Belinda

Belinda
70. Happily Ever After



Belinda membuka matanya perlahan. Warna putih yang meliputi semua lapang pandang membuat keningnya berkerut.


"Kau sudah bangun?"


Suara itu membuat kepala Belinda menoleh ke arah kanan. Sepasang mata sebiru lautan memandangnya dengan sorot khawatir. Bel merasa tangannya diremas oleh suaminya.


"Aku dimana?" tanyanya dengan suara amat pelan.


"Rumah sakit."


Jawaban itu membuat Belinda memandang berkeliling. Ia mendapati ayah Verone duduk di sisi tempat tidur bagian kiri.


"Bagaimana perasaanmu, Nak?" tanya Verone.


"Aku baik-baik saja," jawab Belinda.


Jawabannya membuat Verga mendesah keras. Pria itu terlihat kusut. Ia hanya mengenakan kemeja dengan dasi yang dilonggarkan sembarangan. Beberapa kancing bagian atas kemejanya sudah terbuka. Jas yang tadinya ia pakai entah tertinggal di kantor atau di mobil ia sudah tidak ingat.


"Mulai hari ini, jangan lagi mengunci pintu kamar mandi bila kau sedang ada di dalam," ucap Verga, nada suaranya terdengar sedikit keras.


"Verga ..." Verone memperingatkan putranya.


"Bel membuat semua orang panik, Ayah."


"Itu bukan salahnya."


"Aku ketakutan setengah mati! Sienna sampai menangis mengira dia tenggelam!"


Belinda berkedip. "Tenggelam?"


Verga kembali mendesah, ia menarik lepas ikatan dasi dan melepaskan benda tersebut dari lehernya, ketika seorang perawat masuk dan menyapa.


"Tuan Marchetti, hasil pemeriksaan baru saja keluar. Mari ikuti saya menemui dokter."


Verga mengangguk, ia meremas sekali lagi tangan istrinya dan memberikan ciuman di pipi.


"Aku kembali sebentar lagi."


Belinda mengangguk, lalu menatap ke arah ayah mertuanya.


"Ayah ... apa maksudnya aku tenggelam?"


Verone tersenyum. Menepuk-nepuk pelan punggung tangan Belinda.


"Kau pingsan di dalam bathtub, Sayang."


Belinda mengerutkan kening, mengingat kejadian ketika ia mandi, merasa sangat nyaman ketika berendam dengan air hangat, beberapa kali ia menguap lalu memutuskan memejamkan mata menikmati pijatan lembut air hangat.


"Kurasa ... sebelumnya aku tertidur di bathtub, Ayah ...."


Verone tersenyum geli, meski matanya masih tampak khawatir. "Begitulah yang dokter katakan, Bel. Kau tidur, terlalu lama berendam di air sampai pingsan."


"Sienna menemukanku?"


"Ya. Dia panik sekali. Berteriak sambil menangis dari balkon atas."


"Ah ... aku sudah membuat keributan."


"Yang penting kau baik-baik saja. Jangan dipikirkan. Ayah dan kakakmu sudah Ayah kabari. Kurasa Belardo memutuskan datang. Entah dengan kakakmu ... dia tidak mengatakan apa-apa."


Belinda menarik napas panjang, merasa bersalah sudah membuat semua orang khawatir.


Sepuluh menit kemudian, Verga masuk kembali. Dia hanya berdiri di dekat pintu sambil menatap ke arah Belinda.


"Apa kata dokternya?" tanya Verone.


Verga tidak menjawab. Hanya melirik ke arah ayahnya tanpa mengatakan apa-apa. Membuat Verone bangkit dan mendekat ke arah pintu, mengira Verga tidak mau Bel mendengar apa yang akan ia katakan.


"Katakan padaku," bisik Verone.


Verga menatap datar wajah ayahnya. Seolah memikirkan apakah akan mengatakannya atau tidak.


"Katakan," ucap Verone sambil mendelik ke arah putranya. Ekspresi Verga membuatnya jadi tidak sabar.


Verga mendekatkan mulutnya ke telinga sang ayah. "Dokter baru saja memberitahuku kalau istriku sedang mengandung, Dia mengatakan aku akan punya bayi lebih kurang 30 minggu depan."


