Belinda

Belinda
45. Hunting



Daniel mendengarkan ucapan beberapa pria yang ada di dalam ruangan tanpa komentar. Hatinya ingin sekali bertanya dan mengguncang badan seseorang sehingga ada yang memperhatikan atau setidaknya memberi penjelasan. Namun, wajah serius dan aura gelap yang ada di sekitarnya membuat ia menahan diri.


Ia menyabarkan diri dan berkata dalam hati jangan terlalu khawatir dulu, Daniella memang tidak datang bersama Benjamin, namun putrinya pasti punya alasan bagus. Ella selalu berhati-hati dan pandai menjaga diri.


Snow mengulurkan sebuah ponsel pada Benjamin yang masih memperhatikan sebuah layar monitor sambil mendengarkan Timmy berbicara.


"Bos ..., Komandan," ucap Snow.


Benjamin mengambil benda tersebut dan mendekatkan ke telinganya.


"Kau di mana?"


Helaan napas terdengar berat. "Hutan ... masih di dekat lokasi syuting. Aku memeriksa mainan Timmy."


"Lalu?"


"Ada yang sengaja merusaknya. Benda-benda ini pada awalnya terpasang sangat baik. Sekarang seperti sengaja di injak berkali-kali."


"Hanya di titik itu?"


"Ya." Komandan berdeham, ia menarik napas berat sebelum melanjutkan. "Udara semakin dingin, Benjamin. Daniella sudah dipastikan tidak ada dimanapun. Ada jejak ban di dalam hutan. Jika benar orang yang mencuri mobil patroli di pos Mansion Evander adalah dalang menghilangnya Miss Dolores, kusarankan kau mulai bergerak sekarang."


Benjamin mengeretakkan giginya. " Apa maksudmu dengan mobil patroli?"


"Aku baru saja dari memeriksa hal itu di Mansion Evander, ketika Timmy menelpon dan menyuruhku memeriksa tempat ini."


"Kau tahu harus mencari kemana?"


"Ya. Kemarilah ... Hide dan seorang pengawal sudah pergi lebih dulu. Berkat denah seluruh tempat dan tanah yang kau berikan pada kami semua. Kurasa kita bisa memperkirakan beberapa tempat yang mungkin dipilih penyusup ini."


"Sialll! Tidak bisa hanya mengira-ngira, Brengsekk! Jika memang Ella pergi dibawa orang ini kau harus menentukan titik pastinya!"


Makian yang diucapkan dengan penuh emosi tersebut membuat semua orang terdiam dan saling berpandangan.


"Kau sudah memakiku, padahal aku belum bilang keseluruhan apa yang kutemukan di tempat ini," ucap Komandan dengan nada tenang. Ia membayangkan wajah gusar Benjamin. Pria itu pasti sedang dipenuhi kecemasan.


Benjamin memberi kode dengan tangannya agar semua rekannya bubar dan bergerak. Ia juga berjalan pergi dengan ponsel masih di telinga.


"Katakan dengan cepat!"


Daniel memotong jalan dengan menutup pintu dengan tubuhnya agar semua orang tidak ada yang bisa meninggalkan tempat itu tanpa penjelasan.


"Tidak ada yang boleh pergi. Apa maksud kalian dengan Ella dibawa pergi? Penyusup? Bukankah penguntit yang dulu mengganggunya dengan surat-surat mesum sudah ditangkap! Erick memastikan tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi! Lalu dimana putriku, Benjamin!?"


Benjamin menelan ludah. Ia melihat kecemasan di mata pria tua itu yang sama dengan apa yang ia rasakan saat ini.


"Tuan Daniel ... aku memohon pada Anda untuk tetap disini. Pastikan Nyonya Elena tidak khawatir. Aku berjanji membawa Daniella kepada Anda ...." Benjamin menatap langsung mata Daniel, "aku berjanji," ulangnya. Berharap dalam hati ia belum terlambat, berharap kecemasannya tidak beralasan, berharap DDnya baik-baik saja.


"Aku ikut denganmu!"


Benjamin menggeleng. "Tidak, Tuan Daniel. Cuaca di luar tidak baik untuk Anda. Dan seperti yang saya katakan tadi, pastikan Nyonya Elena tidak khawatir. Anda tidak mengenal daerah ini, Tuan. Kami semua cukup tahu tempat ini. Evander sudah memberikan seluruh denah tanahnya padaku saat dulu Ella memulai pekerjaannya di sini. Kami akan membawanya pulang ...."


