
Ella melambaikan tangan pada mobil yang membawa Hector pergi dari depan gedung pesta.
Setelah melihat Benjamin benar-benar sudah meninggalkan tempat itu, Ella kehilangan minat untuk tetap berada di sana. Ia dan Hector memutuskan untuk pulang. Hector pulang sendiri dengan mobilnya, sedangkan Ella kembali bersama Bernie.
Ella dan Bernie yang baru saja akan memasuki mobil berhenti mendadak ketika seorang gadis berteriak ke arah mereka.
"Nona Dolores! Nona!"
Ella menoleh dan mendapati dua perempuan yang berusaha mendekati mereka, namun tertahan oleh Security.
"Alana!?"
"Ya! Kumohon, bisakah aku bicara!?"
Ella baru saja akan melangkah ketika lengannya ditahan oleh Bernie. Bernie memberi kode agar security mengizinkan Alana mendekat.
Alana mendekat sembari membawa wanita yang ada si sampingnya. Ella baru menyadari siapa wanita itu setelah melihat wajahnya. Wanita itu memakai topi sehingga rambutnya tertutupi.
"Maafkan kami terpaksa mencegatmu. Padahal kau mau pulang. Aku takut jika tidak bisa menemuimu sekarang, maka aku tidak akan mendapatkan kesempatan." Wanita yang datang bersama Alana langsung mengucapkan permintaan maaf dengan wajah menyesal.
Ella menganggukkan kepala pada wanita itu, lalu ia menatap pada Alana.
"Alana, apa Ben tahu kau kemari? Hari sudah sangat malam."
"Mmm ... tidak, lagipula Ben tidak tinggal di mansion. Aku pergi diam-diam dari mansion."
"Tuan Belardo dan ibumu akan cemas kalau tahu kau tidak ada di rumah."
"Jangan cemaskan aku! Gabrielle! Katakan apa yang ingin kau ceritakan! Nona Dolores sudah mau pulang! Cepat!"
"Panggil Ella saja," ucap Ella sambil tersenyum, lalu mengedarkan pandangan. Beberapa wartawan masih berkeliling. Pesta memang belum berakhir di dalam sana.
"Kau kemari dengan siapa, Alana?"
"Mmm ... kami ... naik taksi."
"Maafkan aku. Aku yang meminta pada Nona Alana. Aku ingin bicara denganmu. Berita mengatakan kau akan pulang setelah pesta malam ini, jadi-"
"Naiklah ke mobil." Ella memotong ucapan Gabrielle.
"Apa?" Alana berkedip tidak mengerti.
"Bisa kita bicara di mobil saja? Di sini ...." Ella menatap sekeliling.
"Ya-ya ...." Gabrielle menganggukkan kepala berulang kali.
Bernie membukakan pintu belakang untuk Alana dan Gabrielle, lalu membukakan pintu depan untuk Ella masuk sebelum ia sendiri masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Kemana?" tanya Bernie.
"Mansion Antolini."
"Mansion? Oh, kau tidak perlu mengantar kami pulang, Ella," ucap Alana.
"Tak apa, Alana ... Gabrielle, apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Gabrielle menoleh dan bertatapan dengan Alana. Setelah Alana mengangguk barulah ia bicara.
"Aku berhutang penjelasan, juga maaf pada Anda, Nona Ella. Kejadian di kantor Tuan Benjamin tempo hari."
"Ya? Ada apa dengan itu?" tanya Ella dengan nada santai.
"Aku tidak ingin Anda salah paham. Aku dan Tuan Benjamin tidak ada hubungan apa-apa. Apa yang Anda lihat waktu itu hanyalah sandiwara. Tindakan itu spontan terjadi ... kedatangan Nona Athena ... wanita itu ...." Gabrielle berdeham.
Hening di dalam mobil, Alana melirik Gabrielle dan mendorong sedikit lutut wanita itu agar meneruskan.
"Saya dan putri saya ... tepatnya keluarga kami ... selalu dibantu oleh Tuan Benjamin. Ayah mertua saya adalah pegawai sekaligus teman dari Tuan Belardo. Karena itu, selama ini Tuan Belardo selalu memaklumi kesalahan yang dibuat oleh suami saya, Matthew. Orang yang sama yang telah ... menculik Anda."
Ella sama sekali tidak tampak terkejut. Ia sudah tahu cerita itu dari Snow dan Stanley sebelum dua pengawal itu tidak lagi menjadi bodyguardnya.