Setelahnya Verga menjauh, menatap ayahnya yang terdiam, terlihat agak lama mencerna kalimatnya. Persis dirinya tadi saat dokter memberitahu hasil dari pemeriksaan Belinda.


Kembali Verga mendekat dan berbisik. "Itu artinya ... kau akan punya cucu, Ayah."


Senyum Verone mengembang sempurna, ia melirik Bel, lalu menatap Verga dan menepuk bahu putranya itu berulang kali.


"Bicaralah dengannya. Ayah akan menunggu di luar," ucap Verone. Masih dengan senyum bahagia, ia membuka pintu dan keluar dari ruangan tersebut.


"Hasilnya baik bukan? Sudah kukatakan tadi. Aku baik-baik saja." Belinda semakin yakin ia baik-baik saja setelah tadi melihat senyum ayah mertuanya.


Verga mendekati tempat tidur, membungkuk sampai wajahnya berhadapan dengan wajah Belinda di atas bantal.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Bel sambil tersenyum. Melihat suaminya menggosokkan ujung hidungnya yang mancung ke hidung Bel.


"Kau ... benar merasa baik-baik saja?"


Belinda mengangguk, merasa tangan kiri Verga mengelus bahu, leher, kemudian pipinya. Sedangkan tangan kanan pria itu mengelus pinggang, lalu perutnya dari bawah selimut rumah sakit.


"Kalau begitu, tidak apa-apa kalau aku menciummu sekarang bukan?"


Belinda menaikkan kedua alisnya. Menggeliat geli ketika merasakan jemari pria itu menyelinap masuk dan menyentuh kulit perutnya.


"Tidak ada larangan tidak boleh berciuman di rumah sakit."


Belinda tertawa. "Itu tidak sama seperti larangan tidak boleh merokok. Tidak ada pengumuman tertulis. Tapi tetap saja, ini tempat pelayanan umum. Seseorang bisa saja masuk kemari kan?"


"Biarkan saja ...."


Suara tawa Belinda kemudian dibungkam oleh mulut suaminya yang sudah mendarat dan memberikan kecupan sangat mesra di bibir. Pria itu seperti sedang memujanya dengan perbuatan. Elusan lembut di kulit perutnya membuat Belinda mulai melayang. Kecupan dan juga bisikan manis di sela ciuman mereka membuat hatinya mengembang bahagia.


"Hen-hentikan Verga ...," bisik Belinda sambil tersengal. Mencoba mendorong dada suaminya dengan kedua tangan.


"Tidak ... belum ...." Verga membelai lagi dengan bibir dan lidahnya. Bel merasa dirinya meleleh dan mulai kewalahan. Mereka berada di ranjang rumah sakit, akan sangat memalukan kalau mereka lupa diri.


Belinda menarik Verga dan memeluknya erat-erat, hingga pria itu terpaksa menghentikan ciuman. Tubuh keduanya saling menempel di atas kasur. Beberapa menit mereka hanya diam dan saling berpelukan.


"Bicaralah. Apa yang dokter katakan padamu?" bisik Belinda.


"Kau tidak boleh lelah. Tidak boleh beraktivitas terlalu berat. Tidak boleh stress, tidak boleh banyak pikiran. Kau harus makan dengan baik. Istirahat dengan benar. Tidak boleh memaksakan dirimu jika merasa tidak enak badan. Minum tablet yang dia berikan secara teratur ...."


"Tidak bolehnya terlalu banyak ...."


Verga mengangkat kepalanya. "Lakukan itu. Jangan buat aku khawatir."


Belinda tersenyum, melihat rasa khawatir di mata suaminya dan merasa terenyuh. "Baiklah ... aku pasti akan melakukannya," ucap Bel sambil mengulurkan tangan, mengelus dengan lembut rahang Verga.


Tangannya segera ditangkap, dibawa ke bibir, dan mendapatkan kecupan mesra yang mengirimkan kehangatan sampai ke hati Belinda.


"Sekarang katakan alasan kenapa aku harus melakukan semua itu? Aku sakit apa?"


Belinda melihat sorot mata suaminya berbinar. Pria itu tersenyum. Menjadikan wajah tampannya makin berkilau di mata Bel.


