
Miranda Cardy tersenyum senang melihat sosok seorang pria berbadan kecil dengan rambut keriting yang mendatanginya. Pria itu pun membalas senyum Miranda. Seringai senang keduanya dan pelukan yang erat ketika mereka bertemu memperlihatkan hubungan yang akrab dan sudah lama.
"Kau datang," ucap Miranda.
"Pasti, Sayangku. Kau memberikan bahan untukku. Tidak mungkin aku mengabaikannya."
Miranda terkikik. Ia mendekatkan bibir ke telinga temannya tersebut. "Kau ku undang sebagai keluarga. Jadi kau bebas berkeliaran. Aku akan mengenalkanmu pada mereka sebagai keluarga jauhku."
"Itu melegakan, Sayang. Aku tidak mau diusir ketika sedang berburu berita."
"Tidak akan. Kau beruntung datang hari ini, karena targetmu tadi terlihat datang bersama Tuan Antolini. Mereka kemarin makan malam di tempat Evander, lalu tidak kembali ke hotel sampai sore ini. Mereka baru kembali beberapa menit yang lalu. Kami akan syuting di luar hotel mulai besok pagi. Pasang mata dan juga kameramu, Temanku. Buatlah berita yang menarik. Tak apa melambungkan namanya, tapi dalam artian buruk, itu akan sangat menyenangkan."
"Kau sama sekali tidak menyukainya ya."
Gelak tawa temannya setelah mengucapkan kalimat itu membuat Miranda cemberut dan menepuk pelan pundak pria itu.
"Aku memang tidak suka dia. Selagi karirnya masih bersinar, aku akan terus berada di bawahnya. Dulu, ketika ia sempat berhenti aku langsung melejit!"
"Itu hanya perasaanmu. Bukankah sekarang ketika dia bermain lagi, kau sudah mendapatkan posisimu. Peran utama."
Miranda mendengus. "Kau membaca berita bukan? Mereka semua menanti film terbaru Nona Dolores. Mereka makin penasaran karena kali ini, Nona cantik kesayangan mereka itu mengambil peran sebagai tokoh antagonis. Mereka sangat antusias menanti pemutaran film perdananya. Itu sangat mengesalkan! Seolah mereka tidak memandang pemeran lainnya!"
"Karena itu kau memanggilku bukan? Aku berterimakasih. Sekarang mari kita mulai. Perkenalkan aku secara perlahan dengan para krumu.
**********
"Kenapa aku tidak boleh masuk ke kamarku sendiri?" Daniella memandang heran pada Benjamin dan Snow yang sekarang duduk santai di dalam kamar yang ditempati Ben. Kamar yang bersebelahan dengan kamarnya di hotel Copedam Hill.
"Karena kamarmu penuh kamera pengawas, DD." Benjamin mengikuti sosok Daniella yang sekarang berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di ujung kaki ranjang.
"Kalian tinggal membersihkannya!"
"Belum sekarang, Miss," ucap Snow.
"Kenapa?"
"Karena rencana malam ini, Stan akan menangkap basah pria yang menyuruh untuk memasangnya. Kita perlu ini untuk menekan pria itu. Aku tidak akan membiarkan dia bermain-main lagi. Kita selesaikan masalah dengan semua orang yang merasa punya masalah denganmu, DD."
"Masalah? Dengan ku? Siapa? Penguntitku dulu adalah orang asing! Surat-surat kaleng yang dikirim padaku juga tidak diketahui siapa pembuatnya, apakah kalian sudah menemukannya dan mencurigai orang itu sebenarnya adalah orang yang aku kenal? " Daniella memandang heran pada Benjamin. Ia tidak merasa punya musuh dalam rombongan kru tersebut.
"Kau terlalu naif ...."
"Katakan siapa yang kalian maksudkan?"
Snow dan Benjamin saling berpandangan. "Lakukan seluruh kegiatan seperti mandi dan ganti baju di kamar ini. Bernie sudah kuberitahu agar mengurus perlengkapanmu dan membawanya kemari. Tapi semua perlengkapanmu di kamar sana jangan diganggu, jangan membuatnya curiga kalau kau sudah tahu kau diawasi."
"Aku ... diintip seseorang?"
"Bisa dibilang begitu. Ketika awal kau tiba, kamar ini juga penuh kamera. Namun, Stan membersihkannya. Tapi sekarang Bos membiarkannya. Hanya untuk malam ini, Miss ...." Snow menganggukkan kepala ketika Ella menatapnya.
"Tapi Snow ... aku tidak akan bisa tidur ketika tahu aku diawasi ...."
"Kau perlu bersikap biasa. Ketika sudah waktunya tidur, naik dan tidurlah di atas ranjangmu, DD," perintah Benjamin
"Dan apa yang akan kau lakukan?"
"Kami akan menangkap pria mesum yang memasang kamera di kamarmu. Tanpa membuat ribut dan membuat ia mengakui kalau pria yang dulu pernah menangkapmu adalah orang suruhannya.
