Belinda

Belinda
20. Another Assumption



"Kalian di sini ...." Maurice menatap Benjamin yang memegang gelas minuman. Di sebelahnya Belardo yang mengenakan jubah rumah berwarna cokelat duduk sambil memperhatikan lekat-lekat wajah putranya, keduanya duduk di beranda samping. Mereka mengangkat kepala dan menoleh ketika mendengar suara Maurice.


"Dia tidur?" tanya Belardo.


Maurice tahu yang dimaksud Belardo adalah tamu mereka.


"Aku rasa ya. Tidur nyenyak seperti bayi. Dia tidak bergerak ...." Maurice menyipit melihat Ben sambil menarik kursi dan ikut duduk.


"Semua luka dan memar di tubuhnya itu ... kau mau menjelaskan? Well ... bukan berarti aku menganggap kau yang menyebabkannya, hanya saja ...." Maurice diam ketika Benjamin menatap lekat wajahnya, namun ia tidak melihat tatapan tajam yang biasa ditujukan Benjamin untuk membungkam mulutnya agar diam.


Hmmm ... apakah itu rasa khawatir? batin Maurice.


"Apa tidak sebaiknya kau menemaninya, Maurice?" tanya Ben. Ia meletakkan gelasnya yang kosong, Belardo langsung mengisi kembali. Ben mengangkat alis sebagai reaksi tindakan ayahnya.


"Kau terlihat membutuhkannya, Ben," ucap Belardo.


Benjamin menatap lama ke arah cairan kekuningan yang ada dalam gelas. Ia tahu ayahnya dan Maurice menunggu penjelasan.


"Dia baru saja mengalami kejadian mengerikan. Kecelakaan ... mobil yang kami tumpangi terbakar ...."


"Ya, Tuhan ... penyebabnya?"


Benjamin melirik dan berpandangan dengan ayahnya. "Sedang kucari tahu ...." Ben memilih tidak menceritakan kejadian sesungguhnya.


"Apakah keluarganya sudah tahu?" tanya Maurice.


Benjamin menggeleng. "Masalahnya, DD tidak mau membuat orang tuanya khawatir. Dia tadi menelpon mereka, tapi tidak menceritakan apa yang baru saja ia alami."


Belardo menarik napas panjang, ia melirik ke arah pintu ketika mendengar suara langkah kaki dan melihat Alana yang sudah berada di dekat mereka. Gadis itu mengambil tempat di samping Maurice. Ia hanya berdiri dan ikut mendengarkan.


"Dia syok ... kembali ke hotel dan menemui kru tidak akan membuat DD tenang. Dia butuh orang-orang yang dia kenal dan akan memberikan padanya rasa aman." Benjamin menatap silih berganti tiga anggota keluarganya tersebut.


Maurice menaikkan kedua alisnya. "Dan kau menganggap tempat teraman itu adalah Mansion Antolini?"


"Apakah Mansion kita tidak aman, Maurice?" tanya Belardo.


"Tidak. Bukan begitu, Sayang. Maksudku, apakah anggapan Ben bahwa tempat ini akan menenangkan Nona Dolores sama dengan perasaan Nona Dolores sendiri? Bagaimana kalau dia maunya tidur di hotel saja?"


Benjamin menatap datar istri ayahnya tersebut. "Satu-satunya keluarga yang dikenal DD di Copedam adalah kita. Meski hanya karena ikatan pernikahan. Verga sudah meneleponku ketika DD mengabari ada pekerjaan di Copedam. Ia meminta aku sedikit mengawasi kegiatan sepupunya."


Maurice dan Belardo saling berpandangan. "Kalau Verga yang meminta. Kita tentu akan melakukannya, Ben. Tapi ... kenapa Ella butuh pengawasan?" Pertanyaan Belardo mendapat anggukan kepala dari Maurice, tanda kalau ia juga ingin tahu jawaban Benjamin.


Benjamin mengetuk meja dengan ujung jemarinya sembari berfikir apakah akan mengatakan tentang tugas yang diberikan Verga padanya.


