
Benjamin menoleh, mendapati Alana sudah berdiri tak jauh darinya dengan tangan terulur.
“Carilah Ayah.”
“Aku mau berdansa denganmu, bukan Ayah.”
“Aku tidak mau.”
“Musiknya terus berjalan,” ucap Alana dengan tangan tetap terulur. Seolah tidak mendengar penolakan benjamin.
Benjamin menoleh, melirik dengan sorot mata dingin. Wajahnya menyiratkan kalau kedatangan gadis itu telah mengganggunya.
“Carilah orang lain.”
“Aku tidak kenal siapapun.”
“Cari Juan,” ucap Benjamin. Menyebutkan nama asisten pribadi verga.
“Sudah. Dia sedang sibuk.”
Benjamin mengembuskan napas panjang, memandang langit kembali dan diam tak bergerak. Alana melakukan hal yang sama, berdiri menunggu, hanya saja tangannya sudah tidak lagi terulur. Detik demi detik berlalu, Benjamin menanti saat ketika gadis keras kepala itu mengentakkan kaki, lalu berbalik sambil memaki dan meninggalkannya.
“Aku tidak akan pergi kemana-mana. Jadi sebaiknya kau mengalah dan memulai dansa denganku.”
Benjamin menaikkan alis, sedikit terkejut Alana memilih bersabar.
“Benarkah?”
“Ya.”
“Kalau begitu, isi dulu gelasku ini. Aku mau minum.”
“Kau baru saja menghabiskan satu gelas. Kau bisa minum lagi nanti.”
“Ambilkan sekarang, lalu mungkin saja aku akan mempertimbangkan ajakanmu.”
Alana menarik napas panjang, ia menarik gelas kosong yang diulurkan oleh Benjamin. Dengan muka ditekuk dan bibir cemberut gadis itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Benjamin.
Di kejauhan, sepasang mata biru jernih mengikuti setiap gerakan Alana. Saat gadis itu keluar dari pintu dan kembali lagi beberapa saat kemudian. Daniella tahu siapa yang keluar dari pintu itu tadi. Benjamin Antolini yang dingin dan arogan ada di luar sana, tidak ada orang lain yang dikenali Alana kecuali kakak tirinya itu di luar sana, jadi Daniella menyimpulkan Alana pastilah pergi mencari Benjamin.
Daniella berjalan perlahan, menyaksikan ketika Alana meletakkan gelas kosong ke atas nampan seorang pelayan yang lewat. Lalu gadis itu memandang berkeliling. Secepat kilat Daniella menoleh ke arah lain. Entah kenapa ia tidak mau kedapatan sedang memandangi Alana.
Senyum simpul begitu saja muncul di bibir Alana ketika melihat Daniella tak jauh dari tempatnya berdiri. Wanita cantik itu sedang memandangi potret besar di dinding, potret si kecil velice yang sepertinya diambil ketika anak itu baru berumur beberapa hari. Senyum kagum dan memuja tampak di ekspresi Daniella, namun entah kenapa Alana merasa wanita itu sedang berakting. Alana menunggu beberapa saat, menanti apakah Daniella akan menoleh dan melihat ke arahnya. Namun setelah beberapa saat, wanita itu bergeming. Hanya bergerak ketika mengangkat gelas di tangannya dan menyesap minuman tanpa memalingkan tatapan dari potret velice.
Apakah aku salah? Well ... dia aktris berbakat. Sungguh sulit membedakan dia sedang serius atau sedang berakting. Tapi ... dia kelihatannya sedikit penasaran denganku, Alana tertawa di dalam hati. Ia melangkah lagi dan pergi menuju pintu samping.
Daniella mengembuskan napas pelan tanpa ketara. Ia melirik ketika Alana telah sampai di pintu keluar dan kemudian menghilang.
Aku sungguh ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh dua saudara tiri itu. Alana ... sepertinya menyukai Benjamin ... sebenarnya apa peduliku ... tapi ... aku sungguh penasaran, apa betul pria dingin itu sama sekali tidak tertarik lagi pada wanita setelah pengalaman lamanya dengan Athena ....
Daniella tanpa sadar melangkahkan kakinya menuju dinding kaca. Ia menyibak horden tinggi hanya sedikit agar matanya bisa mengintip. Terlihat Benjamin menyandarkan punggung di tiang Mansion, bersedekap menatap ke arah langit. Lalu Alana datang, menyodorkan gelas minuman yang langsung disambut oleh Benjamin.
Pria itu menyesap dan minum perlahan, menikmati setiap tetesnya dalam diam. Alana berdiri menunggu, melakukan hal yang sama dengan Benjamin, menatap ke arah langit malam. Daniella mengernyitkan keningnya. Dua orang itu terlihat sama-sama diam, namun entah kenapa Daniella melihat seolah saling pengertian dan saling memahami tercipta di sekitar mereka.