"Apakah kau tidak merasa aneh dan tidak menghitung siklus bulananmu?"


Belinda mengernyit, berpikir dan menyadari siklus haidnya sudah tidak datang hampir dua kali setelah kecelakaan yang dialami Verga.


"Sejak kecelakaan itu ...."


"Kau tidak datang lagi."


"Tapi itu pernah terjadi ... ketika aku sedang mengalami banyak hal ...."


"Jadi kau mengabaikannya?"


"Kurasa ya ...."


Belinda menatap Verga, mencari kepastian. Senyum dan binar mata yang ia lihat di mata pria itu membuat matanya mulai berair.


"Benarkah?"


Verga mengangguk.


"Sungguh? Kau tidak bohong kan?"


Verga mengangguk sekali lagi, lalu menggeleng sebagai jawaban pertanyaan kedua.


Seiring air matanya yang mulai mengalir turun, Belinda mengucapkan syukur berulang kali lewat bibirnya. Ia merasakan Verga kembali memeluknya erat-erat. Satu bisikan membuat isak tangisnya semakin kencang.


"My Bel ... terima kasih ... Aku mencintaimu, Bel ... maafkan aku tidak menyadarinya lebih cepat. Padahal kau sudah beberapa hari merasa tidak sehat."


Belinda membalas pelukan itu, menyembunyikan isak tangis di lekukan leher suaminya.


"Terima kasih, Tuhann," bisik Belinda lirih, lalu melanjutkan dengan terpatah-patah. Kalimat yang hampir setiap hari ia ucapkan di telinga suaminya.


"Aku mencintaimu ... maafkan apa yang sudah kulakukan di masa lalu ...."


"Shhhh ...." Verga menjauhkan badannya sedikit, meraih selembar tisu dari atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia menghapus wajah istrinya sambil tersenyum lebar.


"Lupakan itu. Sekarang jangan menangis dan tersenyumlah. Atau Ayah akan memarahiku nanti."


Belinda tertawa, ia baru saja menangkupkan tangannya ke atas punggung tangan Verga yang berada di pipinya ketika pintu diketuk dan kepala ayah Verone muncul di selanya.


"Semuanya baik-baik saja?" tanya Verone sambil menatap ke arah tempat tidur.


Anggukan dari anak dan menantunya membuat senyum Verone mengembang.


"Bagus." Verone mengangguk, kembali menutup pintu dan berdiri diam di depannya sambil menghapus cairan bening yang entah kenapa telah berkumpul di kelopak matanya.


"Kurasa semuanya memang baik-baik saja ... sangat baik," bisik Verone sambil mematri kembali ingatan tentang senyum pasangan itu serta kedua tangan mereka yang saling bertaut erat.


-------------- Happily Ever After -----------------


***********


From Author,


Terima kasih banyak untuk para readers BelVer. Akhirnya chapter terakhir Belinda kelar juga. Terima kasih dukungannya untuk kisah ini, mohon maaf untuk kekurangan dan kesalahan dalam penyajian cerita dari awal novel Belinda release.


Otor tuh suka sedih kalau ngucapin selamat berpisah. Jadi gantinya otor ucapin selamat bertemu kembali nanti di kisah selanjutnya. Mungkin akan ada Extra part dari pasangan BelVer.


Project selanjutnya tentu saja kisah lain dari Antolini Series. Benjamin Antolini atau Black. Namun tidak akan langsung diupdate ya. Ditunggu lengkap dulu sampai tamat baru kita nikmati sama-sama novelnya. Dimana akan di upload? Tentu aja tetap di Noveltoon/mangatoon. Berapa lama? Hehehe ... ini otor gak bisa jawab deh.


Akhir kata, sekali lagi terima kasih banyak. Yang udah singgah dan baca Belinda, juga novel lainnya yang gak kalah seru dari otor. Passion Of My Enemy, Love Seduction, Mr. Costra, Embrace Love dan Pengantin Simon. Bagi yang belum mampir, ditunggu di novel otor yang lainnya ya.


Sayang kalian banyak-banyak ... Muach. Luv you ...


Salam. DIANAZ.