
Makan malam di keluarga Antolini baru saja selesai. Belardo belum beranjak dari kepala meja. Ia melirik satu demi satu anggota keluarganya yang masih duduk di kursi masing-masing.
Di sebelah kanan, Benjamin dalam setelan kemeja dan celana panjang serba hitam. Rambutnya disisir rapi ke arah belakang memperlihatkan keningnya. Ia diam termangu menatap gelas kristal di atas meja.
Di sebelah kiri Belardo, duduk Maurice yang sedang menoleh ke arah tempat duduk di sebelah kirinya. Melihat Alana yang sedang berbicara. Gadis itu mengucapkan setiap kata dari bibirnya seperti sedang berpidato. Hal rutin yang selalu dilakukan Alana atas perintah Belardo. Melaporkan bagaimana perkembangan studi, masalah atau kendala dalam kuliahnya, maupun harinya ataupun kebutuhan-kebutuhannya.
Keluarga Antolini berkumpul satu minggu sekali untuk makan malam. Belardo , Maurice dan Alana selalu makan bersama karena tinggal satu mansion. Tapi Benjamin tinggal sendiri di apartemen. Meski sudah menetap di Copedam, ia memilih tinggal di apartemen miliknya sendiri.
Sudah lebih dari satu tahun satu kursi yang dulu selalu diduduki oleh Athena kosong. Beberapa saat sebelum tindakan angioplasti pada Belardo, wanita itu mengajukan tuntutan cerai. Proses itu berjalan tanpa ribut-ribut dan tanpa banyak drama. Tidak ada yang tahu kesepakatan apa yang terjadi antara Belardo dan Athena. Yang keluarganya ketahui hanyalah bahwa Athena mengajukan tuntutan cerai dan Belardo mengabulkannya.
Maurice dan Alana sangat yakin kalau Athena tidak pergi dengan tangan kosong. Wanita itu pasti mendapatkan bagian harta yang dapat menghidupinya dengan layak meski sudah berpisah dari Belardo. Yang Maurice kecewakan adalah beberapa set perhiasan keluarga yang luar biasa mahal dan glamour ikut pergi bersama Athena. Perhiasan milik Belardo yang Maurice harap menjadi milik Alana suatu hari nanti, meski mungkin tidak seluruhnya karena Belardo pasti memberikannya pada Belinda.
"Jadi semuanya lancar, Lana." Belardo menganggukkan kepala, tampak puas atas penjelasan Alana.
"Ya, Ayah."
Belardo mengalihkan tatapan pada Benjamin. "Kau, kutebak kau merasa tidak perlu membicarakan harimu, atau pekerjaanmu," ucap Belardo pada Ben.
"Aku senang Ayah sudah tahu. Jadi kita bisa lewati saja bagian itu."
Belardo masih menatap Ben. Membuat putranya itu mengembuskan napas panjang. "Jika ada sesuatu yang tidak beres pada perusahaan, aku pasti memberitahumu, Ayah."
"Kau memberhentikan Mathew. Kenapa tidak memberitahuku?"
Benjamin tahu suatu saat ayahnya akan menanyakan perihal Matthew. Jadi ia sudah bersiap dengan jawabannya. "Karena kau pasti tidak akan setuju. Kau akan berdalih Matt melakukan itu untuk keluarganya. Kau dipengaruhi perasaan pribadi karena Matthew adalah putra temanmu yang telah tiada. Tapi pria itu sudah mengambil banyak dari apa yang bukan miliknya. Sudah cukup. Dia mencuri dari kita untuk memenuhi kegemarannya atas minuman keras. Keluarganya tidak diurus sama sekali, Ayah. Jadi aku memecat orang itu. Aku berjanji keluarganya akan diurus dengan baik."
"Putrinya baru berusia tiga tahun, Ben."
"Aku tahu."
"Matthew akan melampiaskan kemarahan pada istri dan putrinya jika ia tidak mendapatkan minuman."
"Jika ia bisa menemukan mereka."
Belardo menaikkan alisnya. "Maksudmu?"
Benjamin menatap Alana dan Maurice yang melihat ke arahnya. Keduanya menyimak tanpa menyela. Namun, Ben tidak berniat membicarakan apa yang telah ia lakukan di depan ibu dan anak itu.
"Kau sudah menyerahkan semuanya ke tanganku, Ayah. Kuharap kau jangan mempertanyakan keputusanku."
"Aku hanya ingin tahu, Ben. Apakah mereka diurus dengan baik?"
"Kau bisa yakin tentang hal itu."
Maurice melirik suaminya, menilai suasana hati pria itu sebelum ikut berbicara.
"Istri Matthew ... apakah dia wanita berambut pirang yang pernah datang kemari membawa anak kecil yang juga berambut pirang itu, Sayang?"
Belardo mengganggukkan kepala ke arah Maurice.
