Belinda

Belinda
42. Unexpected visitor 2



"Tendanya gelap, Daniel. Tidak mungkin Ella di sini. Dia mungkin sedang bersama para kru."


Elena menghentikan langkahnya tepat lima langkah di depan tenda Ella. Tangannya yang bergandengan dengan Daniel membuat pria itu harus ikut berhenti berjalan.


"Kau benar. Snow, atau Stanley, anak buah Erick pasti ada di sini bila Ella ada di tenda."


Kepala Daniel menatap berkeliling, cahaya sangat samar dari lampu-lampu yang dipasang oleh para kru membuatnya bisa melihat sosok Stanley yang berlari ke arah tenda. Senyum Daniel mengembang.


"Itu dia!"


Stanley tiba dengan napas terengah. Ia melirik ke pintu tenda dan menyadari lampu baru saja dihidupkan kembali.


"Ehem! Selamat Malam, Tuan Dolores! Anda tidak bilang akan datang malam ini!" Stanley mengucapkan kalimatnya setengah berteriak.


Daniel dan Elena tersenyum, namun menyadari cahaya di dalam tenda telah hidup. Keduanya tersenyum berbarengan.


"Ah, kau bicara terlalu keras, Stan. Tak perlu berteriak. Ella ada bukan? Dia jadi tahu kami datang." Elena melepas genggaman tangan suaminya, lalu segera masuk ke dalam tenda.


"Nyo-nyonya-- it-" Stanley berhenti ketika Elena Dolores telah masuk. Ia mengumpat dan berharap teriakannya tadi telah membuat bosnya siaga dan melakukan apa yang perlu dilakukan. Apapun itu.


"Ada apa, Stan?"


Daniel tersenyum menenangkan. Ia mengira Stanley yang terlihat tidak nyaman pastilah karena merasa bersalah kedapatan meninggalkan posnya, meninggalkan Ella sendiri di tenda sementara putrinya itu beristirahat.


"Semuanya aman bukan, Stan?"


Stanley mengangguk, sangat penasaran dengan apa yang terjadi dibalik kain tenda yang tebal. Jika bisa membuat Daniel berada di luar lebih lama ia akan melakukan segala cara. Setidaknya Elena Dolores yang telah masuk lebih dulu dan tidak bersuara tidak akan memukul bosnya apapun yang telah ia lihat di dalam sana.


Elena Dolores menyingkap tenda, masuk dan berdiri diam dengan mata terkejut dan mulut menganga.


Daniella tengah menaikkan kedua lengan gaunnya dengan panik, lalu setelah melihat ibunya, wanita itu meletakkan jari telunjuk di bibir.


"Sttt ... Mom ... please ...."


Elena menaikkan sebelah alis. Putrinya yang sudah sangat dewasa dan matang terlihat seperti anak remaja yang baru saja ketahuan menikmati ciuman penuh gairah bersama teman prianya.


Well ... teman pria yang tidak disangka-sangka, batin Elena.


Ia melihat ke arah Benjamin Antolini yang masih berusaha mengatur napas. Pria itu baru saja selesai memasukkan kembali kemejanya ke dalam celana ketika tadi ia masuk. Sekarang, kakak ipar Verga itu sedang berusaha mengancingkan kemejanya sampai atas. Elena sempat melihat Benjamin memejamkan mata sejenak dengan bibir bergerak seperti melafazkan makian.


Setelah selesai merapikan pakaian, keduanya berdiri menghadap Elena. Benjamin menganggukkan kepala, lalu dengan elegan menyapanya dengan wajah diatur tanpa ekspresi. Kegelisahan yang sempat Elena lihat ketika pria itu tengah mengancingkan kemeja telah hilang sepenuhnya.


"Selamat malam, Nyonya Dolores," sapa Benjamin.


"Mmm ... Mom ... ini kejutan? Mom tidak bilang mau datang kemari."


