
Benjamin dan Verga duduk berhadapan di sebuah meja di pinggir kaca pembatas sebuah cafe yang berada di pinggir jalanan. Seorang pelayan membawa dua cangkir kopi di atas nampan dan berhenti di meja mereka.
"Kopi Anda, Tuan-tuan," ucap pelayan tersebut sambil menurunkan kopi ke atas meja.
Verga langsung mendorong tatakan berisi secangkir Americano yang diturunkan pelayan tadi ke arah Benjamin, lalu menarik cangkir berisi latte miliknya.
"Selamat menikmati," ucap pelayan tersebut sambil berlalu.
"Kenapa memilih bertemu di sini?" tanya Verga.
"Mau di kamar hotelmu lagi? Maaf saja, aku tidak mau," ucap Benjamin dengan nada mengejek. "Lagipula, tempat seperti ini tidak mungkin dikunjungi oleh teman-temanmu maupun temanku. Meski ini bukan kota tempat kita tinggal, namun teman-teman kita banyak yang berasal dari sini," tambah Benjamin.
"Aku memang tidak mau bertemu siapapun yang aku kenal. Setahu mereka aku sedang berbulan madu." Verga menyesap dan mencicipi latte miliknya, "enak ...."
Benjamin menatap cangkir kopinya, warna hitam di sana sepertinya sangat menarik hingga pria itu tidak juga mengangkat wajah.
"Jangan katakan kau gagal, Benjamin," ucap Verga.
Benjamin mengerutkan bibir. Menoleh dan memandang ke arah seberang jalan dari balik kaca. Tempat sebuah gedung teater. Ia melihat poster drama yang akan ditampilkan yang diletakkan di depan pintu masuk gedung.
"Kau mengembalikan Vivi pada Enrico hanya dalam hitungan jam." Verga mengangkat cangkirnya lagi. Ia juga menatap ke arah jalanan. Angin berhembus sedikit kencang diluar sana. Seorang gadis dengan mantel panjang tampak berjalan ke arah pintu teater, lalu topi merah miliknya melayang diterbangkan angin. Gadis itu berbalik mengejar hingga menabrak seorang gadis lain yang juga akan menuju gedung teater. Keduanya lalu mengobrol.
"Apa yang kau lihat di luar sana?" tanya Verga pada Benjamin.
"Para gadis-gadis itu ... mengingatkanku pada Belinda ...."
"Sedikitpun tidak ada petunjuk?"
Benjamin mengembuskan napas panjang. Ia mengangkat cangkir kopinya dan menyesap, lalu kembali meletakkannya di atas meja, baru kemudian ia bicara.
"Gadis merepotkan itu rupanya cukup cerdas ...."
Verga terkekeh. "Kau baru mengetahuinya? Aku sudah tahu ketika menatap pertama kali sorot mata adikmu. Bola mata Belinda seperti dua buah jendela, akan terlihat ketika ia meramu suatu rencana. Ketika kami bertemu dan mengobrol pertama kali, dia melihatku seperti sebuah jalan, sesuatu seperti berputar di otaknya ketika melihatku sebagai seorang calon suami, lalu pagi ketika ia membiusku, ia menatapku seolah mengatakan ayo Verga, minum sampai habis! Lalu tidurlah! ... sayangnya aku tidak dapat mengartikannya saat itu juga ...."
"Kasus Vivi yang menghilang dulu sangat berbeda. Begitu Enrico mengirim gambar gadis itu, aku mengecek semua perjalanan dari Desa Costra Land. Wanita itu naik kendaraan umum, mudah sekali melacaknya."
"Kau mengecek kartu adikmu?"
"Dia tidak menggunakan satu pun. Tidak ada transaksi pembayaran apapun atas nama Belinda Antolini. Rekanku juga tidak menemukan satu pun rekaman cctv di dekat penginapan di pinggir pantai tempatmu berbulan madu."
"Dia sudah mengatur segalanya."
"Jika Bel memang sudah mengatur rencana pelariannya, dia tidak akan bertindak sendiri. Aku yakin Ada yang membantunya. Aku akan menemukan orang itu."
"Caranya?"
"Kita mulai dari Siena."
"Pelayan pribadi Belinda?"
"Ya ...."
Verga mengangkat kedua bahu. Ganjalan di hati Verga semakin besar ketika mendengar Benjamin mengatakan ada yang membantu Belinda. Entah kenapa perkiraan Verga sejak awal memang begitu dan ia yakin orang itu seorang pria. Verga menepis bayangan kekasih Belinda yang tiba-tiba muncul di pikirannya.
"Maksudmu?"
"Jika dia melakukan perjalanan tanpa menggunakan fasilitas umum sama sekali, maka dia melakukannya dengan menyewa orang atau mencari jasa liar. Adikku ... tidak bisa menyetir. Jangankan menyetir, naik sepeda saja kurasa Belinda tidak bisa ...."
Verga diam, tangannya yang baru meletakkan tangkai cangkir kembali meraih benda itu dan menggenggamnya, ia menunggu Ben melanjutkan ucapan.
"Sudah hampir satu minggu, tidak ada jejak penggunaan kartu apapun. Kurasa Belinda memenuhi semua kebutuhannya dengan cara membayar langsung."
"Dia membawa uang cash ...," sambung Verga.
"Sebanyak apa? satu dompet? Satu tas kecil? Satu tas besar?" Benjamin menelan ludah, membayangkan Bel menenteng satu tas besar yang penuh berisi lembaran uang.
"Resiko dirampok di jalanan ...." Verga berkata dengan nada pelan.
"Bukan itu saja ... diperkosa ...."
"Lalu dibu-" Verga menelan ludah sebelum melanjutkan," nuh."
"Mayatnya dibuang begitu saja ...." tambah Benjamin setengah tercenung.
"Sudah berhari-hari ... pasti sudah membusuk ...."
Tiba-tiba Benjamin menepuk meja. Ia menatap marah ke arah Verga. "Hentikan ocehanmu!" serunya.
Verga mengernyit, lalu menatap berkeliling, beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. "Kau yang mulai duluan! Belinda tidak mungkin membahayakan dirinya sendiri! Jadi kendalikan pikiranmu, Benjamin," desis Verga.
Keduanya saling menatap, lalu sama-sama mengeretakkan gigi.
"Beraninya dia menentangku ... awas saja kalau ketemu," ancam Ben.
"Gadis nakal itu akan menerima ganjaran karena membuatku jadi seperti ini," desis Verga.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Wkwkwkwk, Bel ....duo ganteng ini khawatir loh sebenarnya. Yok, pulang....
Jangan lupa klik like, bintang lima, love, vote dan komentar ya. Sebelumnya author mengucapkan terima kasih.
Untuk para pembaca sekalian, mulai tanggal 6 September Belinda dan Verga ngadain Give Away. Yok ikutannnn, hadiahnya lumayan loh. caranya berikan vote sebanyak-banyaknya untuk novel Belinda. Simak pengumumannya ya.
Tuh... mayan kan, yok mulai vote untuk Belinda. Semangattt....
Salam. DIANAZ.