Belinda

Belinda
22. Verga calling



Ballroom hotel El Sande sangat penuh orang. Benjamin menyipit memandang seorang pria yang bergerak menghampirinya. Pria berwajah tampan dengan seringai jahil di wajah.


Ben menampilkan wajah malas terbaik yang bisa ia ekspresikan. Berharap pria tampan tersebut tidak jadi mendekat.


Namun, ia tahu itu tidak akan terjadi. Enrico Costra tidak akan berhenti sebelum maksud dan tujuannya tercapai dan kali ini, Ben menebak tujuan laki-laki itu mendekatinya adalah untuk mengolok-olok dirinya.


"Apa kabarmu, Mr-"


Benjamin menyipit menatap Enrico dengan sorot mata mengancam. "Jangan coba-coba! Kau sudah berjanji! Ini perayaan pernikahan Verga dan adikku, Rico!"


Tawa geli segera terdengar dari bibir Enrico. Ia menepuk bahu Benjamin.


"Kau takut sekali, Ben. Aku sudah berjanji dan kau tahu bagaimana sifatku. Aku akan menepatinya, Kawan." Enrico menepuk-nepuk bahu Benjamin beberapa kali seolah tengah menenangkan anak kecil.


"Singkirkan tanganmu." Benjamin bergeser agar tangan Enrico tidak lagi mencapai bahunya.


Sekali lagi tawa menggema. "Kau seharusnya berterimakasih padaku. Aku mengenalkanmu pada Tuan Verone dan akhirnya kau mendapatkan suami untuk adikmu. Aku yakin Verga Marchetti merasa sangat beruntung mendapatkan gadis cantik penurut sebagai istrinya."


"Tentu aku berterimakasih, Tuan Costra," sindir Ben yang disambut senyum geli oleh Enrico.


"Ijinkan aku bergabung, Tuan-tuan. Tidak ada anak muda yang menyegarkan suasana di tempat ini. Vergaku entah sedang terbang ke langit ke tujuh. Juan juga sedang bersenang-senang mengejar gadis cantik. Kalian berdua tampil sebagai penyemangat suasana. Kalian tidak lihat tatapan para gadis itu?" Verone Marchetti berkata sambil menyodorkan dua gelas minuman pada Enrico dan Benjamin. Kedua laki-laki itu segera mengucapkan terimakasih.


"Terima kasih, Tuan Verone. Aku tidak tertarik dengan para wanita maupun gadis. Mereka sudah tahu aku beristri dan sudah punya bayi." Enrico berucap dengan nada menyindir sambil menatap Benjamin. "Pria lajang ini mungkin berselera," tambahnya lagi.


Benjamin mendengus. "Jangan bawa-bawa aku, Enrico."


Verone tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Aku gembira sekali Vergaku akhirnya melepas status lajangnya. Semoga dia cepat menyusul dirimu, Rico. Memberiku seorang cucu."


"Dia pasti sedang mengusahakan hal itu sekarang, Tuan Verone," ucap Enrico. Ucapan yang disambut tawa oleh Tuan Verone dan Benjamin.


"Dimana Vivi, Enrico?" tanya Verone. Menanyakan keberadaan istri Enrico.


"Beristirahat di kamar bersama putri kami. Sudah waktunya ia tidur."


Tuan Verone mengangguk, lalu menatap ke arah kejauhan dimana Tuan Belardo tengah mengobrol bersama beberapa pria tamu di perayaan tersebut.


"Ben, sejak datang, kulihat kau dan ayahmu hanya sekali bertegur sapa sekedarnya. Maaf ... aku tidak bermaksud ingin tahu, tapi ... apa kalian baik-baik saja?"


Benjamin tersenyum kecil. "Kami memang seperti ini, Tuan Verone. Tapi kami baik-baik saja. Ayahku tidak pintar berkomunikasi dengan keluarganya."


"Tapi pintar bila dengan koleganya," celetuk Enrico. Benjamin tidak menyangkal, dan Tuan Verone hanya merapatkan bibir menahan komentar.