Merasa sangat bodoh dengan perbuatannya, Daniella menutup kembali gorden dan melangkah pergi.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Daniella melihat pemandangan langka dari tempat duduknya. Alana berhasil menyeret Benjamin ke lantai dansa. di sepertiga musik yang sebentar lagi berakhir, pasangan itu berdansa bersama, tepatnya mengayunkan tubuh perlahan, dengan langkah pendek dan tidak bergerak menjauh dari lantai dimana mereka memulai dansa itu pertama kali. Namun, yang membuat mata Daniella menyipit adalah kaki Benjamin yang sepertinya tidak pernah sekalipun menginjak kaki Alana, lalu senyum Alana yang terkembang sangat lebar dalam pelukan lengan Benjamin.
Apa-apaan senyum itu ....
Apa-apaan ... aku baru tahu kalau es itu bisa mencair ... jadi begitu ya ... cintamu berlabuh tidak jauh-jauh. Pertama Athena, yang jadi istri keempat ayahmu, lalu sekarang Alana ... anak dari istri ketiga ayahmu ... bukan main ....
Merasa muak dengan pikirannya sendiri yang terbang kemana-mana Daniella meletakkan gelas dan bangkit berdiri. Ia menaiki tangga menuju lantai atas, terus melangkah hingga ia tiba di sebuah pintu. Sebuah ukiran tergantung di depan pintu itu. bertuliskan Kamar Anak-anak. Daniella tersenyum. ia masuk dan memandang berkeliling.
Berada di kamar ini selalu mampu membuat perasaannya jadi lebih baik. Di kamar ini, ia menghabiskan banyak waktu dari setiap liburan di masa kecilnya. Setiap liburan yang ia habiskan di Mansion Marchetti, tidak luput dari kunjungan ke kamar ini. Daniella menyentuh meja dan beberapa mainan yang disusun di atasnya. Ia seolah mendengar kembali celotehan Verga dan juga langkah kaki mereka ketika sedang berlarian di kamar tersebut.
Kamar itu sangat besar, Ada beberapa lemari yang diletakkan di bagian dinding. Berisi semua mainan yang pernah Daniella dan Verga mainkan. Beberapa yang rusak tentu sudah di simpan oleh Paman Verone.
Daniella melihat sebuah box bayi yang diletakkan di sisi kanan. Ia memang sudah mengira kalau kamar itu akan dijadikan kamar bermain untuk Velice. beberapa dekorasi diubah sesuai selera dari verga dan Belinda.
Kenangan masa kecil Ella di kamar ini tidak akan pernah bisa terhapus. Senyum Ella tambah lebar memikirkan kalau sekarang anak verga yang akan menempati dan jadi pemilik dari seluruh ruangan penuh imaginasi tersebut.
Andai aku sudah menikah dan punya anak, Velice tentu
bisa membuat kenangan yang sama seperti aku dan Verga dulu.
Pikiran tersebut membuat Daniella tersentak. Ia menggelengkan kepalanya berulangkali. kemudian tertawa geli dengan pikiran aneh yang muncul tadi.
Suara langkah kaki membuat Daniella menjadi waspada. Ia belum berdansa dengan siapapun sejak tiba di Mansion. Pastilah Ayah atau Paman Verone
akan mencarinya dan meminta menjadi pasangan dansa mereka.
Daniella tersenyum dan memutuskan membuat dua pria tua tersebut agak sibuk. Ia membuka satu lemari kayu yang paling besar, Jubah pangeran dan juga gaun putri raja tergantung rapi di dalam lemari. Ia menyibakkan jubah dan menyelipkan tubuhnya di belakang kostum tersebut.
Tepat ketika pintu lemari tertutup rapat, pintu kamar anak juga terbuka. Suara Daniel dan Verone kemudian terdengar hingga dalam lemari.
“Tebakanmu salah, Verone. Putriku tidak ada di sini.”
“Ah ... kukira dia kemari. Dia suka mengunjungi kamar ini jika sedang berkunjung ke Mansion Marchetti.”
“Ayo Verone, kita cari ke tempat lain. Kita lihat dia memilih siapa untuk jadi pasangan dansanya.”
Daniella menahan senyum geli, ia diam dan menunggu langkah kaki ayah dan pamannya tidak lagi terdengar, sambil membelai bahan beludru jubah pangeran yang dulu adalah milik Verga.
“Kau sudah jadi raja sekarang. bukankah begitu, Prince Verga?” bisik Daniella sambil terkekeh.
Ella baru saja akan mendorong pintu ketika mendengar langkah kaki berat kembali menuju ke kamar anak. Mengira ayah dan pamannya kembali, Ella memutuskan tetap bersembunyi. Pintu kemudian terbuka, seseorang masuk dengan langkah kaki terdengar tergesa.
“Kamar anak ... sempurna. Tidak akan ada yang datang kemari. Velice sudah tidur, tidak akan bermain di sini dengan Belinda.”
Daniella membelalakkan mata ketika mengetahui milik siapa suara tersebut.
“Astaga Alana ... merepotkan sekali!” ucap suara tersebut. Cukup keras hingga Ella kembali bisa mendengarnya.
NEXT >>>>>>
**********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.