
Benjamin menaikkan kedua alis, ia menunduk melihat tangan kanan Snow yang terentang hingga ke depan dadanya, seolah menghalangi langkahnya untuk membuka pintu kamar Ella. Pengawal itu berdiri tegap di depan kamar Ella dengan pandangan mata menyipit, terlihat sedikit jengkel dengan kedatangannya.
"Apa maksudnya ini, Snow?"
"Anda ingin menemui Miss Ella, Bos?"
"Tentu saja, jika mau menemui Bernie, aku tidak akan kemari."
Benjamin menatap datar ke arah Snow, menahan diri untuk tidak mendorong turun tangan Snow yang masih terentang.
"Pesan Miss Ella sebelum tidur tadi, ia lelah, Bos. Ia tidak mau diganggu oleh siapapun."
Wajah Benjamin agak berubah mendengar ucapan Snow. Kilat khawatir melintas di matanya. "Apakah dia baik-baik saja?"
"Bagi saya tidak, Bos," ucap Snow dengan nada kesal, "seseorang benar-benar telah membuatnya kehilangan semangat! Tentu dia tetap bekerja dan beraktivitas dengan baik hari ini. Tapi itulah masalahnya! Dia jadi terlihat lesu, memaksakan diri sampai tidak mau makan malam," sindir Snow.
"Ella belum makan malam?" Benjamin melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ya dan Anda tidak punya waktu untuk sekedar menekan tombol panggilan di ponsel untuk menanyakan kabarnya, atau menyuruhnya makan malam! Anda pergi seharian tanpa mengatakan apapun."
Benjamin dan Snow berpandangan. Ia jarang melihat anak buahnya itu mengemukakan kejengkelan terhadap sesuatu, namun Daniella sepertinya telah mengambil hati pria besar itu sehingga pria itu berani mengomeli Benjamin hari ini.
"Pergi pesankan makan malam dan minta diantarkan kemari, Snow."
Snow hanya diam tidak bergerak mendengar perintah itu.
"Aku akan minta maaf dan membujuknya makan."
Benjamin mengernyit ketika Snow tidak juga mengindahkan perintahnya. Ia mengembuskan napas panjang, lalu merogoh ke dalam kantong. Mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memperlihatkannya pada Snow.
"Aku memiliki beberapa urusan yang membuatku harus kembali larut malam. Termasuk membujuk ayahku agar memberikan benda ini."
Snow menunduk dan berkedip menatap kotak di atas pergelangan Benjamin. Ia segera menurunkan lengannya yang sejak tadi menghalangi Ben.
"Ini ...."
Benjamin menganggukkan kepala, membenarkan dugaan Snow. "Dugaanmu benar. Ini cincin milik ibuku."
Senyum Snow terbit. Ia mengangguk. "Kalau begitu, saya akan mengurus makan malamnya."
"Cepat sekali kau berubah pikiran," sindir Benjamin.
Dengan segera Snow menyingkir, memberikan jalan pada Benjamin.
"Ketuk pintunya ketika makan malamnya datang, Snow." Ben melangkah masuk dan segera menutup pintu.
Cahaya temaram lampu menyambut mata Benjamin. Tatapannya langsung terarah ke atas tempat tidur dimana Ella berbaring miring ditutupi selimut hingga ke dada. Rambut hitam wanita itu dibiarkan tergerai di atas bantal yang berwarna putih.
Benjamin mendekat ke arah tempat tidur, ia menatap wajah Ella yang terpejam rapat. Wajah polos tanpa riasan dan juga terlihat damai dalam tidur.
"DD?" Benjamin berdeham ketika suaranya sendiri terdengar serak. Ia duduk di tepi ranjang dan hanya memandang selama beberapa detik.
Keraguan mendera Benjamin, ia membuka genggaman tangannya dan melihat kotak cincin yang ia pegang.
Apakah kuberikan besok saja?
Benjamin menggelengkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan dalam hatinya. Daniella pasti sudah seharian bertanya-tanya tentang kepergiannya hari ini. Jika ia menunda lagi untuk melamar wanita itu, Ella bisa saja jadi berubah pikiran karena marah. Snow saja terlihat jengkel ketika melihat ia datang, Ella mungkin saja akan lebih jengkel dari Snow. Bisa-bisa cincin ibunya ditolak.
