Belinda

Belinda
10. Challenge



"Berhubung Snow dan Stan adalah anak buahmu meski secara tidak langsung, bagaimana kalau kau ikut berpartisipasi? Kau bos mereka bukan?"


"Partisipasi? Maksudmu?"


"Kau ... jadi pengawal pribadi selama satu minggu saja. Kita lihat, apa benar aku jadi resah seperti yang kau katakan," bisik Ella langsung ke telinga Benjamin sambil sedikit berjinjit. Nada suaranya sengaja dibuat mendayu merayu.


Benjamin tertawa, terdengar kering dan sinis "Aku punya pekerjaan lain, aku sibuk, Nona."


"Ah ... sayang sekali ... jangan bilang kau takut kalau aku benar dan kau salah? Kalau sebenarnya kaulah yang takut jadi resah bila berdekatan denganku?" tanya Ella sambil menurunkan telapak tangannya dari bahu ke arah kelepak jas Benjamin, bergerak pelan dan sangat perlahan, seolah sedang membelai sekaligus merapikan jas tersebut.


Benjamin menangkap kedua tangan Ella yang masih berada di kelepak jasnya. "Meski aku tidak perlu membuktikan apapun, aku akan memikirkan tantanganmu." Ben menurunkan tangan Ella masing-masing di samping tubuh wanita itu.


"Saranku padamu, DD. Jangan coba menggoda pria bila kau tidak siap menerima akibat selanjutnya. Surat mesum yang kau terima mungkin saja efek lanjutan dari sikapmu ini. Tidak semua pria punya sikap terhormat. Kebanyakan akan melihat sikapmu sebagai undangan ... kau kira apa yang kau dapat jika kau membelai pria seperti tadi di tempat sepi? Hanya diperlukan satu gerakan untuk membekap mulutmu sekaligus menaikkan rok gaunmu."


"Bos ...." Snow yang mendengar kalimat Ben telah berbalik dan menatap mantan atasannya itu dengan tatapan menegur. Wajah Ella terlihat membeku mendengar kata-kata kasar tersebut. Ella merasa secara tidak langsung Benjamin mengatainya sebagai wanita murahan.


"Kita bicara nanti, Snow. Aku pergi."


Ella menelan ludah melihat punggung Benjamin yang menjauh. Ia bukanlah tipe orang yang mengambil hati kata-kata orang lain, apalagi yang bermaksud menjatuhkannya. ia tidak mudah dibuat tersinggung. Namun kali ini, ia sungguh-sungguh mengambil hati ucapan pria itu.


"Mau kuambilkan minuman?"


"Uh?"


Jawaban Ella yang seperti orang bingung membuat Snow mengembuskan napas panjang. " Jangan terlalu diambil hati. Pria itu akan lupa apa yang ia katakan hanya dalam dua menit. Kau tidak harus memikirkan ucapannya."


"Mmm ...."


Snow memandang berkeliling, berharap melihat Stanley. Namun tidak terkabul.


"Begini saja ... kuizinkan kau memakaikan dasinya," ucap Snow sambil mengerutkan hidung.


"Dasi? Benarkah?"


"Ya."


"Sungguh?"


"Ya. Ini. pasang." Snow mengulurkan ujung dasi.


"Lalu temani aku berdansa?"


Dengan satu embusan napas kalah, Snow mengangguk. "Baiklah ...."


Daniella tersenyum. Tidak menyangka pria berbadan besar dan berwajah dingin tersebut mau mengalah. Ia bahkan menebak bahwa Snow mungkin saja berusaha menghiburnya karena ucapan kasar Benjamin tadi.


*********


Miranda Cardy melirik ke kiri dan ke kanan. Melihat tidak ada seorang pun kru di dalam ruang ganti, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong gaun seragam pelayan yang ia kenakan. Kostum adegan selanjutnya dari film yang ia perankan itu memiliki sebuah kantong yang lumayan besar di bagian depan.


"Nah, pangeran kodok. Nona Daniella pasti akan menyukaimu," bisiknya sambil terkikik geli.


Miranda memasukkan sesuatu ke dalam tas pribadi milik Daniella. Setelah melirik ke seluruh ruangan dan memastikan tidak ada yang melihat, Miranda berbalik pergi dari tempat tersebut.


Setelah pintu tertutup, Stanley keluar perlahan dari balik deretan kostum jubah. Ia mendekat ke arah tas Daniella dan memeriksa. Ketika kancing tas tersebut terbuka, seekor kodok melompat keluar, hampir saja mengenai wajah Stanley.


"Ya ampun ... benar-benar pangeran kodok. Selera humor temanmu agak aneh, Miss Ella ...." bisik Stanley. Membayangkan bagaimana ekspresi wajah Daniella andai tadi ia yang membuka tas itu dan benar-benar dicium oleh seekor kodok.