Benjamin menganggukkan kepala pada Daniel, berpamitan sekali lagi dan pergi dengan langkah cepat.


Suara dari telepon kembali terdengar di telinganya.


"Akan sangat rumit, Black ...."


"Apa maksudmu, Komandan?"


"Jika penyusup ini seperti dugaan Timmy ... pria tua yang tadi bicara denganmu akan semakin tidak suka padamu."


"Tidak ada hubungannya!"


"Ada. Jika musuhmu menggunakan Daniella untuk memancingmu, pria tua itu tidak akan suka kebenaran tentang itu ...."


"Bisakah kau berhenti mengoceh hal yang tidak perlu? Katakan saja apa yang belum kau katakan tentang situasi di sana. Kami sedang ke sana!"


Terdengar tawa kecil dari komandan. Benjamin menggeram marah. "Jangan meremehkan situasi ini! Jika sesuatu terjadi padanya-"


"Aku sudah bilang, Hide sudah mengejarnya. Lagipula ...."


"Lagipula apa!?"


"Ah, nanti saja kuceritakan, ini hanya dugaan tak berdasar ... kabar lainnya adalah si asisten sutradara, Hector dipukul sampai pingsan. Kurasa ia melihat sesuatu. Tim medis di tendanya sedang berusaha membuatnya sadar."


Makian terdengar lagi, Benjamin menyumpah sambil mematikan ponsel. Ia segera melompat ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Snow.


"Kita pergi!" Benjamin tidak mengenali suaranya sendiri. Meski ia berkata dengan tegas, namun suaranya terdengar bergetar. Ia menunduk, lalu menyadari jari-jari dan tangannya juga gemetar. Ia menggenggam tangan menjadi kepalan, mengingat untuk pertama kali dalam hidupnya ia tidak dapat mengendalikan kecemasan yang meremas hatinya, mengutuk ketidakmampuannya mengendalikan situasi, dan berharap pada hal yang mustahil andai ia bisa mengubah keadaan, ia tidak akan pernah meninggalkan Daniella menemui sendiri orang tuanya hanya bersama Stanley.


**********


Daniella merasa sekujur tubuhnya terasa remuk ketika akhirnya mobil berhenti. Pria itu menariknya keluar, lalu menahan tubuhnya yang terhuyung agar tidak jatuh ke tanah. Kekuatannya perlahan berkurang, ketakutan dan kecemasan membuat seluruh tubuhnya gemetar.


Pria yang menangkapnya berjongkok, lalu mulai melepaskan tali ikatan di kakinya. Ella merasakan pedih dan kram di kedua kakinya.


"Jalan!"


Cahaya lampu kecil dari senter di tangan pria tersebut memperlihatkan sebuah rumah penjaga tak jauh di depan mereka. Sebuah jalan yang biasa dilalui juga langsung terlihat.


"Jalan, atau kau lebih suka aku mengangkatmu!?"


Ella langsung memaksa kakinya agar melangkah menuju rumah.


Pria itu mendorongnya masuk dan langsung mengunci pintu.


"Rumah penjaga hutan yang ini cukup jauh. Kurasa masih beberapa jam lagi ketika pengawalmu akhirnya mengetahui kalau kau menghilang. Mereka pasti mengira kau pulang ke hotel," ucap pria itu sambil mulai bergerak ke sudut ruangan dan mulai mengutak-atik sesuatu. Tak lama suara generator terdengar dan satu lampu menerangi ruangan dalam rumah jaga tersebut.


Ella menyipit dan menyadari keadaan dalam ruangan itu terlihat sangat baik.


"Di luar dugaan bukan?" pria itu tertawa, " Tuan Morrone orang kaya yang murah hati. Pekerjanya dipastikan sejahtera dan dapat bekerja dalam keadaan nyaman. Aku bisa saja terus bekerja dan mendapatkan suplai minuman gratis jika saja para anjjing Benjamin tidak mengendusku dan mulai mencari-cari identitasku."


Ella melangkah mundur ketika pria tersebut mulai berjalan dalam ruangan. Ia menghindar mengambil jarak terjauh.


Sebuah botol minuman dikeluarkan pria itu dari dalam laci sebuah meja. Ia membukanya dan mulai meminum langsung dari mulut botol dengan mata tak lepas dari sosok Ella yang sekarang sudah menempel di dinding ruangan.


"Aku membayangkan apa yang ada dibalik jubahmu itu," ucapnya sambil mengedipkan mata.