Ben membuka kotak cincin, lalu meletakkan di atas kasur. Dengan sangat perlahan ia membuka selimut Ella, lalu menarik lengan kiri Ella keluar dari bawah selimut.
Benjamin mengambil cincin, lalu berniat mencoba apakah lingkar cincin itu cocok untuk jari manis Ella. Ketika cincinnya baru saja tiba di ujung jari, suara Ella membuatnya terkejut sehingga menjatuhkan cincin ke atas kasur.
"Kau sedang apa?"
Mata Ella melirik ke arah benda yang jatuh di atas seprai.
"Kau terbangun? Maafkan aku jadi membangunkanmu."
Mata Ella berpindah melirik wajah Benjamin. Meski pria itu meminta maaf karena telah membangunkannya, namun wajahnya sama sekali tidak terlihat menyesal. Pria itu seperti memang berniat mengganggu tidurnya.
"Mau apa kemari?" tanya Ella, berusaha menyembunyikan nada kesal yang tiba-tiba ingin sekali protes keluar. Ia merasa tidak pantas untuk protes. Hubungannya dengan Benjamin tidak ada kepastian, lebih tepatnya tidak ada hubungan sama sekali selain kenalan dan kerabat karena pernikahan Verga dan Belinda. Persoalan ia yang sudah menghabiskan malam dengan pria itu tidak ada hubungannya dengan perasaan, meski Ella melakukannya secara sadar karena merasa Benjamin istimewa di hatinya, sepertinya tidak begitu dengan perasaan Benjamin. Terbukti pria itu meninggalkannya seharian tanpa kabar.
Dengan sengaja Ella menguap lebar sambil meregangkan tubuhnya, isyarat bahwa ia masih ingin melanjutkan tidur.
"Kau belum makan malam, DD?"
Ella bergerak lagi, menggeliat sambil menguap, lalu berbalik memunggungi Benjamin. Ia telah melirik sekilas ke arah benda yang jatuh ke atas seprai, sebuah cincin emas dengan model kuno tapi terlihat sangat cantik.
Cincin ... untukku kah? Apa dia mau melamar? Sekarang? Tanpa makan malam romantis dengan cahaya lilin?
Ella memejamkan mata, namun detak jantungnya mulai berirama lebih cepat ketika memikirkan benda yang tadi dijatuhkan Benjamin di atas kasur.
"Jawab aku, DD. Kau belum makan malam?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Aku tidak lapar. Aku mengantuk. Butuh tidur."
Tak apa tanpa makan malam dengan lilin. Kau lamar aku dan katakan kalau kau mencintaiku. Itu lebih dari cukup, Ben .... sambung DD dalam hati.
Bayangan memanjang dan bergerak di atas kasurnya membuat jantung Daniella berdetak cepat. Pelukan dari belakang punggungnya membuat ia sedikit bergidik, wangi khas pria itu segera tercium di lubang hidung Ella.
"Aku membawa benda istimewa milik ibuku, DD. Maukah kau memakainya?"
"Benda apa?" tanyanya berpura-pura.
"Cincin miliknya ... yang ingin kuberikan pada calon istriku."
Benjamin mengulurkan cincin yang ia maksud ke hadapan Ella.
"Ca-" Ella berdeham, lalu mencoba bicara dengan nada normal, mengabaikan sorak senang dalam hatinya. "calon istri katamu? Aku? Kau sedang melamarku ya?"
"Apakah lamaranku diterima?" bisik Benjamin sambil mendaratkan kecupan di belakang telinga Ella. Kali ini Ella benar-benar bergidik, ia baru saja akan bergerak untuk bergeser agar keluar dari pelukan dan sihir bisikan Benjamin ketika pintu kamar diketuk dari luar.
Benjamin melepaskan Ella, bangkit dan segera membuka pintu. Sebuah troli didorong masuk oleh Snow. Setelah tersenyum dan menganggukkan kepala pada Benjamin, pria itu segera keluar dan menutup pintu kembali.
"Apa itu?"
"Makan malammu, DD."
"Aku bilang tidak lapar."
Benjamin membuka semua penutup makanan, lalu menarik sebuah kursi. Dengan gesit ia kembali ke tempat tidur. Ketika tangannya terulur ke atas kasur, Daniella membelalak dengan jemari meremas ujung selimut di dadanya.
"Kau mau apa!?"
"Membawamu makan malam." Benjamin menarik paksa selimut Ella, lalu mengangkatnya dan membawanya duduk ke atas kursi.