"Tuan Benjamin selalu membantu kami ... ketika Matthew sedang lupa diri dan mulai mabuk, kemudian memukuli saya, Beliau ... membantu saya dan membawa ke rumah sakit. Namun ... terakhir kali ... Matthew agak keterlaluan. Dia bukan hanya memukuli saya ... tapi juga putri kami ... setelah kejadian itu, Tuan Benjamin mengobati kami di klinik temannya, dari sana kami dibawa ke pulau ladang jagung. Kami tinggal dan sembunyi di sana, Mansion milik ibu Nyonya Belinda. Matthew yang kehilangan kami menjadi marah, lalu menyalahkan Tuan Benjamin. Ia juga dipecat. Dia sudah mencari kami sebisanya, namun gagal. Dia menyandera Anda malam itu karena putus asa. Sebelum malam itu, dia mengaku sudah berbulan-bulan mengawasi Tuan Benjamin."
"Dimana suamimu sekarang?" tanya Ella.
"Tuan Benjamin mengurungnya di sebuah pusat rehabilitasi. Dia menolak diobati, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Tuan Benjamin juga menyiapkan orang untuk mengawasinya."
"Ben tidak memenjarakannya karena permintaan Ayah," sambung Alana.
Ella menelan ludah sebelum bicara. "Orang itu ... membuatku ketakutan setengah mati ... ketika mabuk ... dia pasti mengerikan. Kau beruntung tidak terbunuh, Gabrielle."
"Hampir. Tubuhnya penuh bekas luka, meski pria itu cukup waras untuk tidak melukai wajah Gabby," ungkap Alana.
"Aku baik-baik saja sekarang," ucap Gabrielle. Menatap penuh terima kasih pada Alana, lalu ia berdeham," hmm ... tentang pelukan di kantor Tuan Benjamin, itu tidak ada artinya, Nona Ella. Saat itu saya datang untuk meminta tolong pada Tuan Benjamin. Saya ingin bekerja. Saya tidak mungkin dibantu seterusnya. Tuan langsung menelepon salah satu temannya dan saya diminta untuk datang ke klinik dokter tempat saya diobati sebelum bersembunyi. Saya akan membantu di tempat itu. Karena terlalu senang, saya mengucapkan terimakasih dan memeluk beliau. Saat itulah Nona Athena masuk. Tuan Benjamin tampak sangat terganggu dengan wanita itu. Karena tahu bagaimana hubungan mereka dulu, saya ...." Gabby berhenti, jeda sejenak seolah ia sedikit malu mengucapkan kalimat selanjutnya, "saya langsung mencium Tuan Benjamin dan berpura-pura menjadi kekasihnya!" ucap Gabby dalam satu napas, takut kehilangan keberanian.
Tidak ada respon dari Ella. Gabrielle menelan ludah dan menoleh menatap Alana. Gadis itu hanya menganggukkan kepala memberi dukungan.
"Nyonya Athena sangat marah. Dia sangat yakin selama ini Tuan Benjamin hanya mencintai dirinya seorang, menyimpan kenangan mereka dalam hati dan terus menanti dirinya. Tuan tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Melihat ciuman dan pelukan itu dia mengira saya kekasih Tuan Ben ...."
Ella mengembuskan napas panjang. Wajahmu sangat cantik, Gabby. Aku pun mengira demikian. Aku cemburu padamu.
"Medusa itu memang sulit sekali diusir. Ayah harus kehilangan banyak uang untuk membuatnya pergi." Alana menambahi ucapan Gabrielle.
"Saat itulah pintu tiba-tiba terbuka dan Anda masuk, Nona Ella. Saya waktu itu mau menjelaskan, tapi ... Tuan Ben memerintahkan saya pergi. Saya pikir Beliau mau menjelaskan sendiri, tapi ... saya tetap terpikirkan, jadi tidak nyaman, saya ingin menjelaskan langsung. Saya langsung menemui Nona Alana dan menceritakan semua .... " Gabrielle mengakhiri ceritanya.
Alana melihat kedua tangan wanita itu saling menggenggam, wajahnya menunduk menunggu reaksi Ella atas penjelasannya. Tangan Alana terulur, menggenggam tangan Gabby, membuat wanita itu menoleh. Sebuah senyum dukungan tersungging di bibir Alana.
