
Maurice melangkah ke ruang makan dan mengecek meja. Setelah semua sudah diatur sesuai keinginannya ia tersenyum dan mendesah puas.
Perasaan senang menguasai Maurice ketika melakukan hal-hal yang baginya penting seperti mengatur meja, dan mengurus rumah tangga. Pekerjaan itu membuat dirinya merasa sebagai Nyonya Antolini.
Langkah kaki mendekat membuat Maurice menoleh. Belardo datang bersama Benjamin.
"Semua sudah siap, Maurice?'
"Sudah Sayang. Alana sedang memanggil tamu kita."
Ketika mereka sudah menarik kursi dan duduk, Alana datang menyusul bersama Daniella. Benjamin menatap tak berkedip pada tampilan Ella. Blus santai berwarna putih gading dipadu dengan sebuah celana panjang. Wanita itu tampak percaya diri, tidak tampak ragu atau asing di ruang makan keluarga Antolini.
Ben berdiri ketika Ella tiba dan segera menarik sebuah kursi di sebelahnya. Belardo dan Maurice saling berpandangan, sedangkan Alana langsung duduk di kursi di sebelah ibunya.
Sarapan pagi tersebut dimulai dengan senyum senang merekah di bibir Belardo. Baginya sikap Benjamin sedikit berubah. Putranya yang kaku menyiapkan kursi makan untuk Ella tepat di sebelahnya.
"Aku sangat berharap rumah kami membuatmu nyaman layaknya rumah sendiri, Ella." Belardo mencoba mencairkan keheningan yang sekarang tercipta di meja makannya.
"Tentu, Tuan Belardo. Aku minta maaf sudah membuat keluarga Anda repot karena kehadiranku."
"Kami tidak repot, Ella. Kami malah berterimakasih padamu karena berkat kehadiranmu, Benjamin akhirnya makan bersama kami diluar jadwal keluarga yang sudah ditentukan," ucap Maurice dengan nada senang tapi penuh penekanan. Dengan berani ia menatap Benjamin dan mendapati putra tertua suaminya itu bersikap seolah tidak mendengar dan terus menyuapkan makanan ke mulut tanpa menghiraukan ucapannya.
"Ben memiliki kesibukan sendiri, Ibu. Karena itu Ben tidak bisa hadir di meja ini setiap saat," sahut Alana.
"Pastinya, Sayangku. Ben sangat sibuk, karena itu Ben hanya bisa makan bersama kita satu minggu sekali. Aku sangat penasaran dengan siapa saja ia makan malam ketika tidak sedang bersama kita," gurau Maurice dengan nada memancing. Perkataannya disambut senyum tertahan dari Belardo. Pria tua itu bukan sedang menatap Maurice, tapi sedang melihat ke arah Benjamin yang masih mencoba tidak menghiraukan ucapan dari ibu tirinya.
"Ehem ... yang pasti, tidak mungkin ia makan malam setiap malam sendirian bukan?" Daniella mengucapkan pertanyaannya sambil lalu sembari terus menyuapkan makanan.
"Owh, itu mungkin saja, Ella. Benjamin kami adalah orang yang lebih menikmati makan sendirian daripada bersama banyak orang."
"Sepertinya Ibu benar. Apalagi makan bersama dengan orang-orang yang cerewet. Ben memilih menyingkir." Alana mengucapkan perkataannya dengan nada menyindir.
"Bukan hanya orang cerewet, Sayangku. Ben memang tidak terlalu suka makan bersama orang lain. Dengan relasi bisnis saja ia melakukannya karena terpaksa. Seperti halnya berdansa, ia lebih suka tidak melakukannya ... dua kegiatan yang selalu ia hindari." Maurice mengangkat sendok dan mengarahkannya pada Alana di sampingnya sebelum melanjutkan," dua kegiatan itu memiliki kesamaan. Ben tidak menyukainya." Nada akhir ucapan Maurice sangat tegas dan tidak mau dibantah
Belardo melihat ke arah Ella yang melirik Benjamin. Rasa penasaran menghiasi wajah wanita itu.
"Apa benar kau suka makan sendirian?" Ella bertanya sambil menoleh ke arah Benjamin.
Dengan perlahan Benjamin menoleh dan menatap Ella. Ia mengembuskan napas panjang.
"Sebaiknya kita makan saja. Jangan membicarakan tentang aku."
Maurice tiba-tiba menggelengkan kepala. "Tapi itu hanya pertanyaan biasa, Benjamin. Apa salahnya kau jujur. Kau memang suka makan sendirian?"
Alana yang masih mengunyah makanan langsung menimpali. "Dia tidak akan menjawab, Ibu. Lagipula, aku berani menebak ... pasti ada yang menemaninya makan." Alana mengakhiri ucapannya dengan mendengus. Seketika ia mendapatkan tatapan tajam dari Benjamin. Alana membalas menatap tajam sambil meraih gelas minum. Selesai minum beberapa teguk ia mendelik pada Benjamin. "Siapa yang tahu dia makan bersama siapa di apartemen bujangannya itu," cetus Alana lagi.
