
Belinda melambaikan tangannya ke arah mobil yang berlalu dari halaman mansion. Hari-hari mereka sudah berjalan kembali seperti biasa. Setelah sarapan pagi bersama, Bel mengantarkan kepergian suaminya yang berangkat ke kantor.
Berdiri mendongak menatap langit pagi, Belinda mengulurkan tangannya menutup sumber cahaya terang yang sedang bersinar. Ia mengembuskan napas panjang dan memikirkan tentang rencananya hari ini.
"Sepertinya aku harus pergi sendiri ... entah kenapa aku tidak bisa meminta dia ikut ...."
Belinda berdiri agak lama menatap langit, akhirnya ia berbalik, menyunggingkan sebuah senyum untuk menyemangati diri sendiri. Langkah kaki Bel membawanya kembali ke arah dapur mansion.
"Ada apa Nyonya? Ada yang Anda inginkan?" tanya Mrs. Adele. Ia berhenti dari kegiatannya menguleni satu adonan roti.
"Adele, bisakah kau membantuku untuk menyiapkan kotak atau box atau apapun yang bisa kujadikan tempat untuk membawa makan siang?"
"Membawa makan siang? Kemana, Nyonya?"
"Aku akan memasak dan membawakan makan siang untuk suamiku ke kantor."
Mrs. Adele diam beberapa detik, seolah mencoba mencerna kalimat Belinda. Ia kemudian mengangguk tanpa berkomentar.
"Terima kasih, Adele."
"Saya akan meminta para gadis untuk menyiapkannya."
"Ya, tolong. Aku akan kemari dan memasaknya nanti. Ketika sudah siap akan langsung kubawa ke kantor Verga."
"Anda sudah memberitahu Tuan Verga kalau Anda akan datang?"
"Apakah perlu?"
"Sebaiknya begitu, Nyonya. Tuan mungkin saja sudah punya janji makan siang dengan relasi atau rekannya. Jangan sampai kedatangan Anda jadi sia-sia."
"Oh, baiklah ... kau benar."
Belinda meninggalkan dapur, melangkah pergi menuju kamarnya. Ia mengedarkan pandangan ke ruang kosong yang ia lewati di mansion yang besar tersebut.
Ayah Verone sedang tidak ada di rumah. Setelah pesta di pameran lukisan tempo hari, Ayah Verone pulang ke rumah hanya beberapa hari, kemudian setelah memastikan Belinda benar-benar baik-baik saja, ia pergi ke Marigold House. Ia tidur dan menginap di sana.
Verga mengatakan ayahnya memang sering melakukan itu sejak dulu. Adam, Jackson dan juga para orang tua penghuni yang ada di sana sudah seperti keluarga bagi Verone. Verone menyukai suasana ramai di tempat itu dan juga senang menghabiskan waktu untuk bermain kartu bahkan sampai tengah malam dengan para orang tua itu.
Belinda memasuki kamarnya dan melangkah menuju Walk in closet. Ia mulai mencari sebuah gaun, sepatu, bahkan perhiasan yang cantik namun tidak terlalu mencolok yang akan menambah anggun penampilannya.
"Aku ingin Verga terkejut , datang ke sana dan mengajaknya makan siang bersama, karena ini kejutan, tentu saja aku tidak akan memberitahunya lebih dulu. Sebelum ke sana ... aku akan menemui dokter tiffany ... aku ingin berkonsultasi. Aku tidak perlu mengatakan kemana tujuanku sebenarnya pada Henry. Kepala pelayan itu pasti bertanya ...." Belinda berbicara pada pantulan dirinya yang ada di cermin besar, lalu ia melirik semua benda yang sudah ia siapkan tadi. "Semuanya sudah beres ... jika memang Verga sudah punya janji makan siang dengan relasinya, itu tak masalah. Aku bisa makan sendiri sambil menunggunya kembali ke kantor. Lagipula aku belum pernah melihat bagaimana ruangan tempat dia bekerja."
**********
Di bagian belakang sebuah mobil hitam yang tengah melaju, Belinda duduk sambil menggenggam sebuah bungkusan berisi tablet dari resep yang tadi baru saja ia tebus di apotek. Hanya vitamin berupa suplemen. Meski tak sampai satu jam, konsultasinya dengan dokter Tiffany berjalan lancar. Bel sudah memahami beberapa hal tentang masa subur, juga sedikit pengetahuan tentang sistem reproduksi. Cara Tiffany menjelaskan hal tersebut kepadanya terasa mudah dipahami oleh Bel karena wanita itu tidak menggunakan bahasa medis yang tidak Bel mengerti.
Bel sibuk menghitung siklus menstruasi nya yang biasa. Diluar keterlambatan yang kemarin terjadi. Dugaan Belinda siklusnya yang itu terganggu karena setelah pernikahan ia memang sedikit stres dan banyak pikiran karena keinginan untuk pergi dan hidup bebas.
