
Benjamin berhenti di depan pintu kamar tamu. Ia memutuskan mengetuk pelan dua kali dan menunggu selama lima detik sebelum membuka gagang pintu.
Sinar lampu temaram menerangi kamar tersebut. Ben melihat ke arah tempat tidur. Daniella masih tertidur dengan selimut sebatas pinggang. Ben mendekat di sisi ranjang dan melihat gaun tidur berenda yang dipakai wanita itu. Ia berterimakasih pada Maurice yang telah mengganti gaun merah Ella yang pastinya sangat tidak nyaman bila dibawa tidur.
Mata Ben bergerak ke sisi lain ranjang ketika merasakan ada gerakan. Alana tertidur dengan punggung bersandar di bagian kepala ranjang. Selimut menutupi hingga paha gadis itu. Mulut Alana agak terbuka dengan kedua tangan terlipat rapi di pangkuan. Gadis itu menepati janjinya menjaga dan menunggui Ella.
Ben berjalan ke sisi ranjang Alana, lalu membuka selimut dan memperbaiki posisi Alana sehingga gadis itu tidur dengan posisi berbaring, baru kemudian ia menaikkan kembali selimut hingga pinggang Alana. Satu tepukan sayang tanpa sadar ia berikan di pipi Alana sebagai ucapan terima kasih.
Setelahnya Ben kembali ke sisi Daniella, mengangkat sebuah kursi dan meletakkannya di sisi tempat tidur bagian Ella. Ia duduk bersandar dengan mata menatap tak berkedip ke wajah Ella yang tertidur nyenyak.
Orang ini harus segera ditemukan ... aku tidak akan bisa tenang jika kejadian seperti ini terulang lagi, DD ....
Benjamin memandangi keseluruhan wajah cantik Ella, lalu matanya terfokus pada bibir Ella yang polos tanpa lipstik. Maurice pasti juga sudah membersihkan wajah Ella.
Ben memajukan badan agar dapat menatap bibir Ella lebih dekat. Pikirannya kembali pada ciuman tiba-tiba yang dilakukan Ella di Mansion Evander. Ciuman yang memberikan kejutan di seluruh tubuh juga hatinya.
Kau membuatku terkejut setengah mati, DD ... kau menggoda inderaku, membuat darah dalam pembuluh nadiku mengalir deras, membuat perasaanku menjadi hangat sekaligus gelisah... kau benar, aku resah bila di dekatmu, tapi aku tahu setelah ini, aku akan semakin resah bila kau tidak ada di dekatku ...
Ben mengulurkan jemari tangan kanannya. Ia melirik sebentar ke arah Alana dan melihat adiknya itu masih terpejam. Dengan ujung jarinya Ben menyentuh pelan bibir Ella, lalu pindah ke pipi dan berakhir di rambut hitam wanita itu.
Setelah puas merasakan kelembutan helaian rambut Ella, Ben kembali bersandar ke kursinya. Satu tekad terlintas di pikirannya sebelum ia memejamkan mata di penghujung malam itu.
Maaf, Tuan Daniel .... aku menginginkan putrimu .....
*********
Daniella membuka matanya perlahan. Ia menatap langit-langit berwarna putih dan mengira ia berada di rumah sakit.
"Oh tidak ... rumah sakit?"
"Sebenarnya ada apa dengan dirimu dan rumah sakit? Kenapa kau benci rumah sakit?"
Pertanyaan itu membuat Ella menoleh. Melihat sosok di samping tempat tidurnya, otomatis tangan Ella terulur. "Ben! Kau di sini!"
Ben menyambut tangan Ella dan menggenggamnya erat. "Tentu saja."
"Ini dimana?"
"Kau tidak ingat? Aku membawamu ke Mansion Antolini."
Ella bergerak dan mencoba bangkit.
"Jangan bangkit kalau kau masih merasa sakit."
"Tidak. Hanya bahuku agak kurang nyaman. Tapi tidak terlalu sakit. Apakah sudah pagi?"
"Ya. Alana dan Maurice menyuruhku memberitahu mereka kalau kau sudah bangun. Mereka mau membantumu membersihkan diri dan mengganti baju."
"Ck! Aku bisa sendiri, Ben."
"Tapi mereka berkeras membantu."
Ella bergerak dan memaksa untuk duduk. Ben mendelik, segera membantu dengan memegangi kedua lengan atasnya, lalu memasang bantal ke belakang punggung Ella.
"Aku tidak sakit. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit syok setelah kejadian kemarin. Maaf aku telah merepotkan semua orang."
Ella menunduk dan menyadari ia memakai gaun tidur.
"Gaun siapa ini? Siapa yang memakaikannya?"
Ella mendongak dan menatap Ben menunggu jawaban. Pikirannya tidak nyaman dengan dugaan-dugaan yang melintas.
Tidak mungkin dia yang mengganti gaunku. Pelayan pasti banyak di rumah ini. Atau Maurice dan Alana? ... yang pasti tidak mungkin dia ... tapi ...mengganti gaun orang yang tidur pasti sulit jika tidak ada yang membantu ...
"Apa yang kau pikirkan?"
Ella berkedip, melihat sinar geli di mata Benjamin.
"Tidak ada."
"Lalu kenapa kau merona?"
Sekuat tenaga Ella mengatur ekspresinya. Ia mendengus. "Aku tidak pernah merona!"
"Lalu kenapa wajahmu berubah jadi seperti...."
"Seperti apa!?" Ella membentak, lalu menelan ludah, kehangatan dan senyum geli yang kini ada di ekspresi Benjamin terasa sulit untuk ia hadapi. Ella merasa kewalahan menahan perasaan di hatinya yang terasa seperti melambung melihat kehangatan yang terpancar dari kedua mata pria itu.
Mereka saling pandang tanpa dapat mengalihkan mata, seolah terkena mantra dan sulit untuk berpaling. Sampai suara nyaring Maurice yang membuka pintu membahana barulah keduanya sama-sama menoleh.
"Selamat pagi! Selamat pagi Ella! Ben! Kenapa tidak memberitahu kalau tamu kita sudah bangun!?" Maurice melangkah masuk.
Benjamin segera bangkit. "Aku baru mau memanggilmu, Maurice. DD baru saja bangun ...." Benjamin menunduk, menangkap kedua mata Ella yang sedang meliriknya, lalu satu senyum smirk khas Ben tersungging, matanya berkilat penuh hasrat.
"Kuserahkan dia padamu, Maurice," ucap Ben tanpa mengalihkan tatapan.
"Ah, jangan khawatir Benjamin. Kami akan sangat menikmati acara mandi dan memilih gaun. Bukan begitu, Ella?"
Ella merasakan suhu berubah di kamar tersebut. Ia seperti tidak mendengarkan Maurice yang berjalan ke kamar mandi sambil berceloteh tentang menyiapkan air hangat dan memilih wangi sabun. Kedua matanya terus menatap Benjamin yang sekarang melangkah mundur ke arah pintu tanpa membalik badan. Pria itu terus menatapnya sampai ia memegang gagang pintu dan membukanya.
Sorot yang terpancar di bola mata Benjamin membuat tubuh Ella merasa aneh. Perasaan senang seolah ribuan kupu-kupu sedang beterbangan di perutnya membuat irama jantungnya menjadi lebih cepat.
Ada apa? Sesuatu sepertinya berubah? Kenapa? Kenapa dia menatapku demikian rupa? Itu ... seolah dia telah menandaiku .....
NEXT >>>>>
********
From Author,
Hati-hati, DD. Itu tatapan keramat, bisa melelehkan, wkwkkwk.
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.