
Belinda keluar dari kamar mandi sambil mengembuskan napas panjang. Ia melangkah gontai keluar dari kamar menuju lantai bawah.
Henry yang melihat nyonya muda itu langsung menghampiri. "Nyonya, Mrs. Adele mencari Anda."
Namun, Belinda seolah tidak mendengar, wanita itu terus berjalan hingga ia tiba ke pintu samping.
Henry berjalan pelan mengikutinya dan melihat Belinda terus melangkah hingga tiba di taman bunga yang ada di bagian sudut halaman. Beberapa pot bunga sedang mekar dengan indah. Mengira kalau nyonyanya sedang tidak ingin diganggu menikmati keindahan bunga-bunga itu, Henry akhirnya berbalik pergi dengan langkah pelan.
Belinda menahan agar matanya yang berkaca-kaca tidak melelehkan air mata. Bulan lalu ketika siklus menstruasinya tiba, ia merasa sangat sedih dan kecewa. Bulan ini terulang kembali, namun ada perasaan baru yang meliputi, seperti sebuah kecemasan atau ketakutan. Bagaimana bila akhirnya ia tidak bisa hamil.
Konsultasinya dengan dokter Tyffani terakhir kali membuat Bel memikirkan saran dari wanita itu. Tyffani menyarankan Bel datang bersama Verga. Melakukan pemeriksaan lengkap dan rinci. Kemungkinan tidak memiliki anak tidak bisa dibebankan hanya pada seorang istri, seorang suami juga harus diperiksa. Begitulah kata Tyffani.
Namun, Bel tidak bisa mngajak suaminya itu datang bersama. Apalagi menyampaikan penjelasan tentang pemeriksaan yang perlu dilakukan, perihal kesuburan adalah hal yang sensitif. Bagaimana bila salah satu dari mereka diketahui tidak subur atau mandul? Hal itu tentu akan menimbulkan sebuah jurang antara mereka. Bel tidak mau mereka saling menyalahkan.
Verga begitu sibuk dengan pekerjaannya akhir-akhir ini. Ketika pulang, pria itu tampak lelah, meski suaminya itu tentu saja tidak memperlihatkan hal tersebut pada Bel. Jadi Bel tidak mau menambah beban pikiran suaminya itu dengan hal ini.
Aku hanya bisa berdoa dan kembali berusaha ... beberapa pernikahan bahkan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan keturunan ... mungkin belum waktunya bagi kami ...
Meski berkata begitu di dalam hati, Bel tetap merasakan kesedihan menggayuti relung hatinya paling dalam.
***********
Verone menatap Verga dengan wajah sangat gembira. Berita yang dibawa oleh putranya itu membuat hatinya sangat senang.
Mereka sedang berbicara di beranda samping mansion, kesibukan Verga di perusahaan dan Verone yang jarang tidur di mansion membuat mereka jarang mengobrol bersama lagi seperti saat ini.
"Maksudmu semuanya lancar?"
"Ya, Ayah. Perusahaan kita yang mendapatkan proyek tersebut."
"Itu proyek yang besar, Nak. Evander Morone orang yang sangat selektif, dia ingin hasilnya sempurna."
"Aku tahu, Ayah. Dia masih seperti itu. Syarat pertama kerjasama ini adalah aku sendiri yang harus pergi ke sana dan melihat lokasi."
"Itu mudah."
"Ya, dia menunggu di sana."
"Berhubung mertuamu ada di kota itu, sebaiknya kau mengunjungi Belardo."
"Aku juga terpikir akan hal itu. Sepertinya aku akan menghabiskan waktu lebih dari sehari di sana. Jika agak lama, apa sebaiknya aku mengajak Bel ...."
"Itu akan baik sekali. Kulihat hubungannya dengan keluarganya tidak terlalu dekat."
Verga hanya mengangguk. Ayahnya pasti melihat bagaimana kakunya interaksi Belardo dengan keluarganya sendiri.
"Bicarakanlah dengan Belinda kalau begitu."
***********
Mendekati tempat tidur yang ada di tengah kamar, Verga menatap Belinda yang sudah tertidur. Istrinya itu pamit dari beranda samping untuk tidur lebih dulu. Awalnya mereka mengobrol bertiga, namun melihat Bel sudah beberapa kali menguap, ayahnya menyuruh Bel untuk istirahat lebih dulu.
Belinda yang nampak mengantuk tidak menolak. Ia pamit untuk masuk dan beristirahat. Yang membuat hati Verga menjadi hangat dan bahagia, istrinya itu mencium pipinya juga ayahnya dulu sebelum pergi.
Setelah melepas jubah kamar, Verga mengangkat selimut dan membaringkan diri di dekat Belinda. Ia menyelipkan lengan di bawah tubuh Bel agar bisa memeluk wanita itu.
Merasakan kehangatan di sebelahnya, Bel bergeser sendiri dan balik memeluk suaminya.
"Kau bangun?" tanya Verga sambil menarik selimut agar menutupi kembali tubuh mereka.
"Mmmm ...."
"Mmm? Itu bukan jawaban. Kau bangun atau tidak, hm?"
