


"Aku tidur dengan baik, makan dengan teratur," bantah Belinda.


"Tidak. Meski kau tidur, tidurmu tidak berkualitas! Kau selalu terbangun ketika aku sedikit saja bergerak di atas ranjang ini. Semua alarm dalam tubuhmu menyala seolah memberitahu kalau aku membutuhkan sesuatu. Kau akan terus seperti itu bila tidur di rumah sakit. Aku mohon pulanglah, malam ini tidur di rumah. Aku akan menunggumu besok, kita bertemu lagi."


Belinda menggembungkan pipi, menatap kesal pada suaminya.


"Kau bosan melihatku ya?"


Verga tertawa geli melihat wajah istrinya.


"Jangan menertawakan aku! Seharusnya kau mengerti kalau aku itu khawatir padamu."


Verga menjentikkan jarinya ke ujung hidung Belinda, lalu menarik bahu istrinya itu agar duduk di pinggir ranjang.


"Aku tahu, tapi aku juga berhak khawatir. Tubuhmu lelah, Bel. Aku berjanji akan baik-baik saja. Lagipula kakakmu itu selalu berjaga di sini kalau malam hari. Kau bisa percaya dia akan mengurusku dengan baik," ucap Verga sambil terkekeh.


Belinda mengerutkan bibir, wajahnya seketika jadi lesu.


"Penuhi permintaan suamimu ini, lalu besok berikan wajah segar, cantik dan ceria untukku. Pulanglah ke rumah, makan, istirahat dan tidurlah yang nyenyak."


Verga mengelus bibir Belinda, sesuai harapannya, cemberut di bibir itu segera menghilang.


"Aku tidak tenang kalau tidak ada di dekatmu."


Verga tersenyum dengan mata berbinar, ia menarik belakang kepala belinda dan mendekatkan ke wajahnya hingga kening mereka beradu.


"Istriku manis sekali. Sebaiknya jangan menggodaku sekarang. Atau para perawat dan dokter di sini akan terkejut setengah mati melihat apa yang dilakukan oleh pasien mereka di atas tempat tidur rumah sakit." Verga terkekeh mendengar gurauannya sendiri.


"Ck! Memangnya apa yang bisa dilakukan orang yang sedang sakit."


Verga menaikkan sebelah alisnya. "Kau ingin tahu?" Tanyanya dengan suara menggoda. "Sudah berapa lama aku tidak bercinta dengan istriku?" Verga mengangkat jarinya dan menggerak-gerakkan satu demi satu seperti sedang menghitung.


"Kau, Tuan Verga Marchetti, belum sembuh sepenuhnya. Jadi tolong .. jangan memikirkan hal tentang bercinta dalam kondisimu ini," ucap Belinda dengan nada pura-pura marah.


Belinda melihat suaminya itu mengedipkan mata, melirik ke bawah sambil tersenyum nakal. "Tapi yang di bawah sana tidak sakit sama sekali. Kau bisa lihat kan?"


Belinda menunduk, lalu menjadi merona setelah melihat apa yang terjadi dibalik selimut suaminya. Ia segera bergerak, berniat menjauhkan diri, sentuhan dan suara suaminya itu membuat kerinduan untuk memeluk dan mencium pria itu bangkit dalam dirinya. Tapi Bel tahu dengan pasti reaksi apa yang akan ia terima bila ia melakukannya. Verga akan menginginkan lebih, dan itu tidak boleh mengingat kondisi pria itu yang belum sembuh sepenuhnya. Bagaimana kalau Bel malah membuat cidera tambahan atau penyembuhan kepala pria itu terganggu. Ia akan merasa bersalah.


"Mau kemana! Kau tidak boleh kemana-mana kecuali kau mau diantar pulang."


Verga melingkarkan lengannya ke pinggang Belinda.


"Lepaskan tanganmu. Ini tempat tidur rumah sakit. Tidak diperuntukkan untuk dua orang!"


"Ayo, Cium aku!"


"Tidak mau!"


"Ayolah ... aku berjanji tidak meminta lebih."


"Aku tidak percaya."


"Percayalah. Aku berjanji," rengek Verga, mengakhiri ucapannya dengan senyum menggoda dan kedipan sebelah mata.


"Oh kau ini!" Belinda tertawa dan menepuk pelan dada suaminya. "Aku percaya kau akan menepati janjimu, tapi aku tidak percaya pada diriku."


Verga terdiam, menatap bingung sejenak. Lalu terbahak kencang. "Ya ampun. Belindaku memang luar biasa!"


Senyum mengembang dengan sempurna di bibir Belinda ketika melihat suaminya tertawa lepas. Ia mengucap syukur di dalam hati masih diberi kesempatan untuk bersama lagi dengan pria itu. Merasa perasaannya membuncah bahagia, Belinda menatap dalam dengan sorot mata memuja.


