
Belinda menunggu dengan hati harap-harap cemas ketika koki utama dari Mansion Marchetti tengah mengambil setengah sendok dari masakannya dan mulai menyuap.
Beberapa staf dapur yang menunggu di sekitar tempat itu berdiri siap dengan mata menatap penasaran terhadap Mrs. Adele, kepala koki di Mansion Marchetti.
Wanita paruh baya dengan tinggi sedang dan badan sedikit berisi tersebut menolehkan kepalanya pelan-pelan ke arah Belinda.
"Dimana Anda belajar memasak, Nyonya?" tanya Adele sopan.
"Ayolah Adele. Panggil aku Belinda! Bagaimana?"
Adele seolah tidak mendengar permintaan Bel agar memanggilnya Belinda. "Saya harap Anda menerima penilaian jujur, Nyonya."
"Tentu! Itulah yang aku inginkan."
"Masakan Anda ... lumayan. Saya tidak menyangka Anda lumayan terampil di dapur, Nyonya." Senyum Mrs. Adele tersungging sedikit, namun secepat datangnya secepat itu pula gerakan bibir itu kembali seperti semula.
Belinda sangat gemas terhadap kepala koki yang sangat kaku tersebut. Namun, ia cukup puas. Setidaknya ia berhasil memancing satu senyum kecil dari wanita itu.
"Aku tidak mau hanya lumayan, Adele. Aku mau penilaian dengan hasil bagus."
"Kalau begitu, Anda masih perlu banyak belajar."
"Karena itu kau harus mengajariku. Di dapur ini."
Semua orang terdiam, namun senyum tertahan dari para gadis staf dapur tidak terlewat oleh mata Belinda.
"Kenapa? Ayolah, Adele. Menurut Ayah, kau koki terbaik yang akhirnya berhasil ia pekerjakan. Ia mengatakan aku boleh memintamu mengajariku bila aku suka memasak. Mengutip perkataan Ayah 'Adele selalu bisa membuat hidangan yang menggugah selera!' ."
Wajah datar Mrs. Adele tidak berubah. Wanita itu kemudian membungkuk sedikit ke arah Belinda, tanda bahwa pembicaraan berakhir, lalu mengembuskan napas panjang ia menoleh ke arah para gadis yang berdiri memperhatikan mereka. "Ladies ... apa yang kalian lakukan? Waktu kita tidak lama. Semuanya harus siap untuk Marigold. Gunter pasti sudah menunggu."
Mendengar itu, para gadis tersebut segera berpencar, ke seluruh penjuru dapur. Mereka memang diminta menyiapkan bahan baku dan juga beberapa bahan untuk acara makan malam di panti jompo Marigold. Sang koki di panti tersebut, Tuan Gunter menginginkan Mrs. Adele membantunya menyiapkan acara itu. Panti jompo Marigold ibarat rumah kedua dari keluarga Marchetti. penghuni dari panti yang dibangun oleh kakek dari Verga tersebut sudah menjadi bagian dari keluarga besar Marchetti.
Belinda menggembungkan pipi. Ia tahu Mrs. Adele sengaja mengabaikannya.
"Dan Anda ... Nyonya Marchetti ... saya mohon, pakailah gaun yang cantik, berdandanlah, lalu berusahalah duduk di ruang tamu atau dimanapun. Jangan masuk ke dapur ini kecuali Anda ingin dimasakkan sesuatu."
Belinda mengernyit. "Setelah berdandan cantik, apa yang bisa kulakukan?'
Mrs. Adele memiringkan kepalanya. "Mainkanlah piano, pergilah berbelanja, pergilah jalan-jalan, pergilah melihat pameran, atau masuklah ke studio yang telah dibuat oleh Tuan Verga untuk Anda. Melukislah yang indah-indah," ucap Mrs. Adele. Mengucapkan hal yang ia tahu dilakukan kebanyakan Nyonya dan putri dari pengusaha kaya.
"Kau tidak suka seseorang mengacaukan dapurmu," Belinda menatap menyelidik. Ia mendengar bisikan salah satu pelayan yang waktu itu berkata pada temannya bahwa Adele pasti tidak nyaman sekali karena Nyonya mereka sering mengacaukan dapurnya.
Ayah Verone juga sudah mengingatkannya saat ia bertanya tentang Adele, bahwa wanita itu tidak akan mudah diajak bekerja sama, Mrs. Adele adalah raja di dapurnya. Perlu usaha keras bila Bel memang ingin membuat wanita itu mengajarinya memasak dan berkenan secara terbuka menyambut Bel di dapur tersebut.