Verga merasakan kepala Belinda bergerak mendongak . "Ada apa?" tanya wanita itu, jemarinya menggosok mata dan kemudian menatap wajah Verga dengan raut mengantuk.
"Tidak ada. Ada sesuatu yang mau kuberitahukan padamu kalau kau sudah bangun."
"Tentang apa?"
"Pekerjaan."
Bel mengerutkan keningnya, ia bergeser mundur agar bisa lebih leluasa memandang Verga.
Mereka saling menatap dari atas bantal masing-masing.
"Tidak, syukurlah tidak. Malah, semuanya lancar dan baik-baik saja."
"Jadi?"
"Begini. Aku harus melakukan perjalanan bisnis. Ada seorang pengusaha meminta bertemu langsung, membicarakan bagaimana hotel yang dia inginkan itu dibangun. Dia juga ingin aku melihat langsung lokasi tersebut. Tentu saja aku dan dia sudah bertemu beberapa kali dan sudah membicarakan beberapa hal sehingga dia akhirnya mempercayakan proyek ini pada perusahaan kita. Namun, agar kepercayaannya lebih kuat, tentu saja datang ke sana dan melakukan seperti yang dia ingin adalah hal penting yang-"
Tawa Belinda terdengar geli sehingga ucapan Verga terputus. "Kenapa kau malah tertawa?"
"Kau tidak perlu menjelaskan detailnya padaku, Verga. Tentu saja aku mengerti. Kau akan pergi berapa lama?"
"Itu ... mungkin tiga hari, lima hari ...." Verga menaikkan bahunya sebelum melanjutkan, "belum dapat kupastikan."
Seketika senyum Bel menghilang. "Itu agak lama."
"Karena itu aku mau membicarakannya denganmu. Bila pergi berhari-hari, aku akan sangat merindukanmu. Mana mungkin aku tahan tidak melihat istriku ini meski hanya satu hari." Verga mengulurkan tangannya mengelus pipi Belinda sambil tersenyum menggoda.
Senyum Belinda muncul lagi, ia menangkap tangan Verga yang masih mengelus pipinya dan mencium telapak tangan tersebut. "Kau merayuku ya."
"Semacam itu ... apakah aku berhasil?" Verga tertawa kecil melihat Bel berusaha menggigit jemarinya. "Aku menawarkan kau ikut denganku."
Belinda menggenggam tangan Verga dan meletakkan di tengah ranjang, tepat di tengah-tengah mereka.
"Tawaran yang menggoda, tentu saja aku mau."
"Jangan mengucapkan persetujuan dulu sebelum kau tahu kemana kita akan pergi."
"Aku tetap akan pergi. Bila kita ke sana bersama tentu tidak ada yang akan membuatku mundur."
"Kau yakin?"
Belinda menganggukkan kepalanya.
"Evander Morone menungguku di Copedam Land."
Mata Belinda terlihat terkejut ketika Verga menyebutkan nama tempat tersebut.
"Itu ...."
"Ya. Tanah bukit berbatu di pinggir laut, ada bagian yang masih merupakan hutan hijau juga. Evander akan membangun hotelnya di sana. Copedam ada di kota kelahiranmu, Bel ...."
Verga melihat Belinda menelan ludah.
"Aku tidak akan memaksa jika kau tidak jadi ikut. Kita akan bertemu lagi setelah pekerjaanku di sana selesai."
Belinda menurut ketika lengan Verga kembali menariknya ke dalam pelukan.
"Aku hanya akan pergi beberapa hari. Juan akan ikut denganku. Baik-baiklah di rumah. Ayah pasti tidak akan menginap di Marigold kalau aku sedang pergi. Ia akan ada di rumah dan menemanimu hingga kau tidak akan sendirian."
Belinda menghirup aroma tubuh suaminya, ia berpikir tentang program kehamilan yang ia rencanakan. Pekerjaaan Verga menyita sebagian besar waktu pria itu. Ia hanya dapat menghabiskan waktu berdua jika di malam hari atau jika ia datang ke kantor untuk mengantarkan makan siang pria itu.
Jika ia tidak ikut, maka waktu masa suburnya yang paling potensial akan terlewati. Jika menghitung siklus haidnya selama 8 bulan terakhir, maka sebelumnya siklus Bel lumayan teratur, kecuali di bulan setelah ia menikah. Ia memiliki siklus 28 hari. Yang berarti sebaiknya ia berhubungan intim di hari 12, 13, atau 14 setelah hari pertama haidnya tiba.
Memikirkan itu, keputusan Belinda langsung terbit.
"Aku tetap akan ikut. Tapi bisakah kita menginap di hotel saja?"
Verga mengecup puncak kepala Bel. "Kau yakin?"
Belinda mengangguk.
"Bagus, aku senang. Bila itu yang kau inginkan, maka kita akan menginap di hotel, tapi kita tetap harus datang ke Mansion ayahmu. Aku menantunya, tidak setiap hari aku datang ke kota itu, jadi kita tentu harus mengunjunginya."
NEXT >>>>>>
***********
From Author,
Terima kasih yang udah dukung BelVer, jangan lupa klik like bab ini juga, komentar, love, rate bintang lima dan vote ya.
Sebelumnya author ucapin terimakasih.
Salam. DIANAZ.