Belinda

Belinda
32. Mom's ring



Mandi air hangat dengan sabun beraroma bunga mawar sedikit menghilangkan rasa lelah Ella. Tubuhnya yang polos tanpa pakaian tenggelam sepenuhnya dalam bathtub, bagian permukaan tertutupi oleh busa, hanya bagian kepalanyanya muncul dan bersandar pada bagian kepala bathtub.


Ella termenung, tidak menyadari entah berapa lama ia sudah menghabiskan waktu di kamar mandi.


Merasa sangat bodoh dan menyedihkan, Ella mengangkat tangannya dari pinggiran bathtub, lalu memukul air berbusa keras-keras, hingga buih bertebaran dan memercik ke wajahnya.


"Bodoh! Jangan pikirkan dia!" perintah Ella pada dirinya sendiri. Namun, hatinya tidak dapat dipungkiri merasa sangat sedih. Ia mengusap wajah, lalu mendapati air yang membasahi wajahnya bukan hanya air mandi dan buih, tapi juga air mata.


Ella melipat kaki, memeluk lututnya sendiri, meringkuk dan menyembunyikan wajahnya di atas lutut. Isak tangis terdengar kemudian.


"Apa yang kau harapkan? Ia memelukmu lalu mengatakan mencintaimu? Kau menyedihkan DD," bisik Ella merana. Tangisnya makin kencang ketika menyebut DD, teringat manisnya bibir Benjamin ketika menyebut namanya.


**********


"Kau mau apa?" Belardo menatap Benjamin lekat-lekat. Ia sangat terkejut sekaligus penasaran. Permintaan Benjamin sangat aneh dan juga tidak biasa.


"Aku menginginkan cincin kawin milik ibu."


"Cincin itu sangat penting, Ben. Benda berharga milik ibumu."


"Aku tahu, Ayah."


"Kau ... memintanya?"


Benjamin mengangguk.


"Apa aku boleh tahu mau kau apakan benda itu?"


Benjamin menarik napas panjang. Ia tahu harus mengatakan alasan pada ayahnya.


"Aku ... sudah memesan sendiri dari ayah Dante ... butuh beberapa waktu sampai cincin yang kuinginkan selesai. Tapi aku butuh cincin ibu untuk melamar wanita itu secepatnya, untuk cincin pertunangan, Ayah. Cincin yang kupesan akan kuberikan ketika kami menikah."


Mata Belardo terbelalak. "Kau serius?"


Benjamin mengangguk. "Ya."


Belardo tertawa. "Selamat, Anakku! Selamat! Akhirnya!" Belardo segera mendekat dan memeluk putranya, telapak tangannya menepuk punggung Benjamin berulang kali.


"Ibumu pas-ti bahagia sekali di sur-ga sana," ucap Belardo terputus-putus.


Benjamin mengernyit, lalu memisahkan diri dari pelukan ayahnya.


"Ayah ... menangis?"


Belardo tampak malu, sambil mengusap air mata ia tertawa pelan.


"Aku sangat bahagia! Kau memberi kabar mengejutkan. Katakan! Siapa wanita istimewa ini?"


Bayangan Belardo tertuju pada seorang tamu yang menginap di kamar Mansionnya beberapa hari yang lalu. Daniella Dolores adalah wanita yang pasti akan sangat cocok jadi menantunya. Meski Benjamin tidak mengatakannya, tapi ia tahu putranya tertarik dengan wanita itu. Belardo memikirkannya dengan hati berdendang gembira.


"Itu adalah sebuah kejutan. Aku akan mengajaknya ke sini pada makan malam rutin keluarga kita. Pada saat itu aku harap dia sudah memakai cincinku, karena itu-"


"Ya. Ayo, Nak. Ayo ke kamarku, kita ambil cincin ibumu. Aku akan mendoakanmu semoga dia akan menerima lamaranmu, Benjamin."


Di luar pintu ruang kerja, Maurice yang sedang menguping dan menempelkan telinga di pintu menjadi panik. Ia berlari meninggalkan tempat itu menuju ke arah beranda samping, karena tergesa-gesa, salah satu sandalnya terlepas. Suara pintu yang terbuka membuat Maurice tidak sempat menyelamatkan sandalnya, sehingga ia meninggalkan benda itu untuk menyelamatkan diri dan agar tidak terlihat oleh suami dan putranya itu.


Benjamin dan Belardo berhenti berjalan ketika menemukan sandal rumah yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Alis keduanya terangkat.


"Ini ...." Benjamin berdeham, dapat mengira milik siapa sandal tersebut. Ia melirik jarak antara sandal dan pintu ruang kerja ayahnya.


Tawa Belardo menggema, ia jadi geli memikirkan Maurice yang pasti telah menguping di depan pintu ketika ia sedang berbicara dengan Benjamin.