Bel belum merasa Adele berkenan, meski wanita itu tentu saja tidak pernah menyuarakan keberatan ketika ia menginvasi dapur.
"Tentu saja tidak, Nyonya. Dapur ini milik Anda," bantah Adele.
Belinda mengembuskan napas panjang. Dengan sengaja ia melepas ikatan tali celemeknya di bagian belakang, memasang wajah lesu dan kalah.
"Apa boleh buat, sepertinya aku terpaksa pergi kursus memasak. Aku suka memasak dan ingin suami dan mertuaku mengakui dan memuji makanan yang kubuat. Bukan karena mereka ingin menyenangkanku. Tapi karena apa yang kusajikan memang enak. Kalau Adele tidak mau aku mengganggu dapurnya, aku akan mencari koki perancis yang bisa mengajariku. Lagi pula ...." Belinda memasang senyum, ketika salah seorang gadis mengulurkan tangan meminta celemek yang sudah ia buka. " Lagipula, aku akan mati bosan bila hanya berdandan cantik dan duduk berjam-jam di rumah tanpa melakukan apapun."
"Anda mau kursus?" tanya Adele dengan satu alis terangkat.
Belinda mengangguk. "Ya. Ketika aku sudah pintar. Ayah Verone dan Verga akan memuji masakanku dan berterimakasih pada guruku."
Belinda berbalik dan mulai berjalan meninggalkan dapur. Ia menanti Adele memanggilnya. Satu helaan napas dari Adele membuat semua gadis staf dapur mengulumm senyum. Tahu bahwa kepala koki tersebut akhirnya mau berkompromi.
"Baiklah, Nyonya. Anda boleh mengganggu saya," ucap Adele.
Belinda langsung berbalik. "Benarkah?"
Adele mengangguk. Belinda langsung lari memeluknya. Membuat wanita itu mendesah dan juga mengangkat bahu, tidak tahu harus melakukan apa terhadap Nyonya muda tersebut.
"Aku tidak akan terlalu merepotkanmu. Aku berjanji."
*********
Makan malam di panti Marigold berjalan lancar, akrab dan meriah. Suasana kekeluargaan membuat Belinda banyak sekali tersenyum. Hal yang membuat ia sangat gembira adalah, para orang tua, kakek dan nenek yang merupakan penghuni panti tersebut menyambutnya sepenuh hati.
Satu piring kecil berisi puding terulur di depan Belinda. Ia menoleh dan mendapati Verga sudah ada di samping. Celemek sebatas pinggang yang masih melingkar di tubuh pria itu membuat Bel menatapnya lama.
"Ada apa?" tanya Verga sambil mengambil posisi duduk di sebelah Belinda. Mereka menempati sebuah kursi panjang yang ada di halaman belakang panti. Pintu dan jendela lebar yang masih terbuka di aula ruang makan menampilkan pemandangan dari dalam. Angin malam berembus pelan dengan langit yang berhias bintang.
Beberapa petugas panti mulai menyingkirkan kursi-kursi. Mengatur agar ruang kosong di aula itu cukup besar untuk dibuat sebagai lantai dansa bagi para penghuni panti.
"Kau terlihat sedikit berbeda dengan celemek itu," ucap Belinda. Tersenyum dan menggeser duduknya lebih dekat ke pinggul Verga.
"Benarkah? Aku selalu begini ketika ada makan malam khusus. Aku akan jadi salah satu petugas yang harus mengurus mereka."
"Tentu. Mereka makin mencintaiku, hidupku tambah bahagia karena begitu banyak yang mencintaiku," ucap Verga sambil tertawa.
"Kau punya banyak orang yang menyayangimu ..." bisik Bel lirih.
Lengan Verga memeluk bahu Bel. Ia menoleh bertepatan dengan Belinda yang juga menoleh.
"Mereka melihat Kau membantu menyiapkan makan malam. Membantu Gunter dan Adele memasak. Mereka sedikit heran Gunter dan Adele membiarkan kau mengganggu mereka. Para orang tua itu mulai menyukaimu. Mengatakan kalau Gunter dan Adele akhirnya kalah olehmu."
Belinda terkekeh. "Aku suka mereka. Mereka berjanji mengajariku memasak."
"Hal yang luar biasa biasa membujuk mereka. Aku penasaran bagaimana caramu merayunya."
Belinda menyendok potongan puding dan menyuapkannya ke mulut suaminya.
"Hanya bersikap manis dan juga memohon dengan sedikit menyentuh ego mereka."