"Tentu saja artis terkenal seperti Daniella butuh pengawasan, Ayah. Fans fanatik bisa sangat merepotkan. Mereka kadang bertindak nekad dan sedikit gila. Verga pasti khawatir pada sepupunya," ucap Alana.


Benjamin melirik Alana yang juga sedang menatap ke arahnya. Anggukan samar ia berikan pada adiknya itu sebagai ucapan terima kasih sudah memberikan jawaban atas pertanyaan ayahnya.


"Well ... kalau begitu, jangan sampai terjadi apa-apa pada Daniella, atau kita juga akan merasa tidak enak pada keluarga Dolores dan juga Marchetti. Perhatikan kebutuhannya dan jangan sampai dia merasa tidak nyaman, Maurice," ucap Belardo.


"Tentu saja, Sayang. Dengan senang hati aku melakukannya. Apalagi ini Nona Daniella Dolores! Teman-temanku akan sangat iri!"


Belardo tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat senyum antusias istrinya. Tahu pasti apa yang baru saja dipikirkan oleh wanita itu. Maurice pasti bermaksud memamerkan bahwa Daniella menginap di rumahnya.


"Aku hanya ingin dia tidak lagi ketakutan, ketika terbangun, dia tidak sendiri dan melihat orang yang dia kenal ...."


Belardo dan Maurice saling berpandangan, lalu tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Benjamin merasa tidak nyaman melihat senyum di wajah Maurice dan ayahnya. Ia segera berdiri dan berpamitan.


"Aku punya sedikit hal yang perlu dilakukan, aku pergi sebentar ... siapa yang akan menemaninya?"


"Aku saja," ucap Alana menawarkan diri.


Benjamin mengangguk. "Pastikan kau ada di dekatnya ketika ia membuka mata."


Alana hanya mengangguk, lalu menatap ketika Benjamin berlalu meninggalkan mereka.


"Belardo ... ini pertama kalinya dia membawa perempuan ke rumah ini, setelah Athena dulu ...."


Ucapan Maurice mendapatkan anggukan kepala dari Belardo. Tapi pria itu tidak mau memberikan komentar apapun, ia menyimpan dugaan dan pikirannya sendiri.


"Aku pikir Ben kita menyukai Nona Daniella ini," ucap Maurice lagi seraya pura-pura berbisik pada suaminya.


Alana mengembuskan napas panjang. "Kurasa kalau memang Ben menyukai Ella, dia tidak bertepuk sebelah tangan, Ibu."


Belardo dan Maurice langsung mendongak menatap Alana.


"Alasannya?" Belardo tampak sangat tertarik mendengar penuturan Alana.


"Sesuatu di sorot matanya ketika menatap Ben. Tentu saja ketika ia mengira tidak ada orang yang melihat."


"Dan kau melihat?"


"Ya. Jangan lupa kalau aku orang yang suka mengamati, Ayah."


Belardo tertawa. "Baiklah ... entah apa yang terjadi antara mereka, kita lihat saja nanti akhirnya. Aku tentu senang sekali jika Ben memang menyukai Daniella."


"Dia memang suka, Sayang. Kau dengar tadi? Dia memanggilnya DD. Itu panggilan khusus. Kurasa tidak lama lagi kita akan memiliki satu menantu baru," celoteh Maurice bersemangat.


"Jangan berpikir terlalu jauh, Ibu. Aku pergi dulu. Jangan sampai Nona kita bangun dan tidak ada orang yang menemaninya. Mister Benjamin akan jadi gusar."


Belardo dan Maurice hanya tersenyum mendengar perkataan Alana.


Setelah tiba di dalam kamar tempat Daniella beristirahat, Alana berdiri lama di samping tempat tidur. Ia mengamati wajah cantik Daniella yang tengah terpejam rapat.