Elena beralih menatap putrinya, lalu kembali lagi menatap Benjamin. Ia masih mendengar obrolan basa-basi antara Daniel dan Stanley. Ia yakin mereka akan selesai sebentar lagi dan akan masuk.


"Rapikan rambut kalian," ucap Elena datar.


Daniella segera melakukan apa yang ibunya ucapkan. Ia menyisir rambutnya dengan jemari. Begitu juga dengan Benjamin.


Elena hampir saja tersenyum melihat pasangan itu. Ia jadi membayangkan apa yang dilakukan putrinya sampai rambut Benjamin jadi sekusut itu. Ia juga menertawakan Ella yang berusaha tampak biasa saja dan tampil normal.


Sayangnya tidak akan tampak normal, Sayangku. Bibirmu kelihatan sekali baru saja dicium habis-habisan. Pakaianmu mungkin sudah rapi. Tapi bibir dan rona di wajahmu tetap saja akan membuat pikiran orang yang melihatnya menebak apa yang baru saja kalian lakukan.


Elena memilih menjawab salam Benjamin dengan anggukan kepala. Ia menahan bibirnya agar tidak mengucapkan apapun pada pria itu. Lagipula, Daniel akan masuk dan akan mengatakan sesuatu pada pasangan tersebut.


"Elena, Ella-" Daniel yang baru saja masuk terhalang tubuh istrinya. "kenapa kau hanya berdi-"


Kata-kata Daniel kembali terpotong ketika ia melihat ke depan dan mendapati Daniella tidak sendiri. Ada orang lain di sana. Sosok di sebelah putrinya itu sudah sangat ia kenal. Pria itu menganggukkan kepala padanya.


"Selamat malam, Tuan Daniel," sapa Benjamin.


Mata Daniel menatap bolak-balik antara Benjamin dan Daniella. Ia menyipit ketika menatap wajah putrinya.


Elena menggigit bibir atasnya, ia tahu apa yang dipikirkan oleh suaminya itu.


"Dad." Daniella berdeham, menelan ludah untuk melancarkan tenggorokannya sebelum kembali berkata. "Dad ... ini ...." Ella kembali berhenti. Kebingungan mau mengucapkan apa pada ayahnya itu.


"Kami sangat senang melihat Anda berdua. Selamat datang. Andai Anda berdua mengatakan akan berkunjung, saya pasti akan menjemput Anda berdua," ucap Benjamin dengan nada sangat sopan.


Mata Daniel berpindah pada wajah Benjamin. Tatapan penuh selidik dan penuh ketegasan.


"Dan kenapa aku harus mengatakan kedatanganku kepadamu? Karena kau ipar Verga? Kenapa kau perlu repot menjemput kami berdua?"


Benjamin melirik Daniella, lalu menarik napas panjang dan menatap Daniel dengan tatapan yakin. "Karena Anda berdua adalah calon mertuaku."


"Saya sudah melamar putri Anda dan dia menerimanya," tambah Benjamin.


Daniel menyipitkan mata, wajahnya terlihat dingin. Ia memperhatikan tangan Ella, menyelidik apakah putrinya itu mengenakan cincin. Elena melakukan hal yang sama.


Ella tahu ayah dan ibunya pasti tidak akan percaya. Karena selama ini, apapun yang terjadi dalam kehidupannya selalu ia ceritakan pada orang tuanya itu.


"Dia mengatakan yang sebenarnya, Mom, Dad ... aku sudah menerima lamarannya. Mmm ...." Ella mengangkat tangan kiri dan memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya.


"Apa yang terjadi? Apa ada yang tidak kuketahui?" tanya Daniel.


"Maksud, Daddy?"


"Hampir dua bulan kau di sini, Dani ... sebelumnya aku tidak tahu kalau kau punya hubungan dengan ...." Mata Daniel hanya melirik ke arah Benjamin, tanpa menyebutkan nama pria itu.