Namun, keinginan Bel sekarang adalah mempertahankan suaminya. Ia ingin selalu berada di samping Verga, dan keinginan itu akan terkabul bila ia bisa memberikan seorang pewaris. Meski cara Athena mengatakannya membuat muak, Bel mengakui hal itu benar.
Ayah Verone suka rumah yang ramai. Hal itu ynag menjadi penyebab beliau suka menginap di Marigold. Bila sudah hadir seorang cucu di Mansion Marchetti, pastilah ayah mertuanya itu akan terus menunggui cucunya. Belinda sangat yakin akan hal itu. Suaminyapun akan melupakan hal yang telah ia lakukan, pergi meninggalkannya seolah pria itu tidak berharga, Bel tahu ia sudah menyinggung harga diri Verga.
Pertemuan dengan Dokter Tiffany memberikan pencerahan dan pengetahuan bagi Belinda. Ia jadi memahami pentingnya memperkirakan dan menghitung masa subur bila ia mau meningkatkan peluang untuk memiliki keturunan.
Dalam siklus haid ada hari-hari tertentu dimana seorang wanita berada pada masa yang paling baik untuk melakukan hubungan intim secara teratur agar segera terjadi kehamilan. Bel sudah tahu cara menghitungnya, dan ketika saat itu tiba ia akan merayu suaminya habis-habisan.
Senyum Belinda berganti tawa geli ketika memikirkan hal itu. Ketika tersadar kalau ia tertawa sendiri, ia melirik ke arah depan mobil. Melihat apakah sopirnya mendengar. Namun Belinda lega ternyata pria yang diminta Henry, kepala pelayan Mansion untuk mengantarkan dirinya itu tidak bereaksi dan hanya terus mengemudi melakukan tugasnya mengantarkan Belinda ke gedung tempat kantor Marchetti berada.
Ketika mobil berhenti di depan pintu utama kantor Marchetti, Belinda segera menarik kotak makan siang yang sudah ia bawa. Pintu belakang mobil telah dibukakan oleh Peter, sopir yang telah diminta oleh Henry memastikan Nyonya mereka sampai ke tempat tujuan dengan selamat.
Awalnya Bel keberatan, ia mengatakan bisa pergi sendiri dengan taksi. Namun Henry berkeras, Henry mengatakan tentang tugas yang tidak dilakukan dengan baik dan teguran yang akan ia terima dari Verga bila membiarkan istri tuannya itu pergi sendirian di kota yang asing baginya.
Bel mengalah. Setidaknya, Peter hanya tahu ia pergi ke rumah sakit. Bel tidak perlu menjelaskan ia pergi menemui siapa.
"Terima kasih, Peter. "
Pria muda bernama Peter itu mengangguk, tersenyum dan kemudian kembali masuk ke belakang kemudi. Ia berlalu meninggalkan Belinda di depan gedung.
Bel merapikan rok gaunnya, lalu menyisir rambut yang tergerai di punggung dengan jemari, baru kemudian ia melangkahkan kaki memasuki gedung kantor.
Setelah tiba di lobi, ia menatap berkeliling dan melihat bagian recepcionist. Bel segera menuju kesana dan menyunggingkan senyum pada dua orang wanita yang berada di balik counter.
"Selamat siang, Nona. Bisakah Anda membantuku?"
"Selamat siang, Miss ... Ah ... Anda ...."
Kedua wanita tersebut saling berpandangan, lalu melirik ke arah Belinda sedikit lebih lama.
"Ah, maaf ... ada sesuatu di wajahku?" tanya Belinda. Agak bingung mengartikan pandangan mata para resepsionis tersebut.
"Maafkan kami, tapi ... Anda ...."
Belinda memutuskan mengatakan secara langsung keinginannya. "Bisakah kalian memberitahuku dimana ruangan Verga? Aku belum pernah kemari," ucap Belinda.
"Anda Nyonya Marchetti?" tanya salah satu wanita tersebut, mengkonfirmasi dugaan yang sudah mereka tebak sebelumnya.
"Ah, benar. Aku belum mengenalkan diri. Maafkan aku. Aku Belinda, istri Verga Marchetti. Bisakah kalian memberitahu dimana ruangannya?"
"Nyonya Belinda?" Suara seorang laki-laki dari belakang punggung Belinda membuat ia berbalik. Bel menemukan Juan sudah berdiri tak jauh dari sana.
"Juan, kebetulan sekali. Bisa antarkan aku ke ruangan Verga?"
"Tentu." Juan mengangguk, lalu melirik ke arah kotak makan siang yang dibawa Belinda. "Itu ...."