"Terima kasih sudah bersusah payah menemuiku untuk menjelaskan, Gabrielle," ucap Ella dengan nada datar.
"Apakah berita tentang ...." Alana terbatuk, lalu kembali melanjutkan, "hubunganmu dengan Hector itu benar?"
"Kenapa kalau itu benar, Alana?"
"Kakakku ... sudah mengatakan pada kami sekeluarga bahwa ia melamarmu ... ia juga berjanji akan membawamu makan malam bersama kami. Tapi sampai saat ini ... dia belum bisa melakukannya ... aku tidak tahu apa masalahnya, tapi ...."
Ella menunjuk ke depan. "Sebentar lagi. Di depan sana Bern. Kau hanya perlu sedikit memutar. Kita akan sampai." Ella tidak menanggapi ucapan Alana. Ia bicara pada Bernie yang mengangguk dan hanya diam selama perjalanan.
Ketika mobil menepi di depan gerbang mansion, Bernie turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Alana dan Gabrielle.
"Terima kasih atas waktunya, Ella. Dan terima kasih sudah mengantar kami pulang," ucap Alana sebelum turun.
Ella hanya menganggukkan kepala.
"Saya pamit. Sekali lagi saya minta maaf, Nona Ella. Bila karena perilaku saya, Anda dan Tuan Ben-"
"Tidak perlu minta maaf, Gabrielle. Apa yang terjadi antara aku dan Benjamin bukan karena dirimu. Namun terima kasih sudah datang menemuiku."
Bernie menutup pintu dan kembali ke belakang kemudi.
"Ayo pulang, Bern. Besok pagi-pagi kita sudah harus kembali ke BYork."
"Menemui ayahmu?"
"Ya ...."
Lima hari lagi dia berjanji datang ... sebelum saat itu tiba, Dad sudah harus berubah pikiran ....
*********
Daniel dan Elena bertatapan ketika mendengar suara pintu depan yang diketuk dengan sangat keras, dibarengi dengan suara bel yang terus berdering.
"Siapa orang kurang ajar itu? Tidak cukup menggunakan bel, dia juga mengguncang pintu," ucap Daniel sambil berdiri dari kursi makan.
"Daddy! Mom! Aku tahu kalian mau makan malam! Tidak boleh dimulai tanpa aku!"
Teriakan itu membuat Daniel mengerutkan kening.
"Orang kurang ajar itu putrimu. Sebaiknya segera kau buka pintunya, Daniel." Elena Dolores menggelengkan kepalanya sambil menyiapkan makanan di meja.
Daniel segera berjalan keluar dari ruang makan dan membukakan pintu rumah untuk putrinya.
"Kenapa tidak bilang kalau mau pulang hari ini?" tanya Daniel.
"Aku lapar, Daddy."
"Kau pulang karena lapar? Aneh, Bernie tidak memberimu makan?"
Ella tersenyum, wajahnya yang tanpa make up tampak letih.
"Kau darimana? Menurut berita, kemarin malam kau masih di Copedam. Menghadiri pesta amal."
"Aku tidak makan apapun sejak pagi, Dad. Bolehkah kita makan malam sekarang?"
"Kenapa begitu?" Daniel menarik Ella dan mengajaknya ke ruang makan.
"Yang kubayangkan hanya masakan Mom. Aku sedang tidak nafsu makan makanan lain."
Elena yang ikut mendengar segera menarik kursi untuk Ella.
"Duduklah, El. Ayo kita makan. Dimana Bernie?" tanya Elena.
"Bernie memberiku libur. Beberapa hari ini aku sering kelelahan. Sering muntah dan tidak selera makan. Aku bilang padanya yang kuinginkan hanya masakan Mom. Jadi ia memberiku libur."
Elena tersenyum. Mereka makan malam sambil bercerita seperti biasa. Senyum Ella mengembang ketika pokok bahasan ayahnya mulai menyenggol tentang berita di media tentang gosip hubungannya dengan Hector.
NEXT >>>>>>
*********
From Author,
Halo, semuanya. Sudah menuju akhir bulan, yuk vote sebanyak-banyaknya, hadiah GA menanti. Berikan dukungan untuk kisah Black dan DD yang akan menuju The End. Klik like, love, bintang lima dan berikan komentar. Semoga bhagia dan sehat selalu ya, Aamiin ...
Salam. DIANAZ