"Turunkan aku! Aku bisa duduk dan makan sendiri!"
"Hanya ada satu kursi."
"Kalau begitu, kau duduk di atas kasur!"
Ella bersyukur ia memilih gaun tidur berlengan, namun bahannya yang lembut dan jatuh tetap mencetak jelas bentuk tubuhnya. Membuatnya tidak nyaman berada di pangkuan Benjamin.
"Aku tidak akan kemana-mana sebelum aku melihatmu makan."
Ketika Ben mulai mengambil sendok, Ella mengembuskan napas panjang dan segera merebutnya. "Baik. Baik! Aku makan!"
Suap demi suap masuk dan ditelan oleh Ella. Ia meraba perut sambil menghela napas. "Sudah, Ben. Aku bisa muntah jika makan satu suap lagi."
Daniella terdiam ketika pria itu mengambil serbet dan mengelap bibirnya. Seolah sihir kembali bekerja Ella menahan napas, menatap Benjamin yang juga sedang menatap ke wajahnya. Ella tidak berani menduga-duga arti sorot mata pria itu, tatapan lembut itu seolah memancarkan cinta.
Benarkah, Ben? Cinta? Untukku ....?
Daniella mendekat perlahan tanpa mengalihkan mata dari menatap netra Benjamin. Ia seolah mendengar nyanyian diantara detak jantungnya yang bertalu, seolah tenggelam dalam telaga hitam yang dalam yang disuguhkan dua bola mata di hadapannya.
Ketika bibir Ella baru saja menyentuh bibir Benjamin, suara ponsel berdering nyaring memekakkan telinga. Ella terkejut dan otomatis bangkit berdiri, dengan kaki gemetar, ia berusaha melangkah ke arah ponselnya yang ada di atas nakas.
Ella berkedip, terdiam beberapa saat ketika melihat My Sweet Daddy tertera di layar ponsel.
Ia mengulurkan tangan mengambil ponsel dan segera berbalik.
Ella melihat Benjamin telah berdiri tegak di dekat tempat tidur, ia menelan ludah melihat benda yang dipegang oleh Benjamin, sebuah kotak kecil yang terbuka, di dalamnya terdapat sebuah cincin yang tadi Ella lihat terjatuh di atas tempat tidur.
Benjamin melangkah perlahan, matanya menatap ponsel Ella yang terus berbunyi.
"Siapa yang telepon? Kenapa tidak diangkat?"
Ella bergeming, sosok Benjamin dalam cahaya temaram lampu kamar membuat Ella kembali menelan ludah.
Sinting! Sihir apa yang ia gunakan padaku! Aku jadi seperti wanita liar yang selalu ingin menyentuhnya! Hampir saja tadi aku menciumnya lagi!
"Jika kau tidak mau mengangkatnya, matikan ponselmu."
Ella menarik napas panjang, ia menyipitkan mata dan membalas tatapan Benjamin yang seolah sedang menelanjanginya. Pria itu menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ella jadi ingin sekali merapikan rambutnya yang pasti sangat berantakan.
"Setelah kumatikan? Selanjutnya apa?" tantang Ella.
Benjamin mengulurkan tangan, mengangkat kotak cincinnya ke hadapan Ella.
"Pakai cincin ini sebagai tanda kau menerima lamaranku."
Ella tertawa masam. Tidak ada romantisnya sama sekali. Khas Benjamin! Seharusnya kau berlutut ketika mengatakannya, Tuan Antolini!
Dering ponsel terus berkumandang. Sepertinya Daniel tidak akan berhenti sebelum panggilannya diangkat. Ella mengerutkan bibir, lalu mengulurkan ponselnya pada Benjamin.
Keduanya saling menatap dengan tangan terulur. Ella memberikan ponsel, dan Benjamin memberikan cincin.
"Aku akan mengenakan cincinmu, jika kau berani menjawab telepon ini. Bagaimana!?"
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Maafkeun jadwal update yang tidak menentu ya. Semoga sabar menanti.
Author mohon dukungannya dengan klik like, love, bintang lima, komentar dan Vote.
Terima kasih banyak untuk yang sudah menyediakan diri memberikan vote sehingga Belinda bisa berada di rank 10 besar ranking hadiah noveltoon. Semoga sehat selalu readers kesayangan Black DD. Aamiin.
Salam. DIANAZ.