Ella makin menempel ke dinding, kedua tangannya yang terikat menempel ke dada. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. Ia sungguh tidak mengerti, kenapa pria itu menangkapnya. Bukankah Benjamin sudah menangkap penguntit mesum itu. Ataukah Benjamin salah mengira!


Setelah kembali meneguk dengan rakus, pria tersebut membuka mantel yang ia pakai, menyusul syal wol yang melilit di lehernya. Tampilan kaos turtle neck dan celana yang ia kenakan membuatnya tampak layaknya pekerja biasa.


"Apa kau tahu kenapa aku menangkapmu?"


Ella menggelengkan kepala.


"Untuk membalas Benjamin Antolini! Membalas apa yang sudah ia perbuat padaku!" seru pria itu dengan nada dingin, lalu ia perlahan melangkah mendekat.


"Dia memecatku! Menghentikan sumber uangku!"


Ella menjauh, bergeser dengan tubuh tetap menempel ke dinding.


"Puncaknya ... dia menyembunyikan istri dan putri kecilku! Itu tidak lagi dapat dimaafkan! Gabriel-" Pria tersebut tercekik ketika menyebut nama di ujung kalimatnya.


Lalu ia menerjang dan menyergap Ella. Menangkap Ella yang baru berlari beberapa langkah. Menarik rambut panjangnya yang terurai ke arah belakang, lalu satu lengannya melilit erat di seputar pinggang Ella.


"Aku mencarinya berbulan-bulan. Aku sadar ... jika tahu dimana mereka, aku tidak akan mudah menemui mereka. Penjaga dan pekerja orang itu akan menghentikanku! Padahal aku membutuhkan istriku!"


Kalimat terakhir diucapkan dengan nada putus asa.


Ella menahan rintihan dibalik sumpalan mulut atas rasa sakit di kulit kepalanya akibat tarikan tangan pria itu.


"Lalu aku mengintai Benjamin ... dia terlihat mulai dekat denganmu ...." Kepala pria itu mendekat dan menghidu rambut Ella.


"Kau berbeda dengan Gabby ... aku tidak suka rambut hitam," bisiknya di telinga Ella.


"Gabbyku pirang dan sangat cantik. Dia makin cantik ketika berteriak ...."


Ella merasakan ikatan di mulutnya ditarik, lalu kain di dalam mulutnya dilepas. Suara napas Ella memburu. Ketakutan serasa merenggut sisa kekuatannya ketika pria itu membalik tubuhnya hingga wajah mereka berhadapan.


"Aku ingin dengar teriakanmu." Seringai pria itu melebar melihat Ella yang ketakutan. Ia menempelkan hidungnya dan hidung Ella hingga mereka bertatapan.


"Kau gemetar. Kita belum melakukan apa-apa ... aku bahkan belum mulai. Apakah kau suka kita melakukannya di atas ranjang? Meski kecil, di dalam sana ada tempat tidur yang nyaman."


Netra Ella melebar, sekujur tubuhnya gemetar ketakutan.


"Entah apa yang dilakukan Benjamin pada Gabbyku. Semua orang menginginkannya, termasuk Benjamin! Aku tahu itu! Karena itu dia menyembunyikannya!"


Ella menelan ludah, ia berusaha membuang muka, namun tangan pria itu menahan rahangnya.


"Teriaklah! Kau takut bukan?"


Ella merasa lidahnya kelu untuk mengucapkan apapun.


"Jawab aku, Jalnng!"


Ella membuka mulut, namun tidak ada suara yang keluar.


"Aku bilang bersuara!" Kemarahan membuat pria itu mengayunkan tangannya dan memukul wajah Ella kuat-kuat. Wanita itu terhempas ke lantai, meringkuk, lalu tidak bergerak lagi.


Pria itu tertawa kecil. "Jangan mempermainkanku. Aku tidak akan tertipu aktingmu. Pukulan seperti itu tidak ada apa-apanya."


Melihat Ella tidak bergerak, ia berjongkok, lalu menyibak rambut Ella yang berantakan menutup wajahnya. Terlihat luka robek di bagian sisi wajah dekat tulang pipi wanita itu.


Pria itu langsung memeriksa tangannya dan menyadari cincin yang tersemat di jarinyalah yang melukai wajah wanita itu.


"Cih! Lemah! Pingsan hanya karena ini! Ketakutan dan meringkuk seperti tikus! Membuatku kehilangan selera!"


Pria itu bangkit, lalu kembali pada botol minumannya. "Hanya Gabby yang pemberani. Aku sangat rindu padanya ...." bisik pria itu pada keheningan.


NEXT >>>>>


**********