Verga mengedipkan mata, sedikit terkejut dengan pernyataan tiba-tiba tersebut. Lalu senyum bahagia terkembang di bibirnya.


"Kemarilah." Verga menarik belakang leher belinda. Menyatukan bibir mereka dengan ciuman penuh kerinduan. Seolah kedekatan itu kurang, lengannya merengkuh bagian punggung dan kaki Belinda, lalu menaikkannya ke atas tempat tidur.


"Hentikan! Aku bisa melukaimu!"


"Tidak akan!"


"Kau masih sakit!"


"Oh, ayolah. Aku akan mati kalau kau terus menolak!"


Belinda langsung berhenti menggeliat setelah mendengar ucapan itu. Ia menangkup kedua pipi Verga. "Jangan pernah mengatakan hal itu."


"Tidak lagi, asal kau cium aku sekarang. "


"Baiklah."


Sekali lagi, keduanya saling mengecup, memagutt dan mengelus bibir pasangannya. Belinda mencium suaminya itu dengan lembut, memainkan lidahnya di di rongga mulut suaminya itu hingga ia mendengar eraangan Verga.


Belinda merasakan kalau gairah suaminya itu benar-benar bangkit. Dengan napas tersengal, ia berusaha mendorong dada Verga.


"Verga, cu-cukup. Kita tidak boleh-"


"Tetaplah di sini. Sebentar lagi ...." Verga mengeratkan pelukannya, memindahkan kecupannya ke belakang telinga dan turun ke leher istrinya.


Keduanya tidak menyadari pintu ruang perawatan yang telah dibuka seseorang. Benjamin yang terkejut melihat pemandangan di atas tempat tidur otomatis langsung menutup kembali pintu tersebut. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Dasar merepotkan! Apa mereka tidak sadar sedang berada dimana?" benjamin berbisik sambil menahan gagang pintu. Ia melirik ke kiri dan kanan lorong rumah sakit.


Bagaimana kalau seseorang datang? Perawat, dokter bisa saja tiba-tiba masuk kan?


Benjamin bergerak ke arah kursi panjang yang ada tak jauh dari pintu. Ia duduk dan bersandar dengan santai. Kedua tangannya bersedekap. Matanya mulai tertutup.


Sepertinya aku harus berjaga di sini dulu. Aku belum bisa masuk.


Kepala Benjamin kembali pada bayangan Verga yang memeluk Belinda demikian erat, ciuman penuh gairah yang keduanya bagi.


Seperti dugaanku ... kalian cocok dan serasi ....


benjamin tersenyum puas, merasa hatinya ringan dan bahagia. Beberapa saat kemudian, langkah seseorang terdengar mendatangi. Mata Benjamin langsung terbuka. Ia berniat menghentikan siapapun yang akan masuk dan mengganggu pasangan suami istri di dalam kamar.


Benjamin mengerutkan kening. Seorang pria bertubuh besar dengan rambut pirang dan wajah tampan mendatangi. Langkah kakinya terdengar keras meski pria itu masih berada di ujung lorong. Meski sudah tampak berumur, sosok pria tua itu tampak gagah dan kuat. Wajah pria itu tidak bisa dibilang ramah.


"Selamat malam, bisakah aku bertanya?" tanya pria tersebut ketika sudah berdiri tak jauh dari Benjamin.


Benjamin masih bersedekap. "Tentu," ucapnya santai. Merasa tidak perlu berdiri untuk menjawab pria tersebut.


Sikap yang dinilai kurang sopan oleh pria yang bertanya karena perbedaan usia yang terlihat jauh.


"Benarkah ini kamar perawatan Verga Marchetti?"


Benjamin tidak segera menjawab. Ia merasa pernah melihat wajah pria tersebut. Mungkin saja pria itu ingin membesuk Verga. Namun Ben merasa waktunya tidak tepat. Hari sudah larut, lagipula pasangan di dalam sana sedang melepas rindu mereka. Jadi ia memutuskan untuk menjawab tanpa berbohong.


"Maaf. Kamar ini ditempati adik perempuanku."


Wajah pria tua tersebut bingung sesaat, lalu ia mengangguk dan berpamitan. Pergi dari tempat itu.


Maaf pak tua ... lagipula kau bisa datang lagi besok. Hari sudah malam, memangnya kau tidak punya waktu lain, membesuk orang sakit malam-malam. Dasar!


NEXT >>>>>


********


From Author,


Hai hei helllo .... Makasih tetep stay di Belinda dan ngikutin ceritanya meski authornya lelet binti lambat update ya. Sayang kalian banyak-banyakkkkk... Muach.


Salam. DIANAZ.