
Belinda merasa sangat malas membuka mata. Sedikit remang cahaya di balik tirai memberitahunya bahwa pagi telah menjelang. Kemarin ia masih memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur seperti biasa, karena rutinitas setiap paginya yang bangun, lalu menyambut hari sambil menunggu suaminya terjaga. Mencium pria itu dan mengucapkan selamat pagi. Jadi ia memaksa tubuhnya untuk bangkit dan melakukan kebiasaan paginya yang menyenangkan.
Namun, pagi ini rasa lesu kembali menyelubungi tubuhnya, kali ini terasa lebih berat. Bel tidak sanggup membuat matanya bertahan untuk membuka.
Sebentar lagi ... Verga juga masih tidur ... kurasa tidak apa-apa kalau aku tidur sebentar lagi ....
Dengan ucapan itu di dalam hati, Belinda bergeser meringkuk semakin dalam ke dekapan lengan suaminya.
*****
Verone melihat Verga datang sendirian ketika sarapan pagi. Ia tidak melihat menantunya melintas atau berlalu lalang seperti biasa ketika melakukan aktivitas pagi hari. Mengira Belinda sedang menunggu suaminya bersiap turun sarapan di lantai atas.
"Dimana Belinda?" tanya Verone pada putranya.
"Hari ini biarkan dia tidur, Ayah. Dia masih terpejam. Kelihatannya ia sangat lelah."
"Bel tidak pernah melewatkan sarapan. Apakah dia sakit?"
Verga menggelengkan kepala. "Aku meraba keningnya. Dia tidak demam."
"Tapi ... Bel tidak pernah terlambat bangun. Kau seharusnya memastikan apakah dia sakit atau tidak. Bukan hanya demam yang jadi pertanda. Mungkin dia sakit kepala atau sakit perut. Sedangkan kau tertidur semalam tanpa tahu kalau dia kesakitan."
"Sebelum tidur dia baik-baik saja, Ayah. Lagipula, Bel pasti membangunkan aku kalau benar ia sakit kepala atau sakit perut."
Verone tampak tidak puas atas jawaban putranya
Ia menatap ke arah anak tangga. Seolah berharap melihat Belinda sedang turun.
"Dia baik. Hanya butuh istirahat. Jadi biarkan dia tidur. Aku akan ke kantor dan sudah meminta Henry menyuruh seorang pelayan wanita memeriksa dan menjaga Bel."
"Bagus ... berbicara tentang pelayan wanita, apa Belardo pernah mengatakan padamu soal pelayan wanita bernama Sena itu?"
"Sienna, Ayah."
"Ya. Itu."
Verga menganggukkan kepalanya. "Ya. Beliau mengizinkanku jika mau mengajak Sienna kemari."
"Belardo bilang wanita itu sudah menjaga Bel sejak kecil."
Verga melirik ke arah lantai atas ketika memikirkan istrinya. "Apakah menurut Ayah kita bisa memintanya datang sekarang?"
"Aku setuju sekali. Kudengar dari Belardo. Wanita itu sudah menjaga Bel dengan sangat baik.
"Baiklah. Nanti aku akan menelepon Ayah Belardo."
Verone mengangguk puas. Di Mansion Antolini, Verone melihat tidak ada yang bisa melarang menantunya jika ingin melakukan sesuatu. Terkadang wanita itu terlihat lelah, namun terus mencari-cari kegiatan yang sebenarnya bisa dilakukan oleh staf mereka. Belinda memerlukan seorang yang bisa dengan mudah mengabaikan perintahnya dan mampu menjaga wanita itu.
Satu jam kemudian, di lantai atas, tepatnya di dalam kamar, Belinda memaksakan tubuhnya bangun. Meski terhuyung, ia melangkah secepat yang ia bisa ke kamar mandi. Ketika mencapai toilet, Belinda berlutut, lalu muntah-muntah.
"Ah ... aku mual sekali" Belinda mengelus perutnya yang terasa tidak nyaman.
Setelah selesai, Bel bangkit. Ia membasuh wajah dan mengeringkannya dengan handuk. Ketika kembali ke kamar, ia melihat jam dan mendesah sambil memandang berkeliling. Melihat kamarnya yang kosong dan merasa yakin kalau suaminya sudah pergi bekerja.
"Verga pasti sudah pergi ...." Memaksa badannya bergerak, Bel mengembuskan napas panjang dan mempersiapkan dirinya untuk turun.