Daniella mengerut dan mencoba mengatur napasnya yang sesak. Dia punya musuh ... betapa sombongnya ia selama ini. Mengira semua orang menyukainya dan suka berteman dengannya.
Snow memilih saat itu untuk keluar. "Aku akan menemui Stanley dulu, Bos. Bernie juga akan datang membawa perlengkapan Nona Ella sebentar lagi."
Benjamin menganggukkan kepalanya. Ia menunggu sampai Snow menutup pintu baru bangkit dari kursinya. Ben melangkah mendekat sampai ke depan kaki Ella.
"Kau takut?"
"Aku ...." Ella berdeham, kemudian mencoba santai dengan tertawa kecil. "Situasi seperti ini ... baru kali ini kualami. Aku tidak menyadari kalau aku punya banyak musuh."
"Kadang tidak perlu berbuat jahat untuk mendapatkan musuh, DD. Berbuat baik pun bisa saja mendapatkan musuh. Orang dengki, iri dan picik tidak suka dengan orang baik."
"Apakah ... aku-ak-an baik-baik saja, Ben?"
Suara DD yang lemah dan terbata membuat Benjamin merasa iba. DD yang ia kenal penuh semangat, berani dan energik. Wanita itu sekarang seperti patah semangat dan ketakutan.
Ben mengulurkan tangan dan memegang kedua lengan atas Ella. Ia mengajak wanita itu bangkit berdiri.
"Kau percaya padaku bukan?"
Ella menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, ikutilah apa yang telah kami atur malam ini. Aku tidak akan bersantai lagi Ella. Semua orang yang membuat hidupmu bahaya dan juga memiliki niat buruk padamu harus kita bersihkan satu demi satu."
"Katakan siapa saja?"
Benjamin menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak perlu tahu. Kau masih harus bekerja secara profesional dengan orang-orang ini."
Ella tahu dari ucapan tersebut kalau orang yang Ben maksud pastilah orang dalam kru film.
"Aku ... benar-benar harus masuk ke sana dan berpura-pura tidak tahu kalau aku diintip?"
Benjamin mengangguk. Kedua bahu Ella turun dan ia menatap Benjamin dengan tatapan memohon.
"Jangan takut. Aku akan menjagamu, tidak akan lama. Aku berjanji."
"Kau akan segera datang dan memberitahuku kalau orang itu sudah ditangkap? Aku tidak akan bisa memejamkan mata sepanjang malam kalau tahu kameranya masih terpasang."
"Pasti, DD. Aku akan memberitahumu. Lalu kau bisa tidur dengan nyenyak."
Daniella mengembuskan napas panjang, lalu tanpa aba-aba ia mengulurkan tangan dan memeluk Benjamin, menempelkan pipinya di dada pria tersebut.
"Aku butuh pelukan lagi ... jika kau tanya aku, aku sama sekali tidak mau berada dalam situasi yang akan menjelang beberapa jam ke depan. Entah apa yang orang itu pikirkan ketika mengawasiku di atas tempat tidur."
Benjamin tahu dengan pasti apa yang dipikirkan pria mesum tersebut. Tapi ia menyimpan pikirannya. Tidak mau membuat Ella semakin takut dan tidak nyaman.
"Dia ... tidak berpikir hal tidak senonoh seperti meniduriku waktu mengintip lewat kamera itu kan, Ben?"
Benjamin memejamkan mata. Sejak tadi ia menahan kedua tangannya agar tidak terangkat dan balas memeluk Ella. Ia ingin melakukan pendekatan secara hormat dan normal setelah semua hal yang membahayakan dan mengganggu Ella selesai. Namun Daniella benar-benar memberinya ujian untuk bersikap sebagai lelaki terhormat. Wanita itu tanpa ragu menyentuhnya, menciumnya atau memeluknya. Sekarang pertanyaan Ella yang diutarakan dengan sedikit bergidik membuat Benjamin merasa sangat ingin memeluk dan memberikan kenyamanan pada wanita itu.
"Hanya sebentar. Percaya padaku dan beranikan dirimu, DD." Benjamin merengkuh Ella dalam kedua lengannya dan menunduk mencium puncak kepala wanita itu. Kecupan yang membuat Ella mendongak dan menatap kedua matanya dengan penuh damba.
Jangan tatap aku begitu, DD
NEXT <>>>>>
**********
From author,
Mohon maaf untuk waktu update yang mulai tidak menentu ya readers black. Kesibukan author di RL sedang padat. Waktu menulis sangat berkurang. Mohon doa semoga otor sehat selalu agar bisa sempat menulis dan update Black-DD.
Mohon dukungannya juga dengan tekan like, love, bintang lima, vote koin dan poin untuk novel ini, tinggalkan juga jejakmu dengan komentar. Author mengucapkan terimakasih banyak untuk dukungannya.
Semoga sehat selalu, salam.
DIANAZ.