
Belinda menggigit bibir bawah, membayangkan bisa kembali menyentuh dan membelai dada suaminya seperti malam pertama mereka dulu. Ia baru saja akan memindahkan jemari ke arah dada ketika teringat bahwa pria yang terbaring itu sedang tidur.
Bel melirik lagi ke arah wajah, memeriksa apakah suaminya masih tidur. Ia menemukan kedua mata Verga terpejam rapat seperti tadi. Bel tersenyum, kembali melirik ke arah dada dan mengulurkan tangan menyentuh dengan sangat pelan.
Verga bergeming, menahan gerakan apapun dari tubuhnya. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu. Ia merasa lega karena tadi telah menutup matanya kembali di saat yang pas, karena Belinda sempat memeriksa wajahnya kembali.
Belaian pelan yang amat ringan ia rasakan diantara bulu-bulu dadanya. Ingin sekali Verga membuka mata dan balik menggoda Bel. Namun, ia menahan diri.
Verga sudah mengetahui kalau Belinda tidak menginginkan pernikahan ini. Belinda hanya mematuhi keluarganya. Namun, karena ikatan mereka sah dan sudah terjadi, ia akan memastikan bahwa Bel tidak akan menyesali telah mengucapkan janji bersamanya. Verga Marchetti yang suka kompetisi sejak dulu tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan memastikan istrinya itu akhirnya jatuh cinta, lalu menerima pernikahan mereka dari hatinya sendiri.
Dulu, Verga berhenti mengejar Vivianne. Bukan karena ia merasa kalah dari Enrico. Tapi satu hal yang Verga tahu dengan pasti, perasaan Vivi sudah terpaut pada Enrico, gadis itu sudah mencintai Enrico lebih dulu. Verga sejak dulu sangat malas berkencan. Para gadis membuatnya merasa bosan, duduk berceloteh tentang hal-hal yang menarik dan berpusat pada diri mereka sendiri. Lalu ayahnya yang sangat ingin melihat dirinya berkeluarga mulai menjodohkannya. Verga menurut, ia terlalu mencintai ayahnya, tidak ingin membangkang. Sejarah siapa Vivianne, membuatnya sedikit tertarik mengenal gadis itu. Sayangnya Vivi menghindar dan lari dari perjodohan mereka, mungkin ia ketakutan. Ia malah pergi kepada sepupunya Frederic yang bekerja pada Enrico. Membuat Vivi akhirnya bertemu Enrico, pengusaha anggur yang saat itu sangat ingin mencari istri.
Tapi Belinda berbeda. Ben menjaga adiknya begitu rupa hingga Verga merasa yakin, dialah pria pertama yang terlibat hubungan secara dekat sebagai seorang laki-laki dengan istrinya itu. Tugasnya sekarang hanya satu, memastikan Bel akan mencintainya sepenuh hati. Memastikan Bel hanya melihat suaminya seorang. Memastikan Bel tidak akan menyesali pernikahan ini.
Verga merasakan sebuah semangat baru, seiring belaian yang sekarang sudah sampai ke bagian perut, ia bergerak telentang dengan mata tetap terpejam.
Belaian jari-jari Belinda berhenti, Verga seolah mendengar istrinya menahan napas, setelah beberapa saat ia tidak bergerak, tetap berpura-pura tidur, barulah ia mendengar tarikan napas panjang, seolah Belinda merasa lega, Verga yakin istrinya itu tadi terkejut ketika ia tiba-tiba bergerak.
Belinda beringsut menjauh, namun tetap berbaring menyamping menghadap Verga. Ia menarik dan mengembuskan napas mengatur paru-parunya yang tadi seolah diperas dan kehabisan udara ketika suaminya tiba-tiba merubah posisi tidur. Bel menatap suaminya yang tampak gagah dan tampan meski sedang tertidur pulas. Tatapan rindu, juga mendamba akan pelukan hangat pria itu. Bel mengingat ketika Verga memujinya ketika mereka bercinnta, ia merasa menjadi gadis yang amat cantik, merasa sangat dicintai dan juga dipuja.