"Makan siang," jawab Belinda sambil tersenyum.
"Ah, beliau akan senang sekali. Mari, Nyonya. Saya antar."
Mereka berjalan berdampingan menuju sebuah lift. "Ini lift khusus menuju lantai tempat ruangan Tuan Verga," jelas Juan tanpa diminta.
"Kau tadi mau kemana? Aku jadi menghambat urusanmu."
"Tidak. Tuan meminta saya mencari latte dan juga makan siang. Kami selalu makan di ruangan beberapa hari ini. Pekerjaan kami agak banyak ... apalagi beberapa minggu ke depan."
"Begitu rupanya ... aku membawa banyak. Kau makan bersama kami saja."
Juan tersenyum. "Terima kasih ,Nyonya. Tapi tidak. Saya tidak akan mengganggu Anda berdua."
"Tidak. Kau tidak akan mengganggu."
Juan hanya tersenyum, berkata dalam hati pendapat Tuannya tidak akan sama. Pria itu pasti sangat keberatan bila Juan hadir dan menjadi nyamuk pengganggu. Saat ini, yang bisa mengalihkan Verga Marchetti dari target pekerjaannya hanyalah Belinda.
Setelah tiba di depan pintu ruang kantor atasannya, Juan mengetuk.
Belinda terlihat menoleh ke kiri dan kanan. "Di sini ... kantor?" tanyanya agak bingung karena tidak menemukan seorangpun di lorong tersebut.
"Ini lorong khusus, Nyonya. Tidak ada siapapun di sini. Staf setiap bagian menempati bagian lain."
"Masuklah, Juan!"
Terdengar suara Verga dari dalam ruangan. Juan segera mendorong pintu dan membukanya lebar-lebar.
"Bel!" seru Verga.
Belinda masuk dan tersenyum lebar. Rasa terkejut yang ia lihat di wajah suaminya membuat ia senang.
"Saya permisi, Tuan." Juan segera menutup pintu dan pergi dari sana.
"Ini tidak seperti kantor ....," ucap Belinda sambil memandang berkeliling.
"Kantornya Di sana. Hanya saja, aku suka bekerja di ruangan ini. santai dan aku bisa istirahat." Verga menunjuk ke sebuah pintu.
Belinda meletakkan kotak makan siang yang ia bawa, lalu mulai menjelajah di ruangan tersebut.
"Aku ingin lihat ruangan kantor tempatmu bekerja."
"Kalau itu, seharusnya tadi Juan mengajakmu masuk dari pintu kedua di lorong tadi," ucap Verga.
Belinda baru saja memegang gagang pintu penghubung menuju kantor Verga ketika lengannya ditangkap dan ia dibalikkan hingga berhadapan dengan suaminya itu.
"Kenapa tiba-tiba datang kemari?" tanya Verga.
"Sudah kubilang mau lihat bagaimana kantormu. Juga mau mengantarkan makan siang. Aku sendiri yang masak." Belinda mengedipkan sebelah matanya.
"Kalau kau begitu penasaran, aku bisa meluangkan waktu membawamu berkeliling, tur khusus, asalkan kau membuat janji."
"Astaga ... aku harus membuat janji, Tuan Marchetti?" tanya Bel dengan nada pura-pura terkejut.
"Ya, agar aku bisa mengatur waktunya, Nyonya,"
"Owh, Aku tidak tahu kau begitu sibuk."
Verga menarik pinggang Belinda dan mengajaknya duduk di sebuah sofa panjang. Belinda melihat kertas-kertas yang bertebaran di meja yang ada di depan sofa tersebut.
"Ah, aku memang mengganggu. Pekerjaanmu jadi terhenti."
Sebuah kecupan mendarat di pipi Belinda. "Kau tidak mengganggu. Pekerjaanku memang agak banyak. Apalagi beberapa minggu ke depan. Beberapa kesepakatan bisnis tiba-tiba berdatangan. Beberapa Tender juga berhasil dimenangkan. Kau membawa keberuntungan untukku, Bel."
Belinda merapikan dasi Verga yang agak miring dan longgar. "Bukan karena aku. Aku tahu kau bekerja keras untuk meraih apa yang kau inginkan."
Verga menaikkan alisnya. "Siapa yang mengatakan hal itu?"
"Aku," ucap Bel sambil menepuk pelan dada Verga.
Verga tertawa dan mencubit pipi istrinya. Ketika ia mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Belinda, dengan segera Belinda menghindar.
"Juan bisa kembali kapan saja," bisik Belinda.
Verga terkekeh. "Juan tidak akan kembali sampai kau keluar dari ruangan ini, Bel."
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Karena Juan tidak akan mau jadi pengganggu."
Usai mengatakannya Verga memerangkap wajah Belinda dengan kedua telapak tangan.