Daniella tahu bahwa Daniel marah dan baru saja menegurnya. Panggilan ayahnya yang menyebut nama Dani membuatnya tahu bagaimana sesungguhnya perasaan ayahnya meski nada suara pria itu masih datar dan terkendali.


"Kami minta maaf harus memberitahukan hal ini secara mendadak. Saya bermaksud mengundang Anda berdua ke kediaman Antolini dan melamar Daniella secara resmi di hadapan keluarga setelah seluruh pekerjaan Ella di sini selesai." Benjamin menggerakkan jemarinya, merasa ujung-ujung jarinya mulai kaku.


Daniel melangkah mendekat. Setiap langkah yang menutup jarak antara ia dan Benjamin. Ia berdiri tepat di depan pria itu.


"Apa yang sudah kau lakukan pada putriku?" desis Daniel setelah mereka berhadapan.


"Daniel," ucap Elena dengan suara lembut mengingatkan.


"Dad ... ti-tidak ada yang-" Ella menutup mulut ketika ayahnya menoleh dan menatap tajam padanya.


"Jangan memarahi, Daniella, Tuan Daniel. Hubungan kami mungkin terbentuk dalam waktu singkat. Tapi saya sungguh-sungguh terhadap putri Anda."


"Benarkah? Apakah niatmu tulus, Antolini? Jika ya ... kenapa kau hanya berdua dengannya di dalam sini? Tidakkah kau tahu kau bisa membuat putriku terkena masalah. Apa kau sungguh memikirkan reputasinya? "


"Jangan salah paham, Tuan Daniel. Saya sudah beberapa waktu ada di sini dan bersama Snow ikut menjaga Daniella. Semua orang sudah terbiasa melihat saya ada di tempat ini."


"Oh ya? Termasuk menyelinap di malam hari? Mereka juga terbiasa melihat hal itu?"


Benjamin menelan ludah. Ia melihat mata Daniel memperhatikan wajah putrinya dengan lebih seksama. Ia mengumpat ketika bara api kemarahan terlihat di sorot mata Daniel.


"Kau belum menjawabku, Antolini ... kau apakan putriku?"


Pertanyaan yang diutarakan dengan nada dingin itu membuat Benjamin meremang. Ia menutup mulut rapat-rapat ketika melihat kedua tangan Daniel yang sebelumnya berada di dalam kantong mantel telah dikeluarkan.


Lebih baik aku diam saja. Menjawab ataupun tidak, kau tetap akan memukulku, Benjamin membatin.


"Tidak mau menjawab?" desis Daniel.


Setelah lima detik menunggu dan melihat bibir Benjamin masih terkatup rapat, Daniel melayangkan tinjunya ke arah rahang Benjamin.


Pukulan telak yang sangat kuat dari seorang pria yang terbiasa berolahraga di ring tinju membuat Benjamin terpental ke sudut tenda.


"Dad!" Daniella berseru sambil berlari ke arah Benjamin. Ia duduk di sebelah Ben yang sedang menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan.


"Kau punya waktu dua menit, Dani. Pulang bersama kami ke hotel. Ayah mau bicara. Kami tunggu di mobil!"


Daniel melemparkan tatapan dingin sekali lagi ke arah Benjamin sebelum berbalik dan menemui istrinya. "Ayo, Elena. Kita pulang ke hotel."


Elena mengangguk dan memberikan tatapan sayang pada Daniella. Ia melambaikan tangan dan dengan terpaksa mengikuti Daniel keluar tenda.


"Dua menit, Dani!" seru Daniel.


Tiba di luar tenda, Daniel menatap Stanley yang berdiri sambil menundukkan kepala. Snow juga ada di sana dengan tangan memegang satu cup berisi kopi.


"Dua menit lagi bawa putriku ke mobil!"


"Ya, Tuan," jawab Stan dan Snow berbarengan.


NEXT >>>>>>


**********


From author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.