Namun, perasaan Verga sekarang pasti sangat kecewa. Pria itu menerimanya sebagai istri dan memperlakukannya dengan amat manis. Sehari penuh setelah menikah, Bel merasa sangat dicintai, diterima dan diakui keberadaannya. Perasaan yang teramat asing, karena selama bertahun-tahun keberadaannya di keluarga Antolini, ia tidak pernah merasa diakui. Baik sebagai seorang anak ataupun seorang adik. Ia hanyalah sosok manusia yang terpaksa harus diurus. Namun, Verga Marchetti dan ayahnya Verone Marchetti menerimanya sepenuh hati, menganggap ia putri yang harus dijaga dengan baik. Verga pasti marah karena perlakuan Bel yang pergi begitu saja, namun pria itu sampai saat ini belum mengungkapkan amarahnya.
"Maafkan aku ...," bisik Belinda dengan amat pelan, lalu ia berbalik memunggungi Verga agar dapat menahan keinginannya yang membuncah untuk memeluk dan menyembunyikan kepala di dada pria itu.
Air mata tanpa sadar mengalir dari kelopak mata Belinda. Bayangan kehidupannya ketika ibunya masih hidup dulu melintas silih berganti. Meski sudah menjadi istri dari Belardo, namun ibunya seperti tidak pernah bisa melupakan siapa dia sebelumnya dan apa kedudukannya di dalam rumah Belardo Antolini. Bel tidak tahu, apakah ibunya pernah merasa dicintai oleh ayahnya ataupun anak tirinya Benjamin.
Harapan Bel agar disayangi oleh ayahnya pupus setelah semua usahanya untuk menarik perhatian pria itu tidak mendapat tanggapan. Ia pernah nekat naik ke pangkuan ayahnya yang masih duduk dibalik meja kerja, saat itu hari sudah tengah malam. Bel beralasan tidak bisa tidur dan minta ditemani. Ayahnya mengatakan boneka yang ia bawa dan peluk saat itu bisa menemaninya. Bel mengelak bahwa boneka itu terlalu kecil. Saat itu, Belardo memanggil seorang pelayan, lalu menyuruh wanita pelayan itu menggendong dan membawa Belinda kembali ke kamar. Keesokan hari, Bel menemukan kamarnya sudah diisi boneka yang lebih besar dengan berbagai macam bentuk.
Belinda berhenti berharap pada sang ayah, ia berpikir ayahnya sangat sibuk. Jadi tidak sempat mengurus anak-anak. Ia melihat Ben diperlakukan sama, hingga hatinya tidak terlalu sakit, lalu ia memusatkan diri pada Benjamin, memastikan kakak laki-lakinya itu mengetahui Bel menyayanginya, namun hati Bel akhirnya menyerah ketika Benjamin menerima keberadaan Maurice dan Alana dengan sangat terbuka. Bahkan bersikap ramah pada Alana. Lalu Ben membawa Athena ke Mansion. Terlihat sangat dekat, sangat menyayangi, sangat peduli. Hati Bel merasa cemburu dengan para wanita itu.
Lalu hatinya benar-benar patah ketika Benjamin mengatakan pada ayahnya mau memindahkan Belinda ke Mansion ibunya di pulau ladang jagung. Saat itu hubungan ayahnya dan Benjamin sedang buruk karena Athena. Benjamin hanya pulang sebulan sekali untuk makan malam bersama. Bel tidak dapat menyuarakan keberatan. Saat itu ia hanya bisa diam, berpura-pura tetap menyuapkan makan malam yang saat itu terasa seperti butiran pasir di lidahnya.
Verga menoleh dan menatap ke arah punggung Belinda yang bergerak naik turun tidak teratur. Sesekali isak pelan terdengar, tanda kalau Belinda sedang menangis. Menarik napas panjang, Verga bergerak mendekat, menyentuh pinggang Belinda dari atas bantal guling diantara mereka.