"Melihat wajah dan senyummu aku jadi mendapat asupan energi yang besar."
Belinda mengerutkan bibirnya. "Jangan berbohong, Tuan Marchetti. Makan siangmu belum kau makan. Mana mungkin energimu sudah terisi."
Verga mendekatkan wajahnya. "Aku lebih suka mencicipi yang ini lebih dulu," ucapnya sambil mencium dan mulai mencecap rasa bibir Belinda. Kecupan demi kecupan yang ia tahu selalu membawa dirinya untuk menginginkan lebih.
Tangan Verga memegang dasi dan melonggarkannya kembali, ciuman mereka selalu bisa mendatangkan hawa panas dan gelora. Ketika ciuman mereka terpisah agar bisa mengambil napas, senyum Verga mengembang. "Kau seharusnya tidak perlu merapikan dasiku. Pekerjaanmu tadi jadi sia-sia."
Belinda terbelalak ketika Verga mulai melepas dasi dan juga jas yang ia pakai. "Kau mau apa?" tanya Belinda.
"Bukankah sudah jelas?" Verga menatap Belinda dengan mata berkilat, sedetik kemudian ia berdiri dan mengangkat tubuh istrinya itu.
"Kita mau kemana!?"
Mata Belinda menatap terkejut ketika Verga menyentuh sebuah panel dan dinding pembatas di bagian sudut ruangan bergerak membuka. Memperlihatkan sebuah ruang kecil dengan sebuah ranjang yang berada di dekat kaca jendela gedung.
"Dulu ketika perusahaan sedang menanjak naik, kakekku kadang kelelahan. Dia membuat ruangan ini dan meletakkan tempat tidur itu untuk sekedar merebahkan badan."
"Kau pasti tidak serius mau tidur di tengah hari kan," ucap Belinda. Di dalam hati ia tahu pikiran suaminya itu sangat jauh dari keinginan tidur siang.
"Aku memikirkan kegiatan lain yang lebih menyenangkan dilakukan di tempat tidur itu, Bel. Salahmu sendiri datang kemari. Aku jadi menciummu dan menginginkanmu."
Setelah meletakkan Belinda di atas ranjang, Verga mulai melepaskan kancing kemejanya satu demi satu. Belinda menatap dengan mata terbelalak, ia melirik ke arah kaca yang memperlihatkan puncak gedung-gedung lain dengan nuansa langit biru berhias awan putih.
"Verga in-ini tengah hari."
"Aku tahu."
"Ini di gedung kantormu."
"Memangnya kenapa?"
"Ini tid-tidak biasa."
Verga naik ke tempat tidur dan memposisikan dirinya di atas Belinda. "Bayangkan saja ini di kamar kita."
"Ta-"
Protes Belinda terputus karena bibir suaminya sudah menutup dan menjelajahi bibirnya. Ciuman yang dengan segera direspon oleh tubuhnya sendiri. Kecupan dan tarian lidah yang selalu mampu membangkitkan gairah dan membuat detak jantungnya mulai berpacu seiring adrenalin yang memompa pembuluh darah.
Ketika bagian atas gaun Bel sudah menuruni bahu dan melorot hingga ke lengan, lalu ujung gaunnya yang sudah naik dan bertumpuk di pinggang. Diantara napasnya yang terengah, Belinda menahan kedua rahang Verga, menatap mata biru pria itu dengan mata berkilat.
"Kurasa, aku tidak ingin berbaring ...," bisik Belinda.
Warna biru di bola mata Verga terlihat makin jernih dan berkilau ketika Belinda bergerak dan membuat mereka bertukar posisi.
Verga menahan kelopak matanya, ketika gairah yang menderu memberikan kenikmatan dan membuat kelopak matanya ingin sekali menutup. Namun pemandangan Belinda yang bergerak di atasnya, dengan pipi merona, rambut dan gaun yang kusut terlihat sangat sensual dan menggoda.
Cahaya matahari dan langit biru menjadi latar ketika pasangan suami istri itu akhirnya mencapai puncak, terbaring penuh keringat sambil berpelukan di atas ranjang.
"Kurasa ... kau harus sering-sering mengantarkan makan siang untukku, " bisik Verga ke telinga Belinda. Bisikan yang segera mendapatkan hadiah cubitan di pinggangnya.
NEXT >>>>>>
***********
From Author,
Aku kok susah mo bikin konflik yang pahit untuk kisah mereka ya, hehehehe....
Akhirnya bisa selesai juga di edit dan bisa up. Mudah-mudahan bisa jadi obat rindu bagi penggemar BelVer. Semoga sehat selalu ya semuanya.
Jangan lupa tekan like, love, bintang lima, komentar dan vote ya. Atas dukungannya otor ucapkan terima kasih banyak.
Salam. DIANAZ.