**********
Dua hari kemudian, pagi Belinda tidak berjalan baik seperti yang ia mau. Bila kemarin hanya mual yang ia rasakan, maka sekarang ia merasakan kepalanya pusing dan tubuhnya terasa goyah ketika dibawa bangkit berdiri.
Setelah kembali dari toilet, ia tidak sanggup memaksa dirinya bersiap untuk beraktivitas.
"Verga pasti sudah berangkat bekerja ... beberapa hari ini aku tidak bisa mengantarnya pergi seperti biasa. Aku selalu tidur ...."
Belinda meraba perutnya, menelan air ludah yang terasa berkumpul di dalam mulut dan menahan dorongan dari lambung yang seolah mendorong isi perutnya untuk keluar.
"Tidak. Aku akan membuat semua orang khawatir kalau turun dalam keadaan seperti ini. Tidur lagi ... sebentar saja ...."
Belinda menyibak ujung selimut dan meringkuk kembali ke atas kasur. Hanya membutuhkan beberapa menit ia terlelap kembali, nyenyak tanpa mimpi hingga matahari mulai beranjak naik.
Suara langkah kaki membangunkan Belinda, lalu seseorang yang meraba keningnya membuat ia perlahan membuka mata. Awalnya ia merasa tatapannya kabur dan ia salah lihat. Bel berkedip beberapa kali.
"Sienna?"
"Ya. Ini saya, Nona ... ah, maksud saya Nyonya,"
Belinda menatap heran, bergerak untuk duduk di atas ranjang.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?"
"Tuan Verone memintaku memeriksa. Beliau khawatir."
"Maksudku bagaimana kau bisa ada di sini? Kapan kau tiba?"
"Saya tiba tadi malam. Tuan Verga meminta Tuan Belardo mengirim saya kemari."
Belinda mengusap wajahnya. Merasa lega tidak ada lagi serangan mual. Kepalanya pun tidak lagi pusing seperti tadi pagi.
Kembali Belinda merasakan Sienna meraba kening, lalu leher. Kemudian wanita itu menyibak selimut sedikit, meraja ujung tangannya.
"Anda tidak enak badan?"
"Aku baik-baik saja, Sienna. Kau bukan lagi pelayan pribadiku. Verga seharusnya tidak memintamu datang. Kau pasti repot."
"Saya akan menyiapkan air hangat di bathtub. Anda pasti ingin mandi." Sienna berlalu menuju kamar mandi, mengabaikan kata-kata Belinda.
Senyum kecil terbit di bibir Belinda, merasa tidak asing dengan sikap Sienna yang seolah tidak mendengar ucapannya. Wanita itu melakukan apa yang menurutnya baik untuk Belinda meski itu tidak disetujui.
Ketika Sienna kembali ke kamar. Bel sedang duduk di pinggir tempat tidur, ia melepas tali gaun tidurnya dengan perlahan. Segera Sienna mengambil jubah mandi dan membantu Bel melepas pakaiannya.
"Apakah Anda pusing?"
Sienna menatap Belinda sejenak, meneliti wajah majikannya, namun tidak berkomentar.
"Tapi bila aku kembali tidur dan bangun agak siang. Badanku terasa lebih baik."
Sienna mengangguk, lalu memasangkan jubah ke tubuh Belinda.
"Aku akan mandi sendiri. Kau tidak usah membantuku."
Sienna mengangguk lagi, menunggu Bel pergi dan masuk ke kamar mandi. Baru ia melangkah meninggalkan kamar. Ia segera pergi ke bagian dapur mencari Mrs. Adele. Mereka sudah berkenalan ketika ia tiba tadi malam.
"Sienna. Bagaimana keadaan Nyonya?" tanya Adele begitu melihat Sienna muncul."
"Adele ... sudah berapa hari dia begitu?"
"Dia sudah tampak lesu dan tidak enak badan beberapa minggu lalu, namun sedikit parah satu minggu ini. Maksudku, dia tidak bisa bangun di pagi hari, tampak lesu dan sakit."
"Sakit ... bisa kau jelaskan bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan kalau dia sakit, Adele?"
"Hmmm ... Nyonya Belinda sangat suka menyiapkan sarapan atau makan malam. Namun sejak beberapa minggu lalu, ia seperti memaksakan diri untuk berada di dapur. Ia terlihat menahan mual bila mencium bau-bauan tertentu, terlihat sangat lemas, kadang memijit keningnya tanpa sadar. Tapi tidak berlangsung lama ...."
"Dia tidak mengeluhkan apapun padamu atau siapapun di rumah ini?
Adele Menggeleng.
"Pada pelayan wanita yang membantunya?"