"Hentikan bersikap tidak sopan dengan berbicara ketika ada makanan di dalam mulutmu, Alana," tegur Belardo.
Alana melirik dan mendapatkan tatapan menegur dari ayahnya. Ia mengangguk dan mengucapkan maaf dengan nada lirih.
Tawa kecil dari Daniella membuat semua kepala menatap ke arahnya.
"Aku jadi ingat Ayahku ... aku sering ditegur seperti tadi saat sedang di meja makan."
Maurice mendesah terkejut. "Kau melakukannya? Seperti Alana tadi?"
Daniella kembali tertawa, lalu mengangguk. "Aku lebih parah, Nyonya Maurice. Aku sampai menyemburkan makananku," ucap Ella sambil terkikik.
Ucapan itu membuat suasana di meja makan keluarga Antolini benar-benar mencair. Tawa terdengar dari ruang makan. Benjamin melihat bergantian ke arah ayahnya, Maurice, Alana, lalu ke wajah Daniella. Kehangatan terasa memenuhi meja makan tersebut. Kehangatan yang dirasakan Benjamin bahkan sampai ke dalam hatinya.
***********
"Tunggu, Alana. Ayah mau bicara."
Alana menghentikan langkah, namun terus memasangkan tali tas ransel di bahu.
"Ya, Ayah?"
"Kau berangkat kuliah?"
Alana mengangguk. "Aku ada jadwal di rumah sakit hari ini, Ayah. Ada apa?"
Alana berpikir cepat, lalu menyunggingkan senyum pada Belardo. "Aku hanya asal bicara, Ayah. Anak buah Ben kadang terlihat di apartemen. Kadang tetangganya juga datang berkunjung, setahuku mereka sama-sama tinggal sendiri. Jadi aku hanya berasumsi mungkin saja Ben pernah makan dengan mereka."
"Begitu?" tanya Belardo tidak yakin.
"Ya. Itulah tadi yang kupikirkan saat di meja makan."
Belardo mengangguk, lalu melihat supir sudah membawa mobil sampai ke depan mansion. "Kau kembali diantar sampai aku mengizinkan sebaliknya. Mobil tiba. Pergilah."
Alana mengangguk. "Baik, Ayah."
"Kau masih sering ke apartemen Benjamin?"
Alana menggeleng terlalu cepat sehingga Belardo tahu ia berbohong. "Begitu ... sana, pergilah. Begitu selesai, langsung pulang ke rumah."
Alana mengangguk, langsung pamit dan lari ke arah mobil yang sudah menunggu.
**********
Benjamin membukakan pintu ruang musik yang biasa digunakan ayahnya.
Daniella melangkah masuk dan langsung duduk di depan sebuah piano besar yang ada di tengah ruangan.
"Kau benar-benar tidak pergi bekerja? Maksudku ... aku aman di rumahmu, ada penjaga dan Snow ... kau bisa pergi ke kantor kalau mau."
"Aku sudah bilang, aku cuti. Aku terikat kerja sama sebagai bodyguard. Kau sudah lupa?"
Ella tersenyum, senyum yang membuat Ben melangkah mendekat.
Ella jadi gugup, namun berusaha menyembunyikannya.
"Kau jadi menemaniku belanja?"
"Tidak."
Ella mendongak, menatap Ben yang sudah berdiri di depannya.
"Kau tidak akan kemana-mana. Tunggu Snow kemari dengan ponsel baru. Nomormu tetap bisa kau pakai. Snow sudah mengurusnya pagi ini. Telpon Bernie, suruh dia kabari jika mereka sudah siap dengan lokasi di luar hotel."
Ella jadi ingat kalau besok syuting akan dilakukan di luar hotel, termasuk di hutan sekitar Copedam Hill. Ia tiba-tiba bergidik.
"Jangan khawatir ... aku tidak akan lengah untuk yang kedua kalinya."
"Apakah ...."
"Jangan berandai-andai. Lakukan saja pekerjaanmu dengan baik. Sisanya serahkan padaku ...."
"Kau akan terus ada di dekatku?"
"...." Bibir Ben bergerak namun tidak ada kata yang terucap olehnya.
"Kau ragu menjawabnya." Ella tertawa kecil. Namun anehnya tawanya terdengar sedih. Ia tertunduk sambil memandangi ujung jari tangannya.
Ella terkejut ketika merasakan dagunya disentuh lalu diangkat sehingga wajahnya kembali mendongak dan bertatapan dengan Benjamin.
"Ya. Aku akan selalu ada di dekatmu. Kau tidak punya pilihan, DD ... mulai saat ini, kau akan terus melihatku ...."
Ella tersenyum, ia merasa lega dengan jawaban Benjamin. Namun sesuatu di kilau mata pria itu membuatnya agak kebingungan. Seolah Ben mengatakan akan selalu ada di dekatnya bukan hanya karena sedang menjaganya sebagai Bodyguard, namun sedang membicarakan tentang sesuatu yang bersifat selamanya.
NEXT >>>>>>
**********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.