Malam harinya, saat waktu istirahat menjelang. Semua orang sibuk membereskan pekerjaan masing-masing. Snow menyipit ketika melihat asisten sutradara mendekati Ella. Snow tidak menyukai pria itu. Sesuatu tentang tatapan pria itu terasa menjijikkan. Sesekali Snow menangkap lirikan cabul dari pria itu yang diarahkan ke bagian bokong Daniella.


Menyadari Snow di belakang Daniella, Hector sang asisten sutradara mendengus.


"Dasar Anjin* penjaga," desis Hector.


"Apa yang kau katakan?" Ella mengerutkan kening, melihat tatapan sinis Hector yang diarahkan pada Snow.


"Tidak, Ella. Hanya bicara pada dia ... bukan apa-apa."


"Ada yang penting? Karena aku akan kembali ke kamarku. Sudah waktunya istirahat."


"Ah ... tidak mau bersantai dulu? Minum di bawah sinar bintang di taman? Miranda dan Scott sudah ke sana," ucap Hector. membicarakan pemeran utama wanita dan pria di film mereka.


"Tidak. Maaf. Aku lelah."


"Sudah kuduga ... ucapan mereka sepertinya benar," ucap Hector penuh sindiran, namun bibirnya tersenyum.


"Maaf?" Ella mengerutkan kening, menatap pria itu dengan wajah tidak sabar. Ia sangat lelah, butuh mandi, memakai gaun tidur yang nyaman lalu berbaring dan terlelap.


"Mereka bilang kau ...." Hector terdengar ragu-ragu. Namun Snow merasa pria itu sengaja melakukannya.


"Katakan saja. Aku tidak punya waktu," ucap Ella ketus.


"Kau artis sombong yang sama sekali tidak ramah. Kau mengabaikan mereka karena merasa kau lebih tinggi dibanding mereka ... well ... itulah yang mereka katakan ...."


Ella tersenyum manis, menatap sinis pada Hector. " Dengar Hector. Aku tidak punya masalah denganmu. Apapun yang mereka pikirkan atau kau pikirkan tentang aku bukan urusanku, jadi menyingkirlah!"


Ella baru akan melangkah ketika Hector menyerahkan sepucuk surat. Tertera dengan tulisan rangkai yang rapi dengan tinta emas. tulisan 'Untuk Nona Dolores' di tengah kertas.


Ella berdiri kaku sambil menatap ngeri. Snow lah yang akhirnya mengambil surat tersebut.


"Siapa yang memberikannya padamu?"


Hector memandang berkeliling. "Kurasa dia sudah pergi ... seorang pelayan wanita ... dia menyapaku dan meminta aku memberikannya untuk Daniella beberapa waktu yang lalu. Karena syuting masih berjalan, aku simpan dulu ...." Hector menatap ekspresi Snow yang langsung merobek amplop dan membaca isi surat. Ia mendapatkan alasan berbicara dan mendekati Daniella ketika pelayan tersebut memintanya memberikan surat itu. Namun kehadiran Snow membuat niatnya untuk berbicara akrab dan dekat dengan artis tersebut diluar konteks pekerjaan jadi tidak mungkin.


Snow merasa tidak mungkin mendapatkan informasi lain. Ia juga perlu menyelidiki apakah perkataan Hector tidak bohong. Atau malah mungkin pria itu membuat surat tersebut, tidak ada yang tahu.


"Ayo, Snow. Bernie sudah di sana. Kita pergi," ajak Daniella.


Hector menggeretakkan gigi ketika Daniella berlalu bersama Snow tanpa mengucapkan apapun, bahkan tidak menoleh sedikit pun.


Sosok Daniella bagi Hector sangat menggoda. Ia berusaha keras agar dapat menjadi asisten sutradara di film terbaru garapan Patrick Edmundo tersebut. Bukan karena pria itu sutradara terkenal ... namun kerena berharap dapat mengenal Daniella.


Wanita itu bisa bersikap manis dan manja pada pria yang ia inginkan. Hector sudah melihat bagaimana cara Daniella meletakkan tangan di pundak seorang tamu pria saat pesta penyambutan mereka dua minggu lalu. Daniella bahkan berjinjit dan berbisik di telinga pria itu. Hector membayangkan itu bisikan penuh undangan. Setelahnya, Daniella bahkan mengikatkan dasi ke leher Snow. Pengawal pribadi itu sungguh sangat beruntung.


Aku tidak kalah gagah dengan pria di pesta penyambutan dulu ... bahkan tidak kalah dengan Scott si aktor! Aku akan memastikan kau melihatku, Ella!


NEXT >>>>>>


*******


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.