"Tidak pernah. Nyonya tidak memiliki seorang pelayan pribadi. Dia hanya memanggil para gadis itu ketika butuh bantuan saja dan itu sangat jarang ... Tuan Verga dan Tuan Verone jadi sangat khawatir. Namun Nyonya Bel selalu membantah, mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Mereka melakukan hal yang tepat dengan memintamu datang, Sienna. "
"Dia membaik menjelang siang bukan?"
"Ya ...."
"Adele ... para gadis itu ... apakah ada yang tahu mengenai siklus haidnya? Maksudku ... apakah dia sudah mendapatkannya bulan ini?"
Adele terdiam menatap Sienna. Keterkejutan melintas di sorot matanya.
"Ya ampun ... aku tidak terpikir hingga ke sana ... Sienna, apakah menurutmu ...."
Sienna mengangkat kedua bahunya. "Aku hanya menebak. Aku sudah sering melihat ketika berada di pulau ladang jagung. Beberapa calon ibu mengalami hal yang sama ...."
Sienna dan Adele saling berpandangan, lalu keduanya sama-sama tersenyum lebar.
"Semoga dugaan kita benar. Sebaiknya kita mengatakannya pada Tuan Verga."
Sienna mengangguk. "Kalaupun kita salah, Nyonya tetap harus dibawa periksa ke dokter. Jika ada yang salah dan dia memang benar sedang sakit, dia harus berobat bukan?"
"Kau benar, Sienna."
"Aku akan kembali ke atas, Adele. Kurasa dia sudah selesai mandi ... aku akan menanyakan kapan dia terakhir menstruasi."
"Ya-ya ... pergilah, Sienna. Nanti kita bicara lagi."
Setelah berbagi senyuman. Sienna kembali melangkah menuju lantai atas. Ia membuka pintu dan menemukan kamar masih kosong. Pintu kamar mandi masih tertutup rapat, Sienna mengetuk, lalu mencoba membuka pintu. Terkunci dari dalam.
"Nyonya? Bel?"
Sienna memutuskan menyiapkan pakaian majikannya, setelah selesai ia kembali mengetuk pintu.
"Nyonya? Apakah belum selesai?"
Tidak ada jawaban dari dalam. Sienna berpikir tentang rasa mual yang dialami oleh Belinda. Sepiring biskuit dan teh hangat pasti akan membuat perut wanita itu terasa lebih baik. Ia berbalik dan melangkah dengan hati gembira. Memikirkan tentang berita yang akan ia sampaikan pada Tuan Belardo jika memang dugaan tentang kehamilan Belinda sudah dipastikan. Keluarga Antolini sudah dipastikan akan sangat bahagia.
Adele menyambut Sienna dengan wajah berbinar ketika mendapati wanita itu kembali ke dapur.
"Bagaimana?"
"Belum kutanyakan. Dia masih di kamar mandi."
"Kadang, Nyonya memang suka berendam lama."
"Aku tahu," ucap Sienna sambil tersenyum,"bisakah kau menyiapkan biskuit dan teh panas nanti ? Aku akan membawanya ke kamar."
"Ah ... itu ide yang sangat bagus!"
Adele segera menyiapkan apa yang Sienna minta. Setelah itu keduanya mengobrol untuk menghabiskan waktu sebelum Sienna kembali ke kamar Belinda.
"Kurasa sudah lumayan lama Beliau mandi. Aku akan ke atas."
Sienna mengerutkan kening ketika tiba di kamar dan tidak menemukan majikannya. Ia meletakkan nampan biskuit di atas meja dan dengan cepat mengetuk pintu kamar mandi.
"Nyonya!? Nyonya!?"
Sienna mengetuk sedikit kencang. "Nyonya Bel!? Nyonya!"
Rasa panik mulai merangkak naik ketika Sienna tidak mendapatkan jawaban. Ia menggedor dan mengetuk pintu kuat-kuat.
"Bel! Belinda! Buka pintunya!" Suara Sienna sudah dikuasai kepanikan. Ia mendorong dan mendapati pintu tidak juga terbuka, Sienna berlari keluar kamar dan berteriak.
"Seseorang! Bantu aku!" jerit Sienna.
Beberapa orang yang mendengar Sienna berteriak saat menggedor pintu sudah dalam perjalanan menuju sumber kehebohan itu, namun ketika mendengar Sienna menjerit meminta bantuan, mereka segera datang dengan berlari.
"Cepatlah! Nyonya Bel! Nyonya!" teriak Sienna panik.
NEXT >>>>>>
**********