Belinda

Belinda
34. Tell me what you want



Verga menarik Belinda ke arah sofa yang ada di sudut ruangan. Setelah duduk sambil tetap memeluk Belinda, sebelah tangannya merogoh ke dalam saku kemeja di balik mantel, mengeluarkan sebuah saputangan dan mulai menghapus air mata di pipi Bel.


Sedu sedan Bel sudah mereda, hanya tinggal isak kecil yang tersisa.


"Bisakah kau menghidupkan lampu-lampunya Ben? Tidak tampak apapun sebentar lagi."


Verga mendengar Benjamin bergerak dari tempatnya berdiri. "Dimana saklar lampunya, Bel?" tanya Benjamin.


Belinda menyurukkan kepalanya semakin dalam ke balik mantel Verga, namun tangannya terangkat, menunjuk satu titik yang ada di sudut lain ruangan.


Benjamin bergerak ke arah sana. Menemukan sebuah saklar lampu dan menekan hingga cahaya terang menyinari ruangan tersebut. Mata Benjamin melihat Belinda tidak bergerak di dalam rengkuhan lengan suaminya. Wajah adiknya itu tersembunyi di balik rambutnya yang berantakan.


"Beranda depan juga Ben. Anak buahmu masih di situ," ucap Verga lagi.


Benjamin berdiri diam, memandangi Verga dengan alis terangkat, menatap seringai kecil yang terbit di bibir suami adiknya itu setelah memberinya perintah.


"Dimana saklarnya, Bel?" tanya Ben dengan nada sabar.


Tanpa memperlihatkan wajahnya pada Ben, Belinda kembali mengangkat jarinya. Menunjuk satu titik di dekat pintu depan. Ben bergerak ke sana dan menghidupkan lampu bagian depan. Ia berdiri sebentar memandangi Vito dan anak buahnya yang masih berdiri tanpa bicara di beranda depan. Tangan Benjamin kemudian meraih gagang pintu.


"Bawa dia ke mobil. Tunggu di sana," perintah Benjamin pada anak buahnya.


Anak buahnya mengangguk, segera memegang Vito di masing-masing sisi, lalu menariknya agar ikut. Mereka pergi menuju mobil, menunggu di sana sesuai perintah Benjamin.


"Bagaimana menghidupkan lampu belakang?" tanya Verga dari atas puncak kepala Bel.


Belinda menunjuk lagi, kali ini ke arah belakang rumah.


"Ben, satu lagi. Di belakang," ucap Verga.


Benjamin menggeretakkan giginya, namun tetap melangkah pergi ke arah belakang.


Belinda mulai menggerakkan kepala ketika mendengar suara langkah kaki Ben. Ekor matanya melirik gerakan kakaknya itu hingga sosok Ben hilang di bagian belakang rumah, baru kemudian ia bergerak menjauh dari dada Verga.


"Dulu kau takut padanya?" tanya Verga dengan suara pelan. Ia mengulurkan saputangannya ke tangan Belinda.


Belinda mengangguk, lalu menggeleng. Jawaban yang ia sendiri kebingungan menentukan yang mana.


"Apapun yang ingin kau lakukan, Kau tidak perlu takut lagi. Kau sudah dewasa. Bisa melakukan apapun yang kau mau, Benjamin tidak bisa mengatur dan mengendalikanmu. Selama aku ada di sini, ia tidak akan dapat menyeretmu pulang bila kau tidak mau."


Belinda menoleh, hingga matanya bertatapan dengan mata Verga.


"Kau istriku, semua hal tentangmu, seharusnya akulah yang akan mengurus. Bukan lagi Benjamin."


Bola mata Belinda seolah melebar mendengar ucapan Verga. Sorot membangkang kembali melintas.


"Tapi jangan takut. Aku bukan mau mengaturmu atau mengendalikanmu seperti Benjamin. Kau akan memiliki kebebasan, pergi kemanapun kau mau tanpa ada yang melarang. Kau hanya perlu mengatakan apa yang kau inginkan kepadaku ...."


Belinda menelan ludah, ia menunduk dalam-dalam dengan kedua tangan terjalin. Verga merasa melihat seorang remaja yang sedang dimarahi. Ia menarik napas panjang. Ia perlu menjaga jarak dari istrinya, kalau tidak ia akan menarik dagu yang tertunduk tersebut dan kemudian melumatt bibir yang sudah ia bayangkan akan ia cium kembali setelah bertemu. Bayangan akan mengurung dan memberi hukuman pada Belinda terpaksa ditepis jauh-jauh, Bel akan semakin tertekan.