"Kau tidak berdansa, Ben?" tanya Tuan Verone mengalihkan pembicaraan.


"Ah ... tidak." Benjamin menyesap minuman. Kedua matanya menatap seseorang di kejauhan. Namun segera beralih ketika tahu Enrico memandangnya dengan mata menyelidik.


"Kau tidak turun ke lantai dansa sekali pun. Kau tinggal mengulurkan tangan, Bodoh! Para gadis itu akan dengan senang hati menerimanya." Enrico mengakhiri ucapannya dengan decakan.


"Rico benar. Para pegawaiku banyak juga yang cantik, Ben. Mereka juga baik." Tuan Verone ikut promosi sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Tawa kecil dari Tuan Verone akhirnya terdengar. "Aku mengerti. Dia seperti Verga dulu. Tidak berminat," ujarnya.


"Dia akan jatuh pada masanya, Tuan Verone," ucap Enrico.


Benjamin akhirnya berkomentar agar para pria itu mengalihkan pokok pembicaraan dari dirinya. "Kulihat, Bibimu duduk sendirian, Enrico. Kenapa tidak ada yang mengajaknya berdansa?"


Mata Tuan Verone dan Enrico beralih ke arah yang dituju oleh Benjamin. Melihat Olivia Mirelle duduk sendirian sambil memandang layar sebuah ponsel.


"Siapa yang berani mengajaknya berdansa, Ben? Tuan rumah sudah berdansa dengannya lebih dari dua kali. Kau tahu artinya kan? Kalau sudah begitu tidak akan ada yang berani mengajaknya lagi ke lantai dansa ...." Enrico menunggu Tuan Verone menanggapi ucapannya. Namun, pria tua itu berpura-pura tidak tahu. "Tuan Verone, boleh aku bertanya?" Enrico bersedekap sambil memandang pria tua tersebut.


"Silakan," jawab Tuan Verone dengan alis terangkat.


"Kau suka Bibiku?"


"Ya. Tentu saja."


Kening Enrico mulai mengkerut. Benjamin menyunggingkan senyum. Tahu Enrico tidak suka jawaban tersebut.


"Aku ganti pertanyaannya. Kau mencintai Bibiku?"


"Siapa yang tidak mencintainya? Dia wanita yang baik hati, cantik, tulus. Juga menyayangi keluarga. Ah ... Ayahmu memanggilku, Benjamin. Maaf Tuan-tuan, aku ke sana dulu."


Tuan Verone berlalu tanpa menunggu jawaban.


"Kabur," desis Enrico.


"Tidak. Ayahku memang memanggilnya," bela Benjamin.


Enrico berdecak, tampak kesal.


Benjamin tersenyum geli, memutuskan menggoda pria itu sebelum ia juga pergi dari sana. "Hati-hati Enrico. Kau pernah menggodaku kalau aku akan melihat ayahku menikah lagi. Itu jadi kenyataan. Dia menikahi Athena. Sekarang aku hanya ingin bilang, kau mungkin akan melihat Bibimu menikah. Dengan pria yang gagal jadi calon mertua istrimu." Benjamin berlalu sambil tersenyum menatap wajah Enrico yang terlihat jengkel.


Enrico baru saja berbalik, mau mencari asistennya Frederic yang juga ikut ke pesta tersebut saat ponselnya tiba-tiba berdering. Ia merogoh kantong dan melihat layar. Kedua alisnya langsung naik melihat nama yang tertera di layar itu.


"Wah, wah ... Verga Marchetti? Pengantin yang sedang berbulan madu meneleponku? Kebetulan sekali!" Enrico lalu menyipitkan mata menatap punggung Benjamin yang menjauh.


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Maaf update lama ya readers. Otor agak sibuk dengan pekerjaan dan tugas sehari-hari. Semoga maklum.


Jangan lupa like, love, bintang lima, komentar, dan vote ya. Sebelumnya otor ucapkan terima kasih banyak.


Salam. DIANAZ.