Verga tersenyum sambil mengunyah satu suapan lagi dari Belinda."Aku membawa puding ini kemari untukmu. Tapi malah aku yang makan. Sini, kau makan juga." Verga mengambil alih piring kecil tersebut.
"Mmm ... ada yang ingin kukatakan ...." Belinda berhenti agak lama, ekspresinya terlihat ragu.
"Katakanlah. Aku sudah bilang kau hanya perlu mengatakan padaku apa yang kuinginkan."
"Mmm ... ini, aku tidak menginginkan apa-apa. Hanya ingin berdiskusi denganmu tentang sesuatu.
Verga menyuapkan puding ke mulut Bel, menunggu Bel memakannya baru berucap," bicarakan denganku. Tentang apa?"
"Begini ... setiap bulan, siklus datang bulanku lumayan teratur. Tentu saja pernah terganggu, tapi itu dulu sekali saat aku masih belasan tahun ...." Belinda menatap tangan Verga yang berhenti di udara. Pria itu tidak jadi menyuapkan potongan puding berikutnya. Mata birunya tampak gelap di balik bayang dari cahaya lampu taman.
"Aku baru telat sekitar empat atau lima hari. Tentu saja ini bukan apa-apa. Tapi hatiku jadi ... bagaimana mengatakannya ... mmm ... aku sebenarnya bisa bertanya pada Bibi Elena. Bibi bilang aku boleh menelepon bila ingin menanyakan sesuatu., tapi entah kenapa tidak enak mengganggunya. Namun aku perlu berdisku-"
Ciuman yang mendarat di bibir Belinda membuat ucapannya terhenti. Tangan Verga sudah meletakkan piring puding di kursi belakang punggung Bel. Kini ia memeluk erat pinggang Bel, menariknya begitu dekat dengan satu tangan lainnya menahan belakang kepala istrinya itu.
Belaian bibir dan lidah mereka makin membara karena jari-jari Belinda sudah mengeksplor bagian leher dan bahu suaminya dari balik kemeja. Entah kapan tangannya dengan agresif sudah berkelana di bagian itu.
Ketika ciuman mereka berakhir, Verga menunduk dan mendapati dua kancing teratasnya sudah terbuka.
"Kau merayuku lagi," ucap Verga. Bangkit dan segera menggendong istrinya.
"Ap- kita mau kemana?" Belinda tidak jadi protes, ia tertawa dan bergayut manja di bahu Verga.
"Berdiskusi."
"Dimana?"
"Di atas."
"Kamar?"
"Ya."
"Apa kita hanya akan bicara? Kalau ya, lakukan saja di sini." Belinda terdengar geli.
"Pembicaraan kita akan diselingi dengan ini, Bel." Verga berhenti melangkah, menunduk dan sekali lagi memberikan ciuman di bibir istrinya. Setelah napas mereka memburu, Verga baru berhenti dan kembali melangkahkan kakinya meninggalkan halaman belakang. Memutari bangunan lewat samping menuju pintu bagian depan dan membawa Belinda ke lantai atas.
Dari aula tempat beberapa pasangan mulai berdansa. di sebuah meja bulat yang dikelilingi 5 orang tua yang mulai bermain kartu terdengar seorang kakek menunjuk ke arah halaman belakang.
"Lihatlah mereka. Kurasa mereka tidak akan terlihat beberapa jam ke depan."
"Biarkan saja, Jackson. Kau seperti tidak pernah muda," ucap seorang kakek lain bernama Adam.
"Aku tidak protes, Adam. Hanya saja, aku belum berdansa dengan Bel."
Verone terkekeh mendengar ucapan Jackson. "Dia akan selalu jadi menantu kita, Jackson. Besok-besok kau bisa berdansa dengan Bel."
Seorang nenek yang ikut bermain menganggukkan kepala. "Verone benar. Jangan menghambat proses kehadiran cucu yang didambakan semua orang dalam keluarga Marchetti, Jackson. Kita semua sudah menanti lama Verga kita menikah dan memiliki anak."
"Kau benar Loli. Sekarang mari berdoa Belinda kita segera mengandung," sahut Adam.
Semua orang menganggukkan kepala, diiringi senyum bahagia dari Verone yang melihat ke halaman dan mendapati putra dan menantunya sudah pergi dari sana.
**********
From Author,
Jangan lupa dukung authornya dengan tekan like, love bintang lima dan komentar serta Vote ya. Terima kasih sebelumnya.
Salam. DIANAZ.