Isak Belinda terdengar berhenti, lalu ia perlahan berbalik, menatap Verga yang masih terpejam dengan lengan menjangkau ke arahnya.
Belinda menghapus air matanya dengan selimut, lalu dengan amat sangat pelan ia menarik bantal guling yang tadi ia letakkan diantara dirinya dan Verga. Setelah melempar benda itu begitu saja ke arah lantai, Bel beringsut mendekat, mengangkat lengan suaminya dan meletakkan ke pinggangnya sendiri.
Bel menarik selimut, menutup tubuh mereka berdua, lalu masuk semakin dalam ke pelukan suaminya. Bel menempelkan pipi ke dada Verga, menghirup dalam-dalam aroma pria itu, lalu mendongakkan kepala, memastikan Verga masih tidur. Baru kemudian ia meletakkan lengan ke tubuh suaminya itu, membelit lengannya ke pinggang Verga dan kemudian memejamkan mata, mencoba melupakan kesedihan dan menggapai alam mimpi. Tertidur nyaman dalam pelukan pria yang ia nikahi dan kemudian ia tinggalkan.
**********
Di atas sofa ruang tamu, Benjamin melirik ke arah bawah pintu kamar yang tampak gelap. Tidak ada suara apapun dari dalam kamar. Sepertinya pasangan di dalam sana benar-benar tertidur.
"Kau dimana?"
"Sebuah rumah, lebih kurang 50 meter dari sana, Bos."
"Vito?"
"Tidur. Bos. Juan juga ada di sini."
"Bagus. Aku ingin kau menyuruh seseorang memeriksa satu tepat di BYork. Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang tempat itu."
"Tentu, Bos. Sebutkan tempatnya."
"Undertake Street."
"Siap, Bos."
Ben mematikan sambungan, lalu sambil menumpukan lengan di bawah kepala, ia membuka sebuah folder di ponsel. Puluhan foto terbuka, gambar Belinda di pulau ladang jagung. Ben mengembuskan napas panjang. Dirinya memang tidak pernah berkomunikasi dengan adiknya itu. Perhatiannya hanya sebatas kebutuhan, keamanan juga perlindungan. Melihat bagaimana Belinda bersikap padanya tadi, membuat Ben menyadari ikatan persaudaraan mereka bagi Bel hanyalah ilusi.
Ben tidak menampik bahwa mengurus Belinda baginya hanyalah kewajiban. Namun, ia juga tidak menyangka Bel menganggap keluarga Antolini bukan bagian dari dirinya, hingga membuatnya sangat ingin membebaskan diri. Keinginan untuk bebas membuat gadis itu menerima perjodohan begitu saja. Mengikatkan diri pada seorang laki-laki tidak dikenal, lalu berpikir mau meninggalkan laki-laki tersebut.
Apa dia pikir semudah itu ... dia berurusan dengan Marchetti ....
Benjamin membuka satu folder lain. Ia mengerutkan kening ketika menatap satu foto yang diambil saat pesta pernikahan Belinda.
Jari Ben memperbesar foto tersebut, memfokuskan pada satu sosok diantara keramaian pesta, lalu seringai geli menyeruak di bibirnya ketika teringat tentang gadis seksi dengan rambut panjang yang dihias sebuah sirkam tersebut melintas kembali di otaknya.
"Bokongg yang bagus, DD," bisik Benjamin.
NEXT >>>>>>>
*********
From Author,
Yang gak suka narasi, maafkan bab ini banyak narasi tanpa percakapan ya. Malam Babang dan Neng belbel belum selesai saudara-saudara hehhehe....
Dukung cerita ini dengan klik like, love ,bintang lima dan Vote koin ataupun poin. Sebelumnya author ucapkan terima kasih banyak.
Give Away masih berlangsung, yuk kencangkan votenya lagi. Ada hadiah menanti.
Salam. DIANAZ.