Belinda

Belinda
49. Present part 2



Mata Belinda terpaku ke arah sosok Benjamin yang masih berdiri di atas podium. Tepuk tangan menggema di aula tersebut. Bel masih berusaha memahami arti kata-kata dari kakaknya yang baru saja mengumumkan tentang pembukaan pameran lukisan dari karya-karya Belinda.


Genggaman tangan Verga membuat Bel menoleh, suaminya itu mengatakan sesuatu tentang berdiri dan menggunting pita.


Pembawa acara bahkan sedikit bergurau tentang kejutan yang sepertinya sangat berhasil untuk Nyonya Marchetti, karena wanita tersebut terlihat sangat terkejut dibaluri wajah setengah tidak percaya.


"Bel, ayo ...." Ucapan Verga itu membuat Belinda menoleh. Ia bangkit berdiri, mengikuti tarikan tangan Verga ke arah sisi lain aula yang tertutup kain.


Diiringi tepuk tangan Bel berusaha memerintahkan kakinya yang lemas agar terus melangkah. Benjamin dan pembawa acara itu sudah berdiri di dekat sebuah pita panjang yang membatasi dan menghadang sisi lain aula yang menuju ke arah tangga dan juga lift menuju lantai dua.


Ketika pembawa acara mengucapkan perintah agar kain penutup dilepaskan, penghadang tersebut bergerak otomatis memperlihatkan ruang di belakangnya.


Mata Belinda membulat sempurna. Ruangan itu ditata dengan sangat artistik. Kaca dan juga bingkai dari beberapa lukisan yang ada di dinding tampak cantik. Membuatnya mengedipkan mata dan berulangkali memastikan bahwa yang ada di sana adalah benar karya-karyanya.


"Ladies and Gentleman ... Seperti yang Anda semua lihat. Lukisan yang akan dipamerkan di gedung Antolini's ini adalah semua karya dari Nyonya Belinda Marchetti. Lukisan pertama ada di dalam kotak kaca pertama yang ada di tengah ruangan. Dilukis oleh Nona Bel ketika masih belasan tahun... selanjutnya adalah karyanya sesuai tanggal pembuatan. Dapat kita nikmati hingga ruang pameran di lantai dua."


Tepukan kembali terdengar menggema. Belinda menelan air ludahnya. Tenggorokannya terasa kering. Ia melirik ke arah sosok Benjamin yang tegak tak jauh dari sana. Kakaknya itu sedang menatap tak berkedip ke arah lukisan pertama yang dibuat oleh Belinda.


Belinda menahan air mata yang terasa mulai menggenang di kelopak matanya. Melihat lukisan itu membuat penderitaan yang telah berusaha dikuburnya dalam-dalam kembali bangkit.


Tidak ... jangan menangis ....


Belinda hanya mendengar sayup-sayup ucapan pengantar dari pembawa acara. Matanya terpaku ke arah lukisan yang tadi juga dipandangi oleh Benjamin.


"Bel ... gunting pitanya," bisik Verga.


Belinda tergagap, lalu menyadari bahwa acara sudah sampai pada pembukaan. Ia merasakan sebuah gunting dengan pita berwarna pink diletakkan Verga di atas telapak tangan kanannya.


"Ayo, buka pameran karyamu. Semua orang di sini menunggu dan ingin melihat."


Belinda mengangguk, menggerakkan gunting dibantu oleh tangan Verga dan memotong pita dengan iringan tepuk tangan dari semua orang.


Acara yang berlangsung selanjutnya diikuti Bel dengan perasaan tidak menentu. Ia tidak menyangka semua lukisan itu disimpan dan dipelihara oleh Benjamin. Perasaan di dalam hatinya saat ini campur aduk. Setelah melihat keseluruhan hingga ke lantai dua. Belinda merasa kakinya membutuhkan istirahat. Ia meminta izin pada Verga untuk pergi ke toilet dan mencari tempat untuk sedikit mengistirahatkan kaki.


Bel melarang Verga ikut, karena tiga orang tamu sedang berbicara dengan suaminya itu. Bel mengatakan ia tidak perlu diantar.


Langkah Belinda makin cepat menuju toilet wanita. Ia mencuci wajah, mengambil tisu dan mengelap sisa air hingga make up tipis yang ada di wajahnya terhapus. Bel menatap lama ke arah cermin. Ia terlihat pucat dan juga lelah, memaksakan diri tegak, berkeliling dan juga menjawab sapaan semua orang di ruang pameran membuatnya agak kewalahan.


Suara pintu didorong membuat Belinda menoleh. Ia menatap Anthena yang memasuki tempat itu dengan wajah pongah.


"Ha ... di sini rupanya Nyonya Marchetti. Selamat Nyonya. Luar biasa sekali hadiah pernikahanmu ini. Sebuah gedung dan juga penataan yang luar biasa dari lukisan tidak berhargamu. Kurasa Ben terpaksa agar tidak malu di hadapan keluarga Marchetti. Sekarang semua orang akan memuji keluarga Antolini dan juga hadiah mereka untuk putri pertama mereka yang menikah."


Belinda menelan salivanya. Memilih mengatur napas dan kembali menghidupkan kran air untuk mencuci tangan. Ia memilih mengabaikan istri ayahnya itu.


"Sengaja mengabaikanku?" Sindir Anthena dengan suara halus. Ia menghidupkan kran air di sebelah Belinda, lalu ikut mencuci tangannya.