"Ah ... dia ... sangat cantik," imbuh Maurice. Ia mengalihkan tatapan ke arah Benjamin. Sesuai dugaannya, tidak ada ekspresi apapun yang bisa memperlihatkan apa perasaan Ben terhadap komentarnya barusan.
"Gaby datang mencarimu, Ayah?" Benjamin menoleh ke arah ayahnya.
Semua orang tidak berkomentar selama beberapa detik. Menyadari Benjamin menyebut Gaby pada Gabrielle istri Matthew. Benjamin menyebut nama kecil wanita itu.
"Ya, dia datang, tapi tepatnya dia bukan mencariku ...."
"Apa yang diinginkannya?"
"Dia mencarimu, Ben," ucap Maurice.
Benjamin mengangguk. "Aku memang mengatakan dia boleh menemuiku jika butuh bantuan. Tapi sekarang semuanya sudah aman."
Maurice tampak ingin kembali berkomentar, namun kepala pelayan datang menuju meja makan membawa sebuah ponsel yang terus berdering.
"Tuan Benjamin. Ponsel Anda. Tuan Verga menelpon."
Benjamin mengambil ponsel yang diulurkan kepala pelayan, lalu segera menerima panggilan Verga.
"Halo, Verga."
Ben diam dan mendengarkan sapaannya dibalas, lalu Verga langsung pada maksud tujuannya menelepon.
"Tunggu. Verga, aku akan matikan dulu teleponnya. Kami baru selesai makan malam. Aku akan menghubungimu lagi," ucap Benjamin. Setelah mendengar jawaban Verga, Ben mematikan panggilan tersebut.
"Maaf, Ayah, Maurice, Alana. Aku ada pekerjaan. Aku terpaksa pamit," ucap Ben sambil berdiri dari kursinya, melihat alasan tepat untuk pergi tanpa harus diinterogasi tentang Matthew lagi oleh ayahnya.
"Apakah itu Verga? Apa yang ia katakan?Ada yang terjadi di Broken Bridges?" tanya Belardo dengan nada khawatir.
"Ya. Verga telpon. Semuanya baik-baik saja, Ayah. Ada pekerjaan kecil yang mau ia bicarakan."
Benjamin menganggukkan kepala pada ayahnya sebelum pergi.
"Sisihkan waktumu, Ben. Kita perlu bicara berdua," ucap Belardo pada Punggung Benjamin yang menjauh.
"Nanti, Ayah."
Benjamin melambai tanpa menoleh. Membuat Belardo mengembuskan napas panjang.
"Aku terlalu tua untuk selalu mengkhawatirkanmu, Benjamin," desah Belardo.
Maurice segera menggenggam tangan suaminya. "Tenanglah. Aku yakin dia sudah belajar dari kasus Athena. Dia tidak akan bermain-main dengan istri orang, apalagi wanita itu sudah punya putri," ucap Maurice.
Belardo menyipitkan matanya pada Maurice. "Kenapa kau bilang begitu, Maurice? Aku tidak menyinggung tentang Gabrielle."
Maurice mendengus kecil. Tampak sengit dan merengut. "Jangan katakan kau tidak memikirkannya sama sekali. Gabrielle sangat cantik! Ben tidak pernah tampak bersama seorang wanita pun, tidak pernah digosipkan dekat dengan siapapun. Tapi sekarang, Gaby? Hahk! Gaby yang cantik jelita datang ke mansion mencarinya. Kau dengar tadi dia bilang apa? Dia yang menyuruhnya datang kalau membutuhkan sesuatu. Apa-apaan!"
Belardo tersenyum geli mendengar ocehan istrinya. "Dia sudah dewasa sekarang, aku percaya padanya. Aku tidak akan ikut campur."
"Kenapa kau ikut campur saat kasus Athena dulu?"
"Saat itu dia masih muda. Matanya buta oleh manisnya cinta. Dia pikir wanita itu menginginkan dirinya, bukan hartanya."
"Oh, jadi sekarang dia tidak muda lagi?"
Alana mengangkat gelas kristal dan memutuskan ikut bergabung dalam pembicaraan. "Ben memang sudah tua, Ibu," ucapnya sambil menyesap minuman.
Belardo terbahak mendengar celetukan Alana. Wajah kaku pria itu jadi melembut. "Aku ingin tahu bagaimana perasaan Ben jika mendengar kau mengatakan dia sudah tua, Lana."
"Dia tidak dengar, Ayah. Dia sudah pergi," ucap Alana santai.
Belardo menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap Alana tajam. "Kau, gadis kecil. Laporanmu tadi, ada yang lupa kau sampaikan bukan?"
Alana langsung terbatuk, Maurice segera mengulurkan tisu dan menepuk pelan punggungnya. "Alana! Kau kenapa!"
Alana melirik ayahnya. Pria tua itu sekarang menyipit dan menatap tajam. Kembali ke wajah arogannya yang kaku dan dingin.
Sial! Dia tahu!
*********
From Author,
Jangan nakal, Alana. Meski sudah tua, Belardo tetaplah Belardo ... hahhahaha.
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.