"Tempat ini terlihat bagus ...." Verga berdiri, melihat ke arah beranda belakang. Mengernyit memikirkan kenapa Benjamin belum kembali. Ia menoleh ke arah Bel yang masih tertunduk.


"Sekarang tidak akan ada yang melarangmu melakukan apapun. Kau wanita dewasa yang tentu saja bebas mengemukakan apapun yang ada di dalam hati, bebas melakukan apapun. Namun tetap harus memikirkan orang lain, jika tidak merasa perlu memikirkan keluargamu yang khawatir, setidaknya pikirkan pria yang tadi di depan sana ... dia bisa saja masuk rumah sakit setelah berurusan dengan kakakmu ...."


Jalinan tangan Belinda terlihat mengencang, kepalanya bergerak sedikit karena melirik ke arah pintu. Tahu pria yang dimaksud oleh Verga tadi adalah Vito.


"Siapa pria itu?" tanya Verga. Pertanyaan yang sudah menggantung di ujung lidahnya sejak tahu Ben menyandera pria tersebut.


"Vito."


"Pacarmu?" Verga merasa lidahnya jadi asam setelah menyebutkan kata itu.


Belinda menggelengkan kepala. "Sahabatku di pulau ladang jagung."


Verga mengangguk, memutuskan mengenyampingkan dulu perihal Vito. Ia melangkah meninggalkan Bel, pergi ke arah belakang mencari Benjamin. Ia menemukannya sedang berdiri di beranda belakang, memandangi sebuah lukisan taman lavender yang penuh warna ungu dengan siraman matahari sore. Lukisan yang sangat indah dengan setiap goresan yang tampak sangat hidup.


"Kenapa? Ada perintah lagi?" sindir Benjamin.


Verga terkekeh. "Kau penurut sekali tadi."


Benjamin mengembuskan napas panjang. Kedua pria itu memandang ke arah kegelapan, ke bukit lavender yang diselimuti malam yang mulai beranjak.


"Pernahkah kau bertanya apa yang dia inginkan, Ben?" tanya Verga, melirik ke arah siluet wajah Ben yang diselimuti bayang-bayang.


"Tidak."


"Kau benar-benar ... menyingkirkannya?"


Benjamin membuang muka, menoleh ke arah lukisan Belinda.


"Lukisannya terlihat sangat hidup ... terlihat berbeda ... kurasa dia benar-benar menikmati hari-harinya ketika melarikan diri."


Verga tidak berkomentar. Ia tahu Benjamin menghindar menjawab pertanyaannya.


"Sudah malam ... aku akan menginap di sini. "


Verga mengambil ponsel, menelepon Juan dan memerintahkan asistennya itu untuk pergi mencari satu rumah sewa untuk dirinya sendiri.


"Kau sudah makan malam?"


Benjamin menggeleng.


"Jika aku tidak membuntutimu, kapan tepatnya kau akan memberitahukan kalau kau sudah menemukannya?"


Pertanyaan Verga hanya disambut keheningan. Menyadari ia tidak akan mendapatkan jawaban, Verga berbalik dan kembali ke ruang depan. Belinda masih duduk dengan punggung bersandar ke sofa. Matanya langsung menatap ketika langkah Verga mendatangi.


"Kau sudah makan, Bel?"


Belinda menggelengkan kepalanya.


"Kau bisa menyiapkan makan malam?"


"Kalaupun bisa, kurasa ia hanya mampu membuatkan roti isi dengan air putih untukmu." Benjamin yang baru datang dari arah belakang menjawab pertanyaan Verga dengan nada mengejek.


Verga menahan seringai ketika melihat mata istrinya menatap Benjamin dengan sorot tajam, sedangkan Benjamin menatapnya dengan mata menantang.


"Kenapa melotot?"


Belinda perlahan berdiri, satu tangannya meraih bantalan sofa, lalu sekuat tenaga ia melempar benda tersebut ke wajah Benjamin.


"Aku buatkan sesuai keinginanmu!" seru Belinda sambil berderap melangkah menuju dapur.


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Benarkah Bel dibiarkan lolos begitu saja? tanpa sanksi? Oleh Verga, juga oleh Benjamin? ikuti terus kisah Belbel ya....


Tekan like, love, bintang lima, vote dan komentar ya. Sebelumnya otor ucapkan terima kasih.


Yookkk ikut Give Away dari Belinda. Semangat Voteeeee....



Terima kasih semuanya.


Salam. DIANAZ.