"Kurasa kehidupan pernikahanmu bak surga, Belinda. Suamimu terlihat sangat perhatian dan penyayang. Luar biasa pilihan dari Benjamin dan Belardo."


Belinda menyudahi kegiatannya. Menarik sebuah tisu dan mengepalkannya di telapak tangan, lalu berbalik meninggalkan Athena begitu saja.


"Semoga bertahan kebahagiaanmu, Belinda. Kurasa mereka bisa menoleransi dirimu untuk seterusnya, asal kau melakukan tugasmu untuk memberikan mereka keturunan. Aku tahu dari beberapa temanku yang bekerja di perusahaan dan mengenal keluarga Marchetti. Yang mereka butuhkan adalah seorang pewaris. Kau kira untuk apa orang seperti mereka menyetujui perjodohan ini? Selain keuntungan karena perjanjian bisnis dengan Belardo. Mereka hanya memerlukan mesin pencetak bayi," ucap Athena penuh bisa.


Wanita itu balik menatap dingin ke arahnya.


"Karena Ayah tahu kau adalah ular berbisa. Dia hanya ingin Ben bisa melihat hal itu. Benjamin tidak akan percaya dengan kata-kata, dia perlu melihat sendiri."


Kedutan di pipi Athena memberitahu Belinda bahwa ucapannya mengena.


"Sudah berani bicara buruk denganku hanya karena sudah jadi Nyonya Marchetti ... anak pelayan ... kau kira setelah menikah kau bebas melakukan apapun?"


Belinda menganggukkan kepalanya. "Setidaknya, aku sudah bebas dari kalian semua," ucap Belinda tegas. Lalu pergi meninggalkan Athena. Ia baru saja akan membuka pintu ketika pintu tersebut didorong dan wajah Alana adik tirinya terpampang di sana.


Belinda terus berjalan, menyelipkan diri dari sebelah Alana dan pergi tanpa bertegur sapa dengan gadis itu.


"Ayah mencarimu!" seru Alana.


Belinda terus berjalan tanpa mempedulikan seruan tersebut.


Ketika menemukan sebuah lift, Bel masuk dan menekan lantai berikutnya. Ia tidak tahu ada apa di lantai tersebut. Namun ia perlu menyingkir dari keramaian itu. Dadanya terasa amat sesak.


Bel tiba di sebuah ruangan dan mendapati ada lorong dengan pintu di sisi kanannya. Bel menuju ke pintu pertama dan membuka tempat tersebut.


Embusan napas lega mengisi paru-parunya. Belinda mendekat ke arah kaca lebar bagian jendela. Ia membuka sepatu berhak tinggi yang ia pakai. Sambil menyandarkan kening ke kaca, bel merasakan kening dan kakinya menyerap rasa dingin dari kaca dan lantai marmer yang ada di bawah kaki. Bayangan lukisan pertama yang ia buat yang sekarang ada di bawah sana membuat Belinda memejamkan mata dan mengatur napas yang merasa sesak, dadanya terasa penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia keluarkan dan tertahan selama bertahun-tahun.


"Ibu ...," rintih Belinda pelan. Isak tangisnya mulai luruh, Belinda teringat ketika ibunya meninggal dan kesedihan dihatinya tidak dapat ia utarakan pada siapapun.


Di lukisan tersebut ia mencurahkan semua kesedihan itu. Tentang seorang gadis kecil kesepian yang terduduk dan tertunduk, kedua lengan gadis kecil itu memeluk dirinya sendiri. Di bagian atas, bayangan wajah seorang wanita terlukis di antara angin dan awan. Hanya bisa menatap dengan tangan menjangkau ke arah bawah namun tidak bisa menyentuh.


Melihat lukisan tersebut membuat Bel mengingat semua kepedihannya saat itu. Rasa sakit, kecewa dan kerinduan yang tidak pernah terpuaskan atas perhatian dan kasih sayang orang-orang yang seharusnya bisa ia sebut sebagai keluarga.


Suara derit pintu membuat Belinda terhenyak dan segera berbalik. Sosok Benjamin sudah ada di sana. Tengah memegang gagang pintu dan menariknya membuka. Punggung kakaknya itu seperti baru saja bersiap untuk keluar.


"Aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku sudah ada di sini sejak tadi. Kau masuk dan tidak melihat aku ada di sini."


Belinda menghapus airmatanya dan memadang dengan wajah dingin ke arah punggung Ben.


"Aku akan pergi," ucap Benjamin. Ia baru saja akan melangkah ketika suara Belinda memasuki pendengarannya.


"Seharusnya aku menyimpan baik-baik semua goresan cat tanganku. Hari ini kau mengeluarkan semuanya dan mengumumkan pada semua orang apa yang telah aku alami di keluarga Antolini. Kau membuatku mengingat, setiap goresan penuh rasa sakit yang aku tuangkan di sana. Terima kasih padamu sudah mengeluarkan aku dari penjara Antolini. Mulai sekarang jangan campuri lagi kehidupanku. Jangan pernah!"


Belinda hanya melihat bayang rahang Benjamin yang menoleh sedikit. Pria itu meneruskan langkahnya sambil menutup pintu di belakang Belinda.


**********


From Author,


Maaf update tidak tentu, menyesuaikan dengan waktu RL yang sedang banyak kesibukan. Terima kasih sudah mampir ke karya Belinda. Yang belum baca karya Dianaz yang lainnya, yuk mampir sambil nunggu up Belinda.


Jangan lupa like, love, bintang lima, komentar dan Vote ya. Terima kasih banyak.


Salam. DIANAZ.