"Kau suka kakakku bukan? Kurasa kami semua tidak keberatan kalau itu dirimu ... tapi kau harus sedikit agresif, DD...." Alana berhenti, tertawa kecil ketika menyebut nama panggilan Ben untuk Ella, "karena masa lalu pria itu sudah datang kembali ... penguasa hatinya ... dia bahkan mengizinkan wanita itu menginjakkan kaki ke lantai apartemennya, Hukh! Membuat kesal saja! Apakah orang kaku itu tidak bisa belajar untuk jatuh cinta lagi!"


Alana berputar ke sisi lain tempat tidur, lalu mengambil posisi duduk sambil bersandar pada kepala tempat tidur. Ia menoleh dan menatap Daniella sembari menarik selimut untuk menutupi kakinya.


"Jangan sampai kau bertepuk sebelah tangan ... itu menyedihkan ... membuat frustrasi ... aku tahu betul bagaimana rasanya ...."


***********


Benjamin yang sudah mengganti pakaiannya dengan warna serba hitam duduk di sebuah kursi. Ia menatap beberapa orang pria yang sudah ia hubungi dan perintahkan untuk datang.


Salah satu pria yang berdiri di sudut ruangan mengisap sebuah cerutu. Semua orang diam dan menunggu. Mereka tahu ada tugas penting jika sudah diminta datang pada jam larut dan tidak biasa ini.


Pintu terbuka dan seorang pria lagi masuk. Ia membawa beberapa kaleng bir dan segera meletakkannya ke atas meja yang ada di tengah.


"Jarang kita semua ada di sini. Kau pasti punya sesuatu yang menarik, Black. Ruangan belakang klinik ini sudah hampir berdebu."


"Kau benar, Dokter ... kukira Black sudah pensiun. Aku sedikit terkejut dia tiba-tiba menghubungi kita." Pria yang mengisap cerutu berkomentar.


Tiga pria lainnya duduk di kursi-kursi yang tersebar di sekeliling dinding ruangan.


"Aku ingin sedikit bantuan ...."


"Kau sudah mengatakannya di telepon dan sudah kusampaikan pada mereka semua," ucap sang dokter.


"Buka dan lihatlah itu." Ben menunjuk sebuah file yang ia letakkan di atas meja. "Sementara informasi yang kupunya hanya itu. Aku jadi terlalu santai karena kukira semuanya bisa dikendalikan. Tiap pergerakan orang itu aku sudah tahu selangkah di depannya ... aku keliru ...."


Bergiliran, lima pria tersebut melihat dan mengoperkan apa yang ada di dalam file tersebut pada teman-temannya.


"Tidak ada lagi menunggu dan melihat. Kali ini nyawa sudah dipertaruhkan ... aku tidak mau lengah kedua kalinya. Cari dia ...."


Pria berbadan kecil dan berkacamata dengan pembawaan santai yang duduk di salah satu kursi mulai ikut bicara. " Ada 3 orang di dalam mobil ...."


Benjamin melirik temannya yang bicara. "Benar."


"Nona Dolores. Kau. Snow ... hmmm ... kau bilang pengganggu Nona itu dan suruhannya masih ada di hotel. Stan bilang tidak ada pergerakan. Apa kau yakin pengendara SUV itu memang mengincar Nona Dolores? Maaf ... tapi aku selalu suka membuat dugaan-dugaan lain ...."


Semua orang mengernyit sambil menatap si pria kacamata bangkit berdiri dan berjalan ke meja untuk mengambil bir. Ia membuka kaleng dengan santai.


"Kalian tahu bagaimana aku, aku suka menduga kemungkinan-kemungkinan yang terjadi." pria itu menyeringai," setelah semua yang kau ceritakan tentang klienmu, daripada mengira orang ini memburu Nona Dolores, aku punya kemungkinan atau dugaan lain."


"Apa?" Ben menyipit, memegang dagunya dengan siku ditumpukan di tangan kursi. Sikap santai namun tampak penuh perhitungan.


"Bagaimana kalau sebenarnya kaulah yang diburu, Black?" Pria berkacamata mengakhiri pertanyaannya dengan tertawa, lalu ia mengangkat kaleng bir dan mulai minum sambil berbalik kembali ke kursinya.


NEXT >>>>>


********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.