"Aku akan menegur wanita itu," ucap Belardo, menepuk pelan lengan Benjamin.


Benjamin menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Ayah. Lagipula Maurice juga berhak tahu, karena saat aku mengundang tunanganku makan malam nanti, Mauricelah yang akan dibuat sibuk untuk menyiapkannya."


Belardo tersenyum, bahagia mendengar ucapan Benjamin yang menunjukkan penghargaan untuk Maurice.


"Tapi dia keterlaluan. Menguping tanpa malu," ucap Belardo diiringi tawa geli.


Belardo mengangkat alis mendengar ucapan Ben, lalu ia mengangguk dan kembali tertawa kencang. "Kurasa kau benar, Ben. Ayo ... kita ambil cincin ibumu."


Maurice yang berlari ke beranda samping berhenti dan menarik napas terengah-engah. Ia berkacak pinggang dan agak membungkuk, mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak mungkin.


"Haish! Hampir saja! Kalau aku ketahuan, aku bisa dihukum Belardo! Kabar yang mengejutkan! Astaga! Siapa? Siapa dia? Dia harus baik hati dan tidak sombong, bagaimana jadinya nasibku dan Alana bila istri pewaris Antolini orang yang sombong lagi tamak. Aku dan Alana bisa-bisa dijadikan pelayan bila Belardo dan Benjamin sedang tidak ada di rumah. Dia akan sangat berkuasa, Alana harus bekerja bila menginginkan biaya kuliah, aku harus membersihkan rumah bila menginginkan uang untuk melakukan hobiku dan berkumpul dengan teman-temanku ... aku bisa dihina oleh mereka karena memakai gaun lama, sepatu lama, tas lama ... tidak ada lagi barang baru, tidak a-"


"Ibu!"


Teriakan itu membuat Maurice berhenti mengoceh. Ia melihat Alana di pinggir kolam renang yang ada tak jauh dari beranda samping. Maurice segera mendatangi putrinya.


"Alana! Keluarlah dari sana, Sayang! Ibu mau bicara!"


"Ada apa, Ibu? Kau tampak gusar?"


"Bukan gusar saja, Alana. Ini tentang masa depan kita berdua!"


"Ada apa dengan itu?" Alana keluar dari dalam air, menyambut tangan ibunya yang terulur.


"Ayo, kita bicara di sana," tunjuk Maurice ke tempat duduk di bawah payung lebar di tepi kanan kolam.


Setelah duduk di kursi, Alana menatap ibunya sambil mengeringkan diri dengan sebuah handuk.


"Dadamu tumbuh sempurna," komentar Maurice menunjuk belahan dada Alana yang menyembul dari balik pakaian renangnya yang berwarna hijau.


"Jadi masa depan yang mau ibu bicarakan tadi tentang buah dadaaku? Kenapa? Apa ada pria yang ingin Ibu sodorkan? Pria kaya raya!?" sindir Alana dengan nada merajuk.


"Hih! Kau belum cocok pacaran, apalagi menikah! Ibumu belum segila itu!"


"Ya, belum gila ... tapi sempat berpikir untuk menjodohkanku dengan Verga Marchetti yang kaya raya, menggantikan Belinda."


"Itu hanya rencana impulsif! Lagipula jika saat itu Belardo dan Benjamin menerima usulku, kau hanya bertunangan! Akan menikah jika umurmu cukup! Bukan menikah saat itu juga!"


"Oh, begitu. Padahal Paman Verone mau anaknya menikah secepat mungkin ... Ah, sudah, Ibu! Jangan melantur! Cepat katakan apa yang membuat ibu gusar!"


Maurice langsung teringat apa yang sebenarnya ingin ia katakan pada Alana.


"Lana ... aku mendengar kabar buruk."


Maurice mendekatkan bibir ke telinga Alana, berbisik tentang apa yang ia dengar. Ia tidak melihat wajah Alana yang berubah pucat selama mendengarkan bisikan ibunya.


Setelah Maurice selesai, Alana menggenggam tangan ibunya. Ia menelan ludah, wajahnya pucat dan cemas.


"Ibu ...."


"Kenapa kau pucat sekali? Kau sakit?"


"Ibu ... kita harus bicara dengan Ayah."


"Ibu juga berpikir begitu. Tapi ayahmu juga belum tahu siapa wanita itu."


Alana kembali menelan ludah, ia meremas tangan ibunya. "Aku juga tidak dapat menduga siapa wanita ini, Bu. Tapi ada sesuatu yang belum kuceritakan pada ayah. Sesuatu yang mungkin saja ada hubungannya dengan Ben."


"Tentang apa, Lana?"